Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 SERATUS SATU LANGKAH PERTAMA
Hutan yang rimbun dan teduh kini telah tertinggal jauh di bawah, berubah menjadi hamparan permadani hijau yang tak lagi mampu memberikan perlindungan. Abimanyu kini berdiri di medan yang jauh lebih jujur, lebih kasar, dan sama sekali tidak mengenal belas kasihan: sebuah lereng cadas yang miring tajam ke langit. Tanah yang subur telah menghilang, digantikan oleh debu tipis yang terselip di sela-sela batu granit yang licin dan tajam, yang tampak seperti gigi-gigi bumi yang siap mengunyah keberanian siapa pun yang berani menginjaknya.
Langit di atas sana tampak begitu luas, biru yang nyaris transparan, namun jaraknya terasa jutaan mil bagi seseorang yang setiap tarikan napasnya mulai terdengar seperti geraman mesin tua yang berkarat. Abimanyu berhenti. Seluruh tubuhnya menegang. Ia membungkuk dalam, kedua telapak tangannya bertumpu pada lutut yang bergetar hebat—sebuah getaran ritmik yang berasal dari kelelahan seluler yang paling dalam. Keringat mengalir deras dari dahinya, jatuh satu demi satu ke atas batu panas dan menguap seketika, meninggalkan noda garam kecil—sebuah persembahan kecil, sebuah upeti dari tubuh fana kepada gunung yang abadi.
"Tubuhku... ia sedang melakukan kudeta," gumamnya dalam napas yang terputus-putus.
Selama puluhan tahun, Abimanyu memperlakukan tubuhnya hanya sebagai sebuah kendaraan pasif bagi kepalanya yang penuh dengan teori. Tubuh adalah pelayan yang hanya bertugas membawa otaknya dari satu ruang kuliah ke ruang kuliah lainnya, dari kursi empuk di perpustakaan ke meja makan yang nyaman, lalu kembali ke kasur yang empuk. Baginya, tubuh adalah apa yang Nietzsche sebut sebagai "Akal Kecil"—sebuah instrumen yang tidak perlu didengarkan aspirasinya selama ia masih bisa berfungsi.
Namun sekarang, di tengah tanjakan yang tidak mengenal ampun ini, tubuhnya menuntut haknya sebagai "Akal Besar".
Otot-otot paha yang biasanya hanya digunakan untuk berjalan santai di koridor universitas yang rata kini terasa seperti ditarik oleh kawat baja yang dipanaskan hingga membara. Paru-parunya, yang selama dua dekade terbiasa dengan udara AC yang steril dan stabil, kini dipaksa menghisap oksigen tipis yang terasa seperti amplas halus yang menggores dinding tenggorokannya setiap kali ia bernapas. Setiap detak jantungnya bukan lagi sekadar fungsi biologis, itu adalah dentuman drum perang yang menabuh genderang pemberontakan di dalam dadanya, menuntut jawaban atas pertanyaan paling dasar: Untuk apa kau melakukan penyiksaan ini?
Ia teringat betapa dulu ia sangat membenci ketidakteraturan fisik. Ia selalu merancang hidupnya seperti ia merancang Rencana Pembelajaran Semester (RPS): terstruktur, terprediksi, dan terkendali. Namun, gunung ini tidak peduli pada kurikulum. Lereng ini tidak bisa diatur dengan framework Outcome-Based Education (OBE). Di sini, satu-satunya "outcome" yang nyata adalah apakah kau masih bisa berdiri atau jatuh tersungkur.
Abimanyu mencoba berdiri tegak, namun dunianya sedikit bergoyang, seolah-olah cakrawala sedang mabuk. Ia teringat akan minatnya pada konten Behind the Scenes. Orang-orang di Lembah Nama, jika mereka melihatnya nanti, mungkin hanya akan mengagumi hasil akhirnya: seorang pria yang berdiri di puncak gunung dengan jubah filosofinya. Mereka akan menyukai narasi heroiknya, namun mereka tidak akan pernah benar-benar melihat "kekacauan produksi" di balik layar ini.
Mereka tidak akan melihat bagaimana Sang Profesor harus menelan ludahnya yang terasa pahit karena empedu yang naik akibat kelelahan ekstrim. Mereka tidak akan melihat bagaimana jemarinya yang dulu hanya terbiasa memegang pena emas kini harus mencengkeram batu tajam hingga kuku-kukunya retak dan berdarah hanya agar ia tidak merosot jatuh ke jurang di bawahnya.
Ini adalah produksi yang paling jujur. Tidak ada editing, tidak ada color grading, tidak ada script yang bisa mengubah rasa sakit ini menjadi sesuatu yang manis. Rasa sakit ini adalah material mentah dari kebenaran yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh mereka yang hanya membaca novel di NovelToon sambil menyeruput kopi hangat.
"Kalian ingin melihat transformasi?" Abimanyu berbicara pada bayangannya sendiri yang tampak menyedihkan di atas batu. "Inilah transformasinya. Bukan perpindahan dari satu gelar ke gelar lain, tapi perpindahan dari manusia yang hanya terdiri dari 'kepala yang melayang' menjadi manusia yang menyatu sepenuhnya dengan 'dagingnya yang menderita'."
Abimanyu menyadari bahwa jika ia terus menatap ke atas, ke arah puncak yang masih tersembunyi di balik kabut, ia akan menyerah. Puncak itu terlalu jauh, terlalu agung, dan terlalu mustahil bagi otot-ototnya yang sudah mulai mengalami atrofi mental. Maka, ia memutuskan untuk mengubah strateginya. Ia akan menggunakan apa yang paling ia kuasai: Angka.
Namun, ini bukan angka sitasi, bukan angka h-index, dan bukan angka proyeksi populasi tenaga kerja yang sering ia presentasikan di seminar nasional. Ini adalah angka Langkah.
"Satu," ia memaksa kaki kanannya naik, menancapkan ujung sepatunya pada celah batu. "Dua," kaki kirinya menyusul dengan gemetar, otot betisnya berdenyut seperti jantung kedua. "Tiga..."
Ia mulai berhitung dengan ritme yang lambat dan menyakitkan. Setiap angka adalah sebuah janji yang ia buat kepada dirinya sendiri. Setiap angka adalah sebuah penolakan mentah terhadap gravitasi yang mencoba menariknya kembali ke pelukan Lembah Nama yang nyaman.
Ketika ia mencapai angka lima puluh, keringatnya telah membasahi seluruh bajunya hingga menempel seperti kulit kedua yang dingin. Ketika ia mencapai angka delapan puluh, penglihatannya mulai dihiasi bintik-bintik putih yang menari-nari—gejala kekurangan oksigen atau mungkin awal dari sebuah visi gila. Ketika ia mencapai angka seratus, seluruh tubuhnya—Akal Besarnya—berteriak dengan kemarahan yang luar biasa agar ia berhenti. Seratus adalah angka yang sempurna bagi peradaban. Seratus adalah target yang sudah "cukup". Dalam dunia akademik, seratus persen adalah nilai sempurna.
Namun, Abimanyu tersenyum tipis di tengah napasnya yang sesak. "Cukup" adalah kata yang diciptakan oleh para pengecut yang takut melampaui diri mereka sendiri.
"Seratus... Satu."
Ia memaksakan satu langkah tambahan. Langkah ke-seratus satu adalah langkah yang sakral. Ia bukan sekadar angka, ia adalah pernyataan perang. Langkah ke-seratus satu adalah langkah yang melampaui kepuasan moral. Ia menyatakan bahwa kehendaknya tidak lagi dikendalikan oleh batas-batas biologi yang ditentukan oleh rasa lelahnya. Seratus satu adalah simbol dari "Awal yang Baru" setelah sebuah "Penyelesaian". Di sinilah ia berhenti menjadi hamba bagi tubuhnya dan mulai menjadi penguasa atas penderitaannya.
Di langkah ke-seratus satu itu, ia sampai di sebuah ceruk kecil yang terlindung oleh dinding tebing. Ia jatuh terduduk, punggungnya bersandar pada batu yang dingin, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja lolos dari maut. Namun, di dalam dadanya, ada sebuah percikan kemenangan yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat ia memenangkan dana hibah penelitian terbesar dalam sejarah fakultasnya.
Ia melihat tangannya yang gemetar hebat. Tubuh ini memang fana, sangat fana. Ia bisa hancur, ia bisa terluka, dan suatu hari nanti ia pasti akan kembali menjadi debu yang tidak berarti. Namun, di dalam tubuh yang fana ini, Abimanyu menemukan sesuatu yang ia cari selama ini: sebuah Kehendak yang Perkasa. Sebuah kekuatan yang mampu memerintahkan daging yang sudah lumpuh untuk mengambil satu langkah lagi ketika seluruh logika dan insting bertahan hidup berkata itu tidak mungkin.
"Inilah aku," bisiknya pada angin gunung yang menderu. "Pertemuan antara debu yang hina dan kehendak yang mulia."
Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran Roh Gravitasi—setan batiniah yang selama ini selalu menarik manusia kembali ke bawah, setan yang selalu berbisik tentang kenyamanan, keselamatan, kepastian, dan "apa kata orang". Setan itu muncul dalam pikirannya dengan suara yang sangat mirip dengan suaranya sendiri saat ia masih menjadi Guru.
"Mengapa kau melakukan ini, Abimanyu? Lihatlah dirimu, kau tampak seperti pengemis yang tersesat. Kau bisa kembali sekarang. Kau bisa menulis buku yang sangat bagus tentang pengalaman 'hampir mendaki' ini di perpustakaanmu yang hangat. Dunia tidak butuh kau sampai di puncak, mereka hanya butuh ceritamu. Teori tentang pendakian sudah cukup untuk memberimu rasa hormat baru."
Abimanyu meludahi batu di depannya dengan sisa-sisa cairannya yang ada. "Enyahlah, wahai Roh Gravitasi! Kau adalah musuh bagi setiap orang yang ingin terbang. Kau adalah beratnya naskah-naskah kuno dan dogma-dogma universitas yang membuat manusia tidak bisa melompat. Hari ini, aku telah mengalahkanmu dalam seratus satu langkah pertama, dan aku akan mengalahkanmu lagi di seratus satu langkah berikutnya."
Di ceruk itu, ia tidak lagi mendengar suara hiruk pikuk pasar, tidak lagi mendengar suara birokrasi, dan bahkan suara Sang Guru di dalam kepalanya pun sudah mulai membeku. Yang ada hanyalah suara angin yang memukul tebing dengan frekuensi yang rendah dan suara napasnya sendiri yang perlahan mulai teratur.
Ia merasakan sebuah hubungan baru dengan gunung ini. Gunung ini bukan lagi sebuah objek mati untuk dipelajari atau subjek statistik untuk dikalkulasi. Gunung ini adalah sebuah batu asah bagi kehendaknya. Rasa sakit di kakinya bukan lagi gangguan, itu adalah bukti otentik bahwa ia sedang "dipahat" menjadi sesuatu yang bukan lagi sekadar Manusia Kertas.
"Seratus satu langkah," ia mengulangi angka itu sebagai mantra. "Itu baru permulaan dari sebuah perjalanan yang tidak mengenal kata akhir. Aku akan mengambil seratus satu langkah lagi, dan seratus satu langkah setelahnya, hingga langkah-langkahku tidak lagi butuh angka untuk membuktikan bahwa aku ada."
Abimanyu memejamkan mata sejenak, merasakan dinginnya batu tebing yang meresap ke dalam tulang punggungnya. Ia merasa lebih hidup dalam keletihan yang menghancurkan ini daripada dalam dua puluh tahun kenyamanannya yang steril. Ia telah menemukan "Akal Besar"-nya kembali. Ia bukan lagi sekadar kepala yang melayang tanpa akar, ia adalah sebuah tubuh yang berkehendak, sebuah mesin biologis yang telah menemukan bahan bakar rohaninya.
Matahari mulai condong ke barat, memberikan warna emas yang dramatis pada cadas-cadas di sekelilingnya, seolah-olah seluruh alam semesta sedang memberikan penghormatan pada langkah ke-seratus satu itu. Abimanyu mengencangkan kembali tali sepatunya yang mulai kendor, mengusap keringat asin yang memerihkan matanya, dan bersiap untuk bangkit kembali.
Langkah ke-seratus dua sudah menunggu di depan sana, di atas batu yang lebih terjal. Dan ia tahu, ia akan mengambilnya bukan karena ia "harus" memenuhi kewajiban apa pun, melainkan karena ia "Mau" merayakan kekuatannya sendiri.