Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 2 bagian 3
Bima menyandarkan tubuhnya pada jok mobil, ia mengendurkan dasinya yang mencekik leher, menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya seolah membuang semua beban dalam hidup. Ia tidak peduli jika ruangan mobil yang sempit seketika dipenuhi bau tembakau, yang ia pedulikan adalah bagaimana caranya menghilangkan semua masalah dalam hidupnya. Haruskah ia berubah menjadi asap yang akan tersapu udara?
Ia menatap taman kosong di hadapannya dengan malas. Radio dua arahnya terpasang dengan siaga menunggu perintah dari atasannya. Hampir 2 jam berlalu dan tidak ada satu pun hasil yang ia dapat.
Sebenarnya pikirannya sedang tidak ada di tempatnya duduk saat ini. Benaknya dipenuhi bayangan anak-anak SMA yang dengan pintar memecahkan teka-teki tentang pembunuhan di kasus terakhir. Tidak ada satu pun siswa yang terkecoh dengan penemuan masing-masing, berbeda dengan dirinya yang selalu terkecoh pada petunjuk apa pun. Mereka mengumpulkan bukti dengan hati-hati dan teliti, dan tugasnya hanya menjadi perantara mereka dengan tim forensik. Terdengar sangat tidak berpengaruh.
Ia menghela nafas dengan kasar.
“Pak Bima jika kau keberatan dengan tugasmu maka kembali lah ke kantor untuk tidur” ucap seorang wanita dari Radio dua arah yang tersampir di bahunya. Itu atasannya, Indira.
“Berisik” jawab Bima.
Tidak lagi ada suara yang keluar dari benda itu. Ada rasa bersalah dalam dirinya, namun ia memilih untuk mengabaikannya dan kembali memandang taman kosong yang ada di hadapannya. Dibandingkan dengan anak-anak SMA yang mencari barang bukti ke sana kemari, tampaknya apa yang ia kerjakan saat ini benar-benar tidak berguna. Mengawasi taman untuk menunggu seorang pelaku kejahatan sosial yang mengganggu kenyamanan warga. Itu tugas yang sangat konyol, seharusnya hal ini dilimpahkan kepada polisi pembina masyarakat. Kenapa harus dilimpahkan kepadanya?
Ia ingat dengan benar. Dulu saat pertama kali ia memasuki kepolisian ia tidak sebodoh dan semalas ini. Dulu ia sangat bersemangat dalam menjujung tinggi keadilan dan tanggungjawab atas tugas yang diembannya. Menjadi polisi, menyelidiki kasus rumit dan membela kebenaran adalah hal yang selalu ia dambakan. Ia benar-benar mabuk dengan imajinasi liar masa kecilnya tentang betapa mulianya tugas yang akan ia lakukan. Seolah ia adalah pemeran utama dalam film yang akan menyelamatkan seluruh dunia dengan seluruh kekuatan dan kehebatannya.
Namun faktanya kenyataan tidak seindah film yang hanya ditayangkan selama 3 jam lalu usai. Jangan kan menyelamatkan semua orang, menyelamatkan dirinya sendiri saja ia tidak bisa. Dalam kasus kemarin sebenarnya ia tidak punya hak untuk menyelidiki. Ia hanya kebetulan terlibat, dan itu membuat atasan dan beberapa teman yang dilimpahi kasus ini mengeluh tentang ikut campur. Padahal seharusnya mereka berterima kasih karena dibantu. Atas kejadian ini dia dan Stevani mendapatkan teguran keras Senin kemarin.
Menjalani kenyataan ternyata bukan lah hal yang mudah. Itu bukan hanya tentang menyelamatkan yang benar dan menghukum yang salah, terkadang ada juga prioritas dan pilihan lain yang harus didahulukan. Semua orang punya pola pikirnya masing-masing dan tidak semuanya berkaitan. Uang, jabatan, dan keluarga mungkin itu hanya satu garis besar yang membuat kebenaran dan kesalahan tampak setara, membuat jalan yang lurus menjadi berkelok-kelok. Ia tidak mengerti itu di masa lalu, namun semakin tua usianya ia semakin memahami banyak hal. Ada begitu banyak yang tidak ia miliki untuk menjadi seperti orang lain.
Dia ingat dulu orang tuanya tidak pernah setuju ketika ia mendaftar sebagai polisi. Bukan hanya karena gajinya yang cenderung kecil, tapi juga kesempatan masa tuanya yang terdengar tidak berguna. Seorang polisi hanya akan dihormati ketika ia berseragam, begitu seragamnya terlepas ia hanyalah seorang warga sipil yang terlupakan. Apalagi jika seorang polisi punya riwayat pekerjaan yang tidak disukai masyarakat, ia akan seperti benda tak berguna yang akhirnya dibuang.
Seorang polisi hanya punya riwayat pendidikan yang rendah sebelum masuk ke kepolisian, hanya sebagian kecil yang memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi. Salah satunya adalah dirinya sendiri. Terlalu malas untuk belajar dan terlalu malas untuk mencari masalah tentu tidak akan membuat pangkatnya naik banyak. Apalagi dengan dia yang seolah berjalan seorang diri. Kenaikan jabatan tampaknya mustahil untuk digapai tanpa koneksi dan keuangan yang stabil.
Mungkin seharusnya lembaga ini dihancurkan saja dan dibangun kembali dengan nama dan citra yang lebih baik dari saat ini. Tentu diisi dengan tenaga yang lebih kompeten dan bertanggung jawab daripada saat ini
Namun sebesar apa pun keinginannya itu tidak akan terjadi, ini adalah lembaga milik negara bagaimana bisa itu hancur? Dan sebanyak apa pun dia mengeluh, dia masih saja bekerja di tempat itu. Itu adalah masalah yang membuatnya benar-benar marah.
Bima dengan kesal membanting tubuhnya ke atas stir mobil di hadapannya. Kekesalannya meningkat setiap kali ingat bahwa ia adalah salah satu dari orang-orang yang ia anggap tidak berguna itu.
“Pak Bima, anda sedang mengendarai mobil dinas mohon berhati-hati” seruan tegas itu terdengar kembali dari telepon dua arah yang ia letakan di dashboard mobil.
Bima tidak menjawabnya, ia dengan kesal membuka kaca mobilnya dan membuang puntung rokoknya pada sebuah tempat sampah yang tergenang air. Pemikirannya bercabang, kira-kira apa yang akan terjadi jika ia mengajukan surat pengunduran diri sesegera mungkin? Tapi ia tidak pandai berbisnis seperti kakak perempuannya, jika ia menganggur apa yang akan ia lakukan?
“Pak Bima, dari arah barat segerombolan siswa SMA tengah melakukan kebut-kebutan. Monitoring dan ambil bukti” perintah wanita yang berada di ujung telepon.
“Itu tidak sesuai instruksi awal, aku tidak mau disalahkan karena melanggar aturan” jawab Bima malas. Sebenarnya ia sedang menyindir atasannya tentang kasus terakhir, entah wanita itu paham atau tidak.
“Pak Bima, aku memberimu perintah yang lebih penting. Coba lah untuk mengerti dan berhenti membentak atasanmu” ucap Indira dengan kesal. Ada suara seperti pecahan kaca setelah kalimat itu selesai.
Bima pasti sudah terkena lemparan cangkir jika ia berada dalam satu ruangan yang sama dengan wanita ganas itu. Terkadang ia sangat ingin bersifat hormat, namun menghormati orang yang mendapatkan jabatan dengan cara menjilat bukan lah satu hal yang akan ia lakukan. Ia yakin dari sekian banyak orang yang ada dalam devisinya tidak ada satu pun orang yang menghormatinya, walau hanya dia yang melakukannya secara terang-terangan. Dia tidak iri, dia hanya tidak suka kebohongan. Memberikan jabatan kepala divisi kepada seorang wanita yang tidak bisa membagi tugas dengan benar, itu seperti mengali lubang untuk kuburanmu sendiri.
“Pak Bima, berhenti bersikap seenaknya. Anda sedang dalam ranah pekerjaan” kata Indira dengan nada yang naik satu oktaf.
“Aku mendengar apa yang kau katakan, jadi berhentilah berbicara. Jika kau berani membanting apa pun yang ada di sekitarmu, aku akan pastikan tidak ada hari esok untukmu” jawab Bima tidak kalah keras.
“Beraninya kau mengancam atasanmu” teriak Indira lagi.
“Itu bukan ancaman, itu peringatan. Lagipula mengapa aku harus melakukan apa yang seharusnya tidak menjadi tugasku? Apa kau tahu ada begitu banyak kasus yang belum terselesaikan menumpuk di divisi kami, kenapa kamu seenaknya saja?” ucap Bima tidak kalah keras.
Tidak menjadi masalah ia punya kepala divisi perempuan yang lebih muda, tapi akan menjadi masalah besar jika dia tidak tahu apa-apa.
Bima sudah menyiapkan kameranya dan mendekat ke titik buta jalan. Benar saja beberapa saat kemudian suara geberan motor yang tidak terstandar memenuhi suasana hening taman. Sekumpulan siswa yang masih menggunakan seragam OSIS berkendara hampir memenuhi jalan, tidak terlihat senjata tajam apa pun namun ada beberapa siswa yang terlihat membawa rantai tidak terpakai dan pipa besi panjang.
Apakah mereka akan melakukan tawuran? Tapi ia tidak peduli. Tugasnya memonitoring dan mengumpulkan bukti, ia tidak bisa terlibat. Jika tidak ia akan mendapat teguran keras dan tunjangannya yang tidak seberapa itu akan dipotong.
Namun sebelum kelompok itu benar-benar pergi, ia mendengar jeritan seorang wanita tidak jauh dari tempat mobilnya terparkir. Dalam situasi ini tumbuh keraguan dalam hatinya, menuruti perintah atau menuruti hati nuraninya. Tapi kali ini ia akan menuruti hatinya dan mengabaikan perintah dari atasannya. Sudah ada bukti foto untuk laporan yang seharusnya bukan ranahnya.
Ia mengambil telepon 2 arah yang ia letakan di dashboard, memasangnya di bahu dan segera berlari keluar. Ia tidak memperdulikan ocehan atasannya yang menyuruhnya untuk mengikuti anak-anak itu. Dia sendirian melawan sekelompok brandalan SMA yang membawa senjata tumpul, apa yang akan terjadi padanya jika ketahuan mengawasi mereka? Lagipula masalah penting lainnya juga ada di tempat ini.
Ia melompat pagar rendah pembatas taman, mengedarkan pandangannya ke penjuru taman. Seorang pria mencurigakan terlihat tengah memojokan seorang wanita pada dinding toilet umum yang tertutup sebuah pohon besar. Wanita itu mencoba berteriak sekali lagi, namun laki-laki itu sudah terlebih dahulu menyumpal mulutnya dengan kain. Tidak ada seorang pun disana, dan tidak ada satu pun kamera pengawas yang terlihat.
Bima berjalan dengan senyap mendekat ke arah mereka, dan sebelum ada yang sempat menyadarinya ujung senapan Bima sudah menekan tengkuk pria itu.
“Berlutut! Jika kau berani membantah maka aku tidak akan segan untuk menarik pelatuk dari senapan ini” ucap Bima dengan suara yang berat dan dingin.
Pria mencurigakan itu segera diam ketakutan. Dia tidak berani bergerak walau hanya satu inci, keringat dingin mulai turun dari dahinya. Dengan ragu ia mengangkat tangannya dan berkata dengan bergetar,
“tolong maafkan saya”
“Bagaimana caranya aku bisa memaafkan bajingan seperti mu jika pada akhirnya tidak akan ada hukuman yang setimpal untukmu setelah apa yang akan kau perbuat!” Bima berteriak marah dan hampir kehilangan kendali untuk menahan pelatuk senapannya.
Pria paruh baya itu berbadan kekar dengan lengan yang gemuk, namun hanya punya nyali ketika tidak ada orang yang melihatnya. Terlihat dari badannya yang bergetar tampak akan segera menangis. Dia terlihat seperti seorang preman jagoan beberapa waktu yang lalu, mengapa tiba-tiba ia menjadi begitu lemah? Sungguh tidak mencerminkan orang jahat.
Namun Bima tidak peduli, ada rasa kesal dalam dirinya. Kasus pemerkosaan memang bukanlah pidana yang berat, namun efek samping bagi korban itu benar-benar berat. Bagaimana caranya itu setimpal? Si korban harus menderita dengan mengingat setiap kejadian selama seumur hidupnya, sementara pelakunya hanya akan mendekam di penjara selama lebih kurang 1 tahun.
Dengan kekuatan penuh ia menendang punggung pria itu dan membuat kepalanya membentur tanah di depannya. Ia ingin memukulnya sekali lagi, namun pria itu sudah tidak sadarkan diri.
“Bu, apakah ingin melanjutkan kasus ini ke ranah hukum?” tanya Bima pada korban yang masih menatap ketakutan pria itu.
“Aku baik-baik saja berkat anda pak, tapi aku tidak ingin orang ini bebas” ucap wanita itu dengan suara bergetar. Bima dengan jelas melihat kakinya terluka dan jika tidak segera diobati maka akan terjadi infeksi.
Bima mengambil telepon dua arah yang terselip di bahunya.
“Segera kirim beberapa polisi wanita ke sini sebelum korban memutuskan untuk bunuh diri, dan kirim juga beberapa orang untuk melakukan penangkapan. Aku sudah melumpuhkan pelakunya” ucapnya pada orang di sebrang telepon.
“Pak Bima, kau berani pergi dari posisi yang ditugaskan?” ucap Indira kesal.
“Kau ini bodoh atau apa cepat kirim bantuan sebelum aku membunuh pelaku kejahatan ini” ucap Bima dengan amarah yang membara. Ia tidak peduli jika saat ini ia sedang bicara dengan atasannya. Ia sudah cukup kesal dengan peralihan tugas.
Tidak lama kemudian 2 mobil polisi datang ke TKP. Yang satu membawa korban ke Rumah Sakit dan yang satu membawa pelaku yang masih pingsan ke kantor polisi. Bima dengan malas kembali ke kantornya, ia sudah menyiapkan telinga dan menenangkan dirinya untuk tidak meledak. Tapi tentu saja ledakan tetap akan terjadi.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan?” bentak Indira begitu melihat Bima masuk ke dalam ruangan.
“Aku hanya menangkap seorang pelaku kejahatan yang tidak bisa ditangkap oleh divisi terkait” ucap Bima tanpa rasa bersalah. Ia duduk di sofa panjang yang letaknya tidak jauh dari meja kerja Indira, dan dengan berani menyalahkan rokoknya.
“Apa kau tidak merasa bersalah dengan mengabaikan instruksi yang aku berikan?” Tanya Indira dengan mata yang menyala-nyala.
“Maafkan saya yang telah menangkap pelaku kejahatan dan meringankan beban divisi lain, sedangkan divisi saya masih punya begitu banyak tugas” dia mematikan rokoknya di asbak “satu-satunya hal yang aku sesali adalah mengabaikan instruksi bodohmu dan menangkap pelakunya” sambungnya.
Indira diam, namun sorot matanya penuh dengan dendam. Ia ingin mengungkit tentang siswa SMA yang Bima abaikan, namun Bima sudah menyelanya.
“Saya sudah memberikan barang bukti tentang siswa-siswa yang terlibat keributan itu pada Satpol PP. Saya yakin divisi mereka lebih terlatih untuk hal-hal seperti ini daripada saya yang bertugas sendirian di tengah kericuhan” ucap Bima penuh dengan sindiran. Ia menatap mata Indira dengan tajam, tidak peduli kalau dia atasannya.
“Jika kau ingin bekerja lama dengan lembaga ini maka turuti lah perintah atasanmu!” ucap Indira sedikit pelan.
“Apa maksud anda aku harus membiarkan wanita itu diperkosa oleh seorang bajingan?” Tanya Bima.
“Bukan itu maksudku”
“Lalu apa maksud anda? Menyuruhku bunuh diri?” tanya Bima menyeringai kecil.
“Jangan lakukan hal-hal yang membuat divisi kita ditandai jelek pihak atas, atau kenaikan pangkat tidak akan pernah terjadi” ucap Indira lebih pelan lagi.
“Aku menjadi polisi untuk melindungi masyarakat bukan menjilat atasan. Jangan paksakan aku untuk memahami otak kotormu itu” ucap Bima. Ia keluar dari ruangan dengan bantingan pintu yang keras. Membiarkan ruangan kecil itu sedikit bergetar.