Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Rumor di Bawah Matahari
Pagi datang perlahan di Akademi Duskveil.
Kabut tipis masih menggantung di atas lembah ketika lonceng akademi berbunyi panjang, menandakan awal aktivitas hari itu. Cahaya matahari pagi memantul di menara-menara batu, membuat kaca jendela berkilau seperti kristal.
Bagi sebagian besar murid, pagi itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Namun bagi Arkan, segalanya terasa sedikit berubah.
Ia berjalan menyusuri koridor Darkveil dengan langkah tenang. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tetapi pikirannya dipenuhi banyak hal.
Gerbang.
Makhluk bayangan.
Dan nyanyian yang masih samar terngiang di telinganya.
Suara itu tidak benar-benar hilang setelah ia meninggalkan Menara Astral. Ia hanya menjadi sangat jauh, seperti gema yang tenggelam di dalam pikirannya.
Arkan membuka pintu aula makan.
Ruangan besar itu sudah dipenuhi murid dari berbagai rumah.
Meja Natureveil tampak ramai dengan jubah hijau yang bergerak di antara tanaman kecil yang menghiasi meja mereka.
Meja Lightveil terang oleh jubah putih dan emas.
Sementara meja Darkveil tetap berada di bagian aula yang sedikit lebih teduh.
Arkan berjalan menuju meja Darkveil seperti biasa.
Kael sudah duduk di sana.
Ia sedang memakan roti dengan sangat serius, seolah-olah itu adalah tugas paling penting di dunia.
Ketika melihat Arkan datang, Kael mengangkat tangannya.
“Arkan!”
Arkan duduk di kursi di seberangnya.
“Pagi.”
Kael menyipitkan mata.
“Kau terlihat seperti tidak tidur.”
Arkan menuang teh ke cangkirnya.
“Mungkin.”
Kael menelan roti terakhirnya.
“Kau benar-benar melakukan sesuatu tadi malam, kan?”
Arkan menatapnya sebentar.
“Apa maksudmu?”
Kael menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Aku tidak tahu.”
Ia mengangkat bahu.
“Tapi kau punya wajah ‘aku melakukan sesuatu yang mungkin melanggar aturan akademi’.”
Arkan hampir tersenyum.
Namun sebelum ia sempat menjawab—
Seseorang berjalan mendekati meja mereka.
Kael langsung berhenti bicara.
Beberapa murid Darkveil di meja juga menoleh.
Seorang gadis berdiri di sana.
Rambut cokelat panjangnya jatuh lembut di bahunya. Mata hijau terang itu terlihat sangat kontras dengan jubah hijau Natureveil yang ia kenakan.
Leyna.
Ia terlihat sedikit ragu ketika berdiri di depan meja Darkveil.
Namun akhirnya ia berkata,
“Pagi, Arkan.”
Kael membeku.
Ia menatap Leyna.
Kemudian menatap Arkan.
Kemudian kembali menatap Leyna.
Arkan menjawab dengan tenang,
“Pagi.”
Leyna tersenyum kecil.
“Aku hanya ingin memastikan kau tidak… pingsan setelah tadi malam.”
Kael hampir tersedak udara.
“TADI MALAM?”
Beberapa murid di sekitar meja langsung menoleh.
Arkan melirik Kael dengan tajam.
Leyna juga terlihat sedikit kaget dengan reaksi Kael.
Kael menunjuk mereka berdua dengan jari gemetar.
“Kalian… bertemu tadi malam?”
Arkan menghela napas pelan.
“Kael.”
Leyna akhirnya tertawa kecil.
“Sepertinya aku datang di waktu yang salah.”
Kael langsung berdiri.
“Tidak, tidak, tidak!”
Ia menunduk sedikit dengan wajah serius.
“Waktu yang sangat tepat.”
Leyna terlihat bingung.
Kael menunjuk dirinya sendiri.
“Aku Kael.”
Leyna tersenyum sopan.
“Leyna.”
Kael menatap Arkan lagi.
Kemudian kembali ke Leyna.
Kemudian lagi ke Arkan.
Ekspresinya berubah semakin aneh.
Akhirnya ia berkata dengan suara pelan,
“Sebentar.”
Ia menarik Arkan sedikit menjauh dari meja.
Arkan mengerutkan kening.
“Apa?”
Kael berbisik dengan panik,
“ITU LEYNA.”
Arkan menatapnya datar.
“Iya.”
Kael menunjuk meja Natureveil.
“Leyna dari Natureveil!”
Arkan tetap tenang.
“Aku tahu.”
Kael memegang kepalanya sendiri.
“Arkan… kau sadar tidak siapa dia?”
Arkan memandangnya.
“Seorang murid Natureveil.”
Kael menatapnya seperti baru saja mendengar hal paling aneh di dunia.
“Dia mungkin murid Natureveil paling terkenal di akademi!”
Arkan mengangkat alis sedikit.
“Kenapa?”
Kael mendekatkan wajahnya dan berbisik dramatis.
“Karena dia cantik.”
Arkan berkedip sekali.
Kael melanjutkan,
“Bukan cuma cantik.”
Ia menunjuk ke arah meja Natureveil.
“Hampir setengah murid laki-laki di akademi pernah mencoba mengajaknya bicara.”
Arkan melirik Leyna yang masih berdiri di dekat meja mereka.
Ia terlihat sedang menunggu dengan sabar.
Arkan kembali menatap Kael.
“Lalu?”
Kael hampir berteriak.
“LALU?”
Ia menurunkan suaranya lagi.
“Dan kau… yang paling pendiam di Darkveil… tiba-tiba sudah kenal dia?”
Arkan menghela napas pelan.
“Kami hanya berbicara.”
Kael menatapnya penuh kecurigaan.
“Kapan?”
Arkan menjawab singkat.
“Kemarin.”
Kael menatap langit-langit aula makan.
“Aku tidak mengerti dunia ini.”
Mereka kembali ke meja.
Leyna masih berdiri di sana.
Namun sekarang beberapa murid Natureveil di kejauhan mulai memperhatikan.
Salah satu dari mereka bahkan terlihat berbisik pada temannya sambil menunjuk ke arah meja Darkveil.
Kael langsung menyadarinya.
Ia berbisik pada Arkan,
“Lihat.”
Arkan mengikuti arah pandangnya.
Beberapa murid memang sedang melihat mereka.
Leyna juga menyadarinya.
Ia menghela napas kecil.
“Sepertinya aku membuat rumor baru.”
Kael langsung berkata,
“Sudah pasti.”
Leyna tertawa kecil.
“Aku minta maaf kalau ini membuatmu tidak nyaman.”
Arkan menggeleng.
“Tidak masalah.”
Kael menatap Arkan lagi.
Dalam hati ia benar-benar tidak mengerti.
Bagaimana seseorang seperti Arkan—
Pendiam.
Selalu menyendiri.
Jarang berbicara dengan siapa pun.
Bisa tiba-tiba berdiri santai di depan salah satu gadis paling terkenal di akademi.
Leyna akhirnya berkata,
“Aku hanya ingin memastikan satu hal.”
Arkan menatapnya.
Leyna menurunkan suaranya sedikit.
“Apakah kau… masih mendengarnya?”
Arkan langsung mengerti maksudnya.
Nyanyian malam itu.
Ia menjawab pelan,
“Sedikit.”
Leyna terlihat berpikir.
Solan belum datang ke aula makan pagi itu.
Namun Leyna yakin mereka harus membicarakan apa yang terjadi.
Namun bukan di sini.
“Kalau begitu kita harus bertemu lagi nanti.”
Kael langsung menatap mereka berdua lagi.
“Bertemu lagi?”
Leyna tersenyum ringan.
“Hanya untuk bicara.”
Ia kemudian menoleh ke arah Arkan.
“Sore ini. Di taman Natureveil.”
Arkan mengangguk.
“Baik.”
Leyna melambaikan tangan kecil.
“Sampai nanti.”
Ia berjalan kembali menuju meja Natureveil.
Dan hampir seluruh meja itu langsung menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.
Kael menatap pemandangan itu dengan mata besar.
Kemudian ia menoleh sangat pelan ke arah Arkan.
Arkan sedang meminum tehnya seperti biasa.
Kael berkata dengan suara pelan penuh kebingungan,
“Arkan.”
“Ya?”
Kael menatapnya serius.
“Apa sebenarnya yang terjadi kemarin?”
Arkan terdiam beberapa detik.
Kemudian ia menjawab singkat.
“Cerita panjang.”
Kael menyandarkan kepalanya ke meja.
“Aku punya waktu.”
Arkan menatap jendela aula makan.
Matahari pagi bersinar terang di langit.
Namun jauh di dalam pikirannya—
Ia masih bisa mendengar sisa-sisa melodi itu.
Nyanyian yang datang dari bayangan.
Dan entah kenapa—
Ia merasa nyanyian itu semakin jelas setiap kali malam mendekat.