Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 - MASA LALU DATANG LAGI
Hari ke-1.500. Tiga bulan setelah surat bank datang. Tiga bulan penuh kecemasan, air mata, dan doa yang tak pernah putus.
Matahari baru naik di ufuk timur. Semburat jingga menerangi rumah kecil itu. Rumah sederhana dengan dinding bata belum diplester, atap genteng bekas yang masih bolong di sana-sini, tapi rumah itu berdiri dengan kokoh. Seperti pemiliknya.
Aryo bangun pagi itu dengan perasaan berbeda. Ada berat di dada, tapi juga ada harapan. Tiga bulan ia berjuang melawan sistem. Tiga bulan ia bolak-balik bank, kantor pengacara, dan polisi. Tiga bulan Dewi menahan air mata di depan anak-anak.
Tapi hari ini, semuanya akan berakhir.
Ia menoleh ke dipan. Dewi masih tidur. Rambutnya panjang sebahu, sedikit kusut, tapi cantik. Di sampingnya, Risma. Anak sulungnya. Risma sekarang 5 tahun 1 bulan. Masih terbaring. Tak bisa tengkurap. Tak bisa duduk. Tak bisa apa-apa. Tapi matanya... matanya sudah terbuka. Menatap Aryo.
"Pagi, Nak."
Risma tak menjawab. Tak bisa. Tapi sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis. Senyum yang selalu membuat Aryo kuat.
Di sisi lain, Budi. Budi 3 tahun 1 bulan. Aktif, lincah, cerewet. Ia tidur dengan mulut terbuka, ngorok kecil. Lucu. Tangannya masih memegang tangan Risma. Sejak bayi, Budi selalu begitu. Setiap tidur, ia pasti pegang tangan kakaknya.
Aryo tersenyum. Inilah hartanya. Inilah mengapa ia harus bertahan.
Pukul 8 pagi, Aryo bersiap ke kantor pengacara. Hari ini adalah hari keputusan. Bank setuju mediasi. Pak Rahmat, pengacara baik hati yang membantu mereka prodeo, sudah berusaha maksimal.
"Mas, pakai baju yang rapi," kata Dewi. Ia menyiapkan kemeja putih, satu-satunya kemeja yang Aryo punya. Lusuh, tapi bersih.
"Iya, Ri."
Aryo memakai kemeja itu. Ia lihat bayangannya di cermin pecah. Wajahnya lebih tua dari usianya. Garis-garis lelah di dahi. Mata cekung. Tapi matanya... matanya masih menyala. Masih ada api perjuangan.
"Pa... pa... mau ikut!"
Budi lari-lari. Memegang kaki Aryo.
"Nak, Bapak mau urus surat. Nanti main sama Ibu."
"Tapi Budi mau ikut!"
Dewi menggendong Budi. "Udah, Nak. Bapak kerja. Doain Bapak ya."
Budi cemberut. Tapi kemudian mengangguk. "Pa, Budi doain ya."
Aryo cium keningnya. "Makasih, Nak."
Ia hampiri Risma. Di kursi khususnya. Risma menatapnya.
"Nak, Bapak pergi dulu. Doain Bapak ya."
Risma diam. Tapi tangannya bergerak. Gerakan tak terkontrol. Meraih jari Aryo. Erat.
Aryo pegang tangannya. Lama. Lalu cium.
"Bapak sayang kamu, Nak."
Di kantor Pak Rahmat, suasana tegang.
Pak Rahmat duduk di kursinya. Di hadapannya, dua orang dari bank. Satu pria, satu wanita. Wajah mereka datar.
"Pak Aryo, ini kesempatan terakhir. Bank bersedia menghapus utang asal Bapak tanda tangan surat pernyataan ini."
Aryo baca surat itu. Berkali-kali. Ia tak paham bahasa hukum. Tapi ia percaya Pak Rahmat.
"Pak Rahmat, ini aman?"
"Aman, Pak. Saya sudah baca. Ini surat pernyataan bahwa Bapak tidak pernah meminjam uang itu. KTP Bapak dipakai orang lain. Bank setuju hapus utang."
Aryo menghela napas. Tiga bulan. Tiga bulan perjuangan. Tiga bulan bolak-balik. Tiga bulan takut rumahnya disita. Dan sekarang, semuanya akan berakhir.
Ia ambil pulpen. Tangan kanannya gemetar. Ia ingat tiga tahun lalu, saat pertama kali dapat surat utang 7 juta. Saat itu ia hampir pingsan. Sekarang? Ia lebih kuat.
Ia tanda tangan.
Pak Rahmat tersenyum. "Selamat, Pak. Utang Bapak lunas. Nama Bapak bersih."
Petugas bank itu berdiri. "Pak Aryo, maaf atas ketidaknyamanan. Sistem kami memang bermasalah. Semoga Bapak tidak kapok dengan bank."
Aryo tersenyum getir. "Saya hanya ingin hidup tenang, Bu."
Mereka pergi. Aryo duduk lemas. Keringat dingin di punggung.
"Pak Rahmat... makasih... makasih banyak..."
Pak Rahmat pegang pundaknya. "Pak Aryo, saya lihat perjuangan Bapak dari cerita Mbah Kar. Bapak orang kuat. Jangan menyerah."
"Saya nggak akan, Pak. Buat anak saya."
Pulang, Aryo tak bisa diam. Ia ingin cepat sampai rumah. Ingin peluk Dewi. Ingin cium Risma. Ingin main dengan Budi.
Sepanjang jalan, ia ingat perjalanan tiga tahun terakhir. Dari penarik becak dengan utang di mana-mana. Dari malam gelap saat lari dari preman. Dari kecelakaan truk dan koma seminggu. Dari KTP palsu dan bank yang mengejar. Dari rumah kontrakan bocor. Dan sekarang... rumah sendiri. Tanah sendiri. Keluarga utuh.
Air matanya jatuh. Di angkutan kota. Orang-orang lihat, tapi ia tak malu.
Sampai di rumah, Dewi sudah nunggu di pintu. Wajahnya cemas.
"Mas, gimana?"
Aryo peluk istrinya. Erat. Sangat erat.
"Udah beres, Ri. Utang lunas. Nama bersih."
Dewi nangis. Nangis di pelukan Aryo. Tangannya memukul-mukul dada Aryo, lemah, tapi keras.
"Mas... Mas... aku takut... aku takut banget..."
"Udah, Ri. Udah. Kita selamat."
Budi lari. "Pa! Pa!"
Ia peluk kaki Aryo. Risma di kursi, matanya ke mereka. Basah.
Mbah Kar keluar. Lihat mereka berpelukan. Ia tersenyum. Matanya berkaca.
"Syukur, Mas. Syukur."
Aryo lepas pelukan. Ia hampiri Risma. Cium keningnya.
"Nak, Bapak beresin utang. Kita nggak akan dikejar-kejar lagi."
Risma diam. Tapi tangannya meraih wajah Aryo. Menyentuh pipinya. Gerakan tak terkontrol. Lembut. Seperti dulu. Saat pertama kali ia sadar punya bapak.
Aryo pegang tangannya. "Makasih, Nak. Makasih udah doain Bapak."
Malam itu, mereka rayakan. Mbah Kar beli ayam goreng. Wanginya memenuhi seluruh rumah. Budi sudah tak sabar. Ia duduk di kursi kecil, mata lihat ayam terus.
"Mbah, ayamnya buat Budi?"
Mbah Kar tertawa. "Buat semua, Nak. Buat Risma juga."
Risma di gendongan Dewi. Matanya ke ayam goreng. Mulutnya terbuka sedikit. Sinyal minta disuap.
Aryo suapi. "Ini, Nak. Buat kamu. Utang udah lunas, kita rayakan."
Risma makan. Nikmat. Matanya menyipit senang.
Budi lihat. Ia protes. "Pa, aku juga mau disuap!"
Dewi tertawa. "Kamu udah gede. Makan sendiri."
Budi cemberut. Tapi tetap makan lahap. Tangannya meraup ayam. Berantakan. Kuah di mana-mana. Tapi bahagia.
Mbah Kar lihat mereka. Matanya basah.
"Mas, ingat tiga tahun lalu? Waktu pertama kali datang ke sini?"
Aryo ingat. Malam itu. Gelap. Hujan. Mereka lari dari preman, dari utang, dari masa lalu. Risma di gendongan. Dewi nangis. Ia tak tahu mau ke mana.
"Ingat, Mbah. Waktu itu saya nggak tahu mau ke mana."
"Sekarang?"
Aryo lihat keluarganya. Rumah kecil ini. Dinding bata belum diplester. Atap masih bolong. Tapi ini rumahnya. Milik sendiri.
"Sekarang saya punya rumah, Mbah. Punya keluarga. Punya masa depan."
Mbah Kar pegang pundaknya. "Itu yang penting, Mas. Keluarga."
Setelah makan, Aryo duduk di teras. Sendiri. Pandangi bintang.
Malam ini cerah. Bintang-bintang berkerlip. Sama seperti tiga tahun lalu, saat ia duduk di lorong rumah sakit, menunggu kabar Dewi yang sekarat.
Tapi sekarang berbeda. Sekarang ia punya rumah. Punya tanah. Punya keluarga.
"Tuhan... makasih. Makasih udah nggak ninggalin kami. Makasih udah kasih aku kekuatan."
Dari dalam, suara Budi. "Pa... pa... aku mau cerita."
Aryo masuk. Budi duduk di lantai. Risma di sampingnya.
"Cerita apa, Nak?"
Budi berpikir. "Budi mimpi. Mimpi kakak jalan."
Aryo tersenyum. "Mimpi indah, Nak."
"Iya. Kakak jalan. Budi tepuk tangan."
Aryo pandangi Risma. Risma tidur. Dadanya naik turun. Teratur.
"Nak, kamu dengar? Adikmu mimpi kamu jalan."
Risma tak bergerak. Tapi napasnya... napasnya tenang. Seperti bilang: "Aku di sini, Pa. Aku bahagia."
Hari ke-1.520. Dua puluh hari setelah utang lunas.
Hidup kembali normal. Aryo kerja kuli pasar. Jaga warung Mbah Kar. Narik becak malam minggu. Penghasilan 2,5 juta per bulan. Cukup.
Risma terapi rutin. Seminggu sekali. Terapi pasif. Pijat. Stimulasi. Bukan untuk bisa jalan. Tapi untuk menjaga ototnya tetap sehat. Untuk membuatnya nyaman.
Terapisnya, Mbak Wulan, selalu sabar.
"Pak, Risma baik. Ototnya tidak terlalu kaku. Dia nyaman. Respons matanya makin bagus."
Aryo senang. "Makasih, Mbak."
Pulang, ia cerita ke Dewi. Dewi tersenyum.
"Risma hebat, Mas. Dengan caranya sendiri."
Hari ke-1.540. Suatu sore, Budi bawa mainan ke dekat Risma.
"Kak, main yuk."
Ia letakkan mainan di dekat tangan Risma. Risma lihat. Matanya mengikuti.
Budi tekan tombol. "Wau... wau..." suara anjing.
Risma tersenyum.
Budi ambil tangan Risma. Arahkan ke tombol.
"Coba, Kak. Tekan."
Risma berusaha. Tangannya bergerak tak terkontrol. Susah. Tapi ia coba. Kali ini, jarinya menyentuh tombol.
"Wau... wau..."
Risma kaget. Matanya membelalak. Lalu tersenyum lebar.
Budi tepuk tangan. "Kak hebat! Kak hebat!"
Aryo lihat dari dapur. Hatinya meleleh.
"Ia bahagia, Ri. Lihat. Ia bahagia."
Dewi mengangguk. Matanya basah.
Hari ke-1.550. Satu bulan setelah utang lunas.
Aryo hitung tabungan. 2 juta. Lumayan.
Ia lihat Risma. Risma di kursi. Matanya ke arahnya.
"Nak, Bapak janji. Bapak akan jagain kamu. Sampai kapan pun."
Risma diam. Tapi matanya... matanya seperti bilang, "Aku tahu, Pa. Aku percaya."
Budi lari-lari. "Pa, main yuk!"
Aryo tersenyum. "Iya, Nak. Main."
Mereka main di halaman. Sederhana. Kejar-kejaran. Risma di kursi, matanya mengikuti. Tersenyum.
Mbah Kar keluar. Bawa teh hangat.
"Ayo, minum dulu."
Mereka duduk di teras. Menikmati sore. Hangat. Damai.
"Mas, kita bahagia ya?" tanya Dewi.
Aryo lihat keluarganya. Risma, Budi, Dewi, Mbah Kar. Rumah kecil. Halaman sempit. Tapi penuh cinta.
"Iya, Ri. Kita bahagia."
Mbah Kar tersenyum. "Saya juga bahagia. Punya keluarga baru."
Matahari mulai turun. Semburat jingga di ufuk barat. Hari berganti malam. Tapi cinta mereka takkan pernah berganti.
Tapi Aryo tak tahu, malam itu, saat mereka semua tidur, sebuah surat lain terselip di pintu rumahnya.
Surat dari bank lain.
Dengan angka 8 juta.
Dan nama Aryo di atasnya.
Besok, hidup akan kembali diuji.
Tapi untuk malam ini, mereka bahagia.
Dan itu cukup.
[BERSAMBUNG KE BAB 20]