NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembah kematian 9

Lembah Kematian bagian terdalam kini tidak lagi menyerupai sebuah lembah. Wilayah itu kini memiliki ribuan lubang yang bervariasi hingga terlihat seperti keju hitam raksasa.

Langit yang sebelumnya bewarna merah mendung kini berubah menjadi hitam pekat, tertutup oleh miliaran ton debu vulkanik dan abu sisa pembakaran esensi pertarungan dua Divine Beast.

Awan-awan di atas tidak menurunkan air hujan biasa, melainkan hujan asam.

Tetesan-tetesan hujan berwarna kuning kehijauan turun rintik-rintik, mendesis saat bersentuhan dengan bebatuan basal yang retak, menciptakan uap beracun yang menggenang di udara. Kawah-kawah besar berukuran kota yang tercipta dari benturan antara Kirin Pilar Langit dan Naga Api Hitam kini terisi oleh genangan darah campuran—biru menyala dan hitam pekat—yang melepaskan radiasi energi murni namun sangat mematikan.

Di tengah lanskap neraka tersebut, sosok setinggi 2,1 meter berjalan dengan langkah yang teratur.

Hujan asam jatuh menimpa bahu dan punggung Lu Daimeng yang telanjang, namun tetesan itu menguap bahkan sebelum sempat menyentuh kulit putih-nya. Lapisan Dark Null tipis menyelimuti tubuhnya bak jubah yang tak terlihat, menelan segala bentuk korosi alam.

Lu Daimeng berjalan melewati bangkai Kirin yang kehilangan kepalanya, pandangannya lurus menuju sosok raksasa yang terbaring tak berdaya tak jauh dari sana.

Sang Naga Hitam Ranah Kuno Tahap 6.

Napas naga itu sangat pelan, nyaris tak terlihat, sebuah koma fatal yang mengambang di antara garis tipis kehidupan dan kematian. Karena kerusakan organ akibat pertarungan dan pembakaran Esensi Kuno telah membuat naga raksasa ini sepenuhnya lumpuh.

Lu Daimeng berhenti di dekat leher sang naga.

Mata Triple Pupil ungu di wajahnya berputar dengan kalkulasi yang sangat dingin.

"Mari kita memanen dua Divine Beast kuno," batin Lu Daimeng, menganalisis nilai tukar di kepalanya. "Kirin Kuno dan Naga Kuno, aku sangat beruntung."

Logika paling murni dari seorang predator adalah memanen mangsa saat mereka tak berdaya.

Lu Daimeng mengangkat tangan kanannya.

SREET.

Cairan logam merembes dari pori-porinya, memadat dalam sekejap menjadi Pedang Jiwa Surgawi berwarna hitam legam. Dark Null dan Aura Naga mulai berkumpul di ujung mata pedang, siap untuk melakukan satu tebasan eksekusi yang akan menembus tengkorak sang naga hingga ke lautan kesadarannya. Jika dia membunuhnya sekarang, dia akan mendapatkan inti monster Ranah Kuno Tahap 6 dan Tahap 5 secara bersamaan, dan akan meningkatkan kekuatan tempurnya berkali-kali lipat.

Lu Daimeng mengayunkan pedangnya ke atas, bersiap untuk menebas.

Namun, tepat pada detik bilah pedang itu membelah udara, sebuah anomali biologis yang sangat ekstrem menghantamnya.

"Ugh...!"

Lu Daimeng terhuyung mundur. Pedangnya tertahan di udara.

Rasa sakit yang luar biasa tajam meledak di dalam tengkoraknya, seolah-olah ribuan jarum es ditusukkan langsung ke korteks serebralnya. Pandangannya menjadi ganda.

Lebih buruk dari itu, di dalam rongga dadanya, Jantung Naga yang selama ini menjadi sumber vitalitasnya mendadak berontak. Jantung itu berdetak dengan ritme yang kacau balau, mengirimkan gelombang penolakan, keputusasaan, dan rasa sesak yang mencekik paru-parunya. Emosi asing—duka dan kengerian seekor anak yang melihat ibunya di ambang maut—meresap secara paksa ke dalam jaringan saraf Lu Daimeng.

Darah hitam di nadinya terasa mendidih tak terkendali.

Lu Daimeng menancapkan pedang surgawinya ke tanah untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas. Dia memuntahkan seteguk asam lambung bercampur darah hitam.

"Sialan..." umpat Lu Daimeng dalam pikirannya, giginya bergemeretak menahan sakit kepala yang merobek kewarasannya. "Resonansi genetik... Ikatan darah. Jantung naga ini bukan sekadar organ pemompa. Ia memiliki jejak jiwa dan insting.

Otak Manusia-nya bekerja cepat mencari akar masalah.

Dia baru saja berevolusi. Dia baru saja kehilangan jantung manusianya dan kini sepenuhnya bergantung pada Jantung Naga dan sembilan Anti-Dao yang baru terbentuk. Keseimbangan tubuhnya masih rapu dan baru saja stabil.

Jika dia memaksakan diri membunuh sang "Induk" secara langsung, trauma genetik yang dihasilkan oleh Jantung Naga di dadanya akan memicu reaksi penolakan organ tingkat fatal.

"Jantung ini mungkin akan menolak untuk berdetak jika aku menebas leher naga itu," analisis Lu Daimeng, senyum kelamnya hilang, digantikan oleh ekspresi serius. "Atau lebih buruk, bentrokan antara dua kehendak mematikan di otakku dan insting bertahan di jantungku akan membuat sembilan singularitasku lepas kendali. Dan menelanku dari dalam."

Selain itu, Lu Daimeng baru saja menyadari satu fakta lain: dia sendiri belum pulih seratus persen. Dampak dari serangan petir Kirin sebelumnya, membuat fondasinya sedikit goyah. Memaksakan pembunuhan ini akan sangat beresiko.

Secara perlahan, rasa sakit di kepala dan dadanya mulai mereda ketika niat membunuhnya ditarik kembali.

Lu Daimeng menegakkan tubuhnya, menghela napas panjang yang menghembuskan uap panas ke udara dingin.

Dia membiarkan pedang hitamnya mencair dan masuk kembali ke dalam kulitnya.

"Kau menang untuk hari ini, 'Biologis' sialan," gumamnya apatis, menatap mata naga yang tertutup rapat. "Lagipula, seekor Naga Hitam Ranah Kuno sebagai tunggangan tempur yang mematikan... dia adalah aset yang terlalu berharga untuk dihancurkan hanya karena sedikit ketakutan. Aku akan menundukkan kesadaranmu nanti, setelah otak dan jantungku stabil kembali."

Lu Daimeng berbalik, memutuskan untuk membiarkan naga itu hidup dalam koma untuk sementara waktu.

Namun, Lembah Kematian tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk bersantai di atas meja perjamuannya.

Krrrrr... Ssshhh... Grrrr...

Suara itu datang perlahan pada awalnya. Seperti bisikan daun kering yang terinjak. Namun dalam hitungan detik, suara itu berubah menjadi gemuruh yang menggetarkan kerikil di bawah kaki Lu Daimeng.

Lu Daimeng tidak perlu menoleh untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Hidungnya mencium bau busuk air liur, belerang, dan darah yang menggenang. Telinganya menangkap suara ribuan cakar yang menggores bebatuan basal.

Lembah Kematian adalah ekosistem yang dibangun di atas hukum rimba paling absolut: yang kuat memakan yang lemah, dan yang lemah memakan bangkai yang kuat.

Darah dari dua entitas Ranah Kuno telah tumpah ke bumi. Bagi monster-monster di wilayah ini, darah itu bukan sekadar makanan; itu adalah obat dewa, pil keabadian, dan katalis evolusi yang tak ternilai harganya. Bau darah Kirin dan Naga menguar hingga ribuan kilometer, mengundang setiap pemangsa yang kelaparan.

Dari balik tabir hujan asam dan kabut hitam yang menyelimuti sisa-sisa pegunungan, ribuan pasang mata menyala. Merah, kuning, hijau fosfor.

Mereka merayap keluar dari celah-celah bumi, melompat turun dari sisa tebing obsidian, dan terbang merendah di bawah awan.

Kawanan Serigala Tulang Neraka. Kalajengking Ekor Besi sebesar gerobak. Burung Hantu Wajah Hantu yang memekik membelah jiwa. Kera Lengan Baja dengan mata merah menyala.

Jumlah mereka tidak ratusan, melainkan ribuan.

Secara tingkat kekuatan, mereka adalah campuran yang mematikan. Mulai dari pasukan rendahan di Ranah Jiwa Tahap 1, hingga para jenderal kawanan yang memancarkan aura mengerikan di Ranah Roh Tahap 5. Bahkan, di garis paling belakang, tersembunyi dalam bayang-bayang, beberapa pasang mata memancarkan tekanan mutlak dari Ranah Roh Tahap Puncak.

Mereka semua meneteskan air liur. Tatapan mereka tidak tertuju pada Lu Daimeng, melainkan pada bangkai Kirin dan tubuh Naga yang terbaring. Mereka ingin berpesta. Mereka ingin mencabik-cabik daging surgawi itu untuk berevolusi.

Bagi serangga-serangga ini, manusia yang berdiri di dekat hidangan utama hanyalah sebatang ranting yang menghalangi jalan.

"Menarik," bisik Lu Daimeng.

Bagi orang biasa, dikepung oleh ribuan monster dari segala arah adalah momen untuk berlutut dan berdoa sebelum mati tercabik-cabik. Pilihan logis bagi kultivator waras adalah melarikan diri dengan kecepatan penuh, membiarkan gerombolan itu memakan bangkai naga dan Kirin.

Tapi Lu Daimeng tidak pernah membagikan apa yang telah dia klaim sebagai miliknya.

Naga dan Kirin ini adalah investasinya. Ini adalah rampasan perangnya.

"Tidak ada seekor anjing pun yang boleh memakan makanan yang ada di piringku," suara Lu Daimeng tiba-tiba berubah, tidak lagi datar, melainkan bergetar oleh Niat Membunuh murni yang membekukan hujan asam di sekitarnya.

VWOOOOOOSH!

Lu Daimeng melepaskan seluruh auranya. Aura kombinasi menakutkan dari Aura Naga Hitam purba dan pekatnya Ketiadaan (Dark Null). Udara di sekitarnya terdistorsi menjadi warna ungu kehitaman.

Sembilan Anti Dao di tubuhnya berputar dengan kecepatan tinggi.

Bagi monster-monster di barisan depan (Ranah Jiwa), aura predator puncak ini membuat kaki mereka gemetar. Insting mereka menjerit untuk mundur.

Namun, bau darah Ranah Kuno terlalu menggoda. Keserakahan mengalahkan rasa takut.

Seekor Kera Lengan Baja (Ranah Jiwa Puncak) menjadi yang pertama menerjang, melompat setinggi sepuluh meter dengan tinju sebesar gajah yang diarahkan lurus ke kepala Lu Daimeng.

Itu adalah pemicunya.

Seluruh lautan monster meraung serentak dan menerjang maju bagaikan tsunami daging, taring, dan cakar.

Lu Daimeng tidak mundur satu inci pun. Dia berdiri tepat di depan kepala Naga Hitam yang pingsan, menjadikan tubuhnya sebagai benteng mutlak.

SREET! KLANG!

Dari punggung Lu Daimeng, logam hitam cair meledak keluar. Sayap yang terbuat dari Pedang Roh Surgawi tidak membentang lebar, melainkan langsung membelah diri menjadi delapan bilah pedang hitam yang melayang di sekelilingnya.

'Teknik Mental'

"Teknik Pedang Delapan Mata Angin."

"Mulai panen."

Kedelapan pedang hitam itu melesat layaknya sinar laser gelap. Mereka tidak memotong secara acak; Triple Pupil di mata Lu Daimeng menghitung lintasan, anatomi, dan titik vital setiap monster di udara.

Slaash! Jleb! Craaash!

Kera Lengan Baja di udara terbelah menjadi tiga bagian sebelum tinjunya sempat turun. Hujan darah dan jeroan menyiram tanah.

Pedang-pedang itu menari dalam formasi rotasi absolut. Radius sepuluh meter di sekitar Lu Daimeng berubah menjadi mesin giling daging. Setiap Serigala Tulang atau Kalajengking yang melewati garis tak terlihat itu seketika terpotong-potong. Darah monster membasahi tanah, menciptakan sungai kecil yang mengalir ke kawah terdekat.

Lu Daimeng bahkan tidak menggerakkan tangannya. Otaknya melakukan multitasking gila, mengendalikan delapan pedang mematikan secara bersamaan dengan presisi tingkat tinggi.

Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Mesin pemotong rumput sehebat apa pun akan tersendat jika rumputnya terbuat dari besi dan jumlahnya sangat banyak.

Monster tingkat Ranah Roh Tahap 1 dan 2 mulai memasuki jarak serang. Kulit mereka kebal terhadap sayatan pedang biasa, dan mereka mampu memancarkan pelindung Qi alami.

Tiga ekor Harimau Bersisik Api (Ranah Roh Tahap 2) menerobos formasi pedang Lu Daimeng. Mereka memuntahkan pilar api dari mulut mereka.

Lu Daimeng menarik kembali empat pedangnya, menyatukannya di udara menjadi sebuah perisai pedang raksasa.

BLAM!

Api menabrak perisai pedang yang dilapisi oleh Dark Null.

Ssssshhhh!!

Suara desisan panjang terdengar saat serangan itu mendorong perisai pedang.

Di saat yang sama, Lu Daimeng akhirnya bergerak secara fisik.

Dia menghentakkan kakinya, Ledakan energi darknull meledak, melontarkannya melintasi ruang dalam sekejap. Dia muncul tepat di atas salah satu Harimau sisik Api.

Tangannya, yang telah sepenuhnya dilapisi aura Dark Null memadat hingga membentuk kepalan tangan naga hitam—yang menukik turun.

KRAK!

Lu Daimeng meninju tengkorak Harimau Api (Ranah Roh Tahap 2) itu hingga hancur ke dalam. Energi Dark Null di tangannya menyedot esensi roh harimau itu sebelum tubuhnya menghantam tanah.

Dua harimau lainnya mencoba menerkam dari kiri dan kanan.

Mata ungu Lu Daimeng bersinar tajam. Mengirim serangan mental berupa jarum yang terbuat dari Pedang Roh Surgawi yang telah dilapisi oleh Dark Null.

Dia menembakkan dua serangan mental tak terlihat lurus ke mata kedua harimau itu. Saraf optik mereka terputus, lautan kesadaran mereka tertusuk. Kedua monster itu kehilangan keseimbangan di udara, menabrak satu sama lain, dan langsung diselesaikan oleh sabetan empat pedang melayang Lu Daimeng yang memenggal leher mereka secara brutal.

Tiga monster Ranah Roh mati dalam waktu kurang dari lima detik.

Tetapi kematian mereka hanya membuka jalan bagi lebih banyak predator.

Selama satu jam penuh, Lu Daimeng bertarung dalam kondisi murni tanpa henti.

Lautan darah menenggelamkan mata kakinya. Tumpukan bangkai monster di sekitarnya mulai meninggi, membentuk dinding daging yang menghalangi pandangan.

Beberapa bagian tubuh Lu Daimeng terluka, karena serangan brutal dari para monster yang menyerang secara membabi buta.

Di tengah pengeroyokan tersebut, Lu Daimeng mencoba untuk tetap tengan agar tidak terlalu banyak menghamburkan energi. Dia bertarung dengan gerakan yang sempurna dan memang benar-benar diperlukan, bahkan sengaja membiarkan serangan para beast itu mengenainya agar lebih menghemat banyak energi. Jika dia bisa membunuh dengan mengorbankan tusukan tiga sentimeter ke tubuhnya, dia akan melakukannya.

Sembilan Anti Dao di tubuhnya terus bekerja tanpa henti untuk menyerap energi di sekitarnya guna mengimbangi laju pengeluaran. Keringat dingin mulai bercampur dengan darah yang menempel di tubuhnya.

Beban mental dari mengendalikan delapan pedang telekinesis selama enam puluh menit berturut-turut mulai menggerogoti fokus otaknya. Pandangannya sesekali berkedip. Jantung naganya berdetak dengan ritme yang menyakitkan.

Kelelahan mulai menunjukkan taringnya.

Dan predator tingkat atas dari Lembah Kematian tidak akan melewatkan bau kelemahan.

Dari balik bayang-bayang tumpukan mayat, sesosok makhluk merayap tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Makhluk itu menyembunyikan auranya dengan sempurna, berbaur dengan gas beracun hujan asam.

Itu adalah Kalajengking Bayangan Kematian (Death Shadow Scorpion).

Ukurannya hanya sebesar anjing liar, sangat kecil untuk standar monster lembah, namun lebih mematikan dari rata-rata monster penghuni. Auranya berada di Ranah Roh Tahap 8 namun memiliki kekuatan Racun di tahap 9 Puncak. Ia adalah pembunuh bayaran alami dari Lembah kematian.

Saat Lu Daimeng sedang sibuk menahan terjangan seekor Gajah Berkaki Besi (Ranah Roh Tahap 4) dari depan dengan tangannya secara fisik...

Kalajengking itu melesat dari tanah di belakang Lu Daimeng. Kecepatannya melampaui kedipan mata.

Mata Triple Pupil Lu Daimeng menangkap anomali ruang di belakangnya, tapi beban fisik dari Gajah Besi di depannya membuat ototnya terkunci selama nol koma satu detik.

Sengat hitam kalajengking itu, yang memancarkan racun penembus pelindung Dark Null miliknya, meluncur lurus ke arah tengkuk Lu Daimeng.

Lu Daimeng hanya sempat memiringkan bahunya.

CRAAAASSH!

Sengat itu gagal menembus tengkuknya, namun berhasil merobek bahu kirinya. Menembus otot, menggores tulang belikat, dan menyuntikkan bisa yang melumpuhkan sistem saraf.

"UARGH!"

Lu Daimeng mengerang keras, darah merah segar muncrat dari bahunya. Rasa kebas langsung menyebar dari bahu ke separuh tubuh kirinya. Pedang-pedang telekinesis yang mengudara bergetar hebat, kehilangan kendali, dan jatuh berdentang ke tanah berlumpur.

Gajah Besi di depannya memanfaatkan momen itu untuk menyeruduk dada Lu Daimeng.

Lu Daimeng terpental ke belakang, berguling di atas tumpukan mayat, menabrak salah satu sisik besar Kirin yang telah mati.

Melihat manusia iblis itu akhirnya terluka dan terhuyung, gerombolan monster yang tersisa. "ROAAAARRRRR!!" meraung kegirangan. Moral mereka bangkit. Ratusan beast menerjang maju secara serentak, berniat mencabik-cabiknya sebelum berpesta.

Lu Daimeng berlutut di tanah, bahu kirinya bersimbah darah. Napasnya tersengal. Racun dari Kalajengking Bayangan mencoba membekukan sarafnya, namun Dark Null di dalam tubuhnya melawan balik, memakan racun itu inci demi inci. Sayangnya, proses detoksifikasi itu memperlambat aliran energinya.

Kalajengking Bayangan itu mendesis merendahkan, bersiap meluncurkan serangan fatal kedua untuk menembus mata Lu Daimeng.

Menghadapi kematian yang merayap di depan matanya, wajah Lu Daimeng yang tertunduk tidak menunjukkan rasa takut.

Dia tertawa.

Tawa yang parau, serak, dan sangat dingin. Tawa yang membuat bulu kuduk monster di garis depan berdiri.

"Kalian pikir... aku kehabisan kartu?" bisik Lu Daimeng, mendongak.

Mata ungu enam pupilnya kini memancarkan cahaya hitam yang pekat.

Lu Daimeng berhenti menahan diri. Menghemat energi tidak lagi menjadi opsi. Jika dia ingin hidup dan melindungi harta karunnya, dia harus meratakan mereka dengan kekuatan absolut.

"Keluar."

Dari punggung Lu Daimeng, bayangan kegelapan murni meledak, membumbung tinggi menembus hujan asam.

Sosok Avatar Ketiadaan setinggi tiga meter termanifestasi. Avatar tanpa wajah dengan mata ungu menyala.

Dan lebih gilanya lagi. Lu Daimeng memaksa delapan pedang surgawinya yang jatuh untuk melebur, kembali kepadanya, dan menciptakan pedang raksasa yang sangat tajam di lengan kanan Avatar tersebut.

"Bantai!!!," geram Lu Daimeng, memaksakan kesembilan singularitasnya berputar ke arah yang berlawanan (reverse rotation).

VWOOOOOOOOM!

Alih-alih menyedot, Anti Dao itu meledakkan gelombang Dark Null ke luar.

Seluruh area dalam radius lima puluh meter terperangkap dalam medan gravitasi pekat. Monster-monster yang berlari menerjang tiba-tiba merasa tubuh mereka sepuluh kali lebih berat. Kaki-kaki mereka tiba-tiba amblas ke dalam tanah.

Avatar hitam di belakang Lu Daimeng melesat ke depan, seluruh tubuhnya adalah Dark Null padat. Tidak ada lagi penghematan energi.

Avatar itu mengayunkan lengan pedangnya secara horizontal. Gelombang energi ketiadaan berbentuk sabit hitam meluas.

SLAASH!

Puluhan monster di barisan depan, termasuk Gajah Besi, terpotong menjadi dua layaknya mentega yang diiris pisau panas. Bagian tubuh yang terpotong langsung menghitam dan membusuk, daya hidupnya diserap oleh pedang Roh Surgawi.

Kalajengking Bayangan mencoba berteleportasi, tapi Hukum Ruang telah dirusak oleh Anti Dao.

Avatar Lu Daimeng menangkap ekor kalajengking itu dengan tangan kosongnya, meremasnya hingga hancur, lalu menghempaskan tubuh monster Ranah Roh Tahap 8 itu ke tanah hingga meledak berkeping-keping.

Selama sepuluh menit berikutnya, lembah itu diwarnai oleh jeritan keputusasaan dari para pemangsa yang menyadari bahwa mereka telah memburu monster yang salah.

Avatar hitam itu mengamuk tanpa ampun. Ia memotong, meremukkan, dan melahap esensi kehidupan setiap binatang buas yang berani melangkah lebih dekat dari batas sepuluh meter.

Darah membanjiri daratan, merendam bangkai-bangkai yang tak terhitung jumlahnya.

Lu Daimeng bertarung dalam kondisi setengah sadar, matanya memerah. Luka di bahunya berdenyut hebat. Dia menggunakan tubuhnya sendiri untuk memblokir beberapa serangan api dan asam yang lolos, menolak mundur satu inci pun dari posisinya melindungi naga dan Kirin.

Akhirnya...

Hening.

Gelombang monster yang tersisa—mungkin tersisa beberapa ratus—kehilangan seluruh nyali mereka. Insting hewaniah mereka berteriak bahwa sosok hitam di depan mereka adalah dewa kematian.

Satu per satu, mereka berbalik dan melarikan diri ke dalam kegelapan kabut asam, merintih ketakutan.

Bentrokan biadab itu berakhir.

Di tengah lanskap yang hancur, hujan asam masih turun.

Avatar hitam raksasa itu memudar, larut menjadi debu yang kembali masuk ke dalam pori-pori Lu Daimeng.

Lu Daimeng terhuyung.

Kepalanya berkunang-kunang dengan hebat. Dunia berputar dalam distorsi ungu dan hitam. Otaknya telah dipaksa melampaui kapasitas overclock maksimumnya. Sembilan singularitas di perutnya berputar dengan pelan, kelelahan, mengemis waktu untuk beristirahat. Bahu kirinya mati rasa total, dan beberapa tulang rusuknya retak akibat hantaman Gajah Besi.

Dengan langkah yang diseret, Lu Daimeng berjalan menaiki tumpukan bangkai monster yang menjulang tinggi seperti bukit kecil.

Setiap langkahnya meninggalkan jejak darah—darah musuhnya, dan darahnya sendiri.

Dia mencapai puncak gunungan mayat tersebut.

Dari atas sana, dia bisa melihat bangkai Kirin Pilar Langit yang utuh, dan tubuh Naga Hitam raksasa yang masih terbaring pingsan dengan aman di belakangnya. Tidak ada satu pun dari harta karunnya yang tersentuh oleh gigi pemangsa lain.

Lu Daimeng menjatuhkan tubuhnya, duduk di atas dada seekor Kera Baja yang telah mati, kakinya menjuntai di atas wajah Harimau Api.

Tubuhnya dipenuhi luka, napasnya berat dan tersengal. Dia berada di ambang pingsan mutlak. Jika ada satu saja musuh yang tersisa, Lu Daimeng mungkin tidak akan bisa mengangkat tangannya.

Namun, di tengah rasa sakit yang merobek tulang dan kelelahan yang mematikan jiwa itu, wajah pucat Lu Daimeng mendongak menantang langit hitam.

Dia tertawa pelan. Tawa hampa yang sangat lelah, elegan, dan penuh dominasi. Senyum tenang menghiasi bibirnya yang berdarah.

Ini adalah kemenangannya. Dia berdiri, atau tepatnya duduk, di atas puncak rantai makanan lembah ini. Sebuah takhta absolut yang terbuat dari gunungan mayat.

"Sudah kuduga tidak mungkin semudah itu mendapatkan dua harta karun surgawi," bisiknya pada malam yang pekat, sebelum kelopak matanya perlahan menutup, menyerahkan dirinya pada kegelapan tidur yang sangat dalam.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!