NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sore itu, kafe favorit mereka sedang tidak terlalu ramai. Pricillia duduk di sudut dekat jendela, menyesap earl grey tea hangatnya sambil menatap jalanan. Wajahnya tenang, hampir tanpa beban, meski ia tahu saat ini Danesha mungkin sedang tertawa di tempat lain bersama Evangeline.

Tiba-tiba, kursi di hadapannya ditarik. Seorang wanita cantik dengan rambut highlight pirang dan riasan mata yang tajam duduk di sana. Clarissa. Salah satu mantan Danesha yang paling fenomenal dan paling singkat masa jabatannya.

"Masih di sini ternyata," sindir Clarissa sebagai pembuka. Matanya menatap Pricillia dengan campuran antara rasa benci dan kekaguman yang aneh.

Pricillia tidak terkejut. Ia meletakkan cangkirnya perlahan.

"Hai, Cla. Apa kabar? Sudah lama nggak kelihatan di kampus."

Clarissa tertawa sinis, menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Gimana mau kelihatan? Gue butuh waktu berbulan-bulan buat sembuh dari trauma yang dibikin sahabat kesayangan lo itu. Dan sekarang gue denger dia lagi sama si Evangeline itu, ya?"

Pricillia hanya mengangkat bahu kecil. "Begitulah Danesha. Dia selalu butuh hiburan baru."

"Hiburan?" Clarissa mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah.

"Pris, gue baru sadar setelah putus. Lo itu bukan sahabat. Lo itu penjara. Gue inget banget gimana Danesha selalu batalin janji sama gue cuma karena lo tiba-tiba pengen martabak, atau lo katanya sakit perut."

Pricillia menatap Clarissa dengan tatapan yang sulit dibaca. "Gue nggak pernah maksa dia datang, Cla. Dia sendiri yang mau."

"Itu dia masalahnya!" Clarissa memukul meja pelan. "Lo bikin dia ngerasa kalau dunia tanpa lo itu nggak berfungsi. Gue liat Evangeline tadi di kampus, dia pamer kemesraan kayak orang gila. Dia pikir dia menang? Kasihan banget."

Clarissa memperhatikan wajah Pricillia yang tetap datar, lalu ia mulai terkekeh pahit. "Lo tahu nggak apa yang paling nyakitin? Pas gue ciuman sama Danesha dulu, dia pernah salah manggil nama gue. Dia panggil gue Pris. Di detik itu gue tahu, gue nggak pernah punya kesempatan."

Pricillia tertegun sejenak, namun kemudian bibirnya membentuk lengkungan kemenangan yang tipis. Dia belum pernah mendengar cerita itu dari Danesha. Danesha terlalu malu untuk mengakuinya.

"Makasih ceritanya, Cla. Itu informasi yang menarik," ujar Pricillia tenang.

Clarissa berdiri, membetulkan letak tas branded-nya. "Gue ke sini cuma mau liat muka lo. Gue penasaran gimana rasanya jadi orang yang menghancurkan hubungan orang lain tanpa perlu angkat tangan sedikit pun."

Clarissa menatap Pricillia untuk terakhir kalinya sebelum pergi. "Hati-hati, Pris. Evangeline nggak sebego gue atau mantan-mantan yang lain. Dia bisa nekat. Tapi ya... gue tahu siapa pemenangnya. Danesha itu udah lo kasih racun sejak kecil, dan dia nggak bakal nemu penawarnya di tempat lain."

Setelah Clarissa pergi, Pricillia kembali menyesap tehnya.

Kata-kata Clarissa tentang Danesha yang salah panggil nama membuat hatinya bergetar puas.

"Salah panggil nama, ya?" gumam Pricillia pada dirinya sendiri.

Ia mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan singkat pada Danesha:

Dan, Papa bawa kepiting dari Singapura. Gue tahu lo laper. Pulang sekarang atau gue abisin?

Pricillia tahu, dalam hitungan menit, Danesha akan meninggalkan apa pun yang sedang ia lakukan bersama Evangeline hanya untuk mengejar rumah-nya.

Di apartemen Evangeline yang temaram, suasana terasa sangat panas. Evangeline sedang duduk di atas pangkuan Danesha, tangannya melingkar di leher pria itu sementara ia membisikkan kata-kata yang bisa membuat pria mana pun kehilangan akal sehatnya.

"Dan... jangan pulang malam ini. Aku mau kamu di sini, cuma berdua sama aku. Aku punya banyak cara buat bikin kamu lupa sama semua tugas kuliah kamu," bisik Evangeline tepat di telinga Danesha, sambil memberikan gigitan-gigitan kecil yang menggoda di rahangnya.

Danesha sudah mulai terhanyut. Napasnya mulai memburu dan tangannya sudah berada di pinggang Evangeline, siap untuk melangkah lebih jauh. Namun, tepat saat Evangeline hendak mencium bibirnya lagi, ponsel di saku celana Danesha bergetar hebat.

Drttt... Drttt...

Danesha tersentak, seolah tersadar dari hipnotis. Ia merogoh ponselnya meski Evangeline mencoba menahannya. "Abaikan aja, Dan. Palingan cuma grup kampus."

Namun, begitu melihat nama di layar, mata Danesha langsung membelalak.

"Pris: Dan, Papa bawa kepiting dari Singapura. Gue tahu lo laper. Pulang sekarang atau gue abisin?"

Seketika, gairah di mata Danesha padam, digantikan oleh binar antusias yang berbeda. Ia langsung memegang bahu Evangeline dan menggeser gadis itu agar turun dari pangkuannya.

"Vang, sorry banget. Gue harus balik sekarang," ujar Danesha terburu-buru sambil merapikan bajunya yang sedikit berantakan.

Evangeline terbelalak tak percaya.

"Apa? Kamu bercanda? Kita lagi kayak gini, dan kamu mau pulang cuma gara-gara pesan singkat?"

"Papa-nya Pricillia baru balik dari Singapura, Vang. Dia bawa kepiting kesukaan gue. Gue nggak bisa ngelewatin ini, lagian gue udah janji mau nemuin Om Hutapea," jawab Danesha sambil sudah menyambar kunci mobilnya di meja.

"Danesha! Kamu lebih milih kepiting dan sahabat kamu itu daripada aku yang udah siap di depan mata kamu?!" teriak Evangeline frustrasi, nyaris menangis karena harga dirinya diinjak-injak.

Danesha sudah berada di ambang pintu, ia hanya menoleh sekilas dengan wajah tanpa dosa. "Jangan marah dong, Vang. Besok kita ketemu lagi di kampus ya? Love you!"

Danesha berlari keluar, meninggalkan Evangeline yang melempar bantal ke arah pintu dengan amarah yang meledak.

Sementara itu, di dalam mobilnya, Danesha tersenyum lebar. Pikirannya sudah terbang ke rumah Pricillia, membayangkan kehangatan ruang makan keluarga Hutapea dan tawa Pricillia yang selalu menjadi tempatnya kembali.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰😍🥰🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!