Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Hari-Hari Pertama
#
Malam itu sunyi. Hanya suara katak dari selokan depan rumah yang sesekali terdengar. Lampu lima watt di sudut ruangan menyala redup, menciptakan bayangan bayangan tipis di dinding kayu yang sudah lapuk. Naura duduk di tepi kasur lipat sambil meremas ujung daster lusuhnya. Jantungnya berdebar keras. Tangannya dingin. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya meski malam cukup sejuk.
Zidan keluar dari kamar mandi kecil di belakang dengan handuk compang camping melingkar di pinggangnya. Rambutnya basah. Tubuhnya yang kurus tapi berotot karena kerja keras terlihat jelas di bawah cahaya lampu yang minim. Ia melirik Naura yang duduk membelakanginya. Ia tahu istrinya gugup. Sangat gugup.
"Naura," panggil Zidan pelan sambil duduk di sampingnya.
Naura tidak menjawab. Kepalanya tertunduk. Jari jarinya saling meremas.
"Naura, lihat aku," Zidan menyentuh dagunya lembut, mengangkatnya pelan agar mata mereka bertemu.
Naura mengangkat wajahnya. Matanya yang besar berkaca kaca. Pipinya memerah. Bibirnya gemetar.
"Kamu takut?" tanya Zidan sambil mengusap pipi istrinya dengan ibu jari.
Naura mengangguk pelan. "Iya. Aku... aku nggak tahu harus gimana."
Zidan tersenyum lembut. "Aku juga nggak tahu. Tapi kita sama sama belajar ya. Pelan pelan. Nggak usah takut."
"Tapi aku..."
"Ssshh," Zidan menempelkan jari telunjuknya di bibir Naura. "Kita suami istri sekarang. Ini... ini bagian dari ikatan kita. Bagian dari cinta kita. Nggak usah takut. Aku nggak akan sakitin kamu."
Air mata Naura jatuh. Bukan karena takut lagi. Tapi karena terharu mendengar kata kata suaminya yang begitu lembut. Begitu penuh cinta.
Zidan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Lalu perlahan, ia mendekatkan wajahnya. Naura menutup mata. Napasnya tertahan. Dan kemudian bibir Zidan menyentuh bibirnya.
Lembut.
Sangat lembut.
Bukan ciuman yang terburu buru. Bukan ciuman yang kasar. Tapi ciuman yang penuh kehati hatian. Penuh rasa sayang.
Tangan Zidan perlahan memeluk pinggang Naura, menariknya lebih dekat. Naura membalas pelukan itu dengan tangan yang masih gemetar. Ciuman mereka semakin dalam. Semakin intens. Napas mereka bercampur. Detak jantung mereka seakan menyatu.
Zidan perlahan membaringkan Naura di kasur tipis itu. Tangannya menyusuri lengan istrinya dengan penuh kehati hatian. Naura menggigit bibir bawahnya sambil menutup mata erat erat. Napasnya memburu. Jantungnya berdebar seperti mau copot.
"Naura, kalau kamu nggak nyaman, bilang. Aku akan berhenti," bisik Zidan di telinganya.
"Nggak. Aku... aku mau," jawab Naura dengan suara bergetar.
Zidan mencium lehernya pelan. Naura mendesah kecil. Tangannya mencengkeram bahu Zidan erat. Ia merasakan sensasi asing yang membuat seluruh tubuhnya bergetar. Takut bercampur dengan perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Lampu lima watt itu terus menyala redup. Bayangan mereka bergerak pelan di dinding. Suara napas yang memburu. Desahan pelan. Bisikan lembut. Semua bercampur jadi satu di malam pertama mereka.
Zidan sangat berhati hati. Setiap gerakan diperhitungkan. Setiap sentuhan penuh kelembutan. Ia tahu ini pertama kali untuk Naura. Ia tidak mau menyakitinya.
"Sakit nggak?" tanya Zidan sambil menatap mata istrinya.
Naura menggeleng pelan meski matanya berkaca kaca. "Sedikit. Tapi... nggak apa apa."
"Maaf ya kalau aku bikin kamu sakit."
"Nggak. Ini... ini wajar kan?"
"Iya. Wajar."
