Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Pembuktian Diri
“Hari ini juga bisa,” jawab Adimas tak kalah sengit, ditanya di tengah lapangan. Jawaban yang diberikan pun pasti di luar nalar juga.
“Bagus, tinggal daftar saja ke KUA,” jawab Kakek Rani. Mata Adimas terbelalak seketika.
What!
Kepalanya seolah dilempar keluar angkasa, hatinya seolah digeprek-geprek akibat dadanya yang bergemuruh gila. Kakek Rani masuk ke dalam rumah mereka, bersama dengan Ibu Rani yang tampak masuk ke dalam sebuah kamar.
“Bersihkan dulu badannya, sebentar lagi ada pengajian. Semua santri berkumpul di aula. Nak Adimas ikut bersama Kakek.” Kini panggilan Ibu Rani juga sudah berubah. Adimas masih terdiam dengan baju koko putih di tangannya dan kain sarung warna hitam serta sebuah kopiah hitam.
“Baik, Mah,” jawab Adimas. Dia dipersilakan ke sebuah kamar. Adimas mulai berpikir keras, bagaimana bila kakeknya Rani serius?
“Anjir, duit gue cukup nggak, ya?” Bingung Adimas. Memang masih ada di ATM-nya. Namun, dia tidak bersiap untuk itu. Dia hanya membawa uang tunai dan dua kartu kredit yang sering dia gunakan saja.
Suara bersahutan dari sebuah aula terdengar. Jam sembilan tampak di arloji Adimas yang kini sudah mandi dan menggunakan pakaian yang diberikan Ibu Rani.
Adimas keluar dari kamar itu. Kakek Rani tampak membawa sebuah kitab tebal. Dia juga menggunakan kacamata. Adimas tersenyum simpul.
Senyum jahil kembali terukir dari bibir kakek tua itu. Adimas mulai bersiaga. Bisa saja nanti pria tua itu mengerjainya di aula. Adimas menatap kitab di tangan pria tua itu dan menghela napas kasar.
“Ayo ke sini, Nak,” ucap pria tua itu. Adimas mengangguk dan melangkah di belakangnya. Sesampainya di aula, Adimas diminta duduk di samping sang kakek.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Kakek Rani memulai. Semua santri dan santriwati menjawab serentak.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”
“Hari ini saya ada tamu istimewa. Beliau ini yang akan mengajar kalian hari ini. Jadi, saya hanya akan mendengarkan dari sini,” ucap kakek tua itu. Adimas sudah ada feeling ke sana. Dia akhirnya menghela napas kasar. Memang sudah ada dalam perkiraannya. Tak akan semudah itu menikahi seorang Rani, ditambah keluarganya yang sebesar ini.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” akhirnya Adimas buka suara. Kakek Rani tersenyum melihat keberanian Adimas.
“Sebelumnya saya ingin meminta maaf. Saya duduk di sini tidak ingin mengajar. Namun, mari kita belajar bersama. Bila saya salah, maka ingatkan. Bila saya keliru, maka luruskan. Saya bukan seorang santri, tidak juga memiliki keluarga pesantren. Namun, saya akan mencoba sebaik saya,” ucap Adimas akhirnya. Jangan sepelekan Adimas epribadeh.
Adimas memang tampak urakan, ditambah rambut panjang dan kulit cokelatnya. Namun, dia juga mantan guru matematika. Dan pelajaran agama yang dia dapat juga tidak sembarangan. Dia belajar dari Arya yang merupakan anak dari rektor sebuah universitas Islam terkemuka. Ditambah lagi Kyun dan Ziyan yang dekat dengannya dulu adalah orang-orang lulusan terbaik Al-Azhar. Satu tahun lulus lebih awal dari Rani dan tembus S2.
“Kek, mau melanjutkan atau tidak?” tanya Adimas. Semua tampak menatap ke arah dua orang yang kini duduk di hadapan mereka itu.
“Kek?” bisik salah satu santri. Yang lain mulai bertanya-tanya.
“Lanjutkan saja,” ucap Kakek Rani. Adimas mengangguk, melihat penjelasan terakhir yang diberikan Kakek Rani pada kitab tersebut. Adimas menghela nafas kasar, sungguh tidak mudah menjadikan Rani sebagai istrinya. Punya kakek yang usil, Mamah yang selalu ceplas-ceplos dan membuatnya savage ditempat.
Dan kini Adimas harus menghadapi semua murid kakeknya, ini bukan sekedar memberi pelajaran. Namun ini ajang pembuktian diri bagi Adimas, dia ingin mengatakan bila dirinya layak untuk Rani.
Satu jam lebih Adimas mengajar dengan sangat detail dan mudah dipahami. Dia juga menambahkan sumber dari ingatannya. Cara penyampaiannya dan Adimas yang tidak mengeluh saat mendapat pertanyaan membuat banyak santri dan santriwati merasa kagum. Tak terkecuali Kakek Rani sendiri. Niat mau mengerjai malah jadi ajang pembuktian diri.
Suara Adimas terdengar hingga ke seluruh bagian pesantren. Bahkan sampai penduduk di sekitar juga bisa mendengarnya. Banyak orang yang juga merasa penasaran dengan sosok yang kini mengajar di pesantren itu.
“Itu siapa, Ning Maira?” tanya seorang warga pada Ibu Rani yang hari itu sedang membakar kayu di belakang rumah untuk membuat arang, guna membuat pepes kesukaan ayahnya.
“Itu Nak Adimas,” jawab Ibu Rani.
“Tadi bila tidak salah dengar, dia memanggil kakek pada Gus Hadad. Apa maksudnya? Dia anakmu, Ning?” tanya tetangga itu lagi. Ibu Rani tersenyum.
“Iya,” jawab Ibu Rani. Seketika para tetangga itu berbicara, seolah baru mendengar gosip.
“Pantes mukanya kayak bule. Dia anakmu dengan bule itu ya, Ning?” Kini Ibu Rani berdiri. Helaan napas kasar terdengar. Selalu saja demikian. Namun, Ibu Rani malah melemparkan senyuman manisnya.
“Iya, dia memang ada keturunan bule. Bila tidak salah, ayahnya dari Australia. Kenapa? Apa mau bertemu calon menantu saya?” tanya Ibu Rani langsung tajam menukik. Seketika para tetangganya diam.
Adimas juga baru saja keluar dari aula dan mencari Ibu Rani untuk mendiskusikan sesuatu. Adimas sekilas mendengar percakapan mereka. Ternyata, di mana pun mereka tinggal, semuanya tidak mudah. Pantaslah Rani sejak dulu selalu berhati-hati dalam berbicara. Ternyata lingkungan membuatnya demikian.
“Mah, lagi apa?” tanya Adimas. Dia mengangkat sarungnya agar tidak kotor dan mengambil alih kipas di tangan Ibu Rani.
“Gak papa. Biar Mamah selesaikan. Itu bentar lagi matang,” ucap Ibu Rani. Adimas tersenyum lebar.
“Kerja dikit, Mah, biar nggak dikata numpang makan doang,” sindir Adimas pedas. Seketika para tetangga itu bubar barisan. Ibu Rani yang mengerti hanya terkekeh kecil.
“Mah, aku tahu kalau aku melihatin anak Mamah itu dosa. Tapi, Mah, aku selalu pengin melihatin dia, Mah. Jadi, beri tips, Mah, caranya nyogok Kakek?” bujuk Adimas sembari tersenyum tengil, seperti yang sering dilakukan Rani dulu pada ibunya itu.
Seketika ucapan dan tingkah laku Adimas mengingatkan Ibu Rani pada sang putri. Kini putrinya sudah lebih tenang. Namun, jodoh memang ajaib. Kini justru calon menantunya lah yang seperti memiliki kesamaan dengan masa lalu Rani.
“Nyogok apa, Nak? Kakek kan sudah setuju. Tinggal menikah saja bila kalian berdua sudah siap. Kalau kata Neng Elyra, nggak baik menunda kebahagiaan,” ucap Ibu Rani. Adimas terkekeh dan mengangguk.
“Mah, berapa rupiah kiranya aku bisa habiskan? Ah, bukan aku nggak punya uang atau nggak punya modal. Tapi sekarang aku nggak bawa uang yang cukup memadai. Tapi insyaallah cukup untuk acara di sini,” Adimas menghela napas kasar. Ibu Rani mengerti keresahan Adimas.
“Semuanya akan lancar, insyaallah,” ucapnya menenangkan. Adimas mengangguk pelan.
happy ending 👏👍
makasih thor, sukses terus dgn karya-karyanya di novel 💪
selamat menempuh hidup baru Adimas dan Rani, semoga SaMaWa dan cepat dikasih momongan 🤲
awas Adimas jangan nyosor dulu mentang² berdua doang, inget mau sholat ashar berjamaah 🤣
huaaaaaa nyesek bacanya 😭😭😭