Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Sang Server Hidup
Gideon segera menyambar senapan berburunya, tetapi tangannya gemetar. Di luar sana, ribuan sorot lampu motor dan layar ponsel membentuk lautan cahaya yang haus darah. Mereka bukan lagi manusia; mereka adalah budak algoritma yang hanya punya satu tujuan: Amankan Maya, Klaim Hadiahnya.
Bab 32: Sang Server Hidup
"Gid, mereka di sini..." Maya terbangun dengan sentakan hebat.
Matanya kini tidak lagi berwarna cokelat. Ada rona kebiruan yang berpendar di pupilnya, mirip cahaya standby pada perangkat elektronik. Luka di telapak tangannya telah menutup secara tidak alami, menyisakan bekas luka yang membentuk pola sirkuit terpadu.
"Gue bakal tahan pintu depan, lo lewat lubang tikus di belakang!" teriak Gideon sambil mengisi peluru.
"Nggak bisa, Gid. Mereka tahu setiap langkah kita," kata Maya dengan nada suara yang aneh—datar dan berlapis, seperti ada ribuan orang yang bicara bersamanya.
Tiba-tiba, pintu gudang yang tebal itu mulai bergetar. Ribuan orang di luar sana mulai memukul-mukul dinding seng dengan irama yang sama. DUM. DUM. DUM. Mereka tidak berteriak; mereka justru menyanyi dalam harmoni yang mengerikan: "Live... Live... Live..."
Gideon menembakkan senjatanya ke arah pintu sebagai peringatan. "Mundur kalian semua!"
Bukannya mundur, sekelompok orang justru merobek dinding seng gudang dengan tangan kosong hingga kuku-kuku mereka terlepas. Mereka tidak peduli pada rasa sakit. Fokus mereka hanya pada Maya.
Seorang pemuda dengan HP yang terikat di dadanya berhasil menerobos masuk. Wajahnya penuh luka, tapi matanya terpaku pada Maya. "Dapet... gue dapet lo... 1 Miliar buat gue!"
Saat pemuda itu menerjang, Maya secara insting mengangkat tangannya. Dia tidak menyentuh pemuda itu. Dia hanya menjentikkan jarinya ke arah HP yang ada di dada si pemuda.
"LOGOUT."
Satu kata itu keluar dari mulut Maya, tapi frekuensinya begitu kuat hingga membuat udara bergetar.
Seketika, HP pemuda itu mengeluarkan asap hitam. Pemuda itu mendadak lemas, jatuh berlutut, dan matanya kembali fokus. Dia melihat tangannya yang berdarah dan berteriak ketakutan, seolah baru tersadar dari mimpi buruk yang panjang.
"Gue... gue ngapain di sini?" rintihnya.
Maya menyadari kekuatannya. Sebagai server pusat, dia memiliki otoritas administratif atas semua "klien" yang terhubung. Dia bisa memutus kendali @anatomi_maut pada individu tertentu.
Namun, harganya sangat mahal. Setiap kali Maya memutus koneksi satu orang, kepalanya terasa seperti dihantam palu godam. Data dari orang tersebut masuk ke dalam ingatannya secara paksa—nama, rahasia terdalam, hingga dosa-dosa mereka.
"May, lo bisa berhentiin mereka semua?!" tanya Gideon sambil mencoba menghalau massa yang makin beringas.
"Gue nggak kuat, Gid! Ada ribuan orang di luar!"
Tiba-tiba, jam digital di dashboard mobil Gideon yang terparkir di dalam gudang berganti angka: 00:00.
Seketika, seluruh aktivitas di luar gudang berhenti. Keheningan yang memekakkan telinga menyelimuti tempat itu. Ribuan orang itu diam membeku, mengangkat HP mereka tinggi-tinggi ke arah langit.
Layar-layar HP itu secara otomatis memancarkan proyeksi hologram ke udara, menciptakan satu layar virtual raksasa di atas gudang.
@anatomi_maut: Jam dua belas malam. Waktunya Bedah Kota. Maya, terima kasih sudah mengumpulkan mereka semua di sini. Penonton VIP sedang menunggu persembahanmu.
"Gue bukan persembahan lo!" teriak Maya ke arah proyeksi itu.
@anatomi_maut: Oh, Maya... kamu bukan lagi pemain. Kamu adalah lapangannya. Lihat ke dalam dirimu.
Maya melihat ke bawah. Pembuluh darah di kakinya mulai bercahaya biru, menjalar ke lantai semen gudang. Cahaya itu merambat keluar, menghubungkan dirinya dengan ribuan orang di luar sana melalui kabel-kabel data yang tak terlihat di udara.
Maya kini benar-benar menjadi pusat dari jaring laba-laba digital ini.
"Gid... lari," bisik Maya. "Ponsel lo... buang ponsel lo!"
"Gue nggak punya ponsel, May!"
"Tapi jam tangan digital lo... singkirin!"
Terlambat. Jam tangan digital Gideon mendadak memanas dan meledak, melukai pergelangan tangannya. Di saat yang sama, @anatomi_maut mengirimkan perintah pertama untuk siaran malam ini ke seluruh pengikutnya:
[TUGAS EKSEKUTOR: POTONG KONEKSI FISIK MAYA. AMBIL JANTUNGNYA UNTUK JADI SERVER PERMANEN.]
Ribuan orang itu mulai bergerak lagi. Kali ini tidak dengan keserakahan, tapi dengan presisi mesin. Mereka menyerbu masuk ke gudang bukan untuk menangkap, tapi untuk membedah.
ini kayanya ada dalangnya deh
tapi Vanya ya kali masa jadi zombie kak
🤔
ni cerita masuk genre system???
untung baca nya lampu nyala rame coba kalo sendirian 😭😭😭
cukup seru sih terlihat menjanjikan