desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32: Firasat Seorang Istri
Firasat itu seperti bayangan. Tak pernah terlihat jelas, tapi selalu ada. Mengikuti ke mana pun kita pergi. Menunggu waktu untuk menjadi nyata.
Aira merasakannya sejak seminggu terakhir. Sesuatu yang tak beres. Raka pulang makin larut. Ponselnya lebih sering dipegang. Tatapannya sering kosong, seperti orang yang pikirannya jauh entah ke mana.
Malam itu, Aira tak bisa tidur. Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Raka belum pulang. Biasanya ia telepon kalau lembur. Malam ini, diam.
Aira duduk di ruang tamu. Gelap. Hanya lampu kota dari jendela yang memberi sedikit cahaya. Ia memeluk guling—guling yang biasa dipeluk Arka. Wanginya seperti anak-anak. Seperti rumah.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Raka.
"Maaf, Sayang. Rapat darurat. Aku tak bisa pulang. Besok pagi aku langsung ke kantor dari sini. Jangan khawatir."
Aira membaca pesan itu berulang kali. Jangan khawatir. Dua kata yang justru membuatnya makin khawatir.
Ia tak membalas. Hanya menatap layar ponsel hingga mati sendiri.
---
Keesokan paginya, Aira antar Arka ke sekolah seperti biasa. Arka ceria, bercerita tentang teman dan tugas sekolah. Aira tersenyum, tapi matanya kosong.
"Mama, kok melamun?"
Aira tersentak. "Eh, nggak, Nak. Mama denger kok."
Arka memicing. "Bohong. Mata Mama kayak orang capek."
Aira mengusap wajahnya. "Mama kurang tidur, Ark. Tapi nggak apa-apa."
Sesampai di sekolah, Arka melambai. "Mama, jaga diri ya. Arka sayang Mama."
Aira tersenyum. "Iya, Nak. Mama juga sayang Arka."
---
Dari sekolah, Aira tak langsung ke butik. Ia mampir ke kantor Raka.
Lobby sepi. Resepsionis mengenalnya.
"Selamat pagi, Bu Aira. Ada perlu dengan Pak Raka?"
"Iya. Apa beliau sudah datang?"
Resepsionis mengecek komputer. "Sudah, Bu. Dari jam 7. Mau saya antar?"
"Tak usah. Aku tahu jalan."
Aira naik lift. Jantungnya berdebar. Ia tak tahu apa yang akan ditemui. Tapi ia harus tahu.
Pintu lift terbuka. Lantai 20, tempat ruang Raka. Ia berjalan menyusuri koridor. Beberapa karyawan menyapanya. Ia menjawab sekenanya.
Sampai di depan ruang Raka, ia berhenti. Pintu sedikit terbuka. Dari celah itu, ia melihat Raka duduk di kursinya. Di depannya, seorang wanita berdiri. Wanita itu membungkuk, menunjuk sesuatu di laptop Raka. Posisinya sangat dekat. Terlalu dekat.
Wanita itu tertawa. Suaranya merdu. Raka ikut tersenyum.
Aira membuka pintu.
Semua menoleh. Raka terkejut.
"Aira? Kau... dari mana?"
Aira tersenyum. Berusaha tenang. "Aku barusan antar Arka. Mampir sini. Mau kasih kejutan."
Matanya beralih ke wanita itu. Wanita itu cantik. Sangat cantik. Blazer putih, rambut panjang tergerai, senyum manis.
"Ini pasti istri Pak Raka ya?" sapa wanita itu hangat. "Saya Vanya. Senang bertemu."
Vanya mengulurkan tangan. Aira menjabatnya. Jabat tangan itu hangat, tapi ada sesuatu di mata Vanya. Sesuatu yang tak bisa Aira jelaskan.
"Senang bertemu," kata Aira datar.
Raka berdiri. "Aira, Vanya direktur pemasaran baru. Dia lagi presentasi hasil riset."
Vanya mengangguk. "Iya, Bu. Maaf kalau mengganggu. Saya permisi dulu. Silakan, Bu Aira, ambil tempat duduk saya."
Vanya pergi. Sebelum keluar, ia menoleh sebentar. Tersenyum pada Raka. Senyum yang manis. Mungkin terlalu manis.
Aira duduk di kursi yang baru ditinggali Vanya. Hangat. Wangi parfum Vanya masih tersisa.
"Ada perlu apa, Sayang?" tanya Raka.
Aira menatapnya. "Nggak bisa mampir?"
"Bisa, bisa. Aku senang."
Tapi nada suaranya tak sehangat dulu. Atau mungkin hanya perasaan Aira.
"Raka, siapa Vanya?"
"Sudah aku bilang, direktur pemasaran baru. Dia lulusan Harvard, pengalaman di luar negeri. Pintar sekali."
"Kelihatannya."
Raka mengernyit. "Ada apa, Aira?"
Aira menghela nafas. "Aku nggak tahu. Mungkin cuma perasaan. Tapi dia... terlalu dekat."
Raka tersenyum. "Aira, jangan cemburu buta. Itu urusan kerja. Dia profesional."
"Aku tahu. Tapi lihat posisinya tadi. Sangat dekat. Tertawa mesra."
Raka menghela nafas panjang. "Aira, ini kantor. Bukan tempat untuk cemburu. Aku harap kau mengerti."
Aira diam. Lalu berdiri.
"Aku pamit. Ada banyak kerjaan di butik."
"Aira, tunggu."
Tapi Aira sudah melangkah keluar. Di koridor, ia berpapasan dengan Vanya. Vanya tersenyum.
"Selamat jalan, Bu Aira. Hati-hati."
Aira hanya mengangguk. Tak sanggup tersenyum.
---
Sepanjang perjalanan ke butik, Aira menangis. Ia menangis tanpa suara. Supir taksi sesekali melihat ke spion, tapi tak berani bertanya.
Di butik, Maya sudah menunggu.
"Mba, kok kelamaan? Ada orderan baru— Mba, kok nangis?"
Aira menggeleng. "Nggak apa-apa, May."
"Mba, cerita. Ada apa?"
Aira akhirnya bercerita. Tentang Vanya. Tentang kecantikannya. Tentang kedekatannya dengan Raka. Tentang rasa takutnya.
Maya mendengarkan dengan serius. Setelah Aira selesai, ia berkata, "Mba, dengar. Ini bisa dua kemungkinan. Pertama, Mba terlalu cemas. Kedua, ada yang benar. Tapi apa pun itu, Mba jangan diam. Lawan."
"Lawan gimana?"
"Datang lebih sering ke kantor. Kenalan sama orang-orang di sana. Kasih tahu mereka kalau Mba istri Pak Raka. Biar Vanya tahu posisinya."
Aira menggeleng. "Aku nggak bisa, May. Itu bukan aku."
"Kalau bukan itu, Mba harus ngomong baik-baik sama Pak Raka. Jangan dipendam. Nanti malah jadi bom waktu."
Aira mengangguk. "Iya. Aku akan coba."
---
Malam harinya, Raka pulang lebih awal. Aira sudah menunggu di ruang tamu. Arka dan Pelangi sudah tidur.
"Raka, kita bicara."
Raka duduk. "Iya, Sayang. Aku juga mau bicara."
Aira menatapnya. "Kamu duluan."
Raka menghela nafas. "Aira, aku minta maaf untuk tadi pagi. Mungkin aku terlalu defensif. Tapi aku ingin kau tahu, Vanya hanya rekan kerja. Tak lebih."
"Aku tahu. Tapi aku lihat caranya menatapmu. Aku dengar tawanya. Itu bukan tawa profesional."
Raka diam. Lalu berkata, "Aira, aku tak bisa kontrol orang lain. Yang bisa aku kontrol adalah diriku sendiri. Dan aku tak pernah berniat macam-macam."
"Aku percaya padamu, Raka. Tapi aku tak percaya padanya. Wanita punya insting. Dan instingku bilang, dia berbahaya."
Raka meraih tangannya. "Aira, aku sayang kamu. Hanya kamu. Kalau kau mau, aku akan jaga jarak dengan Vanya. Untuk urusan kerja, bisa lewat email atau tim. Kau tenang?"
Aira tersenyum tipis. "Kamu mau lakukan itu?"
"Demi kamu, apa pun."
Mereka berpelukan. Tapi di hati Aira, kegelisahan belum sepenuhnya pergi.
---
Keesokan harinya, Raka benar-benar jaga jarak. Ia tak lagi rapat berdua dengan Vanya. Semua komunikasi lewat tim. Vanya beberapa kali mencoba mendekat, tapi Raka selalu memberi batas.
Vanya tak bodoh. Ia tahu ada yang berubah. Ia juga tahu penyebabnya.
Suatu sore, ia bertemu Aira di mal. "Kebetulan" sekali.
"Bu Aira! Senang bertemu," sapanya ramah.
Aira membalas, "Halo, Vanya."
"Sendiri? Belanja?"
"Iya. Lagi cari baju buat Arka."
Vanya tersenyum. "Bu Aira, boleh saya bicara sebentar?"
Aira waspada. "Tentang apa?"
"Tentang Pak Raka. Tentang kita."
Mereka duduk di kafe. Vanya memesan kopi. Aira air putih.
"Bu Aira, saya tahu Ibu cemburu. Itu wajar. Tapi saya hanya ingin Ibu tahu, saya tak punya niat macam-macam. Saya hanya profesional."
Aira diam. Vanya melanjutkan.
"Tapi saya juga ingin Ibu tahu, Pak Raka pria hebat. Saya kagum padanya. Sebagai profesional, tentu saja. Tapi mungkin... mungkin saya juga butuh waktu untuk menata perasaan."
Aira menatapnya tajam. "Maksudmu?"
Vanya tersenyum getir. "Saya hanya ingin jujur. Saya suka bekerja dengan Pak Raka. Mungkin lebih dari itu. Tapi saya tahu posisi saya. Saya tak akan merebut suami orang. Hanya... sulit untuk berpura-pura tak ada apa-apa."
Aira terkejut dengan kejujuran Vanya. Atau itu bagian dari permainannya?
"Vanya, aku hargai kejujuranmu. Tapi Raka suamiku. Ayah dari anak-anakku. Aku akan lindungi keluargaku."
Vanya mengangguk. "Saya paham. Dan saya hormati itu. Makanya saya bicara terus terang. Supaya tidak ada salah paham."
Mereka berpisah. Aira pulang dengan perasaan campur aduk. Vanya tulus? Atau sedang memasang jebakan?
---
Minggu-minggu berikutnya, Vanya benar-benar menjaga jarak. Ia profesional, ramah, tapi tak lagi berusaha mendekati Raka secara pribadi. Raka lega. Aira mulai tenang.
Tapi di balik ketenangan itu, Vanya sedang menyusun strategi baru. Ia tak akan merebut Raka dengan paksa. Tapi ia akan membuat Raka butuh padanya. Sangat butuh.
Dan kebutuhan itu, akan datang dari proyek terbesar yang pernah ditangani perusahaan.
---
Suatu malam, Raka pulang dengan wajah pucat.
"Aira, ada masalah besar."
Aira khawatir. "Apa?"
"Proyek pemerintah yang kita incar selama setahun, batal. Karena ada masalah teknis di tim. Kita bisa kalah dari kompetitor."
Aira diam. Tak paham seluk-beluk bisnis, tapi ia tahu itu penting.
"Ada yang bisa aku bantu?"
Raka menghela nafas. "Vanya bilang, dia punya koneksi di kementerian. Dia bisa bantu buka jalan. Tapi harus cepat."
Aira diam. Vanya lagi.
"Aira, aku tak mau dekat-dekat dengannya. Tapi untuk proyek ini, mungkin aku butuh bantuannya."
Aira memegang tangannya. "Raka, lakukan yang terbaik untuk perusahaan. Aku percaya padamu. Tapi tolong, jaga batas."
Raka mengangguk. "Janji."
---
Vanya bekerja cepat. Dalam seminggu, ia berhasil membuka jalur komunikasi dengan pejabat terkait. Proyek kembali bergulir. Raka lega, tapi juga waswas.
Semakin sering ia bertemu Vanya. Semakin banyak waktu bersama. Vanya selalu profesional, tapi sesekali melontarkan pujian.
"Pak Raka, Bapak jenius. Saya kagum."
"Pak Raka, tanpa Bapak, proyek ini tak akan jalan."
"Pak Raka, senang rasanya kerja sama orang sehebat Bapak."
Pujian-pujian itu masuk ke hati. Raka manusia biasa. Ia senang dihargai.
Aira merasakan perubahan. Raka pulang lebih malam lagi. Bukan karena lembur, tapi karena rapat dengan Vanya dan tim. Saat di rumah, pikirannya sering melayang.
"Aira, maaf. Aku capek."
Itu selalu alasannya.
---
Suatu malam, Aira tak bisa tidur. Ia bangun, berjalan ke ruang tamu. Di sana, ia menemukan Raka duduk di balkon. Sendiri. Menatap langit.
Ia mendekat. "Tak tidur?"
Raka menoleh. "Kau juga."
Mereka duduk bersandingan.
"Aira, aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kau percaya padaku?"
Aira menatapnya. "Tentu."
"Meski aku sering pulang malam? Meski aku sering dengan Vanya?"
Aira diam. Lalu berkata, "Aku percaya padamu, Raka. Tapi aku tak percaya pada keadaan. Dan aku takut. Takut kehilangan kamu."
Raka memeluknya. "Kau tak akan kehilangan aku. Tapi tolong, jangan biarkan ketakutan merusak kita."
Aira mengangguk. Tapi di hatinya, firasat itu masih ada. Semakin kuat. Semakin nyata.
Dan di suatu tempat, Vanya tersenyum. Rencananya berjalan lambat, tapi pasti.
Perang belum usai. Ini baru babak berikutnya.
---
ayooo sebelum dia tmbah nyaman dgn ulat bulu itu