Mengisahkan seorang Perwira Angkatan Darat bernama Lucas Abner yang sangat mencintai pekerjaannya. Pengabdiannya sebagai seorang tentara tidak bisa di ragukan. Dia bisa berada di korps pasukan khusus karena kelincahannya. Jatuh cinta kepada seorang perempuan yang dia temui dirumah sakit waktu menjengguk sahabatnya. Apakah Lucas bisa memikat hati perempuan itu ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesal
Setegah jalan, mobil diberhentikan karena dokter Joy merasa mual. Lucas yang semobil dengannya terpaksa menghentikan mobil yang dikendarai oleh Daniel. Nur bidan yang semobil dengan Joy menolong dokter Joy mengatasi mualnya.
Sebenarnya Dokter Joy Debora sedang sakit waktu berangkat tugas ini, memang dia memaksakan dirinya karena kontrak yang sudah dia lakukan. Satu minggu keberangkatannya, mama Joy meninggal dunia akibat Kanker Leukimia hal itu yang membuat Joy terpukul. Sebagai anak satu - satunya dia merasa kehilangan sekali. Sedangkan papanya memilih tinggal bersama istri keduanya yang sementara hamil.
Hubungan orangtua Joy memang tidak harmonis , papanya yang suka berselingkuh membuat mamanya yang adalah pegawai perusahaan swasta salah satu BUMN yaitu perbankan harus membesarkan Joy seorang diri. Sejak Joy masih sekolah di menegah pertama. Mamanya sudah pensiun setelah Joy selesai kuliah kedokteran. Semenjak pensiun mamanya sakit - sakit namun tidak mau berobat. Sampai Joy pulang dari Korea baru dia tahu penyakit sebenarnya yang diderita oleh mamanya. Yaitu Kanker. Penyakit mematikan ini membuat Mamanya menyerah di usia Joy dua puluh sembilan tahun dia menyerah akan hidupnya. Alasan ini juga yang membuat Joy memilih untuk tetap berangkat menjadi dokter relawan yang diadakan oleh perserikatan bangsa - bangsa.
"Baru perjalanan tiga jam saja sudah begini bagaimana jika menghadapi perang.
Semua orang yang sedang beristirahat di kaget kan dengan mendengar teguran keras komandan Lucas mengatakan hal yang tidak pantas buat didengar oleh dokter Joy.
"Bukan urusan kamu. Kebetulan saya kesehatannya lagi drop saja."
"Dokter apa yang sakit - sakitan??"
"Dokter juga manusia."
"Lagu ya." Lucas menjawab sedikit mengejek. Membuat tensi dokter Joy langsung naik.
Perjalanan langsung dilanjutkan. Mereka tiba di tempat tugas disambut oleh anggota tentara lain dengan pengalungan bunga. Joy tidak begitu semangat menerima sambutan ini. Karena dia kesal dengan komandan mereka.
"Kenapa sih, ada manusia sialan, yang bisa jadi komandan."
"Sabar bu dokter." Joy menangis dalam pelukan ners Tini. Lucas yang mendengar bahwa Joy telah menyumpahi dia. Niat hatinya mau membalas, namun terhalang begitu mendengar tangisan Joy.
"Dia kira, saya sakitnya akting kali."
Ners Zaki datang memanggil mereka, karena makan malam sudah siap.
"Dokter mau makan di kamar??"
"Kalau di ijinkan, takut komandan reseh itu marah."
Sementara itu dokter Stev, Leo dan Frans sedang berbincang - bincang dengan komandan Aldy menunggu berkumpul tim medis.
"Komandan mohon maaf atas sikap dokter Joy, namun tolong di pahami, mamanya seminggu yang lalu baru meninggal dan memang dokter Joy lagi sakit."
Joy makan di kamar, selesai makan dia minum obat dan peralatan makannya dibersihkan oleh Nur dan Siti.
Pagi hari dirasa badannya sedikit membaik. Semenjak semalam dia tidur cepat, selesai minum obat. Joy menggunakan baju olah raga dan menyempatkan diri berolah raga pagi, agar staminanya bagus. Biar tidak dikata fisik lemah.
"Selamat pagi."
"Kalau mau berdebat dengan saya, mohon maaf saya lelah. Tolong biarkan saya menikmati pagi ini dengan baik, agar mood saya kembali." Balasan sapaan pagi yang Joy berikan bagi komandan Lucas, dan dia tersenyum. Dalam hatinya Lucas berkata ternyata dia menyerah.
