NovelToon NovelToon
Sistem Dua Kekasih

Sistem Dua Kekasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Teen School/College / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yapari

Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.

Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.

Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?

Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.

Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — Gadis Tak Berguna —

Ketika jantungku sedang berdenyut hebat, sebuah sentuhan lembut muncul. Asalnya dari seorang gadis, dan dia menopang tubuhku tanpa peduli dengan beratnya.

Tangannya kemudian mencengkeram lenganku dengan kuat, tapi tidak menyakitkan. Justru sebaliknya, rasanya begitu hangat. Sangat kontras dengan telapak tanganku sendiri yang dingin oleh keringat.

Aku terhuyung sedikit, lalu berhenti sepenuhnya. Napasku masih tidak beraturan, dadaku naik turun seperti menolak bekerja sama.

"Aku… tidak apa-apa."

Suaraku keluar sendiri meski terdengar tidak meyakinkan.

Namun, gadis ini tidak langsung melepaskanku. Aku bisa merasakan tekanan jari-jarinya menyesuaikan. Dia menunggu agar aku bisa berdiri sendiri.

Setelah cukup lama tertunduk, akhirnya kepalaku terangkat. Kali ini aku bisa melihat penampilannya dengan jelas.

Gadis ini berdiri di hadapanku, sedikit lebih pendek dariku. Rambut hitamnya dipotong sebahu, tampilannya lumayan rapi. Ujung-ujung rambutnya bergerak pelan tertiup angin.

Untuk wajahnya, sebenarnya biasa saja... bukan tipe yang langsung menarik perhatian. Tapi entah kenapa, matanya terlihat begitu jernih. Seolah dia benar-benar memperhatikanku, bukan sekadar basa-basi.

Aku pun menarik napas pendek, lalu mengembuskannya perlahan. Sedikit demi sedikit, rasa sesak di dadaku mereda, meski denyut jantungku masih tidak beraturan.

"Wajahmu pucat."

Dia mengatakan sesuatu. Nadanya datar, tapi tidak dingin.

"Maaf, aku merepotkanmu."

"Itu tidak penting sekarang. Kau harus istirahat, ikuti aku!"

Tubuhku bergerak tanpa sadar. Sebelum sempat menolak ajakannya, dia sudah menarik lenganku sedikit. Dia tidak memaksa, tapi jelas mengarahkanku.

Kami berjalan melewati jalur batu yang membelah area taman sekolah. Tempat ini cukup tersembunyi dari jalur utama.

Pepohonan rindang berdiri berjajar, dan bangku-bangku kayu diletakkan dengan jarak teratur, menghadap hamparan rumput hijau.

Udara di sini lebih sejuk. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan daun basah.

Aku pun duduk di salah satu bangku. Gadis ini baru melepaskan pegangannya setelah memastikanku duduk dengan stabil.

Namun, dia tidak ikut duduk di sebelahku.

"Kau bisa menunggu sebentar, kan?"

"Menunggu apa?"

"Tunggu saja, aku akan kembali!"

Belum sempat memahami maksudnya, dia malah pergi menjauh dan memintaku menunggunya.

Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang, jadi aku hanya bersandar ke bangku taman lalu melamun.

Aku merenungkan sedikit kilas balik malam itu, dan ternyata aku masih bisa merasakan kengeriannya. Rasanya seperti mengejar tapi kenyataannya malah dikejar.

Intinya begini, aku tidak bisa mengejar sesuatu karena pasti akan tertinggal.

Tidak, bukan begitu.

Justru karena aku lebih unggul satu putaran, rasa takut tertinggal muncul.

Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja. Semua kengerian itu sudah berlalu.

Aku terus meyakinkan diriku sendiri untuk bisa melangkah maju.

"Sudah baikan?"

Lamunanku buyar begitu mendengar suara seseorang. Dia juga menempelkan sesuatu ke wajahku, membuat sensasi dingin menjalar dari pipi.

Begitu kepalaku mendongak, tentu saja gadis tadi yang muncul.

"Apa ini?"

"Teh melati dingin. Minumlah, kau akan lebih baik!"

"Terima kasih, berapa harganya?"

"Tidak perlu, itu hanya satu setengah poin."

Aku menerima minumannya karena tidak punya pilihan lain.

Dia lalu ikut duduk di sebelahku, membuat jarak kami hanya berkisar beberapa senti.

Suasananya hening. Memang agak canggung karena kami belum saling kenal. Ingin sekali aku menatapnya sekarang, tapi mencium bau tubuhnya yang manis membuatku menahan diri.

Pada akhirnya, aku membuka minuman teh kalengan ini. Kemudian meneguknya perlahan.

Rasanya manis. Sangat manis begitu masuk ke tenggorokan.

Walaupun gulanya lumayan banyak dan membuat rasa melatinya kalah dominan, aku harus menghargai pemberian ini dengan menghabiskannya.

"Bagaimana perasaanmu?"

"Aku jadi baikan berkatmu."

"Baguslah."

Keadaannya hening lagi.

Gadis ini benar-benar sulit dihadapi. Kami bahkan bicara tanpa saling menatap, karena mataku hanya bisa melirik pemandangan taman.

"Umm..."

Setelah cukup lama saling diam, aku memberanikan diri untuk bicara. Rasanya tidak nyaman jika momen canggung ini berlanjut.

"Hei."

Aku mulai memanggilnya pelan. Pandanganku tidak beralih sama sekali.

"..."

Awalnya memang tidak ada jawaban, tapi kemudian suaranya terdengar.

"Ada apa?"

Akhirnya dia merespons.

"Kau murid baru kan?"

"Ya."

"Kalau begitu, sudah punya pasangan atau belum?"

"Kau tidak basa-basi, ya?"

"Maaf, apa kau tidak suka?"

"Tidak, jangan salah paham. Maksudku, harusnya kau bisa cari pasangan yang lebih baik dariku."

"Kenapa begitu?"

"Aku tidak kompetitif. Lagipula, aku tidak keberatan jika pasanganku hasil diacak."

Ah, tidak.

Mendengar kata-katanya, sesuatu yang hangat menggetarkan hatiku. Jantungku berdetak kencang, dan ini berbeda dengan yang tadi.

Jari tanganku mengepal erat. Supaya pembicaraan bisa berlangsung lama, aku harus memilih kata-kata yang tepat.

Kemudian, aku meletakkan teh kalengan ini di samping pahaku, lalu bersiap membuka mulut.

"Aku Naruse Takashi."

"Takashi-kun, ya? Kenapa kau memperkenalkan diri?"

"Be-begini..."

Suaraku terbata-bata. Aku malah gugup padahal tidak sedang berhadapan.

Kenapa rasanya menyesakkan begitu membayangkan gadis ini tidak berpasangan denganku?

Aku tidak ingin itu terjadi. Bagaimanapun, dia adalah yang pertama. Gadis pertama yang menyadari keberadaanku, yang bahkan menjadi penolongku.

Setelah mengumpulkan keberanian untuk yang kedua kalinya, pandanganku kini mengarah tepat ke gadis ini. Lalu, wajahku perlahan ikut mendekat.

"Eh? Takashi-kun, kau terlalu dekat!"

"Aku belum tahu namamu."

"Namaku, ya?"

Aku mengangguk pelan.

"Elena Miyazaki."

"Miyazaki-san?"

"Ya."

Mata kami memang bertemu, tapi ekspresi wajahnya begitu minim. Aku tidak bisa menebak perasaannya, terlebih lagi nada bicaranya konsisten datar.

"Biar kuberitahu satu hal, aku ini tidak punya kemampuan. Benar-benar gadis biasa yang tak berguna."

"Kenapa bicara begitu?"

"Karena itu fakta."

Dia tidak sedang marah, kan? Atau dia malah risih kepadaku?

Dia mengatakan kalau dirinya tidak ada gunanya. Tapi, apa yang sebenarnya dia pikirkan?

Posisiku sangat dekat dengannya. Bau manisnya semakin pekat tercium, membuat hidungku menahan napas.

Seketika aku teringat Zona Transisi, ruangan dingin tanpa sekat. Jika hari ini aku tidak menemukan pasangan, maka aku akan tidur di sana, bukan di asrama.

"Kau bisa menolak ini kalau tidak mau, Miyazaki-san."

"Apa itu?"

Ini kesempatan yang bagus, dan aku sudah memikirkannya matang-matang.

Aku pun memejamkan mata sebentar, lalu membukanya kembali.

"Jadilah pasanganku!"

Suaraku lumayan melengking sampai kepalanya mundur beberapa senti. Tak lama, dia membuka mulutnya.

"Hah? Kau bercanda? Padahal sudah kubilang aku ini ti—"

"Tidak berguna? Kau kira aku peduli dengan itu? Lalu tentang gadis biasa, memangnya kenapa?"

"I-itu..."

Dia mulai goyah. Nada suaranya terbata-bata, walaupun wajahnya tetap minim ekspresi.

"Miyazaki-san, apa kau sudah punya seseorang?"

"Tidak ada."

"Kalau begitu... tidak ada salahnya berpasangan denganku, kan?"

"Takashi-kun, kenapa kau begitu keras kepala?"

"Kupikir kita punya beberapa kesamaan. Aku memang tidak tahu kedepannya akan seperti apa, tapi yang jelas... aku menginginkanmu, Miyazaki-san!"

Akhirnya aku meluapkan perasaanku. Bukan pengakuan cinta yang menggebu-gebu, mungkin lebih ke pengajuan klaim kepemilikan.

Mendengar itu, gadis yang sekarang kupanggil Miyazaki terdiam. Mulutnya ingin bergerak, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.

"Sesuai kataku tadi, kau bisa menolak kalau tidak mau. Paling tidak ini yang bisa kukatakan padamu."

Aku memang menginginkannya. Namun, aku tidak bisa memaksanya. Keputusan akhir tetap ada di tangan Miyazaki.

Kami masih bertatapan satu sama lain. Dia masih diam. Sepertinya ada banyak hal yang dipikirkannya, dan aku jelas mengerti.

Sejauh ini aku hanya mengandalkan tindakan impulsif. Dan aku bisa maklum seandainya dia menolakku mentah-mentah.

Tapi tak lama kemudian, sebuah seringai tipis terukir di wajahnya. Memang hanya tipis, tapi cukup untuk membuatku terpaku.

Ternyata ketika ekspresinya berubah sedikit, wajahnya juga tampak lebih manis.

"Baiklah, Takashi-kun. Haruskah kita mendaftar sekarang?"

Mataku langsung berbinar ketika tahu bahwa dia menerimaku.

"Ya, mohon kerjasamanya mulai sekarang!"

Rasanya begitu membahagiakan, sampai-sampai aku tak sadar sudah memegang kedua tangannya.

Ah, gawat. Aku malah membuat kesan buruk di awal.

1
Ftomic
rill 3 season ga ni?
Yapari Napa: semoga/Bye-Bye/
total 1 replies
Apa Cuba
makan nih jejak
🦊 Ara Aurora 🦊
Eh nggak jadi deh mau jam tangan kek gitu /Frown/ ribet menurutku aturan jam tangan nya terlalu banyak aturannya /Sob//Sob/
🦊 Ara Aurora 🦊
Jam tangan yg unik itu thor gue juga mau jam tangan kek gitu donc thor❓😭 /Grievance/thor balik mampir di ceritaku yg berjudul: Lampu Ajaib & Cinta Albino 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊
kok seperti ribet itu yah... Masa di tempatkan Zona Transisi tdk ada tempat tidur pribadi... suhu di kontrol pada 16°C ... Pencahayaan tdk dimatikan penuh... Total Kapasitas 150 murid dalam satu ruangan gitu maksudnya? 🤔 aish ribetnya terdengar sulit 🙃😭
🦊 Ara Aurora 🦊: Waduh... wkwkwk 😂😂
total 3 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Mmm.. Aish belum ada sih bisa di koment bagian ini thor... Gue udah mampir yah thor 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊: Sama2 kak 😊
total 2 replies
Ftomic
Very interesting. Sistemnya di dunia nyata dan realistis, trus premisnya oke. Keep it up bro!
Yapari Napa: wah makasih ya reviewnya/Smirk/
total 1 replies
Apa Cuba
alurnya kek classroom of the elite ni cuma versi tinggal bareng cewek
Ftomic: mana pacingnya sama lagi agak lambat
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!