NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Nadine meremas tali tasnya, berusaha mengatur napas agar suaranya tidak bergetar. Ia tahu ibunya adalah seorang predator di ruang rapat yang bisa mencium kebohongan dari jarak satu mil. Satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan menyerang balik menggunakan kesibukan ibunya sendiri.

"Hanya proyek akhir semester yang menyita waktu, Bu. Aku harus bolak-balik ke perpustakaan kota dan apartemen teman untuk riset," ucap Nadine pelan, lalu segera mengalihkan pembicaraan sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh.

"Lagipula, bukankah minggu ini Ibu ada penandatanganan akuisisi di Chicago? Aku tidak menyangka Ibu punya waktu untuk memeriksa tagihan taksiku secara mendetail."

Victoria Saville akhirnya mengangkat wajah dari iPad-nya.

Matanya yang tajam menatap Nadine dari balik kacamata desainer. Ada jeda yang menyesakkan selama beberapa detik sebelum wanita itu akhirnya mendengus kecil.

"Akuisisi itu diundur ke hari Kamis. Dan jangan mengalihkan pembicaraan, Nadine. Aku hanya tidak ingin kau merusak reputasi yang sudah kubangun susah payah hanya karena pergaulan kampus yang tidak jelas."

Nadine hanya mengangguk patuh, meski hatinya terasa perih. Reputasi. Selalu itu yang utama bagi ibunya. Ia tidak tahu bahwa putrinya yang tampak sempurna ini baru saja menyerahkan harga dirinya semalam hanya untuk bisikan cinta palsu dari Nickholes.

Malamnya, Nadine terpaksa memenuhi perintah Nick. Ia menyelinap keluar lewat pintu belakang rumah besarnya dan memesan taksi menuju apartemen studio rahasia milik Nick di pinggiran kota—tempat yang tidak diketahui oleh teman-teman kampusnya, maupun orang tua Nick yang kaya raya.

Begitu Nadine masuk, ruangan itu gelap. Hanya ada cahaya dari gedung-gedung tinggi yang masuk lewat jendela besar. Nickholes sedang duduk di sofa, memegang gelas wiski, menatap ke arah luar.

"Kau terlambat lima menit," ucap Nick tanpa menoleh. Suaranya dingin, namun ada nada posesif yang kental.

Nadine mendekat, berdiri di belakangnya. "Ibuku mulai bertanya-tanya, Nick. Aku hampir ketahuan hari ini."

Nickholes berdiri, berbalik dan mencengkeram pinggang Nadine dengan kasar hingga gadis itu terkesiap. "Lalu? Kau takut padanya? Atau kau takut jika dunia tahu kau adalah milik pria seperti aku?"

Nick menarik Nadine lebih dekat, memaksa gadis itu menatap matanya yang gelap dan penuh dominasi. "Ingat, Nadine. Kau yang memilih ini sejak SMA. Kau yang memintaku untuk tidak melepaskanmu. Jadi, jangan berani-berani membawa urusan ibumu ke dalam ruangan ini."

Nickholes kemudian menciumnya dengan penuh amarah dan gairah, sebuah hukuman sekaligus hadiah bagi Nadine yang naif. Di saat yang sama, ponsel Nadine di dalam tas terus bergetar. Ada pesan masuk dari asisten ibunya yang mengirimkan jadwal makan malam keluarga besok malam—makan malam yang juga akan dihadiri oleh keluarga besar Teldford.

.

.

Restoran mewah di pusat Manhattan itu telah dipesan secara privat. Suasana sangat elegan dengan alunan biola yang lembut, namun bagi Nadine, udara di sana terasa sangat tipis. Ia mengenakan gaun sutra berwarna zamrud yang dipilihkan ibunya—tampak seperti boneka porselen yang sempurna.

Saat pintu besar terbuka, jantung Nadine hampir berhenti. Keluarga Teldford masuk. Nickholes ada di sana, tampak sangat tampan dengan tuksedo hitam yang pas di tubuh atletisnya. Namun, ia tidak datang sendiri. Di lengannya, melingkar tangan seorang gadis bernama Clarissa, seorang model kampus yang terkenal cantik dan agresif.

"Victoria, senang bertemu lagi," sapa ayah Nickholes dengan hangat.

"Dan Nick, aku lihat kau membawa teman malam ini?" Victoria menaikkan alisnya, melirik Clarissa.

"Ini Clarissa, kekasihku," ucap Nickholes dengan suara lantang dan penuh percaya diri.

Ia melirik Nadine selama satu detik, tatapan dingin yang seolah berkata, Lihat posisimu.

Selama makan malam berlangsung, Nadine dipaksa duduk tepat di seberang mereka. Ia harus menyaksikan bagaimana Nickholes memotongkan daging steak untuk Clarissa, bagaimana pria itu sesekali mengecup pelipis Clarissa, dan bagaimana tangan Nickholes merangkul pinggang gadis itu dengan mesra, hal yang tidak pernah ia lakukan pada Nadine di depan umum.

Nadine menggenggam garpunya begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Setiap tawa Clarissa terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya.

"Nadine, kau diam saja dari tadi. Apa kau merasa tidak enak badan?" tanya Ibu Nickholes, mencoba bersikap ramah.

Nadine mendongak, matanya bertemu dengan Nickholes yang sedang menyesap anggur merahnya dengan santai.

"Saya hanya... sedikit lelah dengan tugas kuliah, Tante," jawab Nadine dengan suara serak.

Sebelum pelayan menyajikan hidangan utama, ketegangan di meja makan itu sudah mencapai puncaknya bagi Nadine. Di bawah meja, ia bisa melihat kaki Nickholes yang bersinggungan dengan kaki Clarissa, namun mata Nick terus-menerus menguliti Nadine dengan tatapan lapar yang tidak bisa disembunyikan.

Di tengah percakapan membosankan tentang saham dan bisnis antara orang tua mereka, ponsel Nadine bergetar di pangkuannya. Sebuah pesan masuk dari Nickholes, tepat di saat pria itu sedang berpura-pura mendengarkan ocehan Clarissa.

"Jangan pasang wajah menyedihkan itu. Kau membuatku ingin menghukummu sekarang juga. Tunggu aku di toilet dalam 5 menit."

Nadine merasa mual sekaligus terangsang secara bersamaan. Ia benci betapa mudahnya Nickholes mengendalikan emosinya. Ia benci bagaimana Nickholes bisa memperlakukannya seperti sampah di depan orang lain, namun tetap menuntut tubuhnya di saat yang sama.

Nadine berdiri dengan perlahan. "Permisi, aku harus ke kamar kecil sebentar," ucapnya pamit pada meja makan.

Begitu Nadine menghilang ke arah toilet, Nickholes hanya menunggu tiga puluh detik sebelum ia memberikan alasan untuk menjawab telepon bisnis dan menyusul ke belakang.

Dua menit kemudian, saat Nadine sedang membasuh wajahnya dengan air dingin di wastafel toilet yang sepi, pintu terbuka dan dikunci dengan kasar. Nickholes ada di sana, wajahnya gelap karena gairah dan amarah yang terpendam.

"Kau berani menatapku seperti itu di depan ibumu, hah?" Nickholes mencengkeram rahang Nadine, menekannya ke dinding marmer yang dingin. "Kau cemburu melihatnya?"

"Nick, lepaskan... kau baru saja mengenalkan dia sebagai kekasihmu!" bisik Nadine dengan air mata yang mulai menggenang.

"Dia hanyalah pajangan, Nadine. Kau tahu itu," bisik Nick di telinganya, tangannya mulai merayap ke balik gaun zamrud Nadine. "Tapi malam ini, kau akan membayar karena sudah menatapku dengan mata penuh tuntutan itu di meja makan tadi."

Nadine merasa dunianya berputar. Ia membenci dirinya sendiri karena meskipun Nick baru saja menghinanya dengan membawa wanita lain, tubuhnya bereaksi secara insting terhadap sentuhan pria itu. Tangan Nickholes yang besar dan kuat bergerak dengan presisi, mengeksplorasi setiap inci sensitif Nadine dengan tuntutan yang tak terbendung.

Setiap kali suara langkah kaki terdengar di koridor luar, jantung Nadine berdegup kencang karena ketakutan, namun itu justru menambah sensasi gairah yang terlarang.

"Katakan siapa pemilikmu, Nadine," perintah Nickholes, menatap tajam ke dalam mata Nadine yang mulai berkaca-kaca karena puncak kenikmatan yang mulai mendekat.

"Kau... Nick... hanya kau," desah Nadine pasrah.

Ia mencengkeram bahu tuksedo Nick, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu agar teriakan nikmatnya tidak bergema keluar.

Di ruang sempit yang dingin itu, Nickholes kembali membuktikan kekuasaannya. Ia tidak hanya memiliki tubuh Nadine, tapi juga merusak harga diri gadis itu berkali-kali. Bagi Nick, ini adalah permainan kekuasaan. Bagi Nadine, ini adalah kehancuran yang ia sebut cinta.

Beberapa menit kemudian, Nickholes keluar lebih dulu dengan wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa. Nadine menyusul setelah merapikan riasan dan gaunnya dengan tangan gemetar.

Saat ia kembali duduk di meja makan, Clarissa tersenyum manis padanya. "Kau lama sekali, Nadine. Apa kau baik-baik saja?"

Nadine hanya bisa mengangguk pelan, sementara di bawah meja, ujung sepatu Nickholes sengaja menyentuh betisnya, sebuah pengingat bahwa meskipun ada wanita lain di sampingnya, ia tetap memegang kendali penuh atas diri Nadine.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰 😍 😍 😍

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!