Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 ~ Hanya Tidak Menganggapnya Ada
Masih dengan rutinitas yang sia-sia, Raina bangun pagi hanya untuk membuatkan sarapan. Memasak yang dia berharap saat ini suaminya akan mau memakannya. Namun, itu hanya angan yang tidak akan pernah terjadi. Raina menunggu di meja makan, senyumnya merekah ketika melihat Marvin yang berjalan ke arah meja makan. Berpikir kalau Marvin mau makan sarapan bersamanya.
"Kak, sarapan dul-"
Marvin mengabaikan ucapan Raina, dia langsung menuang satu gelas air dan meminumya. Sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Raina disana. Seperti menganggapnya tidak ada. Raina hanya diam ketika melihat suaminya pergi menjauh tanpa menoleh sedikit pun atau menghiraukan keberadaannya.
"Mungkin terlalu buru-buru" ucap Raina pada dirinya sendiri, memberikan penjelasan agar hatinya tidak kecewa. "Aku makan saja semuanya, sayang juga sudah dimasak"
Raina duduk dan menikmati masakannya sendiri, meski matanya berkaca-kaca saat sadar jika semua masakan yang pernah dia buat, belum pernah tersentuh sedikit pun oleh Marvin.
Kak Amira, aku sudah berusaha. Tapi, Kak Marvin sama sekali tidak pernah mau melihat usahaku untuk memperbaiki hubungan pernikahan ini. Aku harus bagaimana Kak?
Dalam hatinya menjerit, merindukan sosok Amira yang selalu ada untuknya. Membayangkan jika Amira masih ada, mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Namun, tidak ada yang bisa merubah takdir kematian, semuanya sudah Tuhan atur. Namun, Raina masih mengingat ucapan terakhir Amira saat terjadinya kecelakaan sebelum kehilangan kesadaran. Membuat dia berusaha untuk bertahan dengan pernikahan ini dan ingin memperbaiki semuanya.
"Rain, meski Marvin terlihat keras, kasar dan dingin, tapi percayalah hatinya mudah tersentuh. Kamu harus berusaha untuk mendapatkan hatinya, kamu harus bisa bertahan untuk menggantikan aku. Karena aku yakin kamu pasti bisa, hanya kamu yang aku percaya untuk menggantikan aku, Rain"
Ucapan yang selama ini selalu Raina ingat. Membuatnya terus berusaha untuk bisa bertahan dalam semua rasa sakit pernikahan ini. Hanya mengingat ucapan Amira jika dirinya harus kuat dan bertahan. Tapi apa bisa selamanya bertahan? Menggantikan Amira? Raina pun tidak pernah yakin dengan dirinya sendiri.
Kak Amira, aku rindu Kakak. Air mata akhirnya jatuh juga, meski terus mengunyah makanan, tapi ketika pikiran terus tertuju pada Amira, maka kesedihan tidak akan bisa dihindari lagi. Raina begitu merindukan sosok malaikat tak bersayap itu, yang selalu menerimanya dan menyayanginya sepenuh hati.
"Mau bagaimana pun Papa dan Mama menganggap kamu, tapi kamu tetap adik aku, Rain. Dan aku menyayangimu"
Bahkan dalam keluarga mereka yang kacau, hanya Amira yang benar-benar mencintai dan menyayanginya dengan tulus.
"Nona" Panggilan dari seorang pelayan yang tidak sengaja melihat Raina makan sambil menangis, membuat Raina mengerjap pelan. "Nona, baik-baik saja?"
Raina mengambil selembar tisu di depannya dan menghapus air mata. Dia tersenyum tipis pada pelayan itu. "Tidak papa Mbak, aku sudah selesai sarapan. Sisanya boleh Mbak makan ya, tolong habiskan sayang"
"Iya Nona" Pelayan itu menatap kepergian Raina dengan tatapan iba. Bukan sekali dua kali dia melihat masakan yang sia-sia tak termakan, tapi Raina tetap berusaha begitu keras. "Semoga suatu saat Tuan Muda akan memakan semua masakan yang dibuat oleh Nona Raina"
Pergi ke Kantor dengan motornya, Raina menghembuskan napas panjang beberapa kali. Bukan karena menikmati udara pagi yang menenangkan, tapi menghilangkan beban yang terus menekan bahunya. Ketika baru saja sampai di parkiran Perusahaan, ponselnya berdering. Irena merogoh tasnya dan sejenak ragu melihat nama Papa yang tertera di layar ponsel, tapi akhirnya dia tetap menerima panggilan itu.
"Hallo Pa"
"Kau ini bagaimana? Kenapa tidak pernah bisa di andalkan, Hah?! Kau tidak bisa membujuk Marvin untuk membantu Perusahaan keluarga kita? Kalau perlu kau gunakan tubuhmu untuk menggodanya"
Mata Raina terpejam, dadanya berdenyut teramat sakit dan sesak. Ucapan seorang Ayah yang begitu tega, menganggap seolah anaknya adalah seorang wanita bayaran tak punya harga diri. Menggoda pria yang menjadi suaminya dengan tubuhnya hanya karena inginkan uang.
