Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedekatan Adit Dan Ningsih
Jakarta yang biasanya riuh rendah dengan suara klakson dan deru mesin, bagi Aditya kini terasa seperti sebuah ruang hampa yang menyiksa. Tubuhnya yang biasanya sekuat baja, yang mampu memanggul dua sak semen sekaligus tanpa mengeluh, kini terkapar tak berdaya di atas dipan kayu di dalam bedeng pekerja. Penyakit itu datang tanpa permulaan yang jelas. Sejak pagi itu—saat ia merasakan dadanya seperti diremas oleh tangan raksasa yang tak kasat mata—kekuatannya menguap begitu saja.
Ia menderita sakit misterius. Dokter puskesmas di dekat proyek hanya mengatakan ia kelelahan dan terkena radang paru-paru ringan, namun Aditya tahu ada yang lebih buruk dari sekadar infeksi medis. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia tidak lagi melihat wajah Mirasih yang sedang tersenyum. Ia justru melihat kegelapan yang sangat pekat, bau bunga melati yang busuk, dan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsumnya.
"Minum dulu, Mas Adit. Airnya masih hangat," sebuah suara lembut memecah lamunan pahit Aditya.
Ningsih berdiri di ambang pintu bedeng yang sempit itu. Di tangannya, ia membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam yang masih mengepul dan segelas air putih serta beberapa butir obat. Gadis itu tidak memedulikan tatapan menggoda dari para pekerja lain yang sedang beristirahat di luar. Baginya, merawat Aditya adalah prioritas utamanya sejak pemuda itu jatuh sakit tiga hari yang lalu.
Aditya berusaha bangkit, namun kepalanya berputar hebat. Ningsih dengan sigap meletakkan nampan di meja kecil, lalu membantu menyangga punggung Aditya dengan bantal yang sudah lusuh.
"Terima kasih, Ningsih. Kamu tidak perlu repot-repot begini setiap hari. Warung ibumu pasti sibuk," ucap Aditya dengan suara yang parau dan lemah.
Ningsih tersenyum manis, sebuah senyuman tulus yang seharusnya mampu meluluhkan hati laki-laki mana pun. Ia mulai menyuapi Aditya perlahan. "Ibu sudah tahu, Mas. Ibu malah yang menyuruhku ke sini. Katanya, kasihan Mas Adit sendirian di bedeng, tidak ada yang mengurus. Teman-teman Mas kan sibuk kerja semua."
Aditya menerima suapan itu dengan canggung. Ia bisa merasakan perhatian Ningsih yang luar biasa. Gadis itu tidak hanya membawakan makanan, tapi ia juga yang membersihkan bedeng Aditya yang berantakan, mencuci pakaian kotornya, dan memastikan obat-obatnya diminum tepat waktu. Ningsih memperlakukannya seperti seorang istri yang merawat suaminya.
"Ningsih..." Aditya menatap mata gadis itu. "Kenapa kamu begitu baik padaku? Padahal kamu tahu, aku ini orang susah yang pikirannya masih tertinggal di kampung."
Tangan Ningsih yang memegang sendok terhenti sejenak. Ia menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Karena aku tidak tega melihat Mas menderita. Dan karena... Mas Adit itu orang baik. Di Jakarta ini, jarang ada laki-laki yang jujur dan setia seperti Mas."
Di sore hari, saat matahari mulai condong ke barat dan memberikan warna emas pada debu-debu proyek, suasana di sekitar bedeng menjadi sedikit lebih santai. Beberapa teman Aditya, termasuk Bagas, duduk bersila di depan pintu bedeng sambil merokok dan meminum kopi. Mereka melihat Ningsih yang sedang mencuci piring di luar bedeng Aditya.
"Lihat itu, Dit," bisik Bagas sambil melirik ke arah Ningsih. "Kurang apa lagi dia? Sudah cantik, rajin, telaten merawatmu pula. Kalau aku jadi kamu, sudah langsung kulamar dia setelah kontrak ini selesai."
"Iya, Dit! Ningsih itu sudah seperti malaikat buatmu. Di kota sebesar ini, mana ada gadis secantik dia mau merawat kuli bangunan yang lagi sakit-sakitan kalau bukan karena cinta?" timpal pekerja lain sambil tertawa kecil.
Aditya hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan beban batin. "Ningsih memang baik, sangat baik. Tapi hatiku sudah ada yang punya, Gas. Kalian tahu sendiri kan, aku di sini berjuang untuk siapa."
Bagas menghela napas, ia merasa kasihan melihat sahabatnya yang begitu keras kepala dalam kesetiaan. "Mirasih lagi? Dit, surat yang kamu kirim kemarin belum ada balasannya, kan? Kita tidak tahu apa yang terjadi di desa. Bisa saja dia sudah dijodohkan, atau dia sudah bosan menunggumu. Tapi Ningsih? Dia ada di sini, di depan matamu, nyata."
Aditya terdiam. Ucapan Bagas ada benarnya, namun setiap kali ia terpikir untuk menyerah pada Mirasih, sebuah ikatan batin yang kuat seolah menariknya kembali. Ia merasa Mirasih sedang dalam kesulitan, meskipun surat "palsu" yang—sebenarnya belum ia ketahui sebagai palsu—nantinya akan merusak segalanya, saat ini Aditya hanya merasa harus pulang.