Mereka saling menatap dalam dalam. Dan di situ, di malam pertama mereka, di kontrakan sempit dengan kasur tipis yang keras, mereka menjadi satu. Bukan hanya sebagai suami istri di mata hukum. Tapi sebagai dua jiwa yang benar benar menyatu.
Setelah selesai, Naura berbaring di pelukan Zidan dengan napas yang masih belum teratur. Kepalanya di dada suaminya. Mendengar detak jantung yang mulai melambat. Zidan mengusap rambutnya pelan sambil mencium puncak kepalanya berkali kali.
"Terima kasih ya," bisik Zidan.
"Terima kasih kenapa?" Naura mengangkat wajahnya menatap suaminya.
"Terima kasih udah mau jadi istriku. Terima kasih udah percaya sama aku. Terima kasih udah mau nerima aku apa adanya."
Naura tersenyum sambil meneteskan air mata lagi. "Aku yang harusnya terima kasih. Terima kasih udah sayang sama aku. Terima kasih udah jaga aku baik baik."
Mereka berpelukan erat sambil menikmati kehangatan satu sama lain. Tidak ada kata kata lagi. Hanya pelukan. Hanya cinta yang tulus. Hanya kedamaian yang sangat mereka butuhkan.
Dan malam itu, mereka tertidur dengan senyum di bibir. Dengan hati yang penuh syukur. Dengan ikatan yang semakin kuat.
Pagi datang terlalu cepat.
Jam empat subuh, alarm jam weker yang sudah lecek berbunyi nyaring. Zidan langsung bangun dengan reflek karena sudah terbiasa. Ia melihat Naura yang masih tidur pulas di sampingnya. Wajahnya yang polos terlihat damai. Rambutnya yang panjang terurai di bantal. Ia tersenyum sambil mengusap pipi istrinya lembut.
"Naura, bangun. Subuh," bisiknya pelan sambil menggoyang bahu Naura.
Naura membuka mata perlahan. Masih sangat mengantuk. "Mmm... sebentar lagi."
"Ayuk. Kita sholat subuh berjamaah kan?"
Mendengar itu, Naura langsung membuka matanya lebar. "Iya ya. Tunggu sebentar."
Mereka berdua bangun dengan susah payah. Tubuh Naura masih terasa pegal di beberapa bagian. Ia berjalan sedikit kaku ke kamar mandi. Zidan yang melihat itu tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Ia tahu pasti istrinya masih sakit karena malam tadi.sebelum wudhu mereka lalu mandi
Setelah mandi dan berwudhu, mereka sholat subuh berjamaah di sajadah lusuh pemberian mas kawin. Zidan jadi imam. Naura makmum di belakangnya. Setelah selesai, mereka duduk bersimpuh sambil berdzikir bersama. Suara tasbih mereka terdengar selaras. Damai. Tenang.
"Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar..."
Suara mereka mengalun pelan di pagi yang masih gelap. Di luar, ayam mulai berkokok. Suara motor yang lewat sesekali terdengar. Tapi mereka tidak terganggu. Mereka fokus pada ibadah mereka.
Setelah selesai dzikir, Zidan berdiri sambil meregangkan tubuhnya. "Naura, aku mandi dulu ya. Sebentar lagi harus jalan."
"Iya. Aku siapin kopi sama roti."
Zidan menoleh dengan alis terangkat. "Roti? Dari mana?"
"Kemarin Ibu kasih sedikit. Masih ada tiga potong."
"Oh. Oke deh. Makasih ya."
Naura pergi ke sudut ruangan yang dijadikan dapur dadakan. Ia menyalakan kompor minyak dengan susah payah karena sumbunya sudah hampir habis. Setelah api menyala, ia memanaskan air di panci kecil untuk kopi. Sambil menunggu air mendidih, ia mengambil tiga potong roti tawar yang sudah agak keras dari plastik kresek. Ia oleskan sedikit mentega yang sudah hampir habis.
Zidan keluar dari kamar mandi dengan baju kaus putih lusuh dan celana jeans pudar. Rambutnya masih basah. Wajahnya terlihat segar meski matanya masih sedikit sembab karena kurang tidur.
"Wah, udah siap," kata Zidan sambil duduk di tikar di depan kompor.
Naura menuangkan air panas ke gelas plastik yang sudah dikasih kopi sachetan murah. Gula dua sendok karena Zidan suka manis. Ia aduk pelan lalu meletakkan gelas itu di depan suaminya bersama piring kecil berisi dua potong roti.
"Kok dua? Kamu nggak makan?" tanya Zidan sambil menatap Naura.
"Aku makan satu aja cukup. Kamu yang kerja berat. Kamu harus makan lebih banyak."
"Naura..."
"Udah, makan aja. Jangan banyak bacot. Nanti telat." Naura tersenyum sambil mendorong piring itu lebih dekat.
Zidan menggeleng pelan tapi tidak bisa menolak. Ia tahu kalau ia menolak, Naura akan sedih. Jadi ia makan dua potong roti itu sambil sesekali menyeruput kopi panas yang rasanya pas di lidah.
"Enak," puji Zidan.
"Enak apanya? Cuma kopi sachetan doang."
"Tapi yang bikin enak. Makanya enak."
Naura tertawa kecil sambil memukul lengan suaminya pelan. "Gombal banget sih."
"Bukan gombal. Beneran."
Mereka sarapan sederhana itu dengan senyum di wajah. Sesekali saling melirik dan tertawa kecil tanpa alasan. Bahagia dengan cara yang sangat sederhana. Bahagia yang tidak butuh materi berlebihan. Cukup kebersamaan.
Pukul setengah enam pagi, Zidan sudah harus berangkat. Ia mengambil tas selempang lusuh yang berisi dompet tipis dan handphone jadul. Naura berdiri di depan pintu sambil merapikan kerah baju suaminya.
"Hati hati ya. Jangan kebut kebutan. Kalau ada apa apa langsung telpon aku."
"Iya. Kamu juga hati hati di rumah. Jangan lupa kunci pintu."
"Iya."
Zidan mencium kening istrinya lembut. "Aku pergi dulu ya."
"Iya. Hati hati."
Zidan keluar dari kontrakan kecil itu sambil melambaikan tangan. Naura berdiri di ambang pintu sambil membalas lambaian itu dengan senyum. Tapi begitu Zidan menghilang di tikungan gang, senyum itu luntur. Ia menutup pintu pelan lalu bersandar di situ sambil menarik napas panjang.
"Ya Allah, kuatkan aku. Kuatkan kami."
Ia kembali ke dalam ruangan yang sepi. Sepi yang tiba tiba terasa mencekik. Ia melirik sekeliling. Dinding kayu yang retak. Atap seng yang bocor di beberapa titik. Kasur tipis yang sudah kempes. Kompor minyak yang nyaris habis. Uang di dompet yang tinggal lima puluh ribu rupiah.
Lima puluh ribu.
Sewa kontrakan bulan depan dua ratus ribu. Berarti masih kurang seratus lima puluh ribu. Belum lagi makan sehari hari. Belum lagi kalau ada keperluan mendadak.
Naura duduk di kasur sambil memeluk lututnya. Dadanya sesak. Matanya panas. Tapi ia tidak mau menangis. Tidak sekarang. Ia harus kuat.
"Aku harus kerja. Aku harus bantu Zidan."
Ia bangkit lalu pergi ke sudut ruangan tempat ia menyimpan karung besar berisi baju kiloan yang ia ambil kemarin dari Bu Mariam. Bu Mariam punya usaha laundry kecil kecilan dan sering kasih kerjaan jahit baju ke Naura. Bayarannya memang tidak seberapa. Lima ratus rupiah per potong baju yang dijahit. Tapi lumayan untuk tambah tambah uang makan.
Naura mengeluarkan mesin jahit tua peninggalan ibunya dari balik tikar. Mesin jahit manual yang harus diputar pakai tangan. Sudah berkarat di beberapa bagian. Tapi masih bisa dipakai. Ia duduk di tikar sambil menarik satu potong baju dari karung.
Celana panjang pria yang sobek di bagian lutut.
Ia mulai menjahit dengan fokus. Jarum bergerak naik turun. Tangannya yang lembut memutar roda mesin dengan ritme yang sudah ia hapal. Sesekali ia harus berhenti karena benang kusut. Atau karena jarinya tertusuk jarum.
"Aduh!"
