Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Hari demi hari berlalu dengan pelan, seolah waktu sendiri sedang belajar bersikap lebih pengertian kepada Arsy. Tahlilan tujuh hari atas meninggalnya Pak Rahman akhirnya selesai dilaksanakan. Rumah kontrakan itu kembali sunyi setelah beberapa hari penuh dengan doa, lantunan ayat suci, dan para pelayat yang datang silih berganti. Namun di balik kesunyian itu, ada sesuatu yang perlahan berubah. Arsy tidak lagi sendirian.
Pagi itu, kontrakan kecil yang biasanya terasa sempit mendadak dipenuhi kesibukan. Tidak ada dekorasi mewah. Tidak ada panggung besar atau kursi berlapis kain satin. Hanya tenda sederhana yang dipasang di depan rumah. Beberapa kursi plastik berjajar rapi. Meja panjang dengan taplak putih polos juga tampak cantik dengan hiasan bunga-bunga segar yang ditata rapi diatas meja.
Resepsi pernikahan Arsy dan Syakil digelar dengan sederhana. Bukan karena Syakil tidak mampu mengadakan pesta besar. Bukan pula karena ia ingin menghemat biaya. Tapi karena ia paham, Arsy masih berada dalam masa duka. Kebahagiaan hari itu tidak perlu dirayakan dengan gegap gempita. Cukup dengan niat yang lurus dan pengakuan yang jelas di hadapan semua orang.
Para tamu mulai berdatangan sejak pagi. Satu per satu wajah yang familiar muncul di halaman kontrakan itu. Keluarga jauh, kerabat, tetangga sekitar, dan tentu saja, orang-orang yang sebelumnya menerima undangan pernikahan Arsy dengan Radit.
Arsy berdiri di dalam rumah, tepat di depan cermin kecil di kamarnya. Gaun yang ia kenakan terlihat anggun meski sederhana. Gaun pengantin berwarna putih gading tertutup, tanpa banyak hiasan. Hijabnya tersemat rapi. Arsy tidak menyangka ia terlihat cantik meski wajahnya tidak memakai riasan tebal. Tangannya sedikit gemetar.
Syakil yang berdiri di belakangnya, memperhatikan setiap gerak-geriknya lewat pantulan cermin.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Syakil perhatian dan membuat Arsy mengangguk pelan, meski dadanya terasa sesak.
“Aku nggak apa apa mas, cuma sedikit gugup aja.” jawabnya jujur.
Syakil melangkah mendekat dan berdiri tepat di belakang Arsy. Tangannya diletakkan di bahu istrinya dengan mantap.
“Apapun yang terjadi saat resepsi nanti,” ucap Syakil pelan, “kamu nggak perlu membuktikan apa pun ke siapa pun.”
Arsy mengangkat wajahnya, menatap mata Syakil lewat cermin.
“Aku tahu,” katanya lirih. “Tapi tetap saja…”
Syakil tersenyum tipis.
“Apa pun yang terjadi nanti,” lanjut Syakil, “kamu harus berdiri di samping aku. Dan aku nggak akan membiarkan siapa pun menyakiti kamu.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup membuat Arsy menghela napas panjang dan sedikit lebih tenang. Beberapa saat kemudian mereka keluar bersama. Begitu Arsy dan Syakil melangkah ke area depan kontrakan, suasana yang tadinya riuh mendadak berubah. Beberapa tamu terdiam. Beberapa saling melirik. Beberapa lainnya berbisik pelan, namun cukup jelas untuk ditangkap oleh telinga Arsy yang mendengar bisik bisik beberapa tamu tamunya.
“Loh… kok bukan Radit?”
“Pengantinnya beda?”
“Katanya calon suaminya yang dulu itu…”
“Ini gimana ceritanya?”
Bisik-bisik itu menyebar cepat, seperti api kecil yang menjalar di rerumputan kering. Arsy bisa merasakannya. Tatapan-tatapan itu. Tatapan penuh tanya, curiga dan tatapan yang perlahan berubah menjadi penilaian buruk. Beberapa orang mulai berbisik lebih keras.
“Kasihan ya pak Rahman, baru meninggal, anaknya malah begini.”
“Pindah ke laki-laki lain secepat itu…”
Kata-kata itu seperti jarum. Menusuk perlahan, satu per satu. Arsy menunduk. Tangannya mencengkeram ujung gaunnya tanpa sadar. Dadanya terasa sesak. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Tapi saat benar-benar mengalaminya, rasanya tetap menyakitkan. Syakil merasakan perubahan itu.
Ia menoleh ke arah Arsy, melihat wajah istrinya yang sedikit pucat. Tanpa ragu, ia menggenggam tangan Arsy lebih erat.
“Lihat aku, Arsy,” bisik Syakil yang membuat Arsy mengangkat wajahnya. “Jangan dengarkan omongan mereka semua,” lanjut Syakil pelan. “Aku di sini.”
Namun bisik-bisik itu tidak berhenti sampai disitu dan bahkan semakin menjadi-jadi. Beberapa tamu mulai bergosip secara terang-terangan. Ada yang menggelengkan kepala. Ada yang memasang wajah tidak setuju. Ada pula yang tampak menikmati drama yang sedang terjadi. Situasi mulai tidak kondusif. Syakil yang menyadarinya langsung melepaskan genggaman tangan Arsy dengan perlahan, lalu melangkah maju ke arah altar sederhana yang telah disiapkan. Langkahnya tenang, tegap dan tidak terburu-buru. Tapi penuh keyakinan. Beberapa orang terdiam saat melihat Syakil berdiri di sana.
Syakil menarik napas dalam-dalam.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” suara Syakil terdengar jelas dan tegas. Mengisi ruang di antara tenda dan halaman kontrakan itu.
Perlahan, keributan mereda. Semua mata kini tertuju padanya.
“Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para hadirin semuanya karena sudah menyempatkan waktunya untuk hadir dalam acara pada pagi hari ini. Saya tahu, banyak dari Bapak dan Ibu yang datang ke sini dengan pertanyaan di kepala masing-masing." Ucap Syakil sembari menatap satu per satu wajah tamu undangan yang ada di hadapannya. Tidak ada amarah di sorot matanya. Hanya ketenangan.
“Saya tahu juga, banyak yang terkejut karena saya bukanlah Radit.”
Beberapa tamu terlihat saling pandang. Namun Syakil melanjutkan perkataannya dengan nada suaranya yang tetap stabil.
“Nama saya Syakil,” ucapnya jelas. “Dan hari ini, di hadapan kalian semua, saya ingin menyampaikan satu hal yang sangat penting.”
Ia menoleh ke arah Arsy, yang berdiri tidak jauh darinya dan membuat tatapan mereka bertemu.
“Saya adalah suami sah Arsy.”
Suasana mendadak sunyi. Beberapa orang membelalakkan mata. Ada yang terlihat terkejut. Ada yang berbisik pelan. Namun Syakil sama sekali tidak menghiraukan hal itu dan memilih untuk tetap menatap para tamu undangannya.
“Arsy dan saya telah menikah secara sah, di rumah sakit satu Minggu yang lalu.” kata Syakil. “Dengan pak Rahman sebagai orang yang telah menikahkan kami berdua dan juga dengan saksi yang sah.” Syakil berhenti sejenak, memberi waktu bagi kata-katanya untuk meresap ke pikiran tamu undangannya.
“Pernikahan ini bukan bentuk pelarian,” ucap Syakil. “Bukan pula bentuk pengkhianatan.” Nada suara Syakil sedikit mengeras, namun tetap terkontrol saat menjelaskan apa yang terjadi. “Pernikahan Arsy dengan Radit batal bukan karena Arsy,” tegasnya. “Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun memutarbalikkan kenyataan itu.”
Beberapa tamu mulai terlihat gelisah sementara Syakil tetap fokus melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.
“Resepsi ini saya adakan untuk meluruskan, membersihkan nama baik Arsy serta untuk menghormati almarhum Pak Rahman.” ucap Syakil sembari menundukkan kepalanya sejenak. “Pak Rahman adalah ayah yang baik,” ucapnya. “Dan beliau meninggalkan putri yang baik pula. Tidak pantas bagi siapa pun untuk mencoreng nama baik mereka dengan prasangka apapun.”
Suasana hening kembali menyelimuti tempat itu. Membuat Syakil mengangkat wajahnya lagi.
“Mulai hari ini,” katanya mantap, “Arsy berada di bawah tanggung jawab saya. Jika ada yang ingin bertanya, silakan bertanya pada saya. Jika ada yang ingin menilai, maka katakan itu langsung pada saya.”