"Aku harus pulang dulu, Gas. Begitu kontrak ini habis atau badanku sudah kuat sedikit lagi, aku harus melihatnya. Aku harus memastikan dengan mataku sendiri apakah Mirasih masih menungguku. Jika benar dia sudah tidak menginginkanku, barulah aku akan menyerah," ucap Aditya tegas.
Ningsih yang ternyata mendengar percakapan itu dari balik pintu, merasakan hatinya berdenyut nyeri. Ia membawa segelas teh hangat ke dalam dan memberikan senyum yang dipaksakan.
"Ini tehnya, Mas Adit. Diminum biar badannya hangat," ucap Ningsih.
"Terima kasih, Ningsih," jawab Aditya lembut.
Obrolan di dalam bedeng itu pun berlanjut menjadi lebih hangat. Ningsih ikut bercerita tentang mimpinya ingin membuka warung yang lebih besar, dan Aditya sesekali menanggapi dengan humor kecil yang membuat suasana menjadi cair. Teman-teman Aditya terus menggoda mereka, membuat Ningsih tersipu malu.
Untuk sesaat, suasana di dalam bedeng itu terasa seperti rumah yang penuh kehangatan, seolah penyakit Aditya mulai luruh oleh perhatian Ningsih.
Namun, di tengah kehangatan manusiawi itu, ada sesuatu yang tidak mereka sadari.
Jauh di balik tumpukan besi-besi tua yang berkarat di area proyek yang gelap, sekitar lima puluh meter dari bedeng Aditya, sebuah hawa dingin yang tidak wajar mulai menyebar. Udara di tempat itu mendadak menjadi sangat pekat, hingga serangga malam pun berhenti bersuara.
Dari kegelapan yang paling dalam, muncul sepasang mata merah menyala yang sangat besar. Mata itu tidak berkedip, menatap tajam ke arah bedeng tempat Aditya dan Ningsih berada. Itu adalah sosok ghaib yang dikirim oleh amarah dan cemburu dari kejauhan—perpanjangan tangan dari Ki Ageng Gumboro.
Sang Genderuwo tidak hanya berdiam diri di hutan larangan. Melalui perjanjian batinnya dengan Mirasih yang kini telah menjadi "istri" resminya, ia bisa merasakan sisa-sisa ikatan antara Mirasih dan Aditya. Dan mahluk itu tidak suka. Ia merasakan bahwa Aditya masih menjadi penghalang bagi kepatuhan total Mirasih terhadapnya.
Sepasang mata merah itu memperhatikan bagaimana Ningsih menyentuh tangan Aditya saat memberikan teh. Ia memperhatikan tawa Aditya yang keluar karena candaan teman-temannya. Bagi mahluk kegelapan itu, kebahagiaan Aditya adalah sebuah penghinaan.
“Manusia lemah...” sebuah suara geraman yang tidak terdengar oleh telinga manusia, namun menggetarkan alam ghaib, keluar dari sosok gelap itu.
Mahluk itu mulai merayap mendekat, perlahan dan tanpa suara, seperti bayangan yang menyatu dengan malam. Ia tidak akan membunuh Aditya sekarang—perintah Mirasih sudah jelas: Aditya harus menderita secara batin, harus hancur oleh kenyataan yang akan dihadapi nanti. Namun, mahluk itu berniat memberikan "hadiah" kecil untuk penyakit Aditya.
Tiba-tiba, lampu bohlam di dalam bedeng Aditya berkedip-kedip dengan suara ceklis-ceklis yang aneh.
"Loh, kenapa lampunya?" tanya Ningsih sambil menengadah.
"Mungkin kabelnya kendor, Mas," jawab Bagas dari luar.
Aditya mendadak merasa dadanya sesak kembali. Ia merasa oksigen di dalam bedeng itu menghilang, digantikan oleh bau singkong bakar yang samar namun sangat busuk. Ia memegang dadanya, wajahnya kembali pucat pasi.
"Mas Adit? Mas kenapa?" Ningsih panik, ia memegang pundak Aditya yang mulai berkeringat dingin.
Aditya tidak bisa menjawab. Ia melihat ke arah jendela bedeng yang terbuka sedikit. Di sana, di antara kegelapan malam Jakarta, ia seolah melihat sekelebat bayangan hitam yang sangat besar dengan mata merah yang mengawasinya. Bayangan itu hanya muncul sekejap, lalu hilang saat Bagas masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan.
"Astaga, Dit! Kamu pucat lagi!" seru Bagas.
Ningsih dengan air mata yang mulai berlinang terus memijat punggung Aditya. "Sabar, Mas... istighfar, Mas..."
Di luar sana, di balik tumpukan besi, sosok mata merah itu menghilang kembali ke dalam dimensi ghaib, meninggalkan aura kesialan dan penyakit yang kini tertanam lebih dalam di tubuh Aditya. Sang mahluk telah memastikan bahwa Aditya tidak akan sembuh dengan cepat. Ia akan membiarkan Aditya tersiksa dalam rasa sakit, sementara di desa, Mirasih kian tenggelam dalam pelukan kemewahan dan dendam yang ia ciptakan sendiri.
Aditya mencoba mengatur napasnya. Ia menatap Ningsih yang begitu tulus merawatnya, namun di dalam benaknya, sebuah ketakutan besar mulai tumbuh.
"Aku harus pulang... secepatnya..." rintih Aditya sebelum akhirnya ia jatuh pingsan di pangkuan Ningsih, sementara di luar, angin malam Jakarta berhembus membawa aroma melati yang pahit, aroma yang sama dengan yang kini selalu menyelimuti tubuh Mirasih di kampung halaman.
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk