"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Geter Kaaaan 16
Tok tok tok
"Run, buka pintunya! Arundari, aku mohon buka pintu nya. Ada yang mau aku omongin sama kamu!"
Sesampainya di rumah, Heri membulatkan matanya ketika melihat beberapa koper di depan pintu. Di tentu tidak lupa bahwa koper-koper itu miliknya. Heri semakin yakin ketika memeriksa koper tersebut. Semua barang yang ada di dalamnya adalah barang miliknya.
Tok tok tok
Heri mencoba mengetuk pintu rumah itu lagi. Tapi tak ada hasilnya sama sekali.
"Udah apa, Mas. Ayo kita pulang. Itu barang-barang kamu kan udah ada di luar, jadi tinggal bawa aja kenapa harus manggil-manggil dia sih,"ucap Jelita sambil menarik lengang Heri. Jelita merasa tidak suka dengan suaminya yang memanggil-manggil mantan istrinya.
"Bentar, aku harus ketemu Arun dulu baru bisa pergi,"jawab Heri. Pria itu mengibaskan tangan Jelita dengan sedikit kasar.
Terang saja Jelita terkejut. Sudah sebanyak dua kali Heri bertindak sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya.
Tidak ingin diperlakukan seperti itu, dan juga kedepannya dia juga tidak suka jika Heri berbuat seperti itu kepadanya, akhirnya Jelita pun berbicara dengan menggunakan nada sedikit tinggi.
"Mas! Kamu kenapa sih dari tadi kasar terus sama aku! Sekarang yang jadi istri kamu tuh aku lho. Terus kamu ngapain masih nyari-nyari dia sampai segitunya!"
Wajah cantik itu bergetar. Dia benar-benar merasa kesal karena apa yang dilakukan oleh suaminya di hari mereka resmi menjadi suami istri.
Lalu Heri, pria tersebut mengusap wajahnya kasar. Dia mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Setelah itu, dia memegang kedua bahu Jelita dan berkata, "Ada yang perlu aku omongin juga sama Arundari. Semua ini nggak semudah yang kamu ucapin itu. Bagaimanapun aku ada urusan sama dia. Kami belum bercerai secara hukum, jadi di mata negara kami masih suami istri. Jadi mengertilah, Jelita."
Meski tahu apa yang dikatakan oleh Heri itu benar, tapi Jelita tetap tidak suka. Fakta sekarang dirinya masih merupakan istri siri, sungguh ingin segera dihempaskan oleh nya.
Bruumm
Ckiiit
Kedua pasang mata itu langsung melihat ke arah mobil yang baru datang. Mobil yang tidak dikenal baik oleh Jelita maupun Heri. Namun orang yang keluar dari sana jelas mereka kenal dengan baik.
"Ada apa ribut-ribut begini di depan rumah orang hmmm? Penganten baru, seharunya kan kalian lagi honeymoon. Kok malah jadi ngaco di rumah orang sih." Arundari keluar dari mobil. Bukan dari sisi pengemudi melainkan dari sisi penumpang. Bahkan pintu mobilnya juga dibukakan oleh seorang supir.
Jelita bahkan sampai membuka mulutnya lebar melihat Arundari yang vibes nya nampak berbeda.
"Supir, sejak kapan kamu pakai supir, Run?" tanya Heri sembari berjalan mendekat.
"Maaf, bukan urusan Anda. Kita nggak ada dalam sebuah hubungan dimana saya harus mengatakan segala hal tentang saya,"jawab Arundari ketus.
"Aah dan ini. Aku mau ngasih tahu sebuah rahasia besar sama kamu, kalau aku baru aja balik dari kantor polisi. Siap-siap ya Heriawan untuk menerima panggilan dari pengadilan. Dan juga kamu Nona Jelita Wardani. Mungkin kalian akan mendapat sesuatu yang indah nantinya. Ya anggap aja hadiah pernikahan ye kan," sambung Arundari.
Dengan anggun, wanita yang mengenakan gamis dan jilbab lebar berwarna mocca itu melenggang masuk ke rumah sambil melewati Heri dan Jelita. Dia benar-benar menganggap bahwa dua orang itu hanyalah debu yang tidak berarti.