Jari telunjuknya berdarah. Darah merah segar menetes ke kain putih yang sedang dijahit. Ia langsung menghisap jarinya sambil meringis kesakitan. Perih. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus menjahit sambil sesekali menghisap jarinya yang masih berdarah.
Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Ia sudah selesai menjahit lima potong baju. Berarti dapat dua ribu lima ratus rupiah. Masih kurang banyak.
Perutnya mulai berbunyi. Lapar. Tapi ia tidak mau makan dulu. Roti yang tersisa hanya satu potong. Itu untuk Zidan nanti siang kalau pulang istirahat. Ia bisa makan nasi sisa kemarin malam. Meski sudah basi. Tapi masih bisa dimakan.
Naura pergi ke sudah ruangan tempat ia menyimpan panci nasi. Ia buka tutupnya. Nasinya sudah mengeras. Bau sedikit asam. Tapi ia tidak peduli. Ia ambil satu centong lalu taruh di piring. Ia siram dengan air panas biar sedikit lembut. Lalu ia makan begitu saja. Tanpa lauk. Tanpa sambal. Hanya nasi keras yang disiram air panas.
Rasanya hambar. Teksturnya aneh. Tapi ia makan dengan lahap karena perutnya benar benar lapar. Ia makan sambil menatap kosong ke depan. Pikirannya melayang kemana mana.
"Kapan ya aku bisa makan enak? Kapan ya aku bisa beliin Zidan baju baru? Kapan ya kami bisa punya rumah sendiri?"
Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Jatuh ke piring berisi nasi keras itu. Ia tidak terisak. Hanya diam sambil menangis. Menangis karena lelah. Menangis karena tidak tahu harus bagaimana lagi.
Tapi ia tidak boleh menyerah. Ia tidak boleh lemah. Zidan sudah kerja keras di luar sana. Ia harus kerja keras juga di sini.
Setelah selesai makan, ia kembali ke mesin jahit dan melanjutkan pekerjaannya. Jari jarinya terus tertusuk jarum. Darahnya terus menetes. Tapi ia tidak peduli. Ia terus menjahit. Terus menjahit. Terus menjahit sampai tangannya pegal dan matanya perih.
Pukul dua siang, Zidan pulang dengan wajah lelah dan baju yang basah kuyup oleh keringat. Ia parkir motor di depan kontrakan lalu masuk dengan langkah gontai.
"Naura, aku pulang," panggilnya pelan.
Naura yang sedang menjahit langsung menoleh. Ia tersenyum lebar meski wajahnya pucat dan matanya sembab. "Udah pulang? Alhamdulillah. Ayo makan dulu. Udah siapin roti."
Zidan melirik ke arah tikar tempat Naura menjahit. Ia melihat jari jari istrinya yang penuh luka. Darah kering di beberapa titik. Perban kain lusuh dililitkan di jari telunjuk dan jari tengah.
"Naura, jari kamu kenapa?" Zidan langsung berjongkok di samping istrinya sambil memegang tangannya lembut.
"Nggak apa apa. Cuma kena jarum dikit."
"Dikit? Ini banyak banget lukanya!" Zidan menatap istrinya dengan mata yang mulai berkaca kaca. "Kamu nggak usah kerja terlalu keras gini. Nanti sakit."
"Aku nggak apa apa kok. Udah biasa."
"Naura..."
"Udah, jangan bahas itu. Ayo makan. Nanti dingin rotinya."
Zidan tidak bisa berkata apa apa lagi. Ia hanya bisa memeluk istrinya erat erat. Memeluknya sambil menahan tangis. Ia merasa sangat bersalah. Bersalah karena tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk istri yang sangat ia sayangi.
"Maafin aku ya, Naura. Maafin aku belum bisa kasih kamu kehidupan yang enak."
Naura menggeleng di pelukan suaminya. "Kamu nggak salah apa apa. Kita lagi berjuang sama sama. Kita pasti bisa."
Mereka melepas pelukan lalu duduk bersama di tikar. Naura menyodorkan piring berisi satu potong roti yang sudah ia olesi selai murah. Zidan menatap piring itu lalu menatap istrinya.
"Kamu udah makan?"
"Udah. Tadi pagi."
"Bohong."
"Beneran. Aku udah makan nasi."
"Naura, jangan bohong. Aku tahu kamu belum makan."