"Kalau orang kasih selamat pagi, ya dibalas dulu dengan sapaan yang sama. Kamu tahu ngak makna dari memberi salam seperti itu??"
"Apa ya komandan, ngak tahu. " Hati Joy kembali kesal, ngak bisa lihat orang damai kah. Pertemuan pagi yang tidak menyenangkan bagi Joy dan menyenangkan bagi Lucas.
"Kamu kenal sama dokter Joy, bro???"
"Tidak."
"What !!! Kenapa loe tega sekali bro."
"Gemesin. Kamu ingat ngak waktu kita jenguk Isak dirumah sakit. Dokter Joy ada disitu rombongan disebelah tempat tidur Isak. Gue suka senyumnya."
Joy sudah mandi dan dandan tipis - tipis. Sisi kecantikan Joy terpancar, tugas pertama mereka melakukan cek up bagi semua tentara. Waktu Joy mau membantu cek up lengkap yang dilakukan dokter - dokter yang lain di ruang berobat, Kejadian aneh terjadi, tentara yang semula sudah antri di dokter Stev, dan dokter - dokter lain semua berpindah kepada dokter Joy. Dokter - dokter itu hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah para tentara. Dan sekarang mereka tidak tahu bahwa komandan mereka ada dibelakang barisan mereka. Joy yang kesal dengan Lucas langsung menjalankan niat jailnya.
"Komandan saja yang pertama?" Semua anggota kaget, mereka langsung memberi hormat dan memberi jalan bagi komandan mereka. Sementara Lucas yang mau menghindar karena ada urusan yang harus dia lakukan, merasa kaget karena dia yang pertama.
"Saya???"
"Iya, bapak kan komandan, pemimpin mereka kan??" Lucas tersenyum. Dan berpikir Awas kamu jangan menghindar ya, kamu yang memulai semua ini. Dia menyerahkan daftar dirinya.
"Kapten Lucas Abner Gosal ?? Seperti nama komandan tidak asing deh." Joy yang mengingat cerita ners Rahel Mony. Bahwa suaminya orang Minahasa marga Gosal. Joy kenal dengan ners Rahel karena mereka bertugas pada satu klinik bedah sarah. Ners Rahel ada asisten yang membantunya dengan dokter Ari.
"Perasaan dokter saja. Nama keren ini, ngak mungkin pasaran apalagi muka ini." Semua tersenyum. Joy cemberut. Muka cemberutnya membuat Lucas semakin gemas.
"Percaya diri sekali." Pemeriksaan kesehatan tetap dilakukan. Joy langsung menusuk jarum ke tangan Lucas tanpa aba - aba setelah mendapat nadi. Otomatis Lucas sangat kaget terdengar teriakan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Pakai perasaan dokter."
"Masa jarum sekecil ini saja takut." Semua orang di ruangan itu tertawa. Lucas yang kesal langsung memasang muka marahnya dan semua anggotanya tersenyum malu - malu. Lucas sedikit mendekatkan mukanya ke muka dokter Joy.
"Dokter tahu, balasan saya akan lebih sakit. Jika jarum saya menusuk ke tubuh dokter." Joy yang mengerti maksud Kapten Lucas langsung mukanya merah mendengar itu.
"Dasar ......" Lucas dengan cepat memotong pembicaraan Hanna.
"Hasil pemeriksaan ini, kamu selaku ketua tim yang melaporkan langsung ke saya. Sore ini saya tunggu."
"Ehhhh kenapa saya??"
"Tidak dengar tadi saya ngomong kamu ketua tim yang bertanggung jawab. Sore hasilnya diserahkan ke saya." Lucas langsung keluar ruangan.
Siang hari di tempat makan. Joy Debora bertemu dengan Daniel.
"Boleh duduk disini?"
"Silahkan."
"Kita perna bertemu dengan dokter, waktu menjenguk teman kami Serda Isak. Waktu itu dokter juga menjenguk teman dokter yang sakit sebalah dengan teman saya."
"Oooo Serda Isak yang kena luka tusuk."
"Betul itu saya dokter. " Isak datang bergabung.
"Dokter bekerja di rumah sakit tentara??"
"Hanya kontrak. Kapten Lucas mamanya juga ners lama dirumah sakit itu."
