Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. AKADEMI SIHIR OBERYN
Kereta kuda yang membawa Elara Ravens berhenti perlahan di depan sebuah gerbang raksasa.
Gerbang itu terbuat dari batu hitam tua yang diukir dengan simbol-simbol sihir kuno. Pada kedua sisinya menjulang menara tinggi yang dipenuhi kristal bercahaya biru pucat. Setiap kali angin bertiup, kristal-kristal itu bergetar pelan dan memancarkan gema seperti lonceng yang sangat halus.
Elara turun dari kereta.
Pengawal dari keluarga Oberyn yang mengantarnya menundukkan kepala hormat.
"Ini adalah Akademi Sihir Oberyn, Nona Elara," kata sang pengawal sopan.
Elara menatap ke depan. Matanya membesar perlahan.
Di hadapannya berdiri sebuah akademi yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Bangunan utama berdiri megah di tengah lembah, seperti istana dari dunia dongeng. Dindingnya terbuat dari batu putih keperakan yang memantulkan cahaya pagi. Menara-menara tinggi menjulang seperti tombak menuju langit.
Di atas menara itu melayang lingkaran-lingkaran sihir transparan yang berputar perlahan seperti cincin raksasa.
Halaman akademi sangat luas.
Ratusan murid berjalan ke sana kemari mengenakan jubah akademi dengan berbagai warna lambang divisi mereka.
Beberapa murid memanggil makhluk sihir kecil untuk membantu membawa buku.
Beberapa lainnya sedang berlatih mantra ringan.
Ada yang bahkan melayang beberapa sentimeter dari tanah.
Elara terdiam.
Matanya bersinar penuh kekaguman.
"Luar biasa," ucap Elara penuh kekaguman.
Ini pertama kalinya ia melihat begitu banyak penyihir muda berkumpul di satu tempat.
Selama ini ia hanya belajar dasar-dasar teori sihir secara terbatas karena kekuatan dalam tubuhnya masih disegel.
Namun tempat ini ...
Tempat ini benar-benar dunia sihir.
Pengawal itu tersenyum kecil melihat reaksi sang Nona Muda.
"Tuan Aaron sebenarnya ingin menjemput Anda pagi ini. Namun beliau dipanggil lebih awal oleh kepala akademi untuk beberapa urusan," kata sang pengawal.
Elara mengangguk. Ia tidak terlalu keberatan. Lagipula ia memang ingin melihat akademi ini dengan matanya sendiri.
"Terima kasih sudah mengantar sampai sini," kata Elara sopan.
Pengawal itu menundukkan kepala lagi dan berkata, "Jika ada masalah, Anda bisa menyebut nama keluarga Oberyn."
Elara mengangguk kecil.
Setelah itu pengawal tersebut kembali ke kereta dan pergi meninggalkan akademi.
Kini Elara berdiri sendirian di depan gerbang besar itu..Angin pagi meniup rambut hitamnya yang panjang. Ia menarik napas pelan.
"Baiklah, kau bisa Elara," gumam sang gadis.
Elara mulai berjalan memasuki akademi.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak hal menakjubkan yang ia lihat.
Sebuah patung naga raksasa di tengah halaman tiba-tiba bergerak pelan, ternyata itu adalah golem penjaga.
Di dekat taman, sekelompok murid sedang memraktikkan sihir angin hingga daun-daun beterbangan membentuk pusaran kecil.
Di sisi lain, seorang guru sedang mengawasi latihan duel sihir ringan antara dua murid.
Kilatan cahaya warna-warni berpendar di udara.
Elara menoleh ke sana kemari dengan mata berbinar. "Tempat ini benar-benar luar biasa."
Ia bahkan sampai lupa memerhatikan arah jalannya.
Dan ...
BRAK!
Tubuh Elara menabrak seseorang.
Elara mundur selangkah karena terkejut.
"Oh, maaf!" Ia langsung berkata refleks.
Orang yang ia tabrak adalah seorang gadis.
Gadis itu sangat cantik.
Rambutnya panjang berwarna cokelat kemerahan, dihiasi pita mahal. Seragam akademinya tampak jauh lebih mewah dibanding murid lain, dengan bros emas berbentuk lambang keluarga bangsawan.
