NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: TOKOPAIJO

UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.

Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.

Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.

Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.

Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.

Namanya Raka.

Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.

Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Realita yang Menampar

Nara tidak ingat bagaimana kakinya bergerak.

Yang ia tahu, ia sudah berdiri, mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan suara decitan keras yang beradu dengan lantai kafe.

"Maaf," gumamnya, suaranya bergetar hebat. "Aku harus keluar, udara... aku butuh udara."

Tanpa menunggu jawaban dari Raka maupun Sinta, Nara berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Suara lonceng kecil di atas pintu berdenting nyaring saat ia mendorongnya dengan kasar.

Ting.

Udara panas kota Bandung di siang hari langsung menampar wajahnya, tetapi Nara justru merasa menggigil. Ia setengah berlari ke sisi bangunan kafe, mencari tempat yang tersembunyi dari jendela kaca.

Begitu punggungnya menyentuh dinding bata yang kasar, lutut Nara kehilangan kekuatannya. Ia merosot perlahan hingga terduduk jongkok di atas trotoar, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut.

Napasnya memburu.

Dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di tahun itu tiba-tiba ditarik habis.

Raka.

Arman Raka Pradipta.

Pria yang semalam memberinya segelas teh hangat.

Pria yang memetik gitar di bawah lampu taman.

Pria yang menatapnya dengan penuh arti di dalam gudang berdebu kurang dari satu jam yang lalu.

Pria yang membuat jantungnya berdebar dan perutnya terasa dipenuhi ribuan kupu-kupu.

Pria itu adalah ayahnya.

Nara mencengkeram rambutnya sendiri.

Rasanya ia ingin berteriak atau tertawa sampai menangis karena lelucon yang sedang menimpanya ini.

Bagaimana ia bisa sebodoh itu?

Bagaimana ia tidak menyadari kemiripan garis rahang itu? Sorot matanya? Sifat keras kepalanya yang disembunyikan di balik sikap santainya itu?

Tentu saja ia tidak sadar.

Arman Raka Pradipta di masa depan adalah pria paruh baya yang kaku, mengenakan kemeja rapi yang disetrika kaku, dan hampir tidak pernah tersenyum.

Sementara Raka adalah pemuda 24 tahun berbalut jaket denim usang yang hidupnya seolah hanya untuk musik dan kebebasan.

"Nara!"

Suara itu membuat Nara tersentak.

Langkah kaki yang terburu-buru mendekat.

Raka berbelok ke sisi bangunan, wajahnya memancarkan kepanikan yang nyata.

Pemuda itu langsung berlutut di depannya.

"Nara, kamu kenapa?" Raka mengulurkan tangannya, bermaksud menyentuh bahu Nara untuk menenangkannya.

"Jangan sentuh aku!"

Nara menepis tangan itu lebih keras dari yang ia rencanakan.

Gerakannya refleks, didorong oleh rasa ngeri dan panik.

Tangan Raka terhenti di udara.

Keterkejutan melintas jelas di matanya.

Sorot kekhawatiran itu perlahan tergantikan oleh kebingungan, dan mungkin, sedikit rasa sakit.

Ia perlahan menarik tangannya kembali.

"Maaf," suara Raka merendah, terdengar sangat berhati-hati. "Aku... aku cuma mau memastikan kamu tidak pingsan. Kamu pucat sekali, seperti baru melihat hantu."

Nara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa perih, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar.

"Aku memang baru melihat hantu," batinnya. "Hantu dari masa depan keluargaku."

Nara memaksa dirinya berdiri.

Kakinya masih terasa seperti jeli, tapi ia harus memasang dinding sekarang juga.

Dinding yang tebal dan tinggi, sebelum perasaan yang tidak seharusnya ini tumbuh lebih besar.

Raka ikut berdiri, menjaga jarak aman sekitar satu meter darinya.

"Aku tidak apa-apa," kata Nara.

Ia berusaha keras menstabilkan suaranya, mengubah nadanya menjadi sedingin mungkin.

Nada yang paradoksnya, sangat mirip dengan nada bicara ayahnya di masa depan.

"Hanya... serangan panik kecil, Aku belum terbiasa dengan keramaian di sini."

Raka menatapnya dalam-dalam.

Pemuda itu tidak bodoh, Ia bisa merasakan perubahan drastis pada diri Nara.

Jarak yang tiba-tiba membentang di antara mereka tidak hanya berwujud fisik, tapi juga emosional.

Gadis yang beberapa jam lalu menatapnya dengan empati di dalam gudang, kini menatapnya seperti menatap orang asing yang berbahaya.

"Kalau kamu mau kembali ke kontrakanku untuk istirahat, aku bisa mengantarmu," tawar Raka pelan.

"Tidak!" potong Nara cepat.

Raka terdiam, rahangnya mengeras sedikit.

Nara mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.

Ia terdengar terlalu kasar, terlalu defensif. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Jika ia membiarkan Raka terus bersikap lembut padanya, jika ia membiarkan dirinya terbuai oleh pesona pria ini, ia akan menghancurkan segalanya.

Lebih dari itu, sebuah pikiran yang lebih mengerikan baru saja menghantam kepala Nara.

Ia menoleh ke arah jalan, menatap jendela kaca Kedai Kopi Kampus.

Di sana, dari balik kaca, Sinta sedang melihat ke arah mereka. Wajah ibunya di masa muda itu terlihat bingung dan penuh tanda tanya.

Nara menelan ludah.

Sinta adalah ibunya.

Raka adalah ayahnya.

Tetapi saat ini, di tahun 1995 ini, mereka hanyalah teman biasa.

Bahkan, dari interaksi singkat tadi, Sinta terlihat masih menjaga jarak dari Raka.

Lalu, bagaimana jika Raka justru jatuh cinta padanya?

Bagaimana jika kedatangan Nara ke masa ini menarik perhatian Raka, membuat pemuda itu berpaling dari Sinta?

Jika Raka dan Sinta tidak pernah jatuh cinta...

Jika mereka tidak pernah menikah...

Maka Nara tidak akan pernah lahir.

Tubuh Nara kembali meremang.

Ini bukan sekadar tentang patah hati karena jatuh cinta pada pria yang salah.

Ini tentang eksistensinya sendiri.

Ia sedang mempertaruhkan nyawanya, mempertaruhkan masa depannya, hanya dengan berdiri di sini.

Nara menarik napas panjang, menekan semua emosi, ketakutan, dan sisa-sisa rasa kagumnya pada Raka ke dasar hatinya yang paling dalam.

Ia menatap Raka dengan tatapan yang baru. Tatapan penuh determinasi.

"Raka," panggil Nara.

Suaranya kini tenang, sedingin es.

"Ya?" Raka menjawab, masih dengan nada berhati-hati.

"Perempuan di dalam tadi... Sinta." Nara menunjuk ke arah kafe dengan dagunya. "Dia perempuan yang baik."

Raka mengerutkan keningnya, tidak paham dengan arah pembicaraan ini.

"Sinta? Ya, dia mahasiswi yang pintar. Suka mengomel, tapi dia baik."

"Kenapa tiba-tiba membahas Sinta?"

"Karena," Nara menatap mata pemuda itu lekat-lekat, menahan rasa sesak di dadanya, "aku rasa kamu harus kembali ke dalam dan menemaninya."

"Aku sedang menemanimu, Nara."

"Aku tidak butuh ditemani," dusta Nara tajam.

Ia memaksakan sebuah senyum palsu yang tidak mencapai matanya. "Kembalilah padanya Raka, jangan buang waktumu untuk orang yang sekadar lewat sepertiku."

Raka terdiam.

Angin siang meniup pelan jaket denimnya.

Matanya mencari-cari kebohongan di wajah Nara, mencoba memahami dinding tak kasatmata yang tiba-tiba menjulang di antara mereka.

Namun Nara tidak membiarkan pertahanannya runtuh.

Ia balas menatap Raka dengan dagu terangkat, memaksa pria itu untuk mundur.

Setelah beberapa detik yang terasa begitu lama, Raka akhirnya menghela napas panjang. Ia mengangguk pelan, sebuah senyum kecil yang dipaksakan muncul di bibirnya.

"Baiklah kalau itu maumu," kata Raka.

Nada suaranya kembali santai, meskipun Nara tahu itu hanya topeng.

"Kalau kamu butuh sesuatu, kamu tahu di mana kamu bisa menemukanku."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Raka berbalik.

Ia berjalan kembali menuju kafe, membuka pintu kaca itu, dan lonceng kembali berbunyi.

Ting.

Nara berdiri sendirian di samping bangunan batu bata itu.

Ia melihat dari kejauhan bagaimana Raka kembali duduk di seberang Sinta.

Ia melihat Sinta menanyakan sesuatu, dan Raka menjawabnya sambil tertawa, meskipun tawa itu tidak selepas biasanya.

Nara menyandarkan kepalanya ke dinding bata yang kasar.

Misinya di masa lalu kini telah berubah seratus delapan puluh derajat.

Ia tidak hanya harus mencari cara untuk pulang ke tahun 2026.

Mulai detik ini, ia harus memastikan Raka dan Sinta bersatu.

Ia harus menjadi penjaga takdir bagi kisah cinta orang tuanya sendiri, sambil mengubur perasaannya hidup-hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!