Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
"Huwaaaaa! Luca! Apa yang Luca lakukan di sini?!"
Pekikan melengking itu membelah kesunyian kamar mewah Luca layaknya sirine peringatan dini tsunami.
Queen melompat mundur hingga ia hampir terjatuh dari pinggiran tempat tidur.
Luca, yang baru saja terlelap selama tiga jam setelah begadang memeriksa laporan keamanan, mengerang frustrasi. Ia merasakan sebuah tangan kecil tadi sempat menampar pipinya sebelum si pemilik suara berteriak histeris.
Dengan mata yang masih setengah terpejam dan rambut berantakan, ia menarik napas panjang.
"Tutup mulutmu, Bocah. Ini masih jam enam pagi," gumam Luca dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Tutup mulut apa?! Lihat ini! Lihat!" Queen menunjuk ke arah pinggangnya sendiri, lalu menunjuk ke arah tangan Luca yang masih tergeletak di atas bantal. "Kenapa Luca tidur di sini? Kenapa tangan Luca melingkar di pinggang Queen?! Ini pelecehan! Queen bisa melaporkanmu ke... ke..."
Queen beenti bicara. Ia hendak mengatakan interpol, tapi ia sadar suaranya sekarang lebih mirip suara bebek mainan daripada pengacara hebat.
Luca akhirnya membuka mata sepenuhnya. Ia duduk bersandar pada headboard tempat tidur, menatap Queen dengan tatapan dingin dan malas.
"Melaporkanku ke siapa? Polisi? Aku adalah hukum di kota ini, kalau kau lupa."
"Tetap saja! Luca tidak boleh tidur dengan Queen! Ini melanggar kode etik!" seru Queen dengan wajah memerah padam, tangannya sibuk menarik kerah gaun tidur pink-nya ke atas seolah sedang melindungi diri dari predator.
Luca mendengus, lalu menyugar rambutnya ke belakang. "Kode etik? Kau bicara seperti pengacara tua. Dengar ya, Kelinci Pink. Ini kamarku. Ini tempat tidurku. Kau yang semalam tidur seperti mayat di sofa ruang kerjaku, dan karena Bobby terlalu malas membawamu ke paviliun, aku yang membawamu ke sini."
"Tapi kenapa harus satu ranjang, Luca?!"
"Karena ranjang ini luasnya bisa menampung lima orang sepertimu, dan aku terlalu lelah untuk memindahkanmu lagi," jawab Luca datar. "Lagi pula, siapa yang semalam memeluk jasku sambil bergumam enak sekali? Kau bahkan meneteskan air liur di lenganku."
Wajah Queen semakin memerah. Apa? Aku memeluk jasnya? Aku ngiler? Tidak mungkin! Aku adalah Alena Alexandria yang elegan!
"Itu... itu fitnah! Queen tidak mungkin mengiler!" protesnya sambil mengusap sudut bibirnya dengan panik.
"Kenapa kau berteriak seolah-olah aku baru saja melakukan kejahatan internasional?!" Luca bangkit dari tempat tidur, memperlihatkan tubuhnya yang hanya mengenakan kaus oblong hitam, menonjolkan otot-otot yang membuat Queen sempat tertegun sesaat sebelum tersadar kembali.
"Kau itu hanya bocah lima tahun yang pipinya lebih besar dari otaknya. Apa yang kau harapkan? Aku naksir padamu? Cermin di kamar mandi itu cukup besar untuk menyadarkanmu," lanjut Luca datar.
Queen mendesis kesal. Benar, ia lupa lagi. Di mata dunia, dia hanyalah bocah kecil. Tapi egonya sebagai wanita dewasa tidak bisa menerima ini begitu saja.
"Meskipun Queen masih kecil, Queen punya harga diri! Om tidak boleh sembarangan memeluk orang!"
"Aku tidak memelukmu, aku hanya memastikan kau tidak jatuh dari kasur karena kau tidur seperti gasing," balas Luca tajam. Ia melangkah mendekati Queen, membuat bocah itu mundur teratur sampai punggungnya membentur tiang tempat tidur.
Luca lalu membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Queen. "Dan satu hal lagi. Jangan pernah menjerit di telingaku pagi-pagi lagi. Atau aku akan benar-benar mengirimmu ke lubang cacing yang aku bicarakan semalam, pipi bakpao," bisiknya.
Entah kenapa menjahili Queen membuat hati Luca yang kosong terasa sedikit terisi.
Queen mengerucutkan bibirnya, matanya yang besar berkaca-kaca secara otomatis, sebuah senjata biologis dari tubuh bocah ini yang mulai ia pelajari kegunaannya.
"Luca jahat... Queen kan cuma kaget."
"Jangan mulai dengan mata air itu," Luca memutar bola matanya.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Bobby masuk dengan wajah ceria sambil membawa nampan berisi susu cokelat dan roti panggang.
"Selamat pagi, Tuan Muda! Selamat pagi, Queen! Wah, pemandangan yang indah sekali ya, tidur bersama seperti kakak dan—"
Bobby terdiam. Ia melihat Luca yang sedang membungkuk di depan Queen yang tampak gemetaran.
"Luc, kau tidak sedang mencekik bocah itu di pagi hari, kan?" tanya Bobby ragu.
"Dia menjerit di telingaku. Aku hanya sedang memberinya pelajaran tentang volume suara," jawab Luca sambil berdiri tegak kembali.
"Queen kaget, Bobby! Luca ini tidur sambil memeluk Queen! Queen takut diapa-apain!" lapor Queen dengan nada manja yang dibuat-buat, sengaja ingin memojokkan Luca.
Bobby langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak menatap Luca.
"Luc... kau benar-benar merindukan Lily ya? Sampai-sampai kau menjadikan Queen sebagai guling?"
"Diam kau! Ambilkan dia makanannya dan bawa dia keluar dari kamarku!" bentak Luca, wajahnya tampak sedikit salah tingkah.
Queen menjulurkan lidahnya ke arah Luca saat remaja itu berbalik menuju kamar mandi. Ia merasa menang satu poin. Namun, saat ia melihat bayangannya di cermin lemari pakaian Luca, ia kembali menghela napas panjang.
"Tuhan, tolong percepat metabolisme tubuh ini. Aku ingin segera tinggi dan punya kaki yang bisa menendang wajah angkuh itu tanpa harus berakting seperti bayi," batin Queen kesal.
Ia menyambar roti panggang dari nampan Bobby dan menggigitnya dengan penuh dendam, seolah roti itu adalah kepala Luca Frederick.
"Pelan-pelan, Queen. Nanti tersedak," kata Bobby lembut sambil mengusap rambut Queen. "Luca memang begitu, hatinya beku seperti es di kutub, tapi sebenarnya dia tidak sejahat itu."
"Dia jahat, Bobby. Dia bilang pipi Queen seperti bakpao," adu Queen sambil terus mengunyah.
"Hahaha, tapi memang mirip sih!"
"BOBBY!"
Di dalam kamar mandi, di balik kucuran shower, Luca menyentuh telinganya yang masih berdenging. Ia terdiam sejenak, membayangkan reaksi histeris Queen tadi.
Ada sesuatu yang sangat aneh pada bocah itu. Reaksinya saat terbangun di samping pria bukanlah reaksi ketakutan anak kecil, melainkan reaksi... seorang wanita.
"Siapa sebenarnya kau, bocah?" gumam Luca pada dirinya sendiri.
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