NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petaka atau kesempatan

Sudah hampir 2 minggu aku berada di Surabaya, selama itu juga aku sering diseret ke kantor oleh kak Erick.

"Kamu kan akan jadi suami aku babe, lebih sah lagi karena kamu jadi penerus papa."

"Aku ga minta kamu kerja disini babe, aku hanya minta setidaknya kamu mengenal perusahaan yang sudah papa kamu bangun loh."

Aku tidak bisa beragumen lagi dengannya, jadi aku sering mengikutinya meeting internal ataupun pertemuan santai dengan kolega diluar kantor. Hanya sesekali aku bisa kabur dengan alasan bertemu teman sekolahku. Namun berkat itu pula aku melihat kak Erick dari sisi lain yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ia memiliki wibawa tersendiri saat memimpin rapat, meski para petinggi perusahaan rata-rata seumuran dengan papa tapi ia mampu mengimbanginya, aku kagum melihatnya bekerja. 2 hari sebelum aku kembali ke Jakarta, aku memenuhi tugas terakhirku menemaninya ke pertemuan bisnis berbalut undangan pernikahan. Sialnya resepsi ini berjenis round table wedding, dimana tamu undangan hanya duduk manis dan para staff yang akan mengantar makanan. 1 Meja berisi 10 orang, para kolega yang duduk bersama kami berasal dari generasi papa dan mereka juga kenalan papa Erick, sungguh sangat membosankan.

POV Erick.

Aku tau Jeny merasa bosan ditempat ini, kantor saja sudah seperti tempat hukuman baginya, kini ia mungkin merasa sedang mendapatkan perpanjangan hukuman, karena selain terpaksa harus mendengarkan, ia terpaksa harus terus tersenyum dan menanggapi kolega bisnis papa. Tanganku terus menerus menyentuhnya kadang menggenggam tangannya, kadang memegang pahanya, seakan selalu berkata, 'sabar ya demi aku'. Demi menjalankan tugasnya dengan baik, setiap ada pelayan yang datang mengganti menu, maka ia akan meminta mereka untuk membawakan gelas wine baru yang masih penuh.

"Babe udah cukup minumnya.", bisikku.

"Tenang aku tau batas kok.", bisiknya lagi.

Sesekali aku mengambil gelas wine miliknya dan meminumnya, entah berkat usahaku atau bukan, tapi Jeny masih bisa terus menjaga sikapnya sampai acara berakhir.

Sesampainya di rumah,

"Babe mau berendam air hangat? buat bantu menghilangkan pusing kamu."

"Nanti aja, aku ga sepusing itu kok beneran."

"Aku bangga sama kamu yang bisa bertahan malam ini, makasih ya babe."

"Aku dapat upah apa?", tanyanya manja di pangkuanku.

Saat ini tanpa ia bermanja di pangkuanku, aku sudah ingin menciumnya dan bermain dengannya dibawah selimut, malam ini ia sangat cantik dan seksi. Ia menggunakan gaun halter neck, dimana gaun itu memperlihatkan tulang bahunya yang indah, juga kulit punggungnya yang mulus. Aku hanya tinggal menarik 1 simpul pita dilehernya maka gaun itu akan langsung turun mengekspos tubuhnya yang sempurna.

Entah karena masih dalam pengaruh alkohol atau tidak, Jeny membuka kancing kemejaku, mengelus dadaku hingga ke perut juga mencium leherku. Aku sungguh ingin melahapnya, lalu membawanya ke tempat tidur. Malam ini ia tampak lebih berani dari biasanya, aku sungguh ingin memilikinya seutuhnya.

"Babe aku mau kamu, boleh?".

"Mmm...", jawabnya sambil mencium leherku.

"Kamu tau kita mau ngapain kan babe?", aku mau ia tau dengan pilihannya saat ini.

"Seks", bisiknya, lalu mencium telingaku, aku sungguh dibuat gila olehnya.

Mendengarnya berkata seperti itu, aku menanggalkan semua kain yang melekat pada tubuh kami, mencumbunya dan memberi tanda cinta di tubuhnya.

Aku tau ini pengalaman pertama untuknya, jadi aku berusaha membuatnya senyaman mungkin dan berusaha memasukinya secara pelan. Katanya bagi perempuan awal berhubungan intim akan menyakitkan, jadi setiap ia meringis kesakitan, aku menghentikan gerakanku dan menciumnya di titik yang aku tau sangat disukainya.

Akhirnya setelah beberapa saat ia terlihat nyaman oleh pergerakanku, aku mulai menuntunnya agar kami berdua sama-sama puas dan melakukan pelepasan bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!