Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Buruk
Beberapa hari setelah kencana pertamanya dengan Alvaro, ritme hidup Aurellia kembali ke suasana yang sangat familiar baginya.
Bergantian shift. Mesin kopi berfungsi. Pesanan datang dengan cepat. Memberikan senyuman kepada pelanggan. Keletihan yang dipendam hingga jam pulang.
Hari itu, kafe lebih padat dibanding biasanya. Hampir semua kursi terisi, antrean semakin panjang, dan bunyi percakapan bercampur dengan dentingan cangkir. Aurellia berdiri di belakang bar, tangannya bergerak secara otomatis—menuang, mengaduk, menyajikan—seolah tubuhnya sudah terbiasa dan tidak memerlukan pemikiran lebih lanjut.
Hingga tiba saat kecil yang merusak suasana.
Seorang pria tampak berdiri di dekat kasir, menunggu pesanannya. Ponselnya terbuka, dan layar menghadap Aurellia tanpa sengaja. Notifikasi muncul. Nama seorang wanita. Foto profil yang tampak akrab untuk ukuran seorang teman.
Aurellia tidak berniat melihat. Namun, matanya sudah terlanjur memandang.
Dan dadanya seketika terasa kaku.
Tangannya bergetar sedikit saat meletakkan cangkir. Napasnya mulai terasa berat. Suara di kafe mendadak meredup, seolah-olah ia berada di tempat yang berbeda.
Kenapa ini terjadi sekarang? pikirnya dengan panik. Kenapa kenangan ini harus muncul lagi?
Momen itu menghampirinya tanpa diundang.
Bukan dalam bentuk gambar yang jelas, tetapi sebagai perasaan—rasa yang pernah menghantamnya dengan keras sehingga ia perlu waktu yang lama untuk pulih.
Saat itu, ia juga pernah sepenuhnya percaya.
Saat itu, ia juga merasa nyaman.
Dan saat itu, semua hancur hanya karena satu kebenaran yang ia temukan secara tidak sengaja.
“Aurellia? ”
Suara Nindy menyadarkannya.
“Hah? ” Aurellia berkedip cepat.
“Pesanan meja tiga,” ujar Nindy pelan. “Lo baik-baik aja? ”
“Iya,” jawab Aurellia terlalu cepat. “Baik. ”
Tapi nyatanya, ia tidak baik.
Ia menyelesaikan shift dengan senyum yang terpaksa. Tawa pelanggan terdengar seperti gema yang hampa. Setiap pasangan yang duduk berhadapan membuat perutnya terasa tidak nyaman.
Kenapa aku masih ngerasa terganggu? batinnya. Ini udah lama berlalu.
Ketika jam kerja hampir usai, Aurellia melihat sosok yang mulai ia kenali dari jauh.
Alvaro.
Ia berdiri di luar kafe, menunggu, tidak masuk, seperti biasa. Tidak ingin mengganggu. Hanya ada di sana.
Entah mengapa, melihatnya di situ membuat dadanya terasa sedikit lebih lega dan juga lebih rentan.
Setelah keluar, Aurellia mendekatinya.
“Hai,” sapanya.
“Hai,” balas Aurellia, suaranya lebih pelan dari biasanya.
Alvaro segera merasakan perbedaan itu. “Capek? ”
Aurellia mengangguk.
“Mau duduk bentar? ” tawarnya.
Mereka duduk di bangku kecil dekat jendela luar. Tanpa kamera. Tanpa rencana. Hanya dua orang dan malam yang perlahan tiba.
Beberapa menit mereka terdiam.
Aurellia memainkan jarinya sendiri. Alvaro tidak mendesak. Ia menunggu.
“Aku kepikiran sesuatu hari ini,” kata Aurellia akhirnya.
Alvaro menoleh. “Tentang apa? ”
Tentang masa lalu, ingin ia jawab. Tentang luka lama. Tentang ketakutan yang tiba-tiba muncul padahal ia sedang bahagia.
Tapi kata-kata itu sulit untuk diucapkan.
“Aku pernah… diselingkuhin,” ucapnya akhirnya, pelan.
Alvaro tidak bereaksi secara berlebihan. Tidak kaget. Tidak menyela. Ia hanya mengangguk perlahan, memberi ruang untuknya.
“Dan hari ini,” lanjut Aurellia, “entah kenapa keinget lagi. Padahal aku pikir udah bisa ngelupain. ”
“Kenangan sering muncul tiba-tiba,” ucap Alvaro pelan. “Apalagi yang ninggalin bekas. ”
Aurellia menunduk. “Aku takut itu memengaruhi kita. ”
Pernyataan itu menggantung di udara.
Alvaro menarik napas dengan lembut. “Takut gimana? ”
“Takut kalo aku jadi orang terlalu curiga,” jawab Aurellia dengan jujur. “Takut kalo aku ngerusak sesuatu yang sebenernya baik. ”
Alvaro mengalihkan pandangannya sepenuhnya ke arahnya. "Aku lebih khawatir kalo kamu simpan sendirian. "
Aurellia menatapnya dengan intens. Matanya tampak berkilau sedikit.
"Aku nggak mau kamu ngerasa harus jadi sempurna," lanjut Alvaro. "Kalo ada bagian dirimu yang masih terluka, aku pengen tau. Bukan buat maksa kamu cepet sembuh, tapi biar aku nggak ngelakuin kesalahan. "
Pernyataan itu membuat beban di bahu Aurellia terasa lebih ringan.
"Dulu," ucapnya pelan, "aku merasa tolol. Karena aku sepenuhnya percaya. "
Alvaro menggelengkan kepala. "Percaya itu bukan suatu kebodohan. "
"Terkadang begitu rasanya. "
"Kesalahan bukan ada di kamu," kata Alvaro dengan tegas namun lembut. "Yang salah itu mereka yang menyia-nyiakan kepercayaan itu. "
Aurellia menutup matanya sejenak. Napasnya terasa bergetar.
"Aku nggak minta kamu buat berjanji apa pun," ujarnya. "Aku cuma pengen jujur. "
Dan kejujuran itu ternyata memberi rasa lega.
Alvaro sedikit menggeser posisinya mendekat, tetapi tidak menyentuhnya. "Makasih ya udah berbagi cerita. "
Aurellia memberikan senyuman kecil. "Aku pikir kamu bakal merasa nggak nyaman. "
"Enggak kok," jawab Alvaro. "Justru aku merasa… kamu percaya sama aku. "
Aurellia mengangguk. "Aku percaya. "
Kata itu keluar dengan pasti.
Alvaro tidak langsung mengajak pulang malam itu. Ia malah berdiri dan mengeluarkan telepon genggam dari saku jaketnya.
“Boleh? ” tanyanya sambil sedikit mengangkat layar ponsel.
Aurellia menoleh. “Boleh apa? ”
“Motret kamu,” jawab Alvaro dengan jujur. “Nggak buat apa-apa. Cuma… pengen aja. ”
Aurellia ragu sejenak, kemudian mengangguk kecil. “Jangan yang aneh-aneh ya. ”
Alvaro tersenyum. “Aku motret yang biasa aja. ”
Ia meminta Aurellia untuk berdiri di dekat jendela luar kafe. Cahaya kuning dari dalam memantul lembut di kaca, menciptakan garis-garis cahaya yang hangat. Alvaro tidak mengatur pose. Tidak meminta senyum. Ia hanya melangkah mundur sedikit, mengamati.
“Liat ke sana,” katanya pelan. “Iya, kayak gitu. ”
Klik.
Aurellia menatap kosong ke arah jalan, hujan yang tersisa masih membasahi aspal. Di balik kamera, Alvaro melihat sesuatu yang tenang namun rapuh—yang membuatnya berhenti sejenak sebelum menekan tombol lagi.
Klik.
“Aku jelek nggak? ” tanya Aurellia, setengah bercanda.
“Enggak,” jawab Alvaro cepat. “Kamu keliatan… natural. ”
Aurellia tersenyum tipis. Bukan senyum lebar, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih lega.
Ketika mereka asyik, pintu kafe terbuka. Nindy yang merupakan teman satu shift Aurellia keluar membawa tas, terkejut melihat mereka.
“Eh? ” Nindy berhenti. “Aku ganggu ya? ”
Aurellia langsung menggeleng. “Enggak. Baru selesai juga. ”
Nindy melirik Alvaro dan kamera di tangannya. “Oh, ini pacar kamu ya? ”
Alvaro tertawa kecil. “Iya. ”
Nindy mendekati mereka, matanya bersinar. “Boleh liat? ”
Alvaro menunjukkan hasil foto di layar. Nindy membungkuk sedikit, lalu menutup mulutnya sendiri.
“Wah,” ujarnya. “Keren banget. ”
Aurellia mengernyit. “Serius? ”
“Serius. Ini bukan keren banget lagi. Ini bagus kayak di film,” jawab Nindy dengan percaya diri.
Aurellia tertawa kecil—tawa yang lebih lepas dari sebelumnya. Alvaro menangkap momen itu dan refleks menekan tombol lagi.
Klik.
“Eh! ” Aurellia protes. “Kenapa curi-curi? ”
“Justru ini yang menarik,” kata Alvaro.
Nindy menyenggol bahu Aurellia. “Tuh kan. Udah gue bilang. ”
Beberapa menit mereka berbincang ringan. Tentang pekerjaan. Tentang kelelahan. Tentang pelanggan aneh hari ini. Hal-hal kecil yang perlahan mengurangi beban di dada Aurellia.
“Gue pulang dulu ya,” kata Nindy akhirnya. “Kalian hati-hati. ”
Setelah Nindy pergi, Aurellia tampak lebih santai. Bahunya tidak setegang sebelumnya. Napasnya lebih dalam.
“Makasih,” katanya pelan kepada Alvaro.
“Buat apa? ” tanya Alvaro.
“Buat nggak maksain aku tetap ceria,” jawab Aurellia dengan jujur. “Tapi tetap ada. ”
Alvaro memandangnya, lalu menyimpan teleponnya. “Kadang, hal yang membantu adalah bukan nasihat. Tetapi dengan menemani. ”
Aurellia mengangguk. Dan malam itu, saat mereka berjalan pulang berdampingan, Aurellia menyadari satu hal sederhana:
Ia tidak merasa perlu menutupi luka agar dicintai.
Dan itu perlahan membuatnya pulih.