NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: GALERI KEBOHONGAN

Ibu kota di malam hari adalah labirin cahaya yang tidak memiliki jiwa. Bagi Kai, setiap lampu neon yang berkedip terasa seperti teriakan yang mencoba menutupi kesunyian yang mengerikan di bawahnya. Sesuai instruksi pesan misterius itu, ia berjalan menuju pinggiran taman kota, tempat sebuah bangunan bergaya kolonial yang terbengkalai berdiri di antara pepohonan besar yang meranggas.

Itu adalah Galeri Arthemis. Dulu, tempat ini adalah rumah bagi pameran lukisan terbaik di negeri ini. Kini, gedung itu tampak seperti kerangka raksasa; jendela-jendelanya pecah, dan dinding-dindingnya tertutup oleh sulur tanaman merambat yang mati membeku.

Kai mendorong pintu kayu besar yang sudah tidak terkunci. Bunyi derit pintu itu menggema di dalam ruangan luas yang hampa. Bau debu, kertas lembap, dan kenangan pahit langsung menyerbu indranya.

"Ada orang di sini?" suara Kai terdengar kecil, nyaris tertelan oleh kegelapan.

Ia menyalakan senter dari ponselnya. Cahayanya menyapu lantai kayu yang penuh dengan pecahan kaca dan bingkai foto kosong. Tiba-tiba, ia melihat sebuah bayangan bergerak di lantai dua, di dekat balkon yang menghadap ke ruang utama.

"Kau datang, Kai. Lebih berani dari yang kukira," sebuah suara wanita terdengar. Suaranya tidak asing, namun Kai tidak bisa langsung mengenalinya.

Seorang wanita melangkah keluar dari kegelapan menuju cahaya senter Kai. Ia tampak berusia sekitar empat puluh tahun, mengenakan setelan jas abu-abu yang tajam. Rambutnya disanggul rapi, namun matanya memancarkan kelelahan yang luar biasa.

"Bu Sarah?" Kai tertegun. Sarah adalah asisten kepercayaan ayahnya, orang yang menghilang tanpa jejak segera setelah pemakaman ayahnya tiga tahun lalu.

"Dulu aku berpikir kau aman di Oakhaven," ucap Sarah sambil menuruni tangga dengan perlahan. "Tapi Yudha adalah anjing pelacak yang gigih. Dia tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan."

"Apa yang sebenarnya terjadi, Bu Sarah? Yudha bilang ini soal proyek Lumina. Tapi dia tampak ketakutan saat aku menyebut soal bukti transfer dana," Kai melangkah maju, menuntut jawaban.

Sarah berhenti di anak tangga terakhir. Ia menghela napas panjang, kepulan uap putih keluar dari mulutnya di udara dingin itu. "Lumina bukan sekadar proyek arsitektur, Kai. Itu adalah skema pencucian uang besar-besaran yang dilakukan oleh petinggi perusahaan, termasuk Yudha. Ayahmu mengetahuinya. Dia mencoba menghentikan mereka dengan menyisipkan bukti-bukti ke dalam desain teknisnya, karena dia tahu Yudha tidak akan pernah bisa membaca bahasa seni."

Kai merasakan jantungnya berdegup kencang. "Jadi kecelakaan itu... itu bukan kecelakaan?"

Sarah menunduk, tidak berani menatap mata Kai. "Malam itu, rem mobil ayahmu tidak blong karena usia. Ada seseorang yang memutus talinya. Mereka hanya tidak menyangka bahwa kau akan selamat, Kai. Mereka pikir kau akan ikut terkubur bersama bukti-bukti itu."

Dunia seolah runtuh di bawah kaki Kai. Selama tiga tahun ini, ia menyalahkan dirinya sendiri. Ia menganggap dirinya adalah pembawa sial yang menyebabkan kematian ayahnya dan kebutaan warna pada dirinya sendiri. Namun ternyata, ia adalah korban dari sebuah rencana pembunuhan yang keji.

"Kenapa baru sekarang, Bu Sarah? Kenapa kau membiarkanku hidup dalam kegelapan selama ini?" tanya Kai, suaranya bergetar karena amarah dan kesedihan yang meluap.

"Karena aku takut!" Sarah berteriak, air mata mulai mengalir di pipinya. "Yudha mengancam keluargaku. Tapi sekarang, saat aku mendengar dia membawamu kembali ke sini dan menggunakan ibumu sebagai sandera, aku tidak bisa diam saja. Ibumu tidak benar-benar mendapatkan perawatan terbaik, Kai. Mereka hanya memberinya obat penenang dosis tinggi agar dia tetap lemah dan kau tetap patuh."

Kai merasa mual. Ia teringat wajah pucat ibunya dan senyum lemahnya tadi siang. Ternyata itu semua adalah manipulasi medis yang dilakukan Yudha.

"Aku punya sesuatu untukmu," Sarah mengeluarkan sebuah *flashdisk* kecil dari sakunya. "Ini adalah rekaman percakapan terakhir antara ayahmu dan Yudha di galeri ini, beberapa jam sebelum kecelakaan. Itu adalah potongan terakhir yang kau butuhkan untuk melengkapi 'gambar' di sketsa Luminamu."

Baru saja Kai hendak meraih *flashdisk* itu, sebuah tepukan tangan bergema dari arah pintu masuk.

"Drama yang sangat menyentuh," suara Yudha memecah keheningan.

Kai berbalik dengan cepat. Yudha berdiri di sana, dikelilingi oleh empat orang pria bertubuh besar. Kali ini, ia tidak tersenyum. Wajahnya dingin dan penuh niat membunuh. Di tangannya, ia memegang sebuah benda logam yang berkilat di bawah cahaya bulan yang masuk melalui atap kaca. Sebuah pistol.

"Sarah, kau selalu menjadi titik lemah dalam rencanaku," ucap Yudha sambil berjalan perlahan mendekat. "Dan kau, Kai... kau seharusnya tetap tinggal di Oakhaven, menatap salju sampai mati. Itu akan jauh lebih mudah bagi kita semua."

"Kau membunuh ayahku," desis Kai. Tangannya mengepal kuat, arang di sakunya terasa tajam menusuk kulitnya.

"Ayahmu adalah orang idealis yang bodoh. Dia berdiri di depan kereta cepat yang sedang melaju. Aku hanya membantunya untuk sampai ke tujuan lebih cepat," Yudha mengarahkan pistolnya ke arah Kai. "Sekarang, serahkan sketsa asli itu dan flashdisk dari Sarah. Lakukan sekarang, atau ibumu akan mengalami 'komplikasi mendadak' malam ini juga."

Kai menatap Yudha, lalu menatap Sarah yang gemetar. Ia merasa terpojok. Namun, di tengah tekanan yang luar biasa itu, telinganya menangkap sebuah suara.

*Denting.*

Bukan denting pintu. Tapi denting nada di kepalanya. Ia teringat Elara. Ia teringat bagaimana Elara mengajarinya untuk "mendengar kebenaran" di tengah kebisingan.

Kai menyadari sesuatu. Galeri ini memiliki akustik yang aneh. Suara gema dari langkah Yudha memberitahu Kai posisi persis pria itu, bahkan dalam kegelapan yang remang-remang.

"Kau ingin sketsanya?" tanya Kai, suaranya tiba-tiba tenang. "Ambirlah."

Kai merogoh tasnya, namun alih-alih mengeluarkan kertas, ia mengeluarkan sebuah kaleng semprotan fiksatif lukisan yang selalu ia bawa dan pemantik api. Dalam satu gerakan cepat, ia menyemprotkan cairan fiksatif itu ke arah obor kecil yang ia buat dengan pemantiknya.

*Wush!*

Lidah api besar menyambar di depan wajah Yudha, membutakannya sejenak.

"Lari, Bu Sarah! Keluar dari sini!" teriak Kai.

Kai tidak lari ke arah pintu keluar, ia lari ke arah lorong-lorong gelap galeri yang sudah ia hafal dari masa kecilnya. Yudha melepaskan tembakan, namun pelurunya hanya menghantam bingkai lukisan tua.

"Kejar dia! Jangan biarkan dia lolos!" teriak Yudha penuh murka.

Kai berlari di antara labirin patung dan pajangan. Ia mematikan ponselnya agar cahayanya tidak terlihat. Ia kini berada dalam elemennya—kegelapan. Di matanya yang monokrom, bayangan dan cahaya adalah bahasa yang ia kuasai lebih baik daripada siapa pun.

Ia memanjat sebuah instalasi seni besi tua dan bersembunyi di balik langit-langit rendah. Napasnya terengah, jantungnya berpacu. Ia mengeluarkan kunci perak Elara. Ia memegangnya erat, memejamkan mata, dan mencoba menenangkan pikirannya.

*Apa yang akan Elara lakukan?* pikirnya.

Elara akan menggunakan musik. Kai tidak punya musik, tapi ia punya arang.

Ia melihat ke arah lantai di bawahnya. Anak buah Yudha berpencar. Kai mengambil selembar kertas kalkir besar dari tasnya. Dengan cepat, ia menggoreskan arang, membuat sebuah gambar perspektif yang menipu mata—sebuah ilusi optik sederhana yang sering ia pelajari di sekolah seni. Ia menempelkan kertas itu di ujung lorong yang gelap.

Salah satu anak buah Yudha berlari ke arah lorong itu, mengira ia melihat Kai, namun ia justru menabrak dinding keras karena gambar perspektif Kai menipu persepsi kedalamannya dalam remang-remang.

Kai memanfaatkan momen itu untuk turun dan berlari menuju pintu belakang. Ia berhasil keluar ke udara malam yang dingin. Ia terus berlari menyusuri taman, tidak menoleh ke belakang, hingga ia sampai di sebuah bilik telepon umum yang tersembunyi.

Ia merogoh sakunya. Ia masih memiliki *flashdisk* dari Sarah. Wanita itu sempat melemparkannya ke dalam tas Kai saat kekacauan tadi.

Kai bernapas lega, namun ia tahu ini belum berakhir. Ia tidak bisa kembali ke rumah sakit. Ia tidak bisa kembali ke apartemen lamanya. Ia kini adalah buronan di kotanya sendiri.

Ia mengambil ponselnya, menyalakannya sebentar hanya untuk mengirim satu pesan singkat ke nomor Elara.

*Kai: Elara, badai di sini lebih gelap dari yang kukira. Tapi aku sudah menemukan kebenarannya. Jangan pergi ke mana-mana. Tunggu aku.*

Ia langsung mematikan ponselnya kembali. Ia menatap langit ibu kota. Untuk pertama kalinya, ia melihat warna merah. Bukan merah darah yang menakutkan, tapi warna merah dari lampu sinyal di puncak gedung pencakar langit. Merah itu tampak tajam, penuh peringatan, namun juga penuh kehidupan.

"Aku akan menghancurkanmu, Yudha," bisik Kai pada angin malam. "Dengan warna-warna yang kau coba hapus dari hidupku."

Kai melangkah pergi dari telepon umum itu, menghilang ke dalam bayang-bayang kota, memulai permainannya sendiri sebagai seorang seniman yang kini tahu cara bertarung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!