Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. POV : Yumna
Kenyataan macam apa ini...?!!!
Apakah ini sungguhan...?!!!
Aku..., yang selama ini berada di sisi mereka. Ternyata bukan anak kandung mereka.
Benarkah aku anak yang tidak diinginkan...?!
Aku tidak minta dilahirkan. Tapi kalian yang membuatku terlahir di dunia ini. Lalu kalian membuangku begitu saja. Apa kalian benar-benar manusia...?!!
Aku juga tidak minta diadopsi. Kenapa kalian mengambilku...??! Dan membuatku hidup seperti di neraka. Mungkin karena statusku, jadi mereka bisa begitu ringan tangan padaku. Dan selalu mencaci makiku dengan lantang. Tak pernah percaya dengan kejujuranku. Tapi justru sangat percaya pada Nasya yang selalu memutarbalikkan fakta.
"Nona, kita akan kemana?" tanya bi Nuri padaku.
Bi Nuri satu-satunya orang di rumah itu yang peduli padaku. Bahkan bibi rela ikut pergi bersamaku. Padahal aku belum tentu bisa menggajinya, seperti di rumah mereka.
Aku harus kemana sekarang...?
Ke rumah Tante Sasa lagikah...?!
Tidak..., kali ini mungkin Tante Sasa tidak akan menerimaku. Nasya..., dia pasti tidak tinggal diam. Aku sangat yakin, dia sudah memberitahu semua orang tentangku. Aku tidak akan ke rumah Tante Sasa lagi.
"Non...?"
Lagi, suara bibi membuatku tersadar kalau dia masih bersamaku. Aku tidak sendirian. Tapi..., harus kemana sekarang...?!!
"Apa kita ke rumah sakit dulu? Bibi khawatir nona kenapa-napa..." ujarnya sekali lagi.
Bibi benar, tubuhku rasanya sakit semua. Pinggangku rasanya sangat nyeri karena menabrak kursi. Bekas tamparan dan pukulan juga masih sangat terasa. Aku putuskan pergi ke klinik terdekat. Aku tidak ingin membuat bi Nuri lebih repot lagi, kalau sampai aku kenapa-napa nantinya. Dan mungkin setelah dokter melihat kondisiku, mereka akan memintaku untuk rawat inap. Setidaknya dengan begitu, untuk malam ini aku dan bibi punya tempat untuk bermalam. Sambil mencari rumah kontrakan.
___
Semua yang ada klinik menatapku. Mungkin mereka penasaran, mungkin juga ada yang mencemooh, atau berpikiran buruk tentangku. Ah, mungkin juga salah satu dari mereka ada yang merasa prihatin. Karena aku percaya, tidak semua orang itu jahat padaku. Buktinya bi Nuri sampai saat ini masih bersamaku. Tante Sasa..., mungkin juga masih peduli padaku. Mungkin. Karena aku tidak yakin seratus persen.
"Nona Yumna...!!"
Akhirnya namaku dipanggil. Aku pun memasuki ruang pemeriksaan. Tanpa bibi. Seorang dokter perempuan tersenyum padaku, begitupun suster yang tadi memanggilku. Aku diminta berbaring, lalu dia memeriksa kondisiku. Memperhatikan kedua pipiku, juga bibirku yang sedikit sobek. Tapi dia tidak menanyakan penyebab luka-lukaku. Sebagai seorang dokter, pasti dia sudah tahu apa yang terjadi padaku.
"Ada lagi yang sakit?"
Akhirnya sebuah pertanyaan terdengar. Lalu aku menunjuk pinggangku.
"Terbentur benda keras, dok. Sakit sekali." jawabku.
Jujur saja, aku tiba-tiba takut ada masalah di daerah itu.
"Sus, ruang radiologi masih ada yang jaga?" tanya dokter itu pada suster.
"Masih dokter."
"Tolong siapkan kursi roda. Nona, kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut ya." tutur dokter itu.
Aku hanya mengangguk patuh. Suster mendorong kursi roda keluar dari pintu yang lain. Membawaku ke ruang radiologi. Semua proses sudah dilakukan. Dan syukurlah tidak ada cedera serius.
Akan tetapi..., itu berarti aku harus segera menemukan tempat tinggal yang baru.
Kami tidak langsung pergi dari klinik setelah menebus resep. Kami duduk di lobi untuk beristirahat.
"Nona jangan khawatir. Bibi sudah tanya-tanya sama teman bibi. Nanti setelah dapat, kita baru pesan taksi ya. Nona istirahat dulu."
Betapa baiknya bi Nuri. Tapi aku justru membuatnya repot dan kehilangan pekerjaan. Aku tak sengaja menoleh ke jalan raya, saat
sebuah mobil memasuki halaman klinik. Aku tahu siapa pemiliknya. Pak Bara. Tapi..., bagaimana mungkin dia bisa berada di sini?!...
Pak Niko keluar, menghampiriku.
"Akhirnya kami menemukan non Yumna." katanya.
Kami...? Apa mungkin dia datang sama pak Bara?... Aku pun refleks melihat pintu belakang. Tapi jendela masih tertutup rapat.
"Non, siapa...?" tanya bi Nuri dengan suara pelan.
"Temanku di tempat kerja, bi." jawabku.
"Nona dan bibi, ayo masuk!" kata pak Niko.
"Tapi saya sedang menunggu taksi, pak." jawabku berbohong.
"Ikut saja, ayo...!!"
Pak Niko menuntunku masuk ke bangku belakang. Bi Nuri yang duduk di depan. Padahal biasanya aku duduk di sampingnya. Dan ternyata, pak Bara di sana. Dia menatapku, entah apa arti tatapan itu.
"Dimana HP kamu, nona Yumna?" tanya pak Bara dengan nada datar.
"HP...?!!"
Aku pun segera mencari benda itu di dalam tasku. Saat itu aku baru menyadari. Sejak aku memasukkannya ke dalam tas, aku belum melihatnya lagi. Setelah aku tekan sandi layarnya. Aku melihat ada banyak sekali panggilan dari pak Bara.
"Maaf, nada deringnya off." jawabku.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya pak Bara. Lagi-lagi dia tidak menoleh ke arahku.
"Baik..." jawabku.
Setelah itu suasana jadi sunyi. Tidak ada yang mau memulai obrolan di antara kami. Dan tiba-tiba saja mobil masuk ke sebuah apartemen.
Ku ikuti saja langkah kaki pak Niko yang sedang mendorong kursi roda pak Bara. Aku tahu mereka orang-orang baik. Mereka tidak akan melakukan hal buruk padaku, apalagi pada bi Nuri.
Saat pintu terbuka, pak Bara masuk sendirian. Pak Niko mengambil alih koperku dan tas milik bibi.
"Pak Niko..."
Aku ingin menanyakan sesuatu. Tapi pak Niko justru menempelkan jari pada bibirnya. Itu artinya aku harus diam. Aku pun kembali patuh.
"Kamu bisa tinggal di sini."
Pak Bara akhirnya buka suara.
"Tapi, pak..."
"Tidak ada tapi. Ini sudah malam. Kalian berdua perempuan, mau berada di jalanan sampai kapan. Sangat berbahaya. Apalagi kamu sedang sakit."
Tiba-tiba aku tidak berani membalas ucapannya lagi. Entah kenapa...??!! Padahal banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Tapi sudahlah...
"Semua sudah beres?" tanya pak Bara pada pak Niko.
"Mereka sudah datang." jawab pak Niko.
Siapa yang mereka maksud?...
Tak lama kemudian bel berbunyi. Pak Niko membuka pintu. Tiga orang pria datang membawa tiga buah troli besar berisi bahan makanan dan camilan.
Sungguh aku tidak bisa berkata-kata lagi. Terserah mereka mau ngapain. Aku tidak peduli untuk saat ini. Aku merasa sangat lelah. Kepalaku semakin berdenyut-denyut, seperti ada banyak tangan yang meremasnya dengan kuat. Mataku tiba-tiba berkunang-kunang.
......................