Bahkan Papa tidak pernah tahu jika Kak Marvin sudah merenggut kasar kesucianku sejak malam pertama. Dan apa beraninya aku menggodanya dengan tubuhku, karena yang ada dia akan kembali menyiksa tubuhku.
"Kalau memang Papa benar-benar butuh, Papa buat proposal saja dan ajukan ke Perusahaan investasi. Ajukan juga ke Perusahaan Kak Marvin, karena jika lewat aku, tetap tidak akan bisa, Pa"
"Bodoh, memang benar-benar tidak berguna. Hanya Amira yang selalu berguna untukku, tapi kau telah membuatnya mati! Kenapa tidak kau saja yang mati!"
Jika tidak terbiasa, mungkin Raina sudah menjerit dan menangis sejadi-jadinya mendengar ucapan Papa yang begitu kejam. Tapi, Raina sudah lebih dari terbiasa dengan setiap ucapan menyakitkan dari orang tuanya sendiri. Jadi, dia hanya cukup menghembuskan napas berat untuk menahan sesak dalam dirinya. Mematikan sambungan telepon tanpa berbicara lagi dan memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Ya, kenapa bukan aku saja yang mati?" lirihnya sambil berjalan masuk ke dalam Lobby Perusahaan.
*
Marvin sedang sibuk dengan beberapa berkas di atas meja ketika sahabatnya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Memang kurang sopan santun semua sahabatnya itu. Apalagi yang datang Bayu dan Davin.
Davin menyimpan berkas di depan Marvin, lalu dia menarik kursi dan duduk di depan meja kerjanya. "Berkas kerja sama Perusahaan kita. Cepat kau tandatangani, jangan membuat waktuku sia-sia"
Marvin mendongak dan menatap Davin dengan dingin. Bola mata birunya terlihat sangat tajam menatapnya. "Kau datang hanya untuk ini? Sebaiknya kalian pergi saja, hanya menggangguku saja. Lagian mana sekretarismu, kenapa harus repot-repot datang sendiri kesini?"
"Dia tidak mau sekretarisnya capek datang kesini, sudah mulai posesif pada sekretarisnya sendiir" sahut Bayu yang sedang duduk di sofa dengan kedua kaki terangkat ke atas meja dan tubuh bersandar nyaman di sofa.
"Ck, diam kau!" ketus Davin, melirik tajam pada sahabatnya itu.
"Ucapanku adalah kebenaran ya, Dav"
Marvin hanya menggeleng pelan dengan tingkah keduanya. Dia membuka berkas yang tadi di bawa oleh Davin, membacanya sekilas dan langsung membubuhkan tanda tangan disana. Menatap dua sahabatnya yang berkelakuan hampir sama, namun memang ada sedikit perubahan dengan Davin sekarang.
"Bagaimana kabar istrimu, Vin?" tanya Bayu.
Marvin langsung melirik tajam pada Bayu, memijat pelipisnya sejenak sebelum menjawab. "Untuk apa kau bertanya?"
Bayu mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Hanya takut saja kau menyiksanya kembali. Ingat ya, dia perempuan, dan adiknya Amira. Kau pikir Amira akan senang melihatmu menyiksa adiknya sampai hampir matai. Jangan terlalu gila kau, Vin!"
"Benar yang di ucapkan Bayu, kalau memang kau tidak suka dengannya. Cukup dengan tidak peduli saja, tidak perlu menyiksa fisiknya juga"
Marvin menghembuskan napas pelan, sudah beberapa hari sejak dia pergi ke rumah kita dan berbicara dengan teman-temannya, maka belum ada kejadian lagi dia menyiksa Raina. Terus menghidarinya dan menganggapnya tidak ada.
"Ya, aku sudah lakukan itu. Hanya menganggapnya tidak ada"
Bayu menegakkan tubuhnya, kedua kakinya turun dari meja. Menatap Marvin dengan lekat. "Tapi seperti itu juga tetap menyakitkan. Hanya setidaknya kau tidak melukai fisiknya juga"
"Apa kau tidak berniat untuk bercerai saja?" tanya Davin tiba-tiba, menatap serius pada Marvin. "Kalau kau tidak suka dan tidak nyaman, kau berpisah saja dengannya"
"Itulah, aku tidak pernah berniat berpisah dengannya. Aku juga bingung dengan semua ini, seolah kalau aku menceraikannya maka aku berkhianat pada permintaan Amira"
Bayu berdiri, berjalan ke arah Marvin dan Davin. Menatap Marvin dengan lekat. "Yakin hanya karena permintaan Amira?"
Bersambung
👍
pergi dari rumah Marvin,,