Namun wajah cantik itu kini menatap Elara dengan ekspresi dingin dan penuh kesombongan.
Di belakangnya berdiri dua gadis lain yang tampaknya adalah temannya.
Gadis itu mengerutkan kening seolah baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan.
"Apakah matamu buta?" kata gadis berambut cokelat kemerahan itu, tajam.
Elara tetap tenang.
"Maaf," kata Elara lagi dengan nada santai. "Aku tidak sengaja."
Namun bukannya mereda, gadis itu justru mendengus sinis. "Maaf?" katanya.
Gadis sombong itu melangkah mendekat. Lalu dengan telunjuknya ia mendorong dada Elara.
"Divisi apa kau?" tanyanya. "Dan tingkat berapa?"
Elara sedikit mengangkat alis. Ia masih tetap tenang.
“l"Aku murid baru," jawab Elara sederhana.
Gadis itu langsung tersenyum sinis. "Ah, murid baru."
Dua gadis di belakangnya ikut menyeringai.
"Dari mana?" tanya gadis itu lagi.
Elara menjawab tanpa ragu. "Kerajaan Aurelius."
Beberapa murid di sekitar mereka mulai melirik.
Dan tiba-tiba ...
Ketiga gadis itu tertawa. Tawa yang jelas penuh ejekan.
"Aurelius?" kata salah satu temannya. "Serius?"
Gadis sombong itu menatap Elara dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan.
"Bagaimana bisa akademi ini menerima orang barbar dari kerajaan yang hanya tahu adu jotos?" katanya sinis.
Ucapan itu membuat suasana di sekitar mereka sedikit hening.
Tatapan Elara langsung berubah. Matanya yang sebelumnya tenang kini menjadi dingin. Sangat dingin.
Namun Elara menahan diri.
Janji pada Duke Arram terlintas di pikiran Elara.
Jika emosinya pecah maka energi sihir itu bisa melonjak tak terkendali.
Elara menarik napas pelan..Lalu ia berbalik.
"Permisi," kata Elara singkat. Ia berjalan melewati mereka tanpa ingin memperpanjang masalah.
Namun ....
Sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pundak Elara.
"Berhenti." Gadis sombong itu menahan Elara.
"Siapa bilang kau boleh pergi begitu saja?"
Elara menoleh pelan. "Apakah ada yang lain?" tanyanya datar.
Gadis itu tampak semakin kesal. "Kau bahkan tidak tahu siapa aku?" katanya dengan nada marah.
Elara tidak menjawab.
Keheningan itu membuat gadis itu semakin tersinggung.
"Aku adalah putri seorang Count," kata sang gadis sombong dengan nada penuh kebanggaan.
Beberapa murid mulai memerhatikan mereka.
Namun reaksi Elara justru membuat gadis itu semakin murka.
Elara ... tersenyum.
Namun itu bukan senyum ramah.
Itu senyum mengejek.
Senyum yang seolah berkata: lalu kenapa kalau putri Count?
Wajah gadis sombong itu memerah. "Kau!"
Gadis itu langsung mengangkat tangan, hendak menampar Elara.
Namun sebelum tangan itu mengenai wajah Elara, sebuah tangan lain menangkap pergelangan gadis itu di udara.
Semua orang terkejut.
Seorang pria berdiri di sana.
Tinggi.
Rambut hitamnya rapi, matanya tajam namun tenang.
Aura yang ia bawa sangat berbeda dari murid biasa.
Gadis sombong itu langsung membeku.
Dua temannya bahkan terlihat pucat.
Mereka segera mundur satu langkah lalu menundukkan kepala.
"T-Tuan Edgar ..."
Pria itu menatap mereka dengan dingin.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya pria bernama Edgar tenang. "Sejak kapan murid di akademi ini memukul murid lain di halaman terbuka?"
Para gadis itu langsung panik.
"Itu ... itu bukan seperti yang Anda lihat!" kata salah satu dari mereka cepat.
"Dia yang duluan tidak sopan!" tambah yang lain.