"Apa ners Rahel Mony???"
"Ya itu mamanya Kapten Lucas."
"Pantas mukanya ada sedikit - sedikit ners Rahel. Tetapi kenapa kelakuannya berbeda ya."
"Komandan itu pada dasarnya baik."
"Mungkin aku yang apes ya ketemu sisi ngak baiknya." Kami bertiga tertawa.
Joy yang melihat kehadiran Lucas segera mengangkat piring kotornya. Dan meninggalkan Daniel dan Isak. Namun kata - kata yang keluar dari mulut dokter Joy membuat Daniel dan Isak tertawa.
"Tertawa apa kalian??"
"Tidak ada komandan." Lucas yang curiga mulai melakukan kekerasan sebagai hukuman bagi Daniel dan Isak. Dia yang melihat Joy menghindar langsung mengingatkan Joy tentang hasil pemeriksaan kesehatan tadi Pagi.
"Jangan lupa dokter Joy, saya tunggu hasil pemeriksaan hari ini."
Jam lima sore, semua data kesehatan anggota sudah keluar. Pada umumnya semua sehat. Hanya komandan Lucas yang sedikit bermasalah dengan fungsi ginjalnya. Dan Hanna sementara berada di ruangan komandan.
"Terus obat buat saya apa?"
"Ya kurangi kebiasaan buruk komandan."
"Kebiasaan buruk??"
"Iya, fungsi ginjal komandan bermasalah disebabkan oleh alkohol. Dan kurang minum air putih. Komandan masih suka minuman yang beralkohol??"
"Dari mana dokter tahu kalau saya suka Alkohol?"
"Mama komandan Ners Rahel Mony."
"Kamu tahu dari mana nama mama saya. Jangan- jangan kamu pengintai ya?"
"Saya perna bekerja dengan mamanya komandan di rumah sakit tentara. Mamanya asisten ners di klinik bedah saraf buat saya dan dokter Ari." Lucas sadar, bahwa waktu itu dia melihat dokter Joy yang kedua kali, mamanya langsung mengenal. Ternyata bekerja bersama. Jangan - jangan semua keburukan saya diceritai mama ya
"Oke. Baik nasehat dokter akan saya dengar, itu sebagai teguran buat saya. Tetapi jangan percaya diri bisa menasehati saya."
" Percaya diri ???? Komandan kali, kalau saya tidak."
Hanna langsung keluar ruangan, Lucas tersenyum melihat tingkah Joy.
Malam harinya Joy sedang membuat laporan untuk dilaporkan kepada badan perserikatan bangsa - bangsa yang mengurus kesehatan dunia. Sambil menikmati keindahan bintang di langit ditengah - tengah hutan ditemani secangkir kopi instan. Daniel yang melihatnya sendiri langsung menghampiri.
"Jangan suka menyendiri. Lokasi disini belum kita kenal baik."
"Eh Serka Daniel. Minum kopi ??."
"Dibuatin boleh."
"Iya aku buatin."
"Aku juga mau kopi satu." Lucas juga ikut meminta.
"Aku bukan pembantu." Daniel tertawa, melihat tingkah komandan dan dokter Joy.
"Masa hanya Daniel yang dibuat, aku juga mau."
Akhirnya Joy membuat dua cangkir kopi buat kedua tentara . Sementara kedua rekan dokternya sedang berlomba, menebak nasib dokter Joy dan Komandan Lucas. Mereka bertarung bahwa pasti akan ada benih cinta yang tumbuh diantara mereka berdua.
Selesai Joy mengirim email ke lembaga kesehatan dunia dia iseng bertanya kepada Daniel tentang letak pasar. Kebetulan dia mau mencari sendal.
"Dan, kalau mau berbelanja, apa pasarnya jauh?"
"Ngak paling lima belas menit naik motor, mau beli apa, besok aku antar selesai turun jaga jam delapan."
"Boleh?"
"Tentu boleh."
"Siapa bilang boleh yang mau keluar dari lingkungan ini harus ijin aku. Mengerti."
"Kenapa sih kamu sukanya marah, melarang, mengejek. Sebal tahu. Lama - lama gue suntik mati juga." Joy langsung meninggalkan tempat ini.
"Eh.. dokter rencana pembunuhan ya." Joy sudah berlari meninggalkan kedua tentara itu.