Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Bertanggungjawab
Naraya keluar dari kafe seperti biasanya tanpa menunjukkan gejala apapun. Akan tetapi, begitu ia sampai di pinggir jalan raya untuk menunggu angkutan umum, kram perut mendadak menyerangnya. Ia terduduk sambil memegangi perutnya, berusaha meredakan nyeri.
Tepat saat itu, Abiyan membuka pintu mobil dan keluar. Namun, dia sangat terkejut melihat seorang wanita yang wajahnya familiar terduduk di pinggir jalan, memegangi perutnya.
Sementara, wanita itu berusaha berdiri, menatap Abiyan dengan tatapannya memelas - antara memohon pertolongan dan menahan sakit yang luar biasa. Namun, baru saja ia ingin membuka mulut, pandangannya mendadak gelap dan ambruk.
Tanpa pikir panjang, Abiyan langsung berlari menghampiri wanita itu dan berusaha menangkapnya sebelum tubuhnya membentur aspal.
"Nara...?" gumam Abiyan saat mengetahui siapa wanita yang ditolongnya. Dia segera mengangkat tubuh Naraya dan berlari menuju mobil kakaknya.
Zeya yang melihat kejadian itu dari dalam mobil, segera turun dan dengan sigap membukakan pintu belakang lebar-lebar.
"Tolong, Kak! Cepat antar ke rumah sakit terdekat! Biyan takut terjadi sesuatu sama dia," ucap Abiyan dengan raut wajah khawatir, lalu membaringkan Naraya di kursi belakang.
Daniel tanpa banyak bertanya segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Zeya lantas memeriksa denyut nadi Naraya. Saat itulah, Zeya merasakan sesuatu yang membuatnya mengernyitkan dahinya - denyut nadi Naraya tidak seperti biasanya, lebih cepat dan lemah. Insting seorang wanita dan seorang ibu membuatnya menduga sesuatu.
Abiyan yang duduk di samping Naraya, menggenggam tangannya erat, hatinya diliputi kecemasan yang mendalam. Dia merasa sangat khawatir dengan kondisi Naraya, terlebih karena kejadian itu terjadi tepat di hadapannya.
.
Daniel mengerem mobil dengan hati-hati di depan pintu masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD). Abiyan dengan sigap mengangkat Naraya keluar dari mobil, dan segera membawanya masuk ke dalam ruangan, meletakkannya di atas brangkar yang disodorkan oleh seorang perawat.
"Dokter, tolong! Dia pingsan di jalan! Tolong cepat diperiksa!" seru Abiyan dengan khawatir.
"Baik, Mas. Silakan Anda keluar, biar tim kami bisa bekerja dengan baik," kata Dokter tersebut.
Para perawat dengan cekatan membawa brangkar tersebut masuk ke ruang pemeriksaan. Lalu seorang perawat menutup pintu dengan rapat.
Abiyan lantas duduk menunggu di ruang tunggu IGD. Tak lama kemudian Zeya dan Daniel datang menyusul. Daniel memilih duduk agak menjauh, dia tampak sedikit tidak nyaman dengan situasi tersebut.
"Siapa dia, Bi? Kok, kamu bisa kenal?" tanya Zeya penasaran.
"Dia teman kerja di kafe, Kak. Namanya Naraya. Biyan juga baru kenal tadi pagi, nggak nyangka malah kejadian seperti ini."
Zeya mengangguk-angguk, mencoba memahami. "Oh, begitu. Semoga nggak terjadi apa-apa dengannya," ucap Zeya sambil menepuk pundak Abiyan, berusaha menenangkan adiknya.
"Aamiin," sahut Abiyan mengaminkan ucapan kakaknya.
"Bi, tadi pas kakak periksa nadinya, kakak merasa ada sesuatu yang aneh. Sepertinya temanmu itu sedang hamil," bisik Zeya, berusaha tidak membuat Daniel mendengar.
Abiyan mengerutkan keningnya. "Hamil...?" seru Abiyan dengan suara tertahan.
Zeya mengangguk pelan. "Tapi, entahlah. Kakak hanya menebak, lebih baik kita tunggu saja kabar dari dokter."
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Abiyan segera berdiri dan menghampirinya.
"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" tanya Abiyan dengan cemas.
"Kondisi pasien sudah stabil. Untungnya, Anda membawanya tepat waktu. Jika terlambat sedikit saja, janin yang dikandungnya bisa jadi tidak selamat," ujar dokter tersebut.
"Jadi... dia benar hamil, Dok?" tanya Zeya memastikan kecurigaannya.
"Betul, Bu," jawab dokter itu, mengonfirmasi. "Pasien mengalami pendarahan ringan, akibat kelelahan dan kurang istirahat. Kami sudah memberikan penanganan untuk menghentikan pendarahannya. Sekarang, pasien harus dirawat inap untuk observasi lebih lanjut."
Abiyan terdiam, mencerna informasi yang baru saja didengarnya. Dia tidak menyangka Naraya sedang hamil. Perasaan khawatir dan bingung bercampur aduk dalam benaknya.
"Apakah kami bisa melihatnya, Dok?" tanya Zeya.