"Kalau begitu Nyonya, saya akan kembali. Jangan sungkan untuk menghubungi saya,"ucap pria yang masih berdiri di sisi mobil. Untuk dikatakan sebagai seorang supir, pria itu begitu tampan dan juga elegan. Sehingga Heri mengerutkan alisnya ketika melihat pria tersebut.
"Baik Pak Mirza, terimakasih banyak untuk bantuan Anda. Ucapkan terimakasih saya kepada beliau ya,"jawab Arundari dengan senyumnya yang begitu lebar.
Setelah berkata demikian, Arundari masuk ke rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Sedangkan pria yang bernama Mirza juga langsung masuk ke mobil dan pergi dari rumah Arundari.
Heri dan Jelita tertinggal di teras rumah. Mereka bak orang-orangan sawah yang sama sekali tidak dianggap.
Heri seketika sadar bahwa dia harus bicara dengan wanita yang dimata hukum masih sah menjadi istrinya itu. Ya, Heri kembali mengetuk pintu rumah itu dan kali ini juga memanggil nama Arundari dengan sangat keras.
"Run, buka pintunya. Aku mau bicara!! Arundari, cepat buka pintunya. Kalau nggak aku bakalan terus ada di sini dan teriak-teriak!" pekik Heri.
"Mas! Udah apa, malu kalau ada yang lihat," sergah Jelita sambil melihat ke belakang. Dia benar-benar tidak suka jika ada orang lain yang melihat situasi ini.
Ceklek
"Brisik, Heri. Kan udah aku bilang buat tunggu panggilan dari pengadilan. Itu berarti urusan kita akan ada di peradilan nanti, nggak sekarang. Dan juga itu barang-barang mu udah aku packing ke koper semua tinggal bawa aja. Tapi kenapa sih ribut banget,"ucap Arundari sambil mengerutkan dua alisnya.
Tak ada lagi perasaan yang tersisa di hati wanita itu untuk mantan suaminya. Sehingga melihat Heri hanya ada rasa kesal dan benci saja.
"Nggak bisa gini, Run. Rumah ini, rumah ini aku juga ada hak,"sahut Heri cepat.
Hahahah
Arundari tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai keluar air mata.
"Jangan amnesia wahai kau, Heriawan. Rumah ini adalah rumah hadiah pernikahan dari kedua orang tuaku. Bahkan rumah ini adalah rumah milik ibuku, Lintang Putri Darsuki. Aset milik ibuku yang diberikan khusus oleh kakek ku, Adam Dwi Darsuki. Jadi jangan ngaco deh. Enak aja punya hak di rumah ini. Sekalian aku ingetin sekali lagi ya, di HTU ada sebagian besar harta pribadiku juga. Dan semua itu akan ku usut tuntas di pengadilan. Cam kan itu Heri. Dah sana pergi, mengganggu ketenangan banget kalian. Kalau kalian nggak cepat pergi dari sini, maka aku bakalan nelpon keamanan."
Brak!
Heri terjingkat ketika Arundari menutup pintu rumah dengan sangat keras. Selama ini dia tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari Arundari. Dan siapa sangka sikapnya kali ini benar-benar tegas. Arundari yang Heri kenal adalah pribadi yang lembut.
Tak hanya itu, tubuh Heri juga sedikit bergetar. Jelita yang melihatnya menjadi bertanya-tanya.
"Kamu kenapa, Mas?"
"Oh nggak, nggak apa-apa," jawab Heri cepat.
Pria tersebut mengusap wajahnya kasar. Kemudian dia memasukkan koper-koper itu ke dalam mobil dan bergegas untuk pergi.
Namun selama mengemudikan mobil, pikiran Heri melalang buana tidak karuan. Terlebih mengingat Arundari menyebut nama sang kakek.
"Gila, ini beneran gila. K-kalau keluarga dari ibu Arun tahu gimana? Keluarga Darsuki bukan keluarga yang biasa. Apalagi pakde dan kakak sepupu Arun yang tinggal di Semarang. Gawat."
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