NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: EKSPEDISI KE GUNUNG ES

Fajar menyingsing di ufuk timur, melukis langit Geumseong dengan gradasi jingga dan ungu. Udara pagi dingin menusuk, tapi semangat empat penunggang kuda yang bersiap di gerbang markas tidak terpengaruh.

Namgung Jin duduk tegap di atas kuda hitamnya, Mawanggeom terselip di pinggang. Di belakangnya, tiga wanita dengan pakaian perjalanan hangat menunggu dengan sabar. Nyonya Hwa Ryun dengan jubah hitamnya yang praktis, Miho dengan mantel bulu tipis, dan Putri Sohwa yang terbungkus lapisan pakaian tebal—terlihat seperti kepompong yang akan meledak kapan saja.

Cheon Wu-gun berdiri di depan mereka, diikuti beberapa pengawal Magyo. Wajahnya tegang, tapi matanya menunjukkan kepercayaan.

"Kau yakin tidak mau tambahan pengawal?"

"Semakin banyak orang, semakin lambat gerakan." Namgung Jin menatap lurus ke depan. "Kami akan lebih cepat sendiri."

"Tapi perjalanan ke utara berbahaya. Selain Majin, ada banyak monster dan bandit di sana."

"Justru itu latihan yang bagus untuk murid-muridku."

Cheon Wu-gun menghela napas. Ia menatap ketiga wanita di belakang Namgung Jin. Nyonya Hwa Ryun tersenyum tipis—mereka sudah lama kenal. Miho menunduk sopan. Putri Sohwa berusaha terlihat tegar meskipun bibirnya gemetar kedinginan.

"Baiklah. Tapi ingat, jika kau butuh bantuan, kirim sinyal. Aku akan datang."

"Aku tahu."

Namgung Jin memacu kudanya. Tiga pengikutnya mengikuti. Mereka meninggalkan Geumseong, meninggalkan lembah berkabut, menuju petualangan yang tidak pasti.

---

Dua hari pertama perjalanan berlangsung lancar.

Mereka melewati hutan-hutan lebat, menyeberangi sungai-sungai kecil, dan beristirahat di desa-desa terpencil. Putri Sohwa mulai terbiasa dengan kuda, meskipun masih pegal setiap malam. Miho menunjukkan kemampuannya membaca jejak dan mencari jalan. Nyonya Hwa Ryun bertugas sebagai pengintai, selalu bergerak sedikit di depan untuk memastikan keamanan.

Namgung Jin memimpin di tengah, diam dan waspada.

Pada malam kedua, mereka berkemah di tepi hutan. Api unggun menyala hangat, menerangi wajah-wajah lelah mereka.

"Guru," panggil Putri Sohwa sambil memeluk lutut. "Ceritakan tentang Gunung Es."

"Aku belum pernah ke sana."

"Tapi kau tahu sesuatu, kan?"

Namgung Jin diam sejenak, lalu mulai bercerita.

"Gunung Es disebut juga Baekbongsan. Konon, di puncaknya ada danau beku yang tidak pernah mencair, bahkan di musim panas. Di dasar danau itu, tersembunyi sebuah pedang—Hyeollyunggeom, Pedang Naga Es. Legenda mengatakan, pedang itu ditempa dari tulang iblis es yang mati dalam pertempuran melawan Majin ribuan tahun lalu."

"Iblis es?" Miho tertarik.

"Dulu, sebelum manusia menguasai dunia, ada pertempuran besar antara iblis api dan iblis es. Majin memenangkan pertempuran, tapi iblis es berhasil menusukkan pedangnya ke dada Majin sebelum mati. Luka itu tidak pernah sembuh, dan menjadi sumber kelemahan Majin."

"Jadi pedang itu bisa melukainya?"

"Menurut legenda, hanya pedang itu yang bisa melukai Majin secara permanen."

Putri Sohwa mengerutkan kening. "Tapi kenapa tidak ada yang mengambilnya?"

"Karena Gunung Es dijaga."

"Dijaga apa?"

"Makhluk-makhluk es. Sisa-sisa pasukan iblis es yang masih setia menjaga pusaka tuannya."

Ketiga wanita itu diam. Udara di sekitar mereka terasa lebih dingin.

---

Hari ketiga, mereka memasuki wilayah bersalju.

Awalnya hanya bintik-bintik putih di dedaunan, lalu semakin tebal, akhirnya tanah tertutup lapisan putih bersih. Kuda-kuda mulai kesulitan, langkah mereka terperosok di salju tebal.

"Kita harus turun dan berjalan," putus Namgung Jin.

Mereka turun, memandu kuda dengan tali. Salju mencapai lutut, membuat setiap langkah terasa berat. Putri Sohwa yang paling menderita—tubuhnya yang kecil tenggelam lebih dalam, napasnya tersengal.

"Kau bisa?" tanya Miho cemas.

"Aku... baik..." jawabnya, meskipun jelas tidak baik.

Nyonya Hwa Ryun berjalan di depan, membuka jalan. Namgung Jin di belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal.

Menjelang sore, mereka menemukan gua kecil di lereng bukit—perlindungan sementara dari badai salju yang mulai turun.

"Kita bermalam di sini."

---

Di dalam gua, mereka menyalakan api unggun. Kayu kering yang mereka bawa dari hutan terakhir sangat berharga sekarang.

Putri Sohwa duduk paling dekat dengan api, tubuhnya menggigil. Pipinya merah, bibirnya kebiruan.

"Kau hipotermia," kata Namgung Jin setelah memeriksa. "Buka bajumu."

"A-Apa?!"

"Buka baju basah. Kau perlu kehangatan langsung."

Putri Sohwa ragu, tapi Miho sudah membantu membuka lapisan terluar pakaiannya. Nyonya Hwa Ryun mengambil selimut kering, membungkusnya.

Namgung Jin duduk di belakangnya, meletakkan kedua telapak tangan di punggungnya. Energi hangat mengalir perlahan, menghangatkan tubuhnya dari dalam.

"Ini... ini hangat."

"Diam. Jangan bicara."

Beberapa menit kemudian, warna kulit Putri Sohwa kembali normal. Ia menatap Namgung Jin dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih, Guru."

"Lain kali, kau harus bilang jika kau kedinginan. Bukan diam-diam."

"Maaf."

---

Malam itu, badai salju mengamuk di luar. Angin menderu, salju menari-nari. Di dalam gua, mereka tidur berdekatan untuk saling menghangatkan.

Putri Sohwa tidur di antara Miho dan Nyonya Hwa Ryun, dengan Namgung Jin duduk di mulut gua, berjaga. Api unggun masih menyala, menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding.

Tengah malam, Putri Sohwa terbangun. Ia melihat Namgung Jin masih duduk di tempat yang sama, tak bergerak. Di tangannya, Mawanggeom bersinar redup.

Ia bangkit, berjalan mendekat.

"Guru?"

"Kau tidak tidur?"

"Mimpi buruk." Ia duduk di sampingnya. "Tentang Majin."

"Itu hanya mimpi."

"Tapi kenyataannya tidak jauh berbeda, kan? Majin di luar sana, membunuh orang-orang. Dan kita di sini, bersembunyi."

"Kita tidak bersembunyi. Kita bersiap."

Putri Sohwa diam. Lalu bertanya, "Guru, apa kau takut?"

"Takut?"

"Terhadap Majin."

Namgung Jin diam lama. Lalu menjawab, "Iblis sejati tidak takut. Tapi aku... aku bukan lagi iblis sejati."

"Apa maksudmu?"

"Dulu, aku hanya peduli pada kekuatan. Tidak ada yang lain. Tapi sekarang..." Ia menatap ketiga wanita yang tidur di dalam gua. "...sekarang aku punya sesuatu yang harus dilindungi. Dan itu membuatku lemah."

"Bukan lemah, Guru. Itu membuatmu manusiawi."

Namgung Jin tersenyum tipis. "Mungkin."

---

Pagi harinya, badai reda. Dunia berubah putih bersih, sunyi dan damai.

Mereka melanjutkan perjalanan. Kini salju lebih tebal, tapi mereka sudah lebih siap. Putri Sohwa berjalan dengan semangat baru, meskipuk kakinya sakit.

Menjelang siang, Miho yang berjalan di depan tiba-tiba berhenti.

"Ada sesuatu."

"Apa?"

"Di depan. Banyak jejak."

Mendekat, mereka melihat jejak-jejak kaki di salju—tapi bukan kaki manusia. Besar, dengan tiga jari bercakar. Jejak monster.

"Beruang salju?" tebak Nyonya Hwa Ryun.

"Bukan." Namgung Jin mengamati jejak itu. "Ini jejak Seolma—iblis salju. Mereka biasanya berburu dalam kelompok."

"Kelompok?"

"Lihat, ada banyak jejak berbeda. Setidaknya sepuluh."

Keheningan. Sepuluh iblis salju adalah ancaman serius bahkan untuk kultivator level atas.

"Kita harus memutar," kata Nyonya Hwa Ryun.

"Tidak ada waktu. Kita harus lewat sini."

*"Tapi—"

"Kita hadapi."

Namgung Jin memandang ketiga muridnya. "Ini ujian kalian."

---

Mereka berjalan lebih hati-hati, pedang siap di tangan. Salju turun perlahan, mengurangi jarak pandang.

Tiba-tiba, dari balik pepohonan putih, sesosok besar melompat.

Makhluk itu setinggi tiga meter, berbulu putih, dengan mata biru menyala. Cakarnya panjang dan tajam, siap mencabik-cabik.

"SEOLMA!"

Serangan pertama dilancarkan. Nyonya Hwa Ryun bereaksi paling cepat—pedangnya menyambar, menebas kaki makhluk itu. Seolma meraung, tapi tidak jatuh. Dua ekor lagi muncul dari kiri dan kanan.

"Miho, lindungi Sohwa!" perintah Namgung Jin.

Miho menarik Putri Sohwa ke belakang, pedangnya siap. Sementara itu, Namgung Jin dan Nyonya Hwa Ryun bertarung melawan tiga iblis salju.

Mawanggeom menyambar, meninggalkan jejak hitam di udara. Satu tebasan, dan kepala Seolma pertama terbang. Tapi dua lainnya menyerang lebih ganas.

Nyonya Hwa Ryun kewalahan. Ia berhasil melukai satu, tapi cakar yang lain hampir merobek punggungnya. Ia berguling menghindar, tapi posisinya terdesak.

"Hwa Ryun!"

Putri Sohwa tiba-tiba berlari maju, melompat di depan Nyonya Hwa Ryun. Tangannya yang kecil mengeluarkan telapak tangan iblis— Mageukdan—dan menekannya ke dada Seolma.

Ledakan kecil terjadi. Seolma itu terpental, dadanya hangus.

Putri Sohwa jatuh, tangannya gemetar. Tapi ia berhasil.

Namgung Jin memanfaatkan momen itu. Dengan dua tebasan cepat, dua Seolma tersisa tumbang.

Keheningan kembali. Hanya suara napas terengah yang terdengar.

"Kau... kau gila!" Nyonya Hwa Ryun memeluk Putri Sohwa. "Kau bisa mati!"

"Tapi kau selamat." Putri Sohwa tersenyum lemah.

Miho berlari mendekat, memeriksa luka-luka mereka. Untungnya tidak ada yang serius.

Namgung Jin berdiri di tengah mayat-mayat Seolma, menatap Putri Sohwa dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Bagus."

Hanya satu kata. Tapi dari Namgung Jin, itu pujian besar.

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!