Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 Prolog
"Tak semua pernikahan diawali dengan cinta, namun ikatan paling jujur sering lahir dari ikatan yang tak disangka."
—Aldivano Athariz—
Tak semua takdir datang dengan salam dan persetujuan.
Sebagian hadir diam-diam, bersembunyi di balik senyum keluarga, doa orang tua, dan rahasia yang terlalu rapi untuk dicurigai.
Aldivano Athariz tumbuh dalam sunyi yang tertata. Doa menjadi napas, adab menjadi arah. Ia tak mengenal cinta yang tergesa, tak percaya pada perasaan tanpa tujuan. Baginya, mencintai adalah kesiapan—bukan sekadar keberanian, melainkan tanggung jawab yang dipikul dengan penuh kesadaran.
Sementara itu, Celine Chadia Cendana terbiasa hidup di bawah sorot cahaya. Jutaan mata mengenalnya sebagai selebgram muda dengan paras bak putri dongeng—baby face, senyum manis, dan pesona yang selalu tampak sempurna di layar. Namun di balik kilau itu, Celine menyimpan sisi lain: adrenalin, kebebasan, dan dunia balap motor yang berisik—dunia yang membuat orang tuanya hanya bisa menghela napas panjang.
Mereka dipertemukan kembali oleh deru mesin dan debu arena balap. Tatap yang tertahan. Jarak yang dijaga. Hingga satu langkah mengubah segalanya—bukan dengan pengakuan, melainkan dengan ikatan suci yang dirahasiakan.
Ketika Celine akhirnya mengetahui bahwa dirinya telah menjadi seorang istri tanpa pernah berkata “ya”, kepercayaan runtuh, hati terlukai, dan jarak pun tercipta. Cinta yang lahir tanpa izin kini diuji oleh kejujuran. Pernikahan yang tersembunyi menuntut keberanian untuk dibuka.
Di antara kecewa dan doa, antara ego dan takdir—akankah hati Celine luluh?
Akankah Aldivano mampu membuktikan bahwa rahasia tak selalu berarti pengkhianatan?
Karena dalam cinta, yang tersembunyi bukan selalu yang salah.
Dan dalam pernikahan, yang datang diam-diam bisa jadi adalah jawaban dari doa yang terlalu lama dipanjatkan.
Aldiline— ketika cinta harus belajar jujur, dan takdir menunggu untuk diterima.
***
Malam merunduk rendah di atas kota, seolah ingin mengintip rahasia yang tersembunyi di balik gemerlap lampu jalan. Deru mesin motor meraung bagai petir yang jatuh bertubi-tubi, memecah kesunyian dan menampar kesadaran siapa pun yang berada di arena balap liar itu. Aspal terasa bergetar, seperti ikut berdebar bersama jantung para penonton.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Celine Chadia Cendana berdiri dengan penuh percaya diri.
Helm hitam menutupi wajah baby face-nya yang biasa tersenyum manis di balik kamera ponsel. Tak ada riasan selebgram, tak ada gaun mewah—hanya jaket kulit dan sarung tangan balap yang membuatnya tampak seperti dua manusia berbeda dalam satu tubuh. Jika orang tuanya melihatnya sekarang, mungkin napas mereka akan tercekat seolah dunia runtuh dalam sekejap.
“Peserta terakhir, siap!” teriak seseorang.
Celine mengencangkan genggaman. Saat lampu start menyala, motornya melesat bagai anak panah yang dilepaskan dari busur. Angin malam mencambuk tubuhnya, adrenalin mengalir deras seolah darahnya berubah menjadi api.
Namun, dari kejauhan, ada sepasang mata yang tak pernah lepas darinya.
Aldivano Athariz berdiri tenang, namun dadanya bergemuruh seperti lautan yang menahan badai. Lelaki itu berbeda dari yang lain. Wajahnya teduh, sorot matanya dalam. Jubah sederhana yang dikenakannya tampak kontras dengan dunia bising ini.
“Celine…” gumamnya pelan, seolah menyebut nama itu adalah doa.
Ia mengenalnya sejak kecil. Gadis kecil yang dulu tertawa polos di halaman rumah, kini tumbuh menjadi perempuan yang berlari kencang menantang bahaya. Aldivano menghela napas panjang. Hatinya terasa diremas ribuan jarum.
Tanpa banyak bicara, ia melangkah turun ke arena.
“Peserta baru?” tanya panitia heran.
Aldivano hanya mengangguk. Helm dipasang. Mesin dinyalakan. Suaranya tak kalah garang.
Saat Celine menyadari kehadiran lawan barunya, alisnya terangkat.
“Gaya sok jago,” gumamnya.
Balapan dimulai. Dua motor melesat berdampingan, saling kejar seolah waktu dipaksa berlari lebih cepat. Celine terpacu, sementara Aldivano mengendalikan motornya dengan tenang, seolah ia sedang menenangkan kuda liar.
Di tikungan terakhir, Aldivano memperlambat laju, memberi ruang bagi Celine untuk menang.
Saat mereka berhenti, Celine membuka helmnya, napasnya tersengal.
“Kamu sengaja kalah?” tanyanya ketus.
Aldivano melepas helm. Wajahnya membuat Celine terdiam.
“Kak Al?” matanya membesar.
“Kamu?”
Aldivano menatapnya lama, seolah ingin memastikan bahwa gadis di hadapannya nyata. “Sudah lama,” jawabnya tenang.
Pertemuan itu menjadi awal dari banyak hal yang tak pernah Celine duga.
Hari-hari berlalu. Hingga suatu pagi, dunia Celine runtuh tanpa aba-aba.
Di ruang kerja ayahnya, suara itu jatuh seperti palu godam.
“Kamu sudah