Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Drama Queen vs Ice Queen
"Berani beraninya kau menatapku dengan mata rendahanmu itu!" jerit Vanessa. Suaranya memantul keras di dinding kaca ruang kerja eksekutif tersebut.
Wanita sosialita itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menggebrak meja kerja mahoni di hadapan Harper menggunakan tas merek LaVogue edisi terbatas miliknya. Bunyi logam dari tas mahal itu beradu kasar dengan permukaan kayu.
"Minggir dari kursi itu sekarang juga, gembel! Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu taktik murahan wanita kelas bawah sepertimu?!" tuduh Vanessa kalap. Napasnya memburu cepat, membuat dadanya naik turun dengan dramatis.
Dominic yang berdiri tidak jauh dari mereka mulai merasa kepalanya berdenyut nyeri. "Vanessa, hentikan omong kosong ini. Harper baru saja menyelamatkan data perusahaanku dari peretas. Jangan membuat keributan yang tidak perlu di sini."
"Kau membelanya, Dom?!" Vanessa menoleh cepat ke arah Dominic. Matanya membelalak tidak percaya. "Kau membiarkan pelayan pembuat kopi ini duduk di kursimu, memakai sepatu lari yang kotor, dan kau bilang aku yang membuat keributan?! Dia pasti sengaja merencanakan semua ini untuk merayumu!"
Harper sama sekali tidak mengubah posisi duduknya yang santai. Kaki kirinya masih menyilang nyaman. Dia menyesap sisa kopi di cangkir Dominic dengan wajah tanpa ekspresi, seolah tontonan orang marah di depannya ini hanyalah siaran sinetron televisi yang sangat membosankan.
"Terus terang, naskah dramamu sangat pasaran, Nona," komentar Harper datar setelah meletakkan cangkir kopi kembali ke meja. "Kalau aku memang berniat merayu bos arogan ini, aku pasti sudah memakai gaun sutra ketat dan parfum pemikat yang harganya setara gajiku setahun. Bukan sepatu olahraga kanvas dan blus kerja biasa."
"Pembohong!" tunjuk Vanessa tepat ke depan hidung Harper. "Ini gaya baru kalian para wanita pencari harta! Berpura pura menjadi pekerja keras yang tangguh dan cerdas, memakai pakaian sederhana untuk menarik simpati pria kaya, lalu bertingkah seolah olah kalian pahlawan! Kau sengaja meretas komputer itu untuk pamer, kan?! Kau sengaja mencari perhatian Dom agar dia berpaling padamu!"
Dominic ternganga mendengar teori konspirasi yang keluar dari mulut Vanessa. "Otakmu sepertinya terlalu banyak menonton serial drama murahan, Vanessa. Harper sama sekali tidak..."
"Diam, Dom! Aku tahu persis tipe wanita seperti dia!" potong Vanessa kasar. Dia kembali menatap Harper dengan tatapan penuh kebencian mendalam. "Kau iri padaku, kan? Kau iri melihatku bisa memakai perhiasan berlian asli dan datang kemari sebagai calon istri. Makanya kau menggunakan segala cara kotor untuk merebut posisiku. Kau mau merebut kekayaannya!"
Harper mendengus pelan. Wanita itu akhirnya bangkit berdiri dari kursi kulit kebesaran tersebut. Walaupun tidak memakai sepatu hak tinggi, postur tubuh Harper yang tegap dan auranya yang luar biasa dingin membuat Vanessa secara refleks memundurkan kakinya setengah langkah ke belakang.
"Merebut posisi sebagai istri dari bayi raksasa yang rewel kalau kopinya turun satu derajat?" Harper tertawa kecil, tawa yang sangat mengejek dan meremehkan. "Ambil saja, Nona. Silahkan. Kau bisa mengurus jadwal makannya, mendengarkan teriakannya setiap pagi, dan menyuapinya bubur ayam instan saat dia flu. Bagiku, itu bukan pernikahan. Itu kerja bakti sosial tanpa bayaran."
Dominic membelalakkan matanya lebar-lebar. "Hei! Kau tidak perlu membawa-bawa masalah bubur ayam ke dalam perdebatan ini!"
"Tutup mulutmu, Harper Sloane!" jerit Vanessa semakin histeris mengabaikan protes Dominic. Wajahnya kini semerah kepiting rebus. Urat-urat di leher jenjangnya bermunculan. "Kau cuma cemburu karena kau miskin! Kau tidak akan pernah bisa selevel denganku! Sampai mati pun kau cuma akan menjadi babu di sini! Babu rendahan yang memungut sisa-sisa uang dari laki laki kaya!"
Vanessa mengangkat tangan kanannya tinggi tinggi, bersiap melayangkan tamparan keras ke pipi mulus sekretaris yang dianggapnya sangat kurang ajar tersebut.
Namun, gerakan Harper jauh lebih cepat dan mematikan. Tangannya melesat menangkis pergelangan tangan Vanessa di udara, menahannya dengan cengkeraman yang sangat kuat seperti catut besi.
"Lepaskan tanganku, wanita gila!" ringis Vanessa kesakitan. Dia berusaha menarik tangannya paksa, tapi tenaga Harper benar benar tidak bisa diremehkan sama sekali.
"Jangan pernah berani menyentuh wajahku," bisik Harper pelan, tapi nada suaranya sangat mengancam. Matanya menatap tajam bagaikan pedang es yang menusuk langsung ke ulu hati Vanessa. "Perawatan kulitku mahal, dan aku tidak mau terkontaminasi bakteri dari tanganmu yang tidak pernah mencuci piring itu."
Harper menghempaskan tangan Vanessa dengan kasar hingga wanita sosialita itu terhuyung ke belakang dan nyaris menabrak dada Dominic.
Tanpa menunjukkan emosi marah sedikit pun, Harper memasukkan tangan kanannya ke dalam saku blazernya. Dia merogoh sebentar, lalu mengeluarkan sebuah cermin lipat kecil berbentuk bundar.
Harper membuka cermin itu, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Vanessa yang masih syok akibat dorongan tadi.
"Daripada kau sibuk meneriakiku dan berkhayal soal konspirasi perampasan harta, lebih baik kau perbaiki dulu penampilanmu yang berantakan ini," ucap Harper dengan senyum sinis yang sangat puas.
Vanessa mengerutkan kening. Secara refleks, matanya melirik ke arah pantulan dirinya di cermin kecil yang dipegang Harper.
Napas Vanessa seketika tercekat di tenggorokan.
Akibat keringat dingin kepanikan, dorongan fisik, dan emosi yang meledak ledak sedari tadi, entah bagaimana maskara hitam pekat yang dia pakai telah luntur parah. Garis garis hitam mengalir turun di bawah kelopak matanya, membuatnya terlihat sangat berantakan seperti badut yang menangis.
Belum lagi riasan bedak tebalnya yang mulai retak di bagian dahi, serta lipstik merahnya yang sedikit meleber keluar dari garis bibir akibat terlalu banyak berteriak. Mungkin
"Lihat maskaramu luntur, Mbak. Kurang mahal ya riasannya? Katanya orang kaya," sindir Harper tanpa ampun. Suaranya terdengar sangat manis namun mengandung racun. "Kata orang, kosmetik murahan memang tidak tahan banting menghadapi suhu ruangan dan emosi yang tidak stabil."
Hening sesaat menyelimuti ruangan tersebut. Dominic bahkan harus menahan napas melihat eksekusi mental brutal yang baru saja dilakukan oleh sekretarisnya.
Bibir Vanessa bergetar hebat. Matanya menatap pantulan wajahnya yang hancur berantakan. Harga dirinya sebagai seorang wanita sosialita papan atas yang selalu tampil sempurna tanpa celah kini rata dengan tanah di hadapan musuh bebuyutannya.
"AAAAAARRRGGGHHH!"
Vanessa menjerit histeris sekuat tenaga karena dipermalukan habis habisan. Suara lengkingannya begitu memekakkan telinga sampai Dominic terpaksa menutupi telinganya sendiri.
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