"Dia menabrak Lady Sabrina dan bersikap angkuh!"
Edgar menatap mereka tanpa ekspresi dan berkata, "Kalian pikir aku tidak melihat dan tidak mendengar?"
Ketiga gadis itu terdiam.
"Dia sudah meminta maaf," lanjut Edgar. "Dan dia juga sudah mengatakan bahwa dia murid baru."
Suara Edgar tetap tenang. Namun justru itu yang membuatnya terasa menekan.
"Dan kalian bahkan berani mengatakan kerajaan Aurelius barbar? Kalian ingin memicu perang dua kerajaan?" ujar Edgar marah. Tatapan Edgar menjadi lebih tajam. "Aku akan melaporkan ini kepada para guru," tambahnya.
Ketiga gadis itu langsung pucat.
"Tidak!"
"Tuan Edgar, mohon-"
Namun Edgar tidak bergeming.
Mereka lalu menatap Elara dengan tatapan tajam.
"Semua ini karena kau!" bisik salah satu dari mereka penuh kebencian.
Elara hanya menghela napas pelan.
Kenapa hari pertamaku di akademi sudah sial begini? pikir Elara.
Edgar kemudian berkata singkat. "Pergi."
Ketiga gadis itu langsung menunduk. "Baik, Tuan Edgar."
Mereka segera pergi dari sana tanpa berani membantah lagi.
Suasana kembali tenang.
Elara menoleh pada pria yang menolongnya. Ia langsung membungkuk sopan.
"Terima kasih," ucap Elara tulus.
Edgar tersenyum ramah. Senyum yang sangat berbeda dengan sikap dinginnya tadi.
"Jadi kau murid baru yang diceritakan para guru?" konfirmasi Edgar.
Elara berkedip bingung. "Para guru tahu tentang aku?"
Edgar mengangguk. "Para guru dan juga Student Council. Elara Ravens dari kerajaan Aurelius. Kedatanganmu adalah bagian dari kerja sama antara kerajaan Oberyn dan Aurelius."
Elara sedikit terkejut. "Jadi semua orang sudah tahu?"
"Kurang lebih begitu," jawab Edgar.
Elara mengangguk pelan. "Lalu ... apakah kau termasuk Student Council?"
Edgar tersenyum kecil. "Kebetulan iya. Dan kemungkinan besar kita akan berada di divisi yang sama. Walaupun ... aku seniormu."
Elara langsung berdiri tegak. Ia memberi salam formal dengan hormat. "Mohon bimbingannya nanti, Senior ..."
Elara berhenti sejenak.
Edgar tersenyum. "Edgar. Namaku Edgar."
Elara mengangguk. "Mohon bantuannya, Senior Edgar."
Edgar tampak cukup terkesan dengan sikap Elara..Banyak bangsawan muda sering kali arogan. Namun gadis dari Aurelius ini justru sangat sopan.
"Kalau begitu ... aku akan mengantarmu," kata Edgar.
"Ke mana?" tanya Elara.
"Ruangan Kepala Akademi." Edgar menunjuk ke arah bangunan utama. "Beliau sepertinya sudah menunggumu. Bersama beberapa guru lainnya."
Elara sedikit terkejut.
Namun ia segera mengangguk. "Baik."
Mereka mulai berjalan bersama menuju gedung utama akademi.
Sepanjang jalan, banyak murid melirik Edgar dengan hormat.
Beberapa bahkan menunduk sedikit.
Elara memerhatikan itu diam-diam. "Sepertinya Senior Edgar cukup terkenal," katanya.
Edgar tertawa kecil. "Hanya karena posisiku di Student Council.*
Bangunan utama semakin dekat.
Tangga marmer putih membentang lebar menuju pintu raksasa yang dihiasi ukiran sihir kuno.
Elara berhenti sejenak di dasar tangga.
Ia menatap bangunan itu.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Di dalam sana Kepala akademi menunggunya. Para guru menunggunya.
Dan mungkin masa depan barunya juga dimulai di sana.
Walau Elara tidak tahu akan ada masalah juga yang sudah menunggunya.
Salah satunya adalah ... tes masuk.
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