NovelToon NovelToon
Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Naruto / Dunia Lain / Persahabatan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: I am Bot

Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.

A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 : Arc Sekolah End

Setelah badai di Kamino mereda, wajah dunia pahlawan berubah selamanya. All Might telah pensiun, dan keheningan yang ditinggalkannya terasa lebih berat daripada sorakan kemenangan mana pun. Sebagai respons atas meningkatnya ancaman penjahat, SMA UA menerapkan sistem asrama wajib Heights Alliance.

Bagi murid-murid Kelas 1-A, ini adalah awal dari babak baru di mana batas antara kehidupan pribadi dan sekolah mulai menghilang.

Gedung Heights Alliance berdiri megah di dalam kompleks UA, dikelilingi oleh pagar keamanan tingkat tinggi yang baru saja dipasang. Udara sore itu terasa hangat, membawa aroma rumput basah dan cat baru. Di lobi utama yang luas, Shota Aizawa berdiri dengan tangan di saku, menatap murid-muridnya yang tampak membawa tumpukan kardus dan koper.

"Ini adalah asrama kalian," ucap Aizawa datar. "Keamanan kalian adalah prioritas utama sekolah sekarang. Tapi ingat, tinggal bersama bukan berarti kalian bisa bersantai. Aturan tetap berlaku."

Mitsuki berdiri di barisan belakang, memegang pot sukulen Mikazuki dengan satu tangan dan sebuah tas kecil di tangan lainnya. Ia memperhatikan bagaimana teman-temannya bereaksi. Ada kegembiraan yang meluap-luap dari Ashido dan Kaminari, namun ada juga keraguan yang tertahan di wajah Iida dan Yaoyorozu.

"Wah! Kamar kita di lantai atas!" seru Uraraka Ochaco, wajahnya berseri-seri. "Aku tidak sabar untuk mulai menatanya!"

Setelah beberapa jam membongkar kardus, energi murid Kelas 1-A justru memuncak. Atas usulan Ashido Mina yang tak pernah kehabisan tenaga, mereka memutuskan untuk mengadakan "Kontes Raja Kamar" sebuah tur keliling untuk melihat bagaimana masing-masing dari mereka mendekorasi ruang pribadinya.

"Ayo kita mulai dari lantai dua!" teriak Ashido.

Kelompok itu bergerak seperti gelombang manusia, memenuhi koridor sempit asrama.

Kamar Izuku Midoriya Seperti yang sudah diprediksi, kamar itu adalah kuil pemujaan All Might. Poster, figur aksi, dan seprai tidur bertema pahlawan nomor satu itu memenuhi setiap sudut. "Ini... sedikit berlebihan, Midoriya-kun," gumam Tsuyu Asui, yang membuat Izuku tersipu malu hingga ke telinga.

Kamar Fumikage Tokoyami: Kegelapan murni. Hanya ada lilin aromaterapi dan dekorasi bergaya gotik. "Dunia ini hanyalah bayangan yang lewat," ucap Tokoyami dari balik jubah hitamnya, yang membuat beberapa murid merasa sedikit ngeri.

Kamar Shoto Todoroki: Sebuah kejutan budaya. Shoto telah merombak seluruh lantai kamarnya menjadi gaya tradisional Jepang dengan tatami dan pintu geser kayu. "Aku tidak suka lantai barat," ucapnya singkat, membuat Ojiro Mashirao kagum pada keteguhannya.

Kamar Bakugo Katsuki Ia menolak untuk ikut kontes. "JANGAN MASUK KE KAMARKU, BRENGSEK!" teriaknya dari balik pintu tertutup. Namun, dari celah pintu, tercium aroma bubuk mesiu dan kebersihan yang sangat disiplin.

Kirishima tertawa keras saat melihat kamar Kaminari yang dipenuhi benda-benda elektronik aneh. Namun, di dalam hatinya, ia merasa lega yang luar biasa. Hanya beberapa hari yang lalu, mereka berada di tengah reruntuhan Kamino, hampir kehilangan nyawa untuk menyelamatkan Bakugo.

Ia melihat ke arah Bakugo yang meski marah-marah, tetap berada di sana, di gedung yang sama dengan mereka. Ia melirik Mitsuki yang sejak tadi hanya diam, mengamati segalanya seperti ilmuwan yang sedang meneliti spesies langka. Kirishima menyadari bahwa asrama ini lebih dari sekadar perlindungan; ini adalah cara mereka untuk saling menyembuhkan tanpa harus mengucapkannya.

"Hei, Mitsuki!" panggil Kirishima. "Kamar siapa selanjutnya? Tunggu... kita belum melihat kamarmu, kan?"

Seluruh kelas berhenti di depan pintu kamar 402. Ada rasa penasaran yang besar terhadap anak yang seringkali dianggap paling misterius ini. Pintu terbuka dengan suara gesekan yang sangat halus.

Kamar Mitsuki sangat bersih. Terlalu bersih.

Tidak ada poster pahlawan. Tidak ada barang-barang elektronik yang mencolok. Hanya ada sebuah meja kayu sederhana di dekat jendela, sebuah tempat tidur dengan seprai putih polos, dan rak buku yang dipenuhi oleh ensiklopedia botani serta jurnal medis. Di tengah meja, duduk dengan tenang pot sukulen Mikazuki.

Dindingnya berwarna putih pucat, namun di satu sisi, ada sebuah lukisan tinta yang sangat besar gambar bulan sabit di atas lautan yang tenang.

"Kosong sekali..." bisik Jiro Kyoka. "Tapi... aromanya enak. Seperti hujan dan... kayu cendana?"

"Aku tidak butuh banyak barang," ucap Mitsuki sambil berjalan menuju jendela. "Barang-barang hanyalah distraksi bagi pikiran. Aku lebih suka ruang yang memungkinkanku untuk bernapas."

Momo Yaoyorozu melangkah masuk, ia tampak mengagumi kesederhanaan tersebut. "Ini sangat zen, Mitsuki-kun. Kau memiliki selera estetika yang sangat dewasa."

Namun, perhatian Mineta Minoru tertuju pada sesuatu di rak paling bawah. "Hei, apa ini? Jars? Kau mengoleksi spesimen di dalam toples?!"

Mitsuki mendekat. Di dalam toples kaca itu terdapat berbagai jenis kulit ular yang sudah mengelupas secara alami, berkilau seperti berlian perak. "Itu adalah bagian dari diriku yang lama," jawab Mitsuki datar. "Aku menyimpannya untuk mengingatkan diri sendiri bahwa pertumbuhan selalu memerlukan pelepasan kulit."

Kata-kata itu membuat suasana menjadi hening sejenak. Mereka menyadari bahwa bagi Mitsuki, tinggal di asrama ini bukan sekadar pindah rumah, tapi sebuah tahap "evolusi" lainnya untuk menjadi bagian dari manusia.

Tengah malam tiba. Asrama Heights Alliance sudah mulai tenang. Sebagian besar murid sudah terlelap setelah hari yang melelahkan. Namun, Mitsuki duduk di balkon kamarnya, menatap ke arah gedung utama sekolah yang tampak seperti raksasa tidur di kegelapan.

Pintu balkon di sebelahnya terbuka. Shoto Todoroki keluar, membawa segelas air dingin.

"Kau juga tidak bisa tidur?" tanya Todoroki.

"Pikiran manusia di gedung ini sangat berisik," jawab Mitsuki. "Bahkan saat tidur, energi mereka terpancar ke mana-mana. Terkadang aku merasa seperti sedang mendengarkan ribuan radio yang dipasang secara bersamaan."

Todoroki bersandar di pagar balkon. "Aku mengerti. Setelah apa yang terjadi di Kamino, sulit untuk merasa aman sepenuhnya. All Might tidak ada lagi di sana untuk menangkap kita jika kita jatuh."

Mitsuki menoleh ke arah Todoroki. "All Might adalah matahari yang terlalu terang, Todoroki-kun. Saat matahari itu terbenam, mata manusia biasanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan kegelapan. Tapi jangan lupa... dalam kegelapan, bintang-bintang justru terlihat lebih jelas."

Todoroki menatap langit, memikirkan pesan terakhir All Might. "Kau benar. Kami adalah bintang-bintang itu sekarang."

Tiba-tiba, sebuah suara dering aneh muncul dari dalam kamar Mitsuki bukan suara ponsel, tapi sebuah frekuensi ultrasonik yang hanya bisa didengar oleh telinga yang terlatih. Mitsuki segera masuk ke kamarnya, diikuti oleh pandangan curiga dari Todoroki.

Di dalam kamarnya, Mitsuki membuka sebuah perangkat komunikasi kecil yang ia sembunyikan di balik lukisan bulan. Sebuah hologram kecil muncul, menampilkan data terenkripsi tentang Kai Chisaki (Overhaul).

"Update: Shie Hassaikai mulai melakukan kontak dengan League of Villains. Mereka sedang mencari investor untuk proyek 'Penghapus'. Gadis itu... Eri... dia adalah kunci biologisnya. Mitsuki, pahlawan profesional akan segera melakukan pertemuan rahasia. Jangan biarkan dirimu tertinggal dalam pergerakan ini."

Pesan itu berakhir dengan logo ular yang menghilang.

Mitsuki mengepalkan tangannya. Ia tahu bahwa kehidupan asrama yang damai ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang lebih besar datang. Ia menatap teman-temannya yang tidur dengan tenang di lantai bawah. Ia bersumpah, kali ini tidak akan ada kelereng yang lepas dari tangannya.

"Ujian lisensi pahlawan akan segera tiba," gumam Mitsuki. "Dan aku harus memastikan taringku cukup tajam untuk melindungi mereka semua."

1
N—LUVV
setiap penjelasan penuh dengan hal hal ilmiah atau berhubungan dengan bidang perhitungan
N—LUVV
cerita Mitsuki yang berkeliling ke semesta anime !! bukan dunia my hero academia
N—LUVV: semangat kak..
total 3 replies
Lyonetta
udh di revisi juga cuxmay lah
Lyonetta
diupdateny lama bgt si (alan)
Lyonetta
sedang revisi/Frown//Frown/, bab 57 akan ada penjelasan
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
extra chapternya Thor gw mau liat reaksi Orochimaru sama masa depan mereka seperti apa !!
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
aku like kok
Derai
mitsuki sepertinya terlalu op untuk dunia bnha 😅
Lyonetta: yupp, mangkanya aku masukin mitsuki/Casual//Casual/
total 1 replies
Derai
Oooh, kayaknya seru. Biasanya aku ngehindarin baca fanfic indo krn entah mengapa cringe. Tapi ini kayaknya enggak deh.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen
Lyonetta: aku juga pas nulis agak krinj juga sih soalnya mitsuki tipikal filosofi nyeleneh untuk sifatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!