Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Danish sudah berdiri di tengah-tengah para tamu yang hadir. Acara yang tergelar bukan pesta mewah. Hanya di hadiri beberapa anak kecil beserta orang tuanya, dan hanya dimeriahkan dengan badut sewaan.
Sebelum melangkahkan kakinya mendekat, Danish menghembuskan napas berat, guratan di wajahnya sudah menunjukan kekecewaan yang tak berdasar.
"PAPAH!"
Suara Danish begitu kuat menekan setiap kata, meskipun nadanya sedikit bergetar. Semua orang menoleh. begitu Mc menghentikan suaranya.
Pandu menoleh begitu wanita cantik yang berdiri disamping putri cantiknya. Namanya-Lusi.
Deg!
Deg!
Wajah Pandu tersentak kuat melihat putra pertamanya berdiri tegap di tengah-tengah acara. Ia menatap wanita bernama Lusi itu sekilas, lalu segera menghampiri Danish sambil menelan ludah kasar.
"Ayo ikut Papah keluar dulu," Pandu memapah bahu putranya untuk diajaknya keluar.
Sementara Pal Rahmad, langkah kakinya terhenti di ambang pintu masuk. Ia urungkan niatnya, dan lebih memilih menunggu meskipun sedikit berjarak.
Danish tepis lengan Papahnya. Dadanya sudah mulai naik turun, rasanya lebih sesak dari pada semua kegagalannya. "Apa maksud semua ini, Pah? Siapa wanita itu? Siapa bocah kecil yang sedang merayakan ulang tahun di dalam?" suara Danish begetar, hingga air mata sudah menggenang di sudut matanya.
Bukan lebay-
Tapi, ini menyangkut masalah keluarga.
Apalagi kebahagiaan Ibunya-Bu Ana.
Dan lagi-
Kedua adiknya.
Pandu menarik napas dalam sebelum benar-benar menjelaskan semuanya. Mau menghindar pun untuk saat ini tidak bisa. Mungkin, dengan berat hati ia akan memberitahu putranya sekalian.
"Maafkan Papah, Danish!" serunya tertunduk sekilas. Meskipun wajah pria berusia 48 tahun itu tampak tenang, namun sorot matanya sangat merasa bersalah melakukan semua itu. "Mereka?! Mereka memang anak serta Istri muda Papah! Kamu sudah tahu... Jadi ya, tidak ada lagi yang Papah tutupin dari kamu."
Danish sedikit mendongak, berharap air matanya tidak jatuh. Namun, harapanya seketika musnah. Air mata itu mengalir dengan sendirinya. Pengakuan Pandu barusan bagaikan nuklir yang mencari ledakan pas tepat waktunya.
Semuanya hancur, begitu harapanya kedepan.
Danish meraup berat wajahnya, lalu mencoba tersenyum getir menatap Ayahnya. "Apa salah Mamah hingga Papah tega menghianatinya? Mamah wanita berkelas, cantik, selalu menganggap Papah ada. Selalu melibatkan Papah dalam urusan perusahaan. Lalu? Apa masih kurang semua itu bagi Papah?"
Pandu kembali menghembuskan napas bertanya. Dalam balutan kemeja bewarna maroon, dirinya kembali menepuk bahu putranya, seolah tengah meyakinkan. "Tidak ada alasan mutlak, Danish! Cinta bisa datang, dan pergi dengan sendirinya. Dan untuk saat ini... Kebahagiaan Papah bersama keluarga baru Papah. Jika pun Mamahmu tak terima... Maka suruh saja untuk menggugat Papah," Pandu menepuk beberapa kali bahu putranya, lalu melenggang masuk ke dalam begitu saja.
Danish masih terpaku dalam pijakannya. Ia baru saja menyaksikan dunianya hancur dalam sekejab.
Pak Rahmad datang. Pria berusia 58 tahun itu membuka suara dengan sopan. "Paman ikut prihatin dengan semua ini, Dan! Paman tahu sehancur apa perasaanmu. Tapi ingat satu hal! Kesedihan berlarut hanya akan menghancurkanmu! Bangkitlah! Kamu ana pertama yang dipaksa kuat oleh keadaan. Mungkin jika Pak Pandu tidak dapat melakukanya, maka gantilah! Bahagiakan Mamahmu, dan ke-2 adikmu!"
Tepukan dibahu itu bagaikan kobaran api semangat yang membuat Danish dapat melalui semua itu hingga saat ini.
Danish baru tersadar ketika mobil yang dibawa lukman sudah memasuki halaman luas Resto ternama.
Tepat pukul 10.30 siang, ke-tiganya segera turun.
"Dan... Kamu kenapa kaya nggak fokus gitu sih? Jangan banyak ngalamun ah. Nanti kamu ngeblank lagi," tegur sang Mamah sambil berjalan masuk bersama.
Danish menggelengkan kepala kecil. "Nggak papa, Mah! Danish hanya memikirkan, bagaimana caranya agar resort terbaru nanti dapat berkembang secara pesat," sanggahnya.
Meskipun Danish selalu menutupi, namun sebagai Ibu, Bu Ana tahu jika putranya itu cukup memikul beban derita yang sangat berat. Menghadapi semuanya seorang diri. Memulai bisnis tanpa sokongan Papahnya, dan ketika Danish berada di puncak, Pandu datang untuk menjadikan putranya tumbal atas kerja sama antar perusahaan.
Belum lagi rumah tangga Danish yang mendapat terjangan badai dari ulah Istrinya.
Bu Ana hanya mampu mengusap lengan sang Putra. Seolah, melalui usapan itu, ada kalimat; Mamah pasti akan selalu mendukung dan menemanimu. Kita lewati badainya sama-sama.
****
Sementara di rumah, Hana sengaja menidurkan Keira di ruang tengah, diatas kasur empuk yang sangat luas. Wanita cantik itu tak lupa menurunkan kelambu tipis, agar bayi berusia 4 bulan itu tak di gigit nyamuk.
Niatnya, Hana akan membantu para pelayan setelah itu. Jadi, jika pun nanti Keira menangis, maka Hana dapat mendengarnya.
"Bi, apa nggak Papa saya masuk? Nanti, gimana kalau Pak Danish marah?" Hana sudah siap membawa keranjang baju yang berisikan semua pakaian Danish setelah Bik Inem setrika.
"Nggk papa, Mbak Hana! Pintunya juga nggak Aden kunci kok. Masuk aja! Ini milik Den Danish... Kalau ini milik Den Lukman," kata Bik Inem sambil menunjuk pakaian serta dalaman masing-masing Tuan mudanya.
Hana mengangguk paham. Namun ia sedikit menunduk menyembunyikan senyum, sebab ada salah satu boxer dengan karakter Spongebob yang terselip di antara tumpukan baju.
Dengan langkah mantab, wajah cerah, Hana segera menatapi anak tangga sambil membawa keranjang baju tadi.
Dan baru kali ini Hana menapakkan kakinya di lantai 2. Ruanganya cukup mewah dengan interior klasik bercampur modern.
Di sana terdapat 4 kamar, yang di mana dua berada di depan tangga, dan dua lagi di sudut ruangan.
Hana yakin, dua kamar di depanya itu pasti kamar Danish dan Lukman.
Deritan pintu terbuka dengan pelan. "Permisi, maaf Pak Danish saya cuma mau masukin baju Anda saja," ucap Hana sendiri sambil masuk ke dalam. Ya, siapa tahu kalau di kamar itu ada kamera tersembunyinya.
Namun baru beberapa langkah, ia mendengar suara tangisan Keira yang begitu kuat.
Kedua mata Hana terbuka lebar. Kakinya sudah tertarik ingin kembali, namun tidak mungkin juga ia balik begitu saja sebelum menyelesaikan pekerjaanya.
Jadi, Hana yang sudah di kalang kabut, langsung saja bergegas membuka lemari, dan memasukan pakaian Bosnya ke dalam.
Dan hal itu Hana juga lakukan di dalam kamar Lukman secepat kilat. Barulah ia turun tergesa, sambil menenteng keranjang tadi. Namun, dibawah Keira sudah di gendong dalam dekapan Bik Jumi.
"Bik, maaf ya... Tadi saya taruh pakaiannya Pak Danish sama Mas Lukman di atas," ucap Hana setelah meletakan keranjang tadi.
"Nggak papa! Ini sepertinya Non Keira haus deh. Non Hana susui aja!" seru Bik Jumi sambil menyerahkan Keira pada Hana.
Oek....! Oek....!!
"Uluh, cup... Cup, sayang. Keira anak manis, mau nen ya sayang? Keira haus ya? Kita ke kamar yuk?!"
Hana mengajak bayi 4 bulan itu masuk kedalam kamar untuk dirinya beri Asi.