NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Hari di mana pertemuan kedua antara Garra dan Saputri serta teman-temannya pun tiba. Dan hal pertama yang mereka usik dari rincian kontrak yang tertulis adalah…

“Pak, ini gak salah soal penggajian, bonus, THR dan segala macamnya? Belum lagi parsel?”

Melihat Firdha bertanya sembari membuka halaman dan menunjukkan daftar nominal gaji pekerja, membuat Garra mengulum senyum sesaat.

“Gak ada yang salah,” sahut Garra santai.

“Tapi, Pak, ini yakin mau ngeluarin duit sebanyak ini? Jujur kami agak ngeri, Pak,” jelas Firdha.

“Karena standar di kota ini paling mentok satu sampai dua juta, gitu?”

“I, iya, Pak. Itu maksudnya,” ujar Firdha salah tingkah.

“Pak, ini gak main-main soalnya. Kami serius mau nerima kontrak asalkan gak main-main,” ujar Saputri menengahi.

Sejenak, Garra memejam dan membuka mata lalu tersenyum mendapati reaksi ketidakpercayaan mereka.

“Gini, kalo saya gak serius, saya gak mungkin ngundang kalian langsung untuk melihat bangunan kemaren. Maksudnya, saya bukan Dokter, Perawat, Bidan ataupun orang kesehatan yang mengerti standar kemauan di kota ini. Saya orang awam makanya, saya pun berharap banyak sama kalian.”

Mendengar penjelasannya, mereka pun masih tampak tidak percaya dengan saling melirik satu sama lain.

“Tunggu, bentar. Harusnya ini jadi kejutan buat seseorang tapi, mau gak mau harus aku bongkar di awal.”

Sesaat Garra mengotak-atik ponselnya dan mulai tersambung ke nomor…

“Halo, Cha. Di mana? Sibuk gak?”

“Di rumah. Gak terlalu, sih? Kenapa?”

“Oiya, mau acara lagi, ya. Tapi, bisa gak sebentar ke Kopi Memori? Ada yang penting.”

“Astagaaa…belum mandi aku.”

“Gak usah. Cuci muka, sikat gigi aja. Tiga puluh menit aku tunggu.”

Belum sempat Echa menjawab, Garra langsung mematikan sambungan teleponnya dan kembali fokus pada Saputri serta teman-temannya.

“Jadi, gimana, Pak?” tanya Firdha.

“Tunggu bentar, ya. Saya tau kekhawatiran kalian. Tapi, tunggu bentar. Saya harap orang yang mau datang ini bisa sedikit ngurangin rasa ragu. Karena serius saya perlu kalian.”

Saat itu, Garra tampak memohon dan kali ini, sejak detik telepon dimatikan, dia terus memperhatikan jam dinding di kafe tersebut. Sementara, Saputri dan teman-temannya terlihat berdiskusi tentang kontrak mereka lebih lanjut.

“Jujur, aku seneng, ya, dapat gaji segini. Ini sangat amat jauh dari gaji yang dikasi Dokter Rena. Tapi, takut juga kalo gak di tanya betul-betul. Yang ada kita dijual,” bisik Dewinta diiringi cekikikan ketiganya.

“Betul lagi. Maka aku jadi janda baru setahun. Ini kalo ngajak Echa apa gak lebih ngenes lagi. Baru jadi janda seminggu sudah dijual. Astaga,” ujar Jeni dengan ekspresi datar dan setengah geli.

Hampir tawa mereka meledak karena celoteh Jeni namun, Dewinta yang duduk di sisinya hanya bisa menepuk pelan lengan Jeni menahan tawa gelinya.

“Kak, eh. Tuhaaan. Gelap banget itu candaan,” ujar Dewinta yang masih cekikikan, “eh, tapi, denger gak, sih, tadi dia nyebut, ‘Cha, Cha’, pas nelpon. Jangan bilang itu Kak Echa.”

“Eh, iya, aku denger juga. Tapi, mungkin sama nama aja kali, ya,” ujar Jeni

“Menurut Kak Jen, dia kaya orang bener gak, sih?”

Kembali mereka menahan senyum geli akibat pertanyaan Saputri yang terdengar mengolok namun, dengan wajah serius khas-nya.

“Bu, kalo liat muka, ya, memang kaya orang bener. Ganteng lagi. Cuma takutnya mau manfaatkan,” ujar Firdha yang berusaha mengimbangi keseriusan Saputri.

“Kalo saya awal ketemu responnya baik aja, sih. Cuma rada mencurigakan sama temennya yang dua orang kemaren sama dia, tuh, Bu,” sahut Jeni.

“Eh, iya, itu. Rada takut sama yang pake kaos item gak, sih? Kalo yang baju ijo army itu rada ramah, lah. Yang sangat amat mencurigakan yang itu,” ujar Dewinta menimpali.

“Iya. Tapi, jujur mukanya, nih, kaya gak asing. Aku kaya pernah liat tapi, di mana, ya?” jelas Saputri yang berusaha mengingat.

“Temen sekolah?” tanya Firdha berusaha membantunya mengingat namun, Saputri menggeleng pelan, “kakak kelas? Temen kuliah? Senior KOAS? Siapa? Makanya kapasitas otak, tuh, di upgrade. Kesal kali aku.”

“Hahahaha…habis kaya apa. Aku lupa. Kan, kamu tau aku kaya apa, Fir. Malas kali ngingat orang gak penting.”

“CHA, SINI!”

“Astaga, kaget aku.”

Mendengar Garra yang tiba-tiba berteriak, dan melambai pada sosok yang baru tiba di lantai dua sambil menggenggam erat gelas kopinya membuat mereka berempat sontak terperanjat, tidak terkecuali Dewinta yang langsung bereaksi namun, ada tawa kecil setelahnya.

“Kaya kenal ini bocah.”

Celetukan Jeni saat sosok berambut panjang cokelat yang tertutupi topi jumper abu-abu itu, melewati mereka dan duduk di samping Garra. Sampai…

“Woy, lah. Cha? Janda tiga hari,” ujar Jeni hampir berteriak.

“Eh, apa ini?”

Kedua bola mata Echa membesar dibalik kacamata minusnya tatkala melihat keempat orang yang sangat amat dia kenal.

“Ngapain kelean?” tanya Echa tak percaya.

“Oooooh…ini. Aduh, iya, temen Mbak Echa.”

Kini, tatap mereka pun teralih pada Saputri kecuali, Garra yang hanya bisa menghela napas dan menahan senyum geli.

“Udah? Paham, kan? Makanya aku bilang, kalo orang ini datang kalian pasti percaya,” jelas Garra semringah.

“Bentar, ini kenapa emang?”

Dan pada akhirnya, semua Garra jelaskan dari awal hingga maksud dari semua hal yang membuat Garra harus mendatangkan Echa.

“KO? GARRA? Eh, Koko? Garra? Aduh, apa ini?”

Dan sesaat Garra sempat tertawa kecil melihat reaksi Echa yang begitu terkejut usai Saputri, Adik Sepupunya menyerahkan kontrak yang berisi rincian gaji karyawan.

“Gak, ini serius? Belum pernah kuliat gaji segini? Kerja sekaligus jual diri, kah, ini?”

Untuk kedua kali, di hari ketiga pertemuan mereka, ledakan tawa Garra memenuhi ruang kafe lantai dua yang hanya di tempati mereka berenam pagi itu. Sementara, Echa kebingungan, empat lainnya hanya bisa terdiam melihat reaksi Garra yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

“Bener kata Aprina tiga tahun lalu, Kak Echa kelewat terang. Bahkan sekelas cowo Korea aja bisa dibikinnya ketawa lepas,” ujar Dewinta yang sempat terpaku.

“Anjiir, kaya nonton drakor,” umpat Saputri, “mual kali aku.”

Hampir tersembur minuman yang baru ia sedot, Firdha pun tampak kesal dan menepuk lengan Saputri.

“Onjar, anjir aja kau. Di tahan-tahan. Janda baru ini depan kita. Kakakmu juga itu,” omel Firdha.

Dan kali ini, giliran Jeni yang hampir tersembur minumannya sendiri tatkala mendengar omelan Firdha dan membuatnya melakukan hal yang sama seperti yang Firdha lakukan pada Saputri.

“Capybara kau. Gak usah juga disebut jandanya,” umpat Jeni.

“Anjaaay, Capybara. Gak ada yang pendekan namanya, Kak. Sapi, kek,” ujar Dewinta.

“Biar imut aja,” sahut Jeni.

“Bentar, serius, nih?”

Ucapan Echa membuat mereka berempat kembali fokus dan menatap Garra lebih serius.

“Kalo gak serius ngapain aku bawa kalian ketemuan di tempat begini. Mending sekalian ketemu di tempat sepi,” ujar Garra, “baca yang betul isi kontraknya. Aku juga gak sembarangan rekrut kalian. Bukan karena kamu temenku, Cha.”

“Gak, kita gak temenan,” sahut Echa, “kamu sepupu David. Dan dia temenku. Kita gak seakrab itu.”

“Haaa…kaya apa lagi ini. Sudah kepalang tanggung. Semua sudah aku siapin. Dari gedung baru sampai pelatihan kalian ke Korea. Kalo kalian tolak kontraknya. Kerugianku lebih daripada yang sekarang,” ujar Garra hampir menyerah.

Sesaat Echa saling melihat kearah empat temannya yang juga menatapnya.

“Diam sini, deh. Kami pindah tempat dulu,” perintah Echa.

“Dari tadi aku di sini, Cha. Diskusi aja dulu,” ujar Garra yang masih berusaha sabar.

Segera, Echa berpindah tempat tak jauh dari tempat Garra duduk dan tampak melamun keluar jendela, memberi ruang pada mereka.

“Jadi, keputusannya apa, nih, Jat?” celoteh Jeni yang langsung membuat keempatnya menatap dia penuh tanya, “Jat? Jatri, Janda Tiga Hari.”

“Terus kau, Jahun, gitu?” sahut Echa.

“Apalagi, tuh?” tanya Dewinta.

“Janda Setahun.”

“Astagaaa…tolooong,” ujar Firdha yang tidak sanggup dengan dark joke kedua sahabatnya.

“Wey, lah. Serius sudah,” tegur Saputri.

“Kalo hatiku jujur yakin sama yang dia lakuin. Tapi, yang aku ragu ini masalah pelatihan ke Korea. Boleh gak, sih, kita survei ke sana dulu. Maksudku biar semua selamat kalo memang ini jadi,” jelas Echa.

“Bentar, Cha. Dia, nih, siapa? Kamu kenal baik, kah?”

“Kaya apa, ya, Jen. Dia, nih, kemaren sekolah di SMA 5 Samarinda. Dia sepupu temenku yang satu sekolah sama aku. Cuma sepupunya ini udah meninggal gegara penyakit jantung bawaan di 2013.”

“Tunggu, inget, nih, aku. Kamu pernah cerita soalnya,” ujar Dewinta.

“Berarti bisa dipercaya gitu, Kak?” tanya Firdha.

“Kalo nanya aku, bisa aja. Tapi, ya, aku tetep mau survei tempat. Karena aku pun mau tau dulu, tempat pelatihan kita yang dia maksud, tuh, kaya apa. Masalahnya ini kita mau ngangkut setengah klinik. Ya, kali, ternyata tempat pelatihannya malu-maluin,” jelas Echa.

Dan pada akhirnya, dengan segala negosiasi cukup Panjang. Garra memutuskan untuk membawa mereka berlima beserta suami Saputri sebagai pengawal mereka ke Korea selama tiga hari dua malam.

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!