bekerja di sebuah perusahaan besar tentunya sebuah keinginan setiap orang. bekerja dengan nyaman, lingkungan kerja yang baik dan mempunyai atasan yang baik juga.
tapi siapa sangka, salah satu sorangan karyawan malah jadi incaran Atasannya sendiri.
apakah karyawan tersebut akan menghindar dari atasan nya tersebut atau malah merasa senang karena di dekati dan disukai oleh Atasannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman Dua Puluh Enam
***
Sampai Sore Laudya belum memeriksa Hp nya, ia terlalu malas dan memilih untuk rebahan saja.
Salah dirinya juga sih Hp nya malah di silent kan, jadi tidak akan tahu ada pesan atau panggilan masuk.
Ckelk
“Kak, tadi Adek Beli Lumpia basah. Mau gak?” Tanya Marvel. Ia baru pulang dari Les bahasanya.
“Beli berapa?” Tanya Laudya.
“Dua, soalnya kan Ibu gak terlalu suka.” Jawab Marvel.
Laudya kembali duduk, dan menerima Lumpia Basah dari Marvel.
“Hari ini Bang Maxim gak kesini ya?”
“Enggak, mungkin lagi sibuk banyak kerjaan.” Jawab Laudya.
“Tapi Nelepon?”
Laudya menggelengkan kepalanya. “Enggak.”
“Masa sih.” Marvel mengambil Hp Laudya yang berada di atas nakas. Ia tahu kebiasaan Kakak nya sola Hp nya sendiri.
“Telepon tahu ada beberapa panggilan gak terjawab, terus ada pesan juga. katanya lagi di Medan ada Masalah di Proyek nya.” Ucap Marvel, memberikan Hp nya kepada pemiliknya.
“Makanya jangan di silent mode kan, jadi gak tahu kan.” Ucap Marvel.
“Hehe, soalnya kalau enggak si Silent. Suka berisik ada panggilan banyak dari Dea sama Safa.” Balas Laudya. ia langsung membalas pesan dari Maxim tersebut.
Laudya: “Maaf Mas baru kebuka, soalnya Hp nya aku silent jadi gak tahu kalau Mas kirim pesan sama telepon.”
Dan ternyata Ceklis Satu pesan yang ia kirim pada Maxim.
“Online?” Tanya Marvel.
Laudya hanya membalas dengan gelengan kepala saja.
“Kalau gitu Adek mau mandi dulu ya.” Pamit Marvel.
Setelah Marvel keluar, tidak berselang lama ponsel Laudya berdering panggilan masuk. Dan ternyata dari Maxim, bukan panggilan Telepon tapi Video.
Sebelum menjawab panggilan video tersebut, laudya lebih dulu merapikan Rambutnya dan berkaca takutnya ada sesuatu yang menempel di wajah nya.
Setelah merasa sudah rapi, baru Laudya menjawab panggilan tersebut.
Maxim : “Hi, Mas gak ganggu waktu Istirahat kamu kan?”
Laudya : “Enggak kok Mas, itu mas lagi di Bandara ya?”
Maxim : “Iya, Dua Jam lagi take off nya. itu kamu lagi ngapain?”
Laudya : “Lagi Makan Lumpia Basah, barusan Marvel beli habis pulang dari Les Bahasa.”
Maxim : “Mas lupa belum beli oleh-oleh, mumpung masih ada waktu. Kamu mau di bawakan Apa?”
Laudya : Gak perlu bawa apa-apa, nanti kalau beli dulu pasti mepet waktunya.”
Maxim : “Aman itu mah, lagian di sekitaran Bandara juga ada kok yang jual oleh-oleh.”
Laudya : “Mas lagi di Medan kan?”
Maxim : “Iya, kenapa? Ada yang pengen kamu beli?”
Laudya : “Kalau gitu Aku titip Bika Ambon aja.”
Maxim : “Ok, Kalau gitu Mas beli dulu ya. nanti Mas hubungi kamu lagi.”
Laudya kembali memakan lumpia basah nya, mungkin kalau mereka belum terlalu dekat dan hanya sebatas Atasan dan Bawahan. Mana berani Laudya menitip Makanan kepada Atasan nya sendiri.
.
Pesawat yang membawa Maxim dan Nanda baru landing di Soetta sekitar jam sembilan Malam, Maxim agak kesal sebenarnya. Ia malah memilih penerbangan di jam Enam sore, mungkin kalau lebih siang pasti sampai di Jakarta nya tidak akan semalam ini.
Jadi sekarang ia tidak mungkin kan langsung bertamu ke kediamannya Laudya, kurang sopan.
“Sabar Pak Bos, kan masih bisa Pagi nanti kesana nya.” Ucap Nanda sambil terkekeh.
Maxim hanya mendengus, ia lupa tidak membawa Mobilnya. Kemudian Maxim menatap Nanda.
“Waktu berangkat kamu bawa Mobil sendiri kan?” Tanya Maxim.
“Hemm, kenapa? butuh tumpangan?” Tanya Balik Nanda.
“Antar saya ke Apartemen.” Titah Maxim.
Maxim berjalan lebih dulu, Nanda hanya bisa menghela nafasnya. Dan mengikuti nya dari belakang, tidak ada niatan untuk mensejajarkan Langkahnya kakinya.
Maxim sudah sampai di Parkiran tepatnya di samping Mobil Nanda, tapi yang punya Mobil belum terlihat.
“Mana sih? Lama banget.”
“Ini benar kan ya Mobilnya?” Gumam Nanda.
Setelah menunggu hampir Lima menit, Maxim melihat Nanda berjalan ke arah nya.
“Dari Mana?” Tanya Maxim.
“Hehe, Maaf pak Bos. Habis ngangkat Telepon dari tunangan.” Jawab Nanda.
Keduanya masuk kedalam Mobil, Maxim duduk tenang disamping Nanda yang sedang mengemudi kendaraan beroda empat nya itu.
Maxim lupa belum mengabari Laudya, ia langsung mengirimkan pesan dan memberitahu kalau ia sudah berada di Jakarta.
“Bukannya kamu udah lama tunangannya? kenapa sampai sekarang Belum Nikah juga?” Tanya Maxim.
Maxim merasa aneh saja, karena setahunya kalau jarak dari tunangan ke pernikahan itu paling lambat 3 bulan. Dan ia tahu dari Oma nya.
“Dua Bulan lagi pak, soalnya nunggu habis kontrak kerja dulu. katanya baru bulan depan habis kontrak nya.” Jawab Nanda.
“Nanti di kasih cuti lama kan?” Tanya Nanda.
“Memangnya kamu mau di kasih cuti berapa lama?” Tanya balik Maxim.
“Ya minimal satu Minggu lebih juga gak papa, soalnya rencananya mau Honeymoon di lombok.” Jawab Nanda.
“Kalau gitu, tiga hari ke acara nikahan kamu boleh langsung cuti. Terus masuknya Minggu depan nya.” Ucap Maxim.
Nanda tersenyum lebar, sekarang ia sudah merasakan lega. Sebelum nya ia Lumayan takut, takut di beri cuti hanya tiga hari saja seperti karyawan lainnya yang menikah.
Mobil yang di Tumpangi Mereka sudah sampai di Lobby Apartemen, Maxim mengucapkan terima kasih dan keluar dari Mobil Nanda. tidak lupa ia juga membawa Oleh-oleh yang akan di berikan kepada Laudya dan Oma Opa nya.
*
Kalau tinggal di Apartemen sendiri, setiap harinya ia akan menghidupkan Alarm paginya. takut kesiangan walaupun ia seorang Bos, dimana bisa bebas mau datang ke kantor jam berapapun.
Maxim baru bangun dari tidur nya setelah Alarm berbunyi dari Hp nya, sebelum menyiapkan Sarapan. Maxim lebih dulu mencuci Wajah dan menggosok Giginya.
Untuk Pagi ini Maxim hanya membuat sandwich dan segelas susu putih, ia bisa memasak. Tapi untuk pagi hari lumayan mala, Kecuali untuk Makan Malam. sesekali akan masak sendiri.
Maxim baru selesai sarapan, ia kembali ke kamarnya. Sempat mengecek Hp nya dulu sebelum mandi, dan ternyata hanya ada pesan dari Oma nya menanyakan ia membeli oleh-oleh atau tidak.
Maxim masuk ke dalam Kamar mandi, walaupun ada laundry di dekat Apartemen nya. Maxim akan mencuci pakaian nya sendiri.
Mencuci Pakaian sudah, Mandi sudah, menjemur pakaian nya juga Sudah. dan ia juga sudah rapi dengan pakaian kerjanya, sekarang tinggal berangkat menuju Rumah Laudya.
Maxim membawa satu paper bag sedang yang berisi Bika Ambon pesanan Laudya, ia membeli dua rasa dan masing-masing dua box.
.
Maxim sudah berdiri di depan pintu Rumah Laudya, tadi di jalan sempat berpapasan dengan Marvel berangkat ke sekolah dengan mengunakan Sepeda nya.
Maxim sempat mewari diri untuk mengantarkan Marvel, tapi Marvel menolak nya karena ia sudah membawa Sepeda.
Di saat Maxim ingin mengetuk Pintu, pintu rumah tersebut sudah terbuka.
“Eh Nak Maxim, kenapa gak ketik pintu?” Tanya Bu Mayang.
Maxim menyalami tangan Bu Mayang, “Baru mau Tan. tapi sudah keburu di buka.” Jawab Maxim dengan kekehan nya.
“Mari Masuk, kebetulan Laudya nya sedang di ruang tengah. Bosan katanya di kamar terus.” Ajak Bu Mayang.
Sampai di Ruang tengah, Laudya melihat kedatangan Maxim.
Seperti biasa Maxim akan menempelkan tangannya pada kening Laudya untuk memastikan demam nya, ternyata sudah turun hanya tinggal anget nya.
“Ini pesanan kamu.” Maxim memberikan Bika Ambon tersebut.
“Terima kasih Mas, banyak banget.”
“Gak banyak segitu mah, kan bisa di bagi-bagi.” Balas Maxim.
Maxim sudah duduk di samping Laudya, Bu Mayang datang dari arah dapur dan memberikan Minim Maxim.
“Sudah Sarapan belum nak?” Tanya Bu Mayang.
“Sudah Tante, kalau belum pasti kesininya dari pagi.” Jawab Maxim.
“Kalau gitu Tante ke belakang dulu, kalian ngobrol-ngobrol dulu aja.” Pamit Bu Mayang.
Setelah kepergian Bu Mayang, Maxim dan Laudya malah saling diam. Keduanya sama-sama Gugup seperti biasanya.
“Bika Ambon nya mau di potong sekarang gak?” Tanya Maxim.
“Nanti aja, masih kenyang soalnya.” Jawab Laudya.
Kuduanya kembali Diam lagi, mereka sama sedang bingung mau membicarakan apa.