NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / CEO / Romantis / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:61.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu di balik mangkuk bubur

​Pagi itu, mansion Ardiansyah tidak lagi terasa seperti labirin marmer yang dingin bagi Gia. Meskipun sinar matahari yang masuk melalui jendela besar di koridor tetap sama, ada sesuatu yang berubah dalam cara Gia menghirup udaranya. Namun, sisa-sisa badai emosi dari hari kemarin masih meninggalkan jejak sembab di kelopak matanya. Ia berdiri di depan cermin besar, merapikan gaun rumahan berbahan kasmir lembut yang dipilihkan pelayan untuknya. Tangannya masih sedikit gemetar saat menyisir rambutnya yang jatuh melewati bahu.

​Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang. Gia tersentak kecil, namun segera rileks saat mencium aroma maskulin yang kini menjadi candu baginya. Ares menyandarkan dagunya di bahu Gia, menatap pantulan mereka berdua di cermin.

​"Masih cemas?" bisik Ares lembut. Suara seraknya di pagi hari selalu berhasil membuat jantung Gia berdesir.

​Gia menunduk, jemarinya menyentuh tangan Ares yang tertaut di perutnya.

"Sedikit, Mas. Gia masih malu kalau harus ketemu Mama setelah semua keributan kemarin. Gimana kalau Mama sebenarnya cuma pura-pura tenang di depan Mas Ares?"

​Ares memutar tubuh Gia agar menghadapnya. Ia menangkup wajah Gia dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap pipi Gia yang masih sedikit pucat.

"Dengar Mas, Gia. Mama itu wanita paling jujur yang pernah Mas kenal. Kalau dia bilang tidak masalah, artinya memang tidak masalah. Dia bukan tipe orang yang menyimpan dendam di balik senyuman. Percaya sama Mas, ya?"

​Gia mengangguk perlahan, meski keraguan itu belum sepenuhnya

"Ayo turun. Mas lapar, dan Mas yakin Mama sudah menunggu kita!"

​Mereka menuruni tangga utama dengan langkah yang tenang. Di ruang makan, suasana tampak sunyi namun tidak mencekam. Nyonya Besar, atau yang sekarang harus di panggil Mama Mertua oleh Gia sudah duduk di kursinya yang biasa. Beliau sedang membaca tablet digital, sesekali menyesap teh melati yang aromanya memenuhi ruangan.

​Begitu mereka mendekat, Nyonya Besar mengangkat wajahnya. Matanya yang tajam sempat terpaku sejenak pada mata sembab Gia, namun ia tidak berkomentar pedas seperti biasanya.

​"Duduklah!" Ucap beliau datar, namun ada nada yang lebih ringan dari biasanya.

"Kalian terlambat lima menit dari jadwal biasanya. Tapi mengingat kejadian kemarin, Mama maklumi!"

​Ares menarikkan kursi untuk Gia dengan penuh perhatian, memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum ia sendiri duduk di sampingnya.

"Pagi, Ma. Terima kasih sudah mengerti" Ucap Ares sambil melirik ibunya dengan senyum tipis yang penuh arti.

​Seorang pelayan mendekat, namun Nyonya Besar mengangkat tangannya, mengisyaratkan pelayan itu untuk mundur. Beliau sendiri yang kemudian menggeser sebuah mangkuk porselen kecil berisi bubur kacang hijau yang masih mengepul ke hadapan Gia.

​"Makan ini!" Perintah beliau.

"Mama dengar dari kepala pelayan kalau kamu tidak menyentuh makan malammu sama sekali. Menangis itu menguras tenaga, Gia. Dan Mama tidak mau punya menantu yang terlihat layu seperti bunga yang tidak disiram"

​Gia tertegun. Ia menatap mangkuk bubur itu, lalu menatap wanita di ujung meja yang selama ini selalu ia takuti.

"Terima kasih, Mama Mertua" Ucap Gia dengan nada ragu pada kata terakhir.

​Nyonya Besar sempat terdiam mendengar panggilan itu, namun ia segera kembali ke sikap formalnya.

"Panggil Mama saja. Dan soal wanita bernama Sarah itu. Mama sudah meminta pengacara keluarga untuk menanganinya. Ternyata, setelah diperiksa, dokumen utang-piutang yang sering dia gunakan untuk menekanmu dan Nenekmu adalah dokumen ilegal yang dimanipulasi. Dia tidak hanya menghina menantu Ardiansyah, tapi dia juga mencoba menipu kita"

​Ares menghentikan gerakannya yang hendak menyuap omelet.

"Mama sudah mengirimkan somasi?"

​"Bukan hanya somasi, Ares. Mama mencabut semua investasi pasif keluarga Ardiansyah dari perusahaan rekanan suaminya yang masih tersisa. Dalam bisnis, sekali kamu mencoba menggigit tangan yang memberimu makan, kamu tidak akan pernah dapat kesempatan kedua" Ucap Nyonya Besar dingin, namun kali ini kedinginan itu ditujukan untuk melindungi Gia.

​Gia merasa matanya kembali panas, namun kali ini karena rasa haru. "Ma... saya tidak tahu harus bicara apa. Selama ini saya pikir saya adalah beban bagi keluarga ini."

​Nyonya Besar meletakkan tabletnya dan menatap Gia dengan intensitas yang berbeda. "Dengar, Gia. Mama memang tegas padamu. Mama memaksamu belajar etika, sejarah, dan cara bersikap. Mungkin kamu pikir itu karena Mama membencimu atau ingin mengubahmu menjadi orang lain. Tapi kenyataannya adalah..." Nyonya besar menghela napas.

"Dunia di luar sana jauh lebih kejam dari Sarah. Mereka akan menguliti masa lalumu, mencari celah pada caramu berjalan, atau menertawakan caramu memegang gelas"

​"Mama tidak ingin kamu hanya menjadi bayangan Ares. Mama ingin saat kamu berdiri di sampingnya, kamu punya pelindung yang terbuat dari baja di dalam dirimu sendiri. Status 'anak haram' atau apa pun itu hanyalah kata-kata orang picik. Kehormatan seseorang tidak ditentukan dari bagaimana dia dilahirkan, tapi bagaimana dia bersikap setelah dia tahu siapa dirinya"

​Gia terpaku. Kata-kata itu jauh lebih berharga daripada emas bagi hatinya yang hancur. Ia baru menyadari bahwa selama ini, Nyonya Besar sedang "menempanya" agar tidak hancur saat badai seperti kemarin datang.

​"Maafkan saya jika selama ini saya sering salah sangka, Ma" Bisik Gia tulus.

​"Sudahlah. Habiskan buburmu. Setelah ini, Ares akan membawamu keluar. Mama sudah melarang sekretarisnya untuk menelepon Ares hari ini soal urusan kantor" Nyonya Besar melirik Ares dengan tatapan penuh perintah.

"Bawa dia ke pameran seni atau ke mana pun yang bisa membuatnya tersenyum lagi. Mama bosan melihat wajah muram di rumah ini!"

​Ares tertawa kecil, suara tawa yang sangat lepas. Ia meraih tangan Gia di bawah meja dan menggenggamnya erat.

"Siap, Ma. Perintah dilaksanakan!"

​Setelah Nyonya Besar meninggalkan ruang makan, suasana menjadi jauh lebih cair. Gia mulai menyuap bubur itu dengan perasaan yang lebih ringan. Rasa manis kacang hijau itu seolah menyembuhkan perih di hatinya.

​"Ternyata Mama benar-benar hebat ya, Mas!" gumam Gia sambil menatap arah kepergian mertuanya.

​Ares mendekatkan kursinya, merangkul bahu Gia posesif.

"Itulah alasan kenapa Mas tidak pernah benar-benar bisa membantah Mama. Beliau punya hati yang besar, meski dibungkus dengan duri-duri etika yang tajam. Sekarang, kamu percaya kan kalau kamu itu sangat diinginkan di sini?"

​Gia mengangguk mantap, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Ares. "Iya, Mas. Saya percaya."

​"Bagus. Sekarang habiskan makannya. Mas sudah siapkan satu hari yang spesial buat kamu. Kita akan pergi berdua, tanpa sopir, tanpa pengawal yang terlalu dekat. Mas cuma ingin jadi Ares, dan kamu jadi Gia"

​Gia tersenyum, senyuman pertama yang benar-benar mencapai matanya sejak kejadian pahit kemarin. Di balik kemegahan mansion Ardiansyah, ia akhirnya menemukan sebuah rumah. Bukan karena kemewahannya, tapi karena orang-orang di dalamnya yang mulai menerimanya apa adanya.

1
astr.id_est 🌻
cieee celembu 🤭😄😄😄
astr.id_est 🌻
romantis bgtt ares 🥰🥰🥰
Shee_👚
gpp di posesif suami sendiri, toh posesif juha kebutuhan dan ke ingin gia terpenuhi jadi nikmati aja di cintain sebegitu besarnya sama suami
Shee_👚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Shee_👚
ada yang kebakaran tapi bukan karena api🤭
Shee_👚
aduh cilaka ini di pasangin sama satria, bisa-bisa ares berasap 🤣🤣🤣
Hanima
Lanjut Gia
Hanima
👍👍
Esther
Ares bener2 ya😄
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Gia semoga kamu selalu bahagia 🥰🥰
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tahu yang lembut?
Maharani Rani
lanjuttt😍
astr.id_est 🌻
sukaaaaaa
Nar Sih
tuh kan jdi pusat perhatian gia yg yg sdh ketahuan istri ceo ares ardiansyah pasti bnyk mahasiswa yg patah hti nih
Hanima
Lanjut Aress
Shee_👚
gpp lah di posesif selama itu untuk kebaikan, selama tidak mengekang pa pun ke bahagian gia.
merry yuliana
crazy up kak 💪🙏
Shee_👚
satria lngsung kicep dah liat ares, sabar ga satria belum jodoh🤣
Maharani Rani
lanjutt❤️❤️❤️❤️❤️
Nar Sih
punya suami yg baik perhatian nya yg kelwatan posesif tpi ngk mengekang bersyukur ya gia untung kmu dpt suami seprti ares
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!