Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Cangkang yang Menolak Retak
Dedaunan kering berbisik di bawah dekapan bayang-bayang hutan yang lembap.
Di sana, di atas tanah yang tak pernah memilih siapa yang dipijaknya, seorang bayi tergeletak. Ia dibuang, ditinggalkan seperti sampah yang tak lagi memiliki nilai guna.
Namun, ada satu keganjilan: tidak ada tangisan. Bayi itu hanya menatap dedaunan yang bergoyang dengan mata yang terlampau jernih untuk seseorang yang baru saja dikhianati oleh dunia.
Seolah-olah, di usianya yang masih merah, ia sudah memahami satu kebenaran pahit: ia adalah eksistensi yang tidak diinginkan.
Maut datang dalam bentuk raungan rendah dan taring yang berkilat. Seekor harimau mendekat, mencium bau daging segar.
Namun, sebelum maut sempat mengatupkan rahangnya, sebuah bayangan melintas. Xinjiang, seorang pria tua yang sisa hidupnya diabdikan pada kesunyian, menyelamatkan nyawa kecil itu. Dulu dia seorang pendekar cukup kuat, tapi setelah kehilangan istri dan anaknya ia memutuskan untuk berhenti dan menua.
Walaupun begitu ia memiliki keinginan untuk hidup tenang dan mewariskan tekadnya dalam mencapai keabadian lewat orang lain.
Tujuh tahun berlalu, namun keheningan bayi itu tidak pernah benar-benar pergi.
"Tian Shan, mengapa kau tidak pergi ke desa untuk bermain dengan anak-anak seusiamu?" tanya Xinjiang. Suaranya serak, membawa beban usia yang panjang.
Anak berusia tujuh tahun itu tidak menoleh. Ia duduk di pinggir tebing, matanya yang kelabu tertuju pada langit yang tak berujung. Angin meniup rambut hitamnya, tapi ia bergeming.
"Aku hanya merasa seperti cangkang kosong, Guru," ucap Tian Shan datar. Nada suaranya tidak memiliki intonasi, seolah emosinya telah terkubur di bawah lapisan es yang tebal. "Dunia ini terlalu berisik, tapi di dalam sini... rasanya sangat hampa. Aku seperti raga yang berjalan tanpa nyawa di dalamnya."
Xinjiang menghela napas panjang. Ia tahu anak ini adalah keajaiban sekaligus kutukan. Bakat kultivasinya melampaui logika; ia mampu menyerap energi alam seolah-olah ia adalah bagian dari alam itu sendiri.
Tian Shan juga sudah dapat berpikir lebih dewasa, kata-katanya tidak seperti anak kecil. Ia memperlajari itu semua dari buku, memerhatikan kehidupan manusia saat turun gunung, dan belajar dari gurunya.
Namun, di balik kekuatannya, terdapat retakan emosional yang dalam. Tian Shan tidak memiliki jangkar. Ia kehilangan arah karena ia tidak tahu untuk apa ia ada.
"Tian Shan," Xinjiang mendekat, meletakkan tangan keriputnya di bahu mungil yang kaku itu. "Sebuah bejana hanya bisa diisi jika ia kosong. Kehampaanmu bukanlah kutukan, melainkan ruang bagi sesuatu yang lebih besar dari sekadar eksistensi manusia biasa. Jangan mencari siapa dirimu di masa lalu, tapi ciptakanlah siapa dirimu di masa sekarang."
Tian Shan terdiam. Kata-kata itu menggantung di udara, namun tidak mampu menembus kabut di dalam hatinya.
Baginya, kata bijak hanyalah deretan huruf yang tidak memiliki rasa. Jika orang tua yang melahirkannya saja tidak menginginkan kehadirannya, lantas ruang kosong apa yang perlu ia isi?
"Apa sebenarnya tujuan hidup ini?" gumam Tian Shan pelan, hampir tertelan angin. Ia berdiri, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban. "Aku akan berlatih."
Xinjiang menatap punggung kecil itu dengan tatapan getir. Ia khawatir kehampaan itu suatu saat akan berubah menjadi kegelapan yang melahap segalanya.
Seseorang yang tidak memiliki alasan untuk hidup, seringkali menjadi orang yang paling berani untuk menghancurkan kehidupan.
"Kau mau ke mana, Shan?"
"Hutan." jawabnya singkat, tanpa menoleh.
Di kedalaman hutan, di tempat di mana Xinjiang pertama kali menemukannya, Tian Shan berdiri tegak.
Ia menatap tanah yang lembap itu—tempat di mana ia dibuang. Ia tahu cerita itu dari gurunya.
"Kenapa?" hanya satu kata itu yang keluar.
Tian Shan jarang bicara. Baginya, kata-kata adalah pemborosan energi. Bahkan sekadar bernapas pun terasa melelahkan.
Kelelahan yang ia rasakan bukan berasal dari otot, melainkan dari jiwa yang jenuh akan rutinitas bernapas tanpa makna.
Ia pun duduk di atas sebuah batu besar yang dingin. Melipat kakinya, menutup mata, dan mulai menarik napas dalam.
Ia mengalirkan Qi melalui jalur meridiannya, memaksanya masuk ke dalam Dantian. Hanya dalam meditasi, saat egonya menghilang dan ia menyatu dengan energi alam, rasa lelah itu sedikit memudar.
Namun, ketenangan itu terkoyak. Suara ranting patah diikuti geraman rendah yang menggetarkan udara.
GRRRRRRHHH!
Sesosok predator besar muncul dari balik semak. Harimau yang sama—atau mungkin musuhnya—kembali untuk menagih nyawa yang tertunda tujuh tahun lalu.
Tian Shan membuka mata. Tidak ada ketakutan. Tidak ada keraguan. Hanya ada kilatan dingin yang menyambar.
Tanpa sepatah kata pun, ia melesat maju. Bukan untuk bertahan hidup, melainkan untuk melampiaskan niat membunuh yang tertimbun di balik kehampaannya.