Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Bayang-Bayang yang Hilang
Dua bulan telah berlalu sejak badai di pemakaman itu memisahkan dua jiwa yang baru saja menyatu. Di Pesantren Al-Ikhlas, waktu seolah berjalan merangkak bagi Gus Hannan. Pria yang dulunya menjadi sumber keceriaan dan inspirasi bagi ribuan santri itu kini telah kehilangan separuh cahayanya. Ia tetap menjalankan tugasnya mengajar, namun tatapan matanya kosong, suaranya datar, dan ia lebih banyak menghabiskan waktu dalam kesunyian masjid setelah fajar menyingsing.
Hannan berubah menjadi sosok yang sangat tertutup. Ia tak lagi banyak bersenda gurau dengan Gus Malik atau pun adik bungsunya, Aisyah. Setiap kali melihat jilbab merah muda milik Amara yang ia simpan di lemari, hatinya seolah disayat sembilu. Dua bulan tanpa kabar, dua bulan tanpa jejak. Dunia terasa begitu luas untuk mencari satu orang yang memang berniat untuk hilang.
Namun, di balik duka yang mendalam itu, Hannan tidak tahu bahwa di suatu tempat yang jauh, Amara sedang membawa sebuah rahasia besar—amanah yang dititipkan Tuhan di dalam rahimnya.
Di sebuah desa terpencil di lereng Gunung Ciremai yang udaranya selalu diselimuti kabut, seorang wanita berjalan perlahan menuju madrasah kecil.
Ia mengenakan gamis gelap yang longgar dan cadar hitam yang menutupi wajahnya. Penduduk desa mengenalnya sebagai "Mbak Siti". Tidak ada yang tahu wajah aslinya, dan tidak ada yang tahu dari mana asal-usulnya.
Amara telah memutuskan untuk menutup wajahnya secara permanen. Selain untuk menghindari kejaran anak buah Bastian yang mungkin masih mencarinya, ia melakukannya karena ia ingin benar-benar menghilang dari dunianya yang lama. Ia ingin menjadi hamba Allah yang baru, yang hanya dikenal oleh penduduk langit.
Tangan Amara mengusap lembut perutnya yang masih tampak rata. Namun, di dalam sana, ia bisa merasakan ada kehidupan yang mulai berdenyut.
"Mas Hannan... seandainya kamu tahu," bisiknya di balik cadar. Air matanya membasahi kain hitam itu.
"Ada buah cintamu di sini. Usianya baru satu bulan, Mas. Dia adalah kekuatanku untuk bertahan hidup sendirian."
Amara baru menyadari kehamilannya dua minggu yang lalu saat ia terus-menerus merasa mual dan lemas. Di tengah keterbatasannya, ia merasa ini adalah mukjizat. Allah tidak membiarkannya benar-benar sendirian; Allah menitipkan "kenangan hidup" dari Hannan untuk ia jaga.
Setiap pagi, ia mengajar mengaji anak-anak desa dengan sabar. Suaranya yang lembut namun penuh wibawa membuat anak-anak sangat mencintainya. Namun, setiap sore saat rasa mual (morning sickness) itu datang, Amara hanya bisa mendekam di kamar kecilnya, memeluk bantal sambil membayangkan Hannan ada di sampingnya, membacakannya ayat-ayat suci untuk menenangkan janinnya.
Kembali ke pesantren, suasana di meja makan ndalem tetap terasa berat. Kiai Abdullah tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Penyesalan itu menggerogoti jiwanya setiap kali melihat Hannan yang seperti mayat hidup.
"Hannan," panggil Kiai Abdullah dengan suara parau.
Hannan mendongak perlahan dari piringnya yang makanannya nyaris tak tersentuh. "Nggih, Abah?"
"Abah tidak akan berhenti mencari. Abah sudah
mengirim tim ke Jawa Barat dan Jakarta lagi. Tolong, jangan seperti ini, Le. Kamu harus kuat. Jika Amara kembali dan melihatmu layu seperti ini, dia akan merasa semakin bersalah."
Hannan tersenyum getir. "Hannan hanya rindu, Bah. Hannan merasa ada sesuatu yang dia bawa pergi, sesuatu yang seharusnya Hannan jaga."
Firasat seorang suami seringkali tajam. Hannan merasakan ikatan batin yang sangat kuat, seolah ada magnet yang menarik jiwanya ke arah barat. Ia tidak tahu apa itu, tapi setiap malam dalam sujudnya, Hannan selalu berdoa: "Ya Allah, jaga ia dan apa pun yang ada bersamanya."
Suatu sore, seorang santri senior yang baru kembali dari pengabdian di daerah Jawa Barat datang menghadap Hannan. Ia membawa sebuah kabar yang tidak sengaja ia dengar saat mampir di sebuah pasar di kaki Gunung Ciremai.
"Gus, maaf mengganggu. Saya mendengar cerita dari penduduk desa tentang seorang ustadzah bercadar yang baru datang dua bulan lalu. Katanya suaranya sangat merdu, tapi beliau sangat tertutup. Beliau mengajar di madrasah kecil dan sering terlihat pucat seperti orang yang sedang mengandung."
Jantung Hannan berdegup kencang. Mengandung?
Pikiran itu membuat tubuhnya bergetar. Dua bulan lalu... saat malam terakhir mereka bersama di rumah sakit dan saat-saat di California. Mungkinkah?
Hannan langsung berdiri, matanya yang selama dua bulan ini redup, tiba-tiba memancarkan kilatan harapan yang luar biasa. "Di mana desa itu? Katakan padaku sekarang juga!"