Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Kalimat itu terus berputar di kepala Ayra sejak kejadian di teras sore kemarin. Sepanjang hari di sekolah, Alano benar-benar berubah. Tidak ada lagi panggilan "Ayang" yang menggema di koridor, tidak ada lagi rangkulan tiba-tiba, bahkan saat berpapasan di kantin tadi, Alano hanya melewatinya begitu saja seolah Ayra hanyalah orang asing.
"Aku salah ngomong ya kemarin?" gumam Ayra pelan sambil menepuk-nepuk bibirnya dengan ujung pulpen. "Harusnya aku nggak usah bahas soal status keluarga itu kalau dia lagi sensitif."
"Ay? Kamu dengerin aku nggak sih?" suara Sinta, teman sesama anggota OSIS, membuyarkan lamunan Ayra.
"Eh, iya Sin? Maaf, tadi kepikiran soal proposal class meeting," bohong Ayra.
Sore itu, mereka berdua sedang berjalan di koridor lantai satu yang bersisian langsung dengan lapangan basket terbuka. Sinta sibuk menjelaskan detail anggaran, sementara Ayra sesekali melirik ke arah lapangan. Di sana, tim basket sedang melakukan latihan rutin yang sangat intens.
Ayra melihat Alano. Cowok itu tampak lebih serius dari biasanya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, dan gerakannya saat menggiring bola tampak jauh lebih agresif. Alano seolah sedang melampiaskan seluruh emosinya ke dalam permainan.
Di tengah lapangan, Bima, sahabat sekaligus rekan setim Alano, sedang memegang bola. Ia mencoba melakukan three-point shoot dari sudut yang cukup sulit. Namun, karena kelelahan atau kurang konsentrasi, tangan Bima tergelincir saat melepaskan bola.
Bola basket yang keras itu tidak meluncur ke arah ring, melainkan melesat kencang dengan kecepatan tinggi ke arah koridor—tepat ke arah Ayra yang sedang membelakangi lapangan.
"Ayra! Awas!" teriak Sinta histeris sambil reflek menutup matanya.
Ayra yang mendengar teriakan itu hanya sempat menoleh setengah jalan. Matanya membulat melihat benda oranye besar itu terbang tepat menuju wajahnya. Ia membeku, kakinya terasa tertanam di lantai, tak mampu menghindar.
Namun, sebelum bola itu menyentuh sehelai rambut pun dari kepala Ayra, sebuah bayangan besar menerjangnya.
BRUK!
Ayra merasakan tubuhnya didekap erat oleh sepasang lengan yang kuat. Ia terdorong hingga punggungnya menyentuh pilar koridor, namun ia tidak merasakan sakit karena ada dada bidang yang melindunginya. Aroma keringat yang maskulin dan parfum yang sangat ia kenal menyeruak masuk ke indra penciumannya.
BUGH!
Suara hantaman bola yang keras menghantam punggung sosok yang memeluknya terdengar sangat nyata. Ayra bisa merasakan tubuh cowok itu sedikit tersentak, namun dekapan itu tidak terlepas. Alano tetap diam, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ayra selama beberapa detik.
"Lano?" bisik Ayra lirih. Jantungnya berdegup sangat kencang, bukan hanya karena kaget, tapi karena posisi mereka yang sangat intim.
Alano perlahan melepaskan dekapannya. Ia meringis kecil, tangannya reflek meraba punggungnya yang pasti akan memar terkena hantaman bola basket dalam kecepatan penuh.
"Lo punya mata nggak sih?" suara Alano terdengar parau dan dingin. Bukan kepada Ayra, melainkan kepada Bima yang berlari mendekat dengan wajah pucat.
"Sori, Lan! Sumpah, tangan gue licin tadi. Gue nggak sengaja!" seru Bima penuh penyesalan. "Lo nggak apa-apa?"
Alano tidak menjawab Bima. Ia justru menatap Ayra dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara marah, khawatir, dan lelah.
"Makanya kalau jalan itu liat-liat. Jangan asyik ngobrol terus. Kalau kena kepala lo, bisa gegar otak tau nggak!" sentak Alano pada Ayra.
Ayra tertegun. Alih-alih mendapatkan kata-kata manis atau candaan "Ayang" seperti biasanya, ia justru dibentak. Tapi Ayra tahu, itu adalah cara Alano menutupi rasa khawatirnya yang berlebihan.
"Makasih, Lano... Punggung kamu pasti sakit banget," ucap Ayra pelan, matanya mulai berkaca-kaca melihat Alano yang menahan nyeri.
"Nggak usah sok peduli," sahut Alano ketus. Ia berbalik badan, berniat kembali ke lapangan. Namun, langkahnya terhenti saat Ayra memberanikan diri menarik ujung jersey-nya.
"Lano, tunggu! Soal kemarin... aku minta maaf. Aku nggak bermaksud nyinggung soal status kamu di keluarga Om Malik. Kamu tetep Lano yang aku kenal, kok," ucap Ayra dengan suara yang tulus.
Alano menghentikan langkahnya, namun ia tidak berbalik. Bahunya naik turun, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.
"Ay, denger ya," ucap Alano tanpa menoleh. "Gue nggak peduli soal status keluarga itu. Yang bikin gue sakit bukan karena gue anak angkat. Tapi karena lo selalu pake alasan 'keluarga' itu buat bikin jarak sama gue."
Alano menoleh sedikit, memperlihatkan sorot mata yang penuh luka. "Gue rela jadi tameng buat lo berkali-kali pun, gue nggak akan pernah ngerasa sakit. Tapi ngeliat lo nganggep gue cuma 'sepupu' saat gue udah kasih seluruh hati gue buat lo... itu jauh lebih sakit daripada kena bola basket ini."
Setelah mengatakan itu, Alano berjalan pergi meninggalkan koridor, bergabung kembali dengan timnya tanpa mempedulikan teriakan Bima atau tatapan nanar Ayra.
Ayra berdiri terpaku di koridor. Ia melihat Alano kembali berlari di lapangan, meskipun ia tahu punggung cowok itu sangat sakit. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Ayra menyadari bahwa Alano bukan sedang bercanda. Kata-kata di kertas ulangan itu, panggilan "Ayang", dan aksi heroik barusan... semuanya adalah bukti nyata.
"Dia beneran suka sama aku, Sin," bisik Ayra pada Sinta yang masih shock di sampingnya.
"Ya iyalah, Ay! Orang buta juga bisa liat cara dia natap kamu tadi. Kamu aja yang terlalu kaku jadi sekretaris OSIS sampe nggak peka sama perasaan sepupumu sendiri," sahut Sinta blak-blakan.
Ayra menunduk, menatap lantai koridor. Hatinya yang selama ini ia anggap kaku seperti Arga—sahabat kakaknya—mulai terasa goyah. Ada sesuatu yang hangat sekaligus menyesakkan mulai tumbuh di sana.