Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Embun Darah — Guncangan di Jantung Kekaisaran
[Bagian 1: Kabar Sang Pembawa Maut]
Berita tentang musnahnya Gerbang ke-4 dan kematian tragis Senopati 5, Magnus-Terra, menyebar lebih cepat daripada wabah sampar yang mematikan. Di ibu kota kekaisaran yang megah, lonceng peringatan perak berdentang tujuh kali—sebuah pertanda kuno bahwa ancaman tingkat Eksistensial sedang merayap mendekat. Penduduk sipil gemetar, sementara para bangsawan mulai mengemasi harta mereka, ketakutan akan kegelapan yang dikabarkan bisa memakan gunung.
Di Gerbang ke-3, wilayah yang dikenal sebagai "Lembah Embun Abadi", suasana tidak lagi tenang. Wilayah ini adalah jantung logistik kekaisaran, tempat di mana ribuan kristal jiwa kualitas tinggi diproduksi setiap harinya dari ekstraksi energi alam. Namun pagi itu, embun yang turun dari langit tidak berwarna bening transparan, melainkan kemerahan pekat, seolah-olah atmosfer itu sendiri sedang mengeluarkan darah karena ketakutan yang teramat sangat.
Senopati 3: Elara-Vento, seorang wanita dengan tatapan setajam elang dan kekuatan Sovereign Atas yang menguasai Hukum Angin dan Ruang, berdiri mematung di balkon istananya. Jubah sutra birunya berkibar liar tertiup angin kencang yang ia ciptakan sendiri untuk menenangkan sarafnya. Di tangannya, ia memegang laporan singkat yang ditulis dengan tinta darah oleh jenderal muda yang dibiarkan hidup oleh Arkan.
"Dia tidak datang untuk menaklukkan. Dia datang untuk meniadakan segala yang pernah ada."
Elara meremas kertas itu hingga hancur menjadi abu yang tersapu angin. "Magnus-Terra adalah orang bodoh yang terlalu percaya pada berat tanahnya yang lamban," gumam Elara, suaranya seperti desiran angin musim dingin yang membekukan tulang. "Tapi di wilayahku... berat tidak ada gunanya. Di sini, hanya kecepatan dan kedaulatan ruang yang berkuasa. Jika dia berani melangkah ke Lembah Embun, aku akan mengiris keberadaannya menjadi jutaan kepingan dimensi."
[Bagian 2: Meditasi di Ambang Gerbang]
Beberapa puluh kilometer dari tembok kokoh Gerbang ke-3, Arkan duduk bersila di atas puncak bukit yang gundul dan mati. Di sekelilingnya, Tiga Pilar Kehampaan—Srikandi-Tan, Liem-Banyu, dan Cici—berdiri dengan waspada yang belum pernah terlihat sebelumnya. Aura Arkan saat ini sangat aneh; ia tidak lagi memancarkan tekanan gravitasi yang meledak-ledak, melainkan ia seolah-olah "menghilang" dari struktur realitas.
Setiap helai rumput kering di sekitar Arkan tidak bergoyang sedikit pun, meski angin kencang Elara-Vento terus menghantam bukit itu. Ruang di sekeliling tubuh Arkan terlihat terdistorsi secara halus, menyerupai riak air di kolam yang tenang, sebuah tanda bahwa ia sedang menyempurnakan Resonansi Nirvana Puncak yang baru saja ia capai melalui darah Magnus-Terra.
"Tuan," Liem-Banyu mendekat, langkahnya kini benar-benar tanpa suara, bahkan debu di bawah kakinya tidak berani berpindah tempat. "Pasukan pengintai elit Elara-Vento mulai menyebarkan 'Jaring Ruang' di sepanjang perbatasan lembah. Mereka mencoba mengunci koordinat koordinat jiwa kita untuk melakukan serangan pemusnahan jarak jauh menggunakan meriam kristal jiwa."
Arkan perlahan membuka matanya. Pupil matanya tidak lagi berwarna ungu terang, melainkan hitam pekat dengan satu titik putih kecil di tengahnya—menyerupai Quasar di pusat galaksi yang sedang sekarat.
"Jaring Ruang?" Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang membuat suhu udara di sekitarnya anjlok hingga membekukan embun merah di udara menjadi kristal es darah. "Mereka mencoba mengurung lubang hitam dengan jaring laba-laba fana. Srikandi... hancurkan jaring mereka. Gunakan frekuensi tanahmu untuk meruntuhkan fondasi ruang yang mereka coba bangun dengan sombong."
[Bagian 3: Penghancuran Tak Terlihat — Runtuhnya Fondasi]
Srikandi-Tan melangkah maju dengan wajah tanpa ekspresi. Ia tidak melompat atau menghantamkan tinjunya seperti sebelumnya. Ia hanya berlutut dengan satu kaki dan meletakkan telapak tangan kanannya dengan lembut di permukaan tanah bukit itu.
Teknik Getaran Kosmik: Peruntuhan Dimensi Rendah.
Srikandi menyuntikkan energi Star-Density-nya yang kini jauh lebih padat langsung ke dalam urat saraf bumi. Seketika, getaran ultrasonik yang tidak terdengar oleh telinga manusia merambat melalui tanah, melesat dengan kecepatan ribuan kilometer per jam menuju koordinat para pengintai tersembunyi Elara.
Beberapa kilometer di kejauhan, tiba-tiba terdengar suara KRAAAKKK yang sangat keras dan memilukan dari udara yang seolah-olah kosong. Jaring-jaring transparan yang terbuat dari energi ruang milik musuh pecah berkeping-keping seolah-olah ditabrak oleh gunung yang tak terlihat dari dimensi lain. Para pengintai musuh yang bersembunyi di balik dimensi bayangan terlempar keluar ke dunia nyata, paru-paru dan gendang telinga mereka meledak seketika karena perubahan tekanan ruang yang mendadak dan brutal.
"Kasta mereka terlalu rendah untuk sekadar bermain-main dengan konsep ruang di hadapan Tuan," ucap Srikandi dengan nada datar, kembali berdiri tegak di samping Arkan tanpa mengeluarkan setetes keringat pun.
[Bagian 4: Tatapan Menuju Langit]
Arkan berdiri, jubah hitamnya seolah menelan bayangan bukit itu sendiri, menciptakan area kegelapan absolut di puncaknya. Ia kembali menatap ke arah langit yang retak. Penglihatannya tentang para Utusan Surga yang menertawakan kematian Cici di masa depan masih membakar jiwanya dengan api dingin. Ia bisa merasakan bahwa di balik Gerbang ke-3 ini, ada mata-mata dari "Surga" yang mulai mengirimkan visi ke arahnya.
Arkan memejamkan mata sejenak, membiarkan energi Dewi Qi Lin mengalir melalui nadinya yang kini berwarna ungu gelap. Di dalam benaknya, ia melihat kilasan-kilasan masa depan yang mengerikan: surga yang runtuh, darah emas para dewa yang membasahi bumi, dan seorang Utusan Surga yang tertawa di atas jasad Cici.
"Tertawalah selagi kalian bisa," bisik Arkan pada kesunyian yang mencekam. "Karena saat Aku tiba di puncak langit, tawa kalian akan menjadi melodi kematian yang paling merdu."
"Cici," panggil Arkan tanpa menoleh.
"Iya, Tuan?" Cici mendekat, aura Dao Master miliknya membuat udara di sekelilingnya berderit panas.
"Gunakan otoritas Jiwa Sovereign yang kau serap untuk menutupi seluruh lembah ini dengan 'Kabut Kehampaan'. Aku ingin Elara-Vento merasa buta di rumahnya sendiri. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi mangsa yang tidak bisa melihat predatornya."
Cici menunduk hormat. Ia membentangkan sayap hitam-emasnya, dan dari bulu-bulu apinya, keluar asap ungu pekat yang menyerap cahaya. Dalam hitungan menit, Lembah Embun Abadi yang tadinya terang oleh kristal jiwa, kini tertutup oleh kegelapan yang tidak bisa ditembus bahkan oleh indra spiritual seorang Sovereign sekalipun.
Arkan melangkah turun dari bukit. Setiap langkahnya tidak lagi menyentuh tanah; ia berjalan di atas udara, dan di bawah kakinya, ruang itu sendiri retak, membentuk pola sarang laba-laba hitam yang memancarkan energi Eternal Ruin.
Di kejauhan, di dalam benteng Gerbang ke-3, Elara-Vento mulai merasakan sesak napas. Ia mencoba memanggil anginnya, namun angin itu menolak untuk bertiup. Ia mencoba melihat melalui hukum ruangnya, namun yang ia lihat hanyalah kegelapan yang tak berujung.
"Dia... dia sudah di sini," bisik Elara dengan tangan yang gemetar hebat.
Arkan berhenti di depan tembok luar Gerbang ke-3 yang kini tertutup kabut. Ia tidak menghunus pedang. Ia tidak mengepalkan tinju. Ia hanya menatap tembok raksasa itu dengan tatapan yang bisa meruntuhkan gunung.
"Dunia ini terlalu kecil untuk ambisi kalian yang menjijikkan," suara Arkan bergema di seluruh lembah, menembus setiap jantung prajurit yang bersembunyi di balik benteng. "Malam ini, Lembah Embun tidak akan lagi melahirkan kristal jiwa. Malam ini, ia hanya akan melahirkan nisan bagi para penjaga langit yang congkak."
Arkan berhenti di depan tembok luar Gerbang ke-3 yang kini tertutup kabut. Ia tidak menghunus pedang. Ia tidak mengepalkan tinju. Ia hanya menatap tembok raksasa itu dengan tatapan yang bisa meruntuhkan gunung.