Naura terdiam. Ia tidak bisa berbohong lebih jauh lagi. Zidan langsung membagi roti itu jadi dua. Setengah untuk dia. Setengah untuk Naura.
"Kita makan bareng."
"Tapi kamu yang kerja berat. Kamu harus makan lebih banyak."
"Naura, please. Jangan bikin aku merasa lebih bersalah lagi. Ayo makan bareng."
Akhirnya Naura mengangguk. Mereka makan setengah potong roti itu sambil minum air putih. Tidak ada kopi. Tidak ada teh. Hanya air putih dari galon yang sudah hampir habis.
Setelah selesai makan, Zidan berbaring sebentar karena sangat lelah. Naura duduk di sampingnya sambil mengipasi suaminya dengan kipas anyaman yang sudah rusak. Zidan menatap istrinya dengan mata yang sayu.
"Naura, terima kasih ya."
"Terima kasih buat apa?"
"Terima kasih udah mau hidup susah sama aku. Terima kasih udah sabar. Terima kasih udah nggak pernah ngeluh."
Naura tersenyum sambil terus mengipas. "Aku nggak ngerasa hidup susah kok. Aku ngerasa hidup bahagia. Karena ada kamu."
"Tapi aku pengen kasih kamu yang lebih. Aku pengen kamu bisa makan enak. Pengen kamu bisa punya baju baru. Pengen kamu nggak harus kerja sampai jari kamu luka luka gini."
"Nanti pasti bisa. Kita pasti bisa. Yang penting kita sama sama."
Zidan meraih tangan Naura lalu menciumnya lembut. "Aku janji ya. Suatu hari nanti, kita akan punya rumah sendiri. Rumah yang besar. Rumah yang nyaman. Rumah yang kamu impikan. Aku janji."
Naura mengangguk sambil menahan air mata. "Iya. Aku percaya."
Tapi di dalam hatinya, ia meragukan janji itu. Bukan karena ia tidak percaya pada Zidan. Tapi karena realita terlalu keras. Uang sewa bulan depan saja belum ada. Bagaimana mungkin bisa punya rumah sendiri?
Tapi ia tidak mau merusak semangat suaminya. Jadi ia hanya tersenyum. Tersenyum sambil terus mengipas. Tersenyum sambil menelan kepahitan hidup yang harus ia jalani setiap hari.
Malam harinya, setelah Zidan pulang kerja pukul delapan malam, mereka sholat Isya berjamaah. Setelah selesai, Naura menyiapkan makan malam. Hanya ada nasi putih dan sebotol kecil kecap manis.
"Naura, cuma ini?" tanya Zidan sambil menatap piring di depannya.
"Iya. Maaf ya. Uangnya udah habis buat bayar benang jahit sama beli gula."
"Naura, kamu harusnya bilang. Aku bisa cari pinjaman."
"Nggak usah. Kita udah janji nggak mau hutang kan? Lagian ini cukup kok."
"Tapi..."
"Udah, ayo makan. Kecapnya manis. Enak."
Mereka makan malam dengan nasi dan kecap manis. Naura menyiram kecap di atas nasinya lalu makan dengan lahap sambil tersenyum. Zidan yang melihat itu tidak bisa menahan air matanya. Ia makan sambil menunduk karena tidak mau istrinya melihat ia menangis.
Setelah selesai makan, mereka duduk di kasur sambil bersandar di dinding. Zidan memeluk Naura dari samping. Naura menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Naura, aku janji ya. Aku akan kerja lebih keras lagi. Aku akan cari tambahan kerja. Aku akan..."
"Zidan," potong Naura pelan. "Kamu udah kerja keras banget. Jangan dipaksa. Nanti sakit."
"Tapi aku nggak tahan liat kamu hidup susah gini."
"Aku nggak ngerasa susah kok. Selama ada kamu, aku bahagia."
Zidan mencium puncak kepala istrinya berkali kali. "Aku sayang kamu. Sayang banget."
"Aku juga sayang kamu."
Mereka berpelukan erat di malam yang sepi. Di kontrakan sempit yang dingin. Dengan perut yang masih setengah lapar. Tapi hati mereka penuh. Penuh dengan cinta. Penuh dengan harapan.
Meski realita begitu kejam, mereka masih punya satu sama lain. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Untuk saat ini.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja