Radit, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang rendah, mendadak mendapatkan sistem misterius yang mengubah nasibnya. Dari mahasiswa biasa, kini bangkit menjadi sosok bertopeng putih yang bengis. Seluruh kekuatan, duniah bawah, dan kejayaan diraihnya.
Di tengah puncak, ia kembali menemukan arti hidup melalui cintanya pada Rania. Namun, tragedi kampus merenggut segalanya. Amarah dan dendam bangkit kembali menghancurkan dunia.
Setelahnya pembalasan tersebut, Radit memulai hidup baru dan meninggalkan segalanya hanya demi satu hal. Dirinya yang kuat dan menemukan kembali cintanya yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
" Keluarga kelas dua ya? " Lanjut pria itu sambil melangkah mendekat.
" Sayang nya, kau terlalu dekat dengan seseorang yang tak tahu diri. "
Mata Rania mengeras. " Jika Maksud kalian Radit, lebih baik kalian pergi ! " Ucapan itu justru membuat mereka tertawa.
" Berani juga ! "
" Rafka Kinara , penerus keluarga kami masih menyimpan dendam. "
" Dan kau... Adalah cara mudah untuk mengingat kan Radit akan posisi nya. "
Saat tangan kasar akan menyentug pergelangan tangan Rania.
BRAKKKKK !!!!!
Sebuah tekanan luar biasa menghantam gang sempit itu. Dinding retak , tanah bergertar. Ke tiga pria terpental mundur bersamaan. Langkah kaki terdengar perlahan, tenang, berat, dan mematikan.
Radit berdiri di sana. Tatapan nya dingin seperti jurang tak ber dasar. Namun bagi yang mengenal nya.... Itu adalah tanda amarah yang belum pernah di perlihat kan.
" Aku sudah memperingat kan. " Ucap nya pelan. " Jangan sentuh milik ku. "
Aura Radit meledak, tekanan itu membuat udara terasa seperti membeku. , Salah satu pria Kinara berlutut, darah mengalir dari sudut bibir nya.
" Radittt.... " Rania memanggil nya lirih.
Radit tidak meneh, namun satu tangan nya terangkat sedikit, seolah berkata aku disini.
" Keluarga Kinara! " Lanjut Radit, suara nya datar namun menggema. " Berani menyentuh Rania berarti kalian harus siap menanggung akibat nya ! "
Pria yang paling depan memaksa berdiri. " Kau pikir kami takut ? Ini peringatan dari Rafka Kinara. Sang penerus, kau sudah melewati batas. "
Untuk pertama kali nya, sudut bibir Radit terangkat... Bukan senyum, melainkan ejekan dingin.
" Rafka Kinara ? "
" Bagus. " Radit melangkah maju satu langkah.
" Sampai kan pada nya. " Kata nya pelan namun menusuk.
" Jika ini perang yang dia ingin kan. .. Maka keluarga Kinara akan menjadi keluarga kelas dua terakhir yang berani menangtang ku. "
Tekanan aura meningkat tajam. Ketiga nya ambruk, tak mampu bergerak. Radit lalu berbalik menghampiri Rania, Nada suara nya berubah menjadi lebih rendah dan lembut.
" Kau tidak apa apa ? "
Rania mengangguk, meski mata nya masih gemetar.
Di kejauhan, bayangan seorang pemuda berdiri di atap gedung tinggi, menyaksikan semua nya dengan mata menyipit.
Rafka Kinara.
" Jadi ini Radit ?" Gumam nya.
" Baik lah , kita lihat .. Siapa yang pantas bertahan. "
Langit semakin gelap . Dan perang antar keluarga akhir nya di mulai. Malam turun tanpa suara di wilayah selatan kota. Kediaman keluarga Kinara senrdiri megah bak benteng, tembok tinggi, penjaga bersenjata, serta formasi pelindung yang bahkan keluarga kelas dua lain engan mendekat. Di aula utama, para tetua sedang berkumpul , wajah mereka tegang sejak laporan sore itu sampai.
" Orang - orang kita di kalah kan tanpa sempat melawan. " Ujar seorang tetua dengan suara berat.
" Dan Radit... Jelas bukan sosok biasa. "
Rafka Kinara duduk di kursi utama, tatapan nya dingin penuh perhitungan.
" Tenang ! " Kata nya pelan . " Aku sudah menduga nya. Radit hanya berpikir kita tak kan berani melangkah lebih jauh. "
Tiba - tiba.....
KLEKK !!!!
Lampu kristal di aula utama meredup bersamaan, formasi pelindung bergetar hebat, seolah di sentuh sesuatu yang tak terlihat.
"Apa yang terjadi ? "
"Penjaga ! periksa gerbang !! "
Belum sempat perintah di jalan kan sebuah suara tenang terdengar dari tengah aula.
" Aku sudah di sini. "
Semua kepala menoleh ke arah suara itu .
Seseorang berdiri di sana , entah sejak kapan. Jubah hitam polos, tubuh tegap dan topeng putih tanpa ekspresi menutupi wajah nya. Tidak ada aura, tidak ada tekanan. Namun justru itu lah yang membuat tetua Kinara merinding.
" K - kau siapa ?! " Bentak salah satu tetua samabil melepas kan energi.
Namun aneh nya, energi itu lenyap begitu mendekati sosok bertopeng. Rafka Kinara menyipit kan mata.
" Topeng putih .... "
ia pernah mendengar rumor itu. Sosok misterius yang muncul di balik pergerakan besar, di balik runtuh nya keseimbangan wilayah.
" Berani - berani ya kau masuk ke kediaman Kinara ! " ujar Rafka . " Sebut kan nama mu, dan Ranah mu ! "
Topeng putih itu terdiam sejenak.
Di balik topeng sebuah notifikasi muncul.
\[ SISTEM AKTIF \]
Mode topeng putih : Aktif.
Ranah pengguna di sembunyi kan sepenuh nya. Deteksi, pengamatan, dan pembacaan aura : Gagal.
Sosok itu melangkah satu langkah maju.
" Nama ku tidak penting ! " ucap nya datar.
" Ranah ku, bukan sesuatu yang harus kalian ketahui. "
Para tetua saling pandang wajah mereka pucat.
" Mustahil. " gumam salah satu dari mereka. " Aku tidak bisa merasa kan apa pun , seolah dia... Tidak berada di Ranah mana pun."
Rafka bangkit berdiri, aura penerus keluarga kelas dua di lepas kan sepenuh nya. Tekanan menyapu aula namun tetap saja, tidak menyentuh topeng putih itu sedikit pun.
" Menarik, " kata Rafka. " Jadi kau memilih berpihak kepada Radit ? "
Topeng putih menggeleng perlahan.
" Aku tidak ber pihak kepada siapa pun. " jawab nya.
" Aku hanya datang untuk menyampai kan satu hal. "
Ia menoleh, tatapan nya. .. Meski tertutup topeng, terasa menembus jiwa setiap orang di ruangan itu.
" Keluarga Kinara telah melewati batas. ''
Suasana membeku.
" Rania bukan bidak ! " lanjut nya.
" Dan Radit... Bukan orang yang bisa kalian sentuh dengan cara kotor. "
Rafka mengepal kan tangan.
" Ancaman? "
" Peringatan ? "
Satu langkah lagi lantai marmer retak halus. " Jika kalian masih ingin hidup sebagai keluarga kelas dua. " suara itu tetap tenang.
" Tarik kembali semua gerakan kalian. "
Topeng putih berhenti tepat di hadapan Rafka Kinara.
" Jika tidak... "
Udara bergetar.
".... Maka mulai malam ini keluarga Kinara akan kehilangan hak untuk menyebut diri nya keluarga. "
Keheningan mutlat menyelimuti ruangan aula.
Beberapa tetua bahkan tidak sadar berlutut. Tubuh mereka bergetar hebat padahal mereka tidak merasakan tekanan aura apa pun.
Rafka Kinara menatap lurus ke topeng putih. Untuk pertama kali nya senyum tipis menghilang.
" Siapa sebenar nya kau....? " bisik nya.
Topeng putih ber balik.
" Kau akan tahu. " jawab nya singkat.
" Saat sudah terlambat. "
Dalam sekejap... Sosok itu menghilang, seolah tak pernah ada.
Formasi pelindung kembali normal, semua lampu kembali menyala. Namun ketakutan... Telah tertinggal. Rafka Kinara menatap Ruang kosong di depan nya, rahang nya mengeras.
" Radit....! " gumam nya.
" Dan topeng putih ...! "
Di balik bayangan malam Radit melangkah pergi. Dan badai yang lebih besar... Baru saja di mulai. Wilayah barat di kenal sebagai pusat ke kuatan ekonomi.
Gedung tertinggi di kawasan itu malam ini di terangi cahaya emas. Di lantai teratas , sebuah aula pertemuan eksklusif di penuhi tokoh- tokoh besar, para pengusaha modal, pemilik konsorsium, dan perwakilan keluarga kelas satu. Pertemuan ini bukan sekedar bisnis, ini adalah medan sunyi tempat ke kuatan di ukur tanpa pedang.
" Agenda malam ini jelas . " ujar seorang pria ber rambut perak , ketua keluarha Vernanda, salah satu keluarga kelas satu.
Bersambung........
lanjut kk, tetap semangat ya. saran aja sih, kalau ada waktu, sebelum lempar up, sebaiknya swasunting dulu, biar nggak terlalu banyak typo. 😊🙏🙏
ada beberapa typo ya thor, kalau sempet, ayo kita revisi. 💪
ceritanya bagus Thor, langsung subscribe, satu vote, dan dua iklan, untukmu. 😊.
ayo kita saling mendukung ya😊