Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Menyusul Bapak
Panggilan terputus. Beberapa detik Ge hanya berdiri diam. Tapi kali ini bukan Ge yang santai seperti biasanya. Tatapannya berubah tajam.
“Om,” katanya cepat.
Arif mengernyit. “Apa?”
“Aku harus pergi.”
Arif langsung tegas, “Kita sedang ada urusan penting.”
“Ini juga penting!” potong Ge.
Arif menatapnya dalam. “Masalah apa?”
Ge menarik napas kasar. “Bapakku nyari Johan.”
Wajah Arif langsung berubah. “Apa?”
Ge tidak menjawab lagi. Dia langsung berbalik dan berjalan cepat keluar.
“GE!” panggil Arif.
Tapi Ge sudah berlari menuju parkiran. Tangannya cepat membuka pintu mobil, mobil yang tadi mereka pakai.
“GE, TUNGGU!” teriak Arif, ikut berlari.
Tapi terlambat.
BRUMMM!!
Mesin mobil menyala. Dalam hitungan detik, Ge sudah tancap gas keluar dari parkiran dengan kecepatan tinggi.
Arif berhenti di tempat, napasnya berat. Dia hanya bisa menatap mobil itu menjauh.
“Anak ini…” gumamnya kesal. Dia mengusap wajahnya kasar. “Benar-benar tidak bisa diatur…”
...***...
Di jalan raya, mobil melaju kencang. Ge menggenggam setir erat. Matanya fokus ke depan. Tidak ada lagi senyum santai.
“Jangan gegabah ya, Pak…” ujarnya pelan.
Gas diinjak lebih dalam. Mobil melesat, menyalip kendaraan lain tanpa ragu. Klakson bersahutan.
“WOI!” teriak salah satu pengendara.
Tapi Ge tidak peduli. Dia berbelok tajam di tikungan. Ban sedikit berdecit.
“Cepet… cepet…” gumamnya.
Lampu merah di depan. Mobil lain berhenti. Ge hanya menatap sekilas.
“Maaf ya…”
BRRRAKK!!
Dia langsung menerobos lampu merah.
“WOOI GILA!” teriak orang-orang.
Beberapa detik kemudian…
WIIUUU WIIUUU!!
Suara sirine terdengar dari belakang. Ge melirik spion.
“Anjir…” gumamnya. “Polisi.”
Mobil patroli mulai mengejar.
“Yaudah… sekalian aja,” katanya.
Ge langsung menginjak gas lebih dalam. Mobilnya melesat lebih cepat.
Kejar-kejaran dimulai. Mobil polisi di belakang terus membunyikan sirine.
“MENEPI!” terdengar dari pengeras suara.
Ge malah nyengir tipis. “Nanti dulu, Pak…”
Dia membelok masuk ke jalan yang lebih sempit. Kendaraan lebih padat. Dia zig-zag di antara mobil.
“GILA NIH ORANG!” teriak pengendara lain.
Mobil polisi masih mengejar. Ge melihat ke depan. Jalan mulai macet.
“Wah… susah nih.”
Dia cepat berpikir. Lalu Ge langsung membanting setir ke kanan, masuk ke gang kecil. Ban berdecit keras. Mobil polisi sempat kehilangan arah.
“Ke sana! Ke sana!” terdengar suara dari belakang.
Ge melaju di gang sempit. Hampir menyenggol tembok.
“Waduh sempit banget…” gumamnya.
Seorang ibu-ibu sampai meloncat kaget. “ASTAGA!”
Ge lewat begitu saja. Di ujung gang, jalan bercabang. Ge tidak ragu. Dia belok kiri. Lalu kanan lagi, dan lurus panjang. Dia hafal tipe jalan seperti ini. Lingkungan sempit seperti tempat tinggalnya dulu.
“Kejar kalau bisa…” gumamnya.
Mobil polisi mulai tertinggal. Ge keluar dari gang masuk ke jalan besar lagi. Dia langsung menurunkan kecepatan sedikit, lalu membaur dengan kendaraan lain.
Sirine tidak terdengar lagi. Ge melirik spion. Kosong, dia menghembuskan napas panjang. “Aman…”
Tapi wajahnya tetap tegang. “Sekarang…” gumamnya. “Johan.”
Beberapa menit kemudian. Mobil Ge berhenti di depan sebuah rumah besar. Bukan mansion seperti milik Romy, tapi jelas bukan rumah biasa. Pagar tinggi. Beberapa orang berdiri di depan, tampak seperti penjaga.
Ge keluar dari mobil. Dia menatap rumah itu.
“Inilah sarangnya…” katanya pelan.
Tanpa ragu, dia berjalan mendekat. Para penjaga langsung waspada.
“Hei! Mau ke mana?” tanya salah satu dari mereka.
Ge berhenti di depan pagar. Tatapannya tajam.