"Tentu saja. Tapi, pasien masih istirahat. Jangan terlalu lama, ya," pesan dokter. "Saya permisi dulu." Dokter itu kemudian berlalu.
Zeya menoleh ke arah Abiyan, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kamu tahu soal ini, Bi?" tanyanya pelan.
Abiyan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak, Kak! Sumpah, Biyan nggak tahu apa-apa."
Zeya menghela napas. "Ya sudah, sekarang kita lihat temanmu dulu."
"By, kamu mau ikut, nggak?" tanya Zeya pada Daniel suaminya.
"Kalian saja, aku tunggu di sini," jawab Daniel sambil melirik Zeya sesaat, lalu fokus pada ponselnya.
Zeya dan Abiyan kemudian berjalan masuk ke ruang perawatan Naraya, meninggalkan Daniel yang memilih duduk menyendiri di ruang tunggu. Sepertinya dia sama sekali tidak berminat untuk ikut campur.
Begitu berada di dalam ruang perawatan, mereka melihat Naraya berbaring lemah di ranjang pasien, wajahnya tampak pucat. Zeya dan Abiyan saling pandang, merasa iba melihat kondisi wanita tersebut.
"Kamu tahu di mana dia tinggal, Bi?" tanya Zeya, sambil menatap Abiyan dengan pandangan menyelidik.
"Nggak tahu, Kak," jawab Abiyan jujur, menggelengkan kepalanya pelan. "Biyan kan, sudah bilang. Baru kenal dia tadi pagi. Itupun hanya menyebut nama doang."
"Gimana ini? Kita nggak tahu apa-apa tentang dia. Keluarganya siapa dan tinggal di mana." Zeya tampak bingung dan khawatir. Dia merasa bertanggung jawab sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong. Apalagi wanita itu adalah teman kerja Abiyan, dan kini kondisinya sangat memprihatinkan.
"Bagaimana dengan ponselnya, Kak? Atau kartu identitasnya mungkin?" cetus Abiyan tiba-tiba.
Mata Zeya tampak berbinar, seperti menemukan secercah harapan. Ia lantas membuka tas Naraya dan mengambil ponselnya serta kartu identitasnya. Namun, sayang sekali ponsel Naraya justru kehabisan daya. Mereka berdua pun hanya bisa pasrah.
"Ya sudah, kita tunggu saja sampai dia sadar. Setelah itu baru kita tanya padanya," kata Zeya pada akhirnya.
Mereka berdua kemudian duduk di kursi yang ada di samping ranjang Naraya, menunggu dengan sabar. Namun kemudian pintu ruangan terbuka, tampak Daniel masuk menghampiri mereka.
"Sayang, ayo kita pulang," bisiknya pada Zeya. "Ini sudah larut malam, kasihan anak-anak di rumah."
"Astaga, sampai lupa." Zeya menepuk keningnya.
"Bi, kakak harus pulang, ya," pamitnya pada Abiyan. "Kakak takut Zana dan Zando mencari kami."
"Kamu nggak apa-apa kan, menunggu di sini sendiri?" tanya Zeya kemudian.
Abiyan mengangguk. "Iya, Kak, nggak apa-apa. Kakak pulang saja. Aku akan tunggu di sini sampai dia sadar."
Zeya menepuk pundak Abiyan. "Ya sudah, Kakak pergi dulu. Kalau ada apa-apa, langsung kabari Kakak, ya."
Abiyan mengangguk lagi. Zeya kemudian keluar dari ruang perawatan bersama Daniel, meninggalkan Abiyan seorang diri di sisi Naraya.
Abiyan menatap wajah Naraya yang pucat dengan tatapan iba. Dia merasa bertanggung jawab untuk menjaganya, meskipun tidak mengenalnya dengan baik. Dia berharap Naraya segera sadar dan bisa memberikan informasi tentang dirinya serta keluarganya.
.
Di kontrakan, Aldo dan Benny tampak gelisah menunggu Abiyan. Kedua pemuda itu mondar-mandir di teras kamar mereka dengan raut wajah cemas. Sesekali mereka melongok ke arah mulut gang berharap melihat tanda-tanda kedatangan Abiyan.
"Gimana ini, Ben? Sudah larut malam begini, tapi Biyan belum balik juga," ujar Aldo dengan khawatir.
"Apa mungkin Abiyan tidur di mess? Biasanya di kafe suka ada mess buat karyawan," lanjutnya menduga-duga.
"Ya sudah, gimana kalau kita datangi tempat kerjanya?" usul Benny, mencoba memberi solusi.
"Kalau kita bersimpangan di jalan gimana? Kita nanti nyampai di sana, ternyata dia malah sudah ada di rumah?" sahut Aldo, diliputi perasaan was-was.
Benny terdiam sesaat, sambil berpikir. "Bener juga, ya. Tapi, kita nggak bisa diam saja begini, Do. Gue khawatir ada apa-apa sama Biyan."
"Coba kalau dia pegang ponsel. Kan, enak bisa dihubungi. Nggak kayak gini susah jadinya," sesal Aldo sambil menggelengkan kepala.
"Ya sudahlah, kita berdoa saja nggak terjadi sesuatu sama dia di manapun berada," pungkas Benny.
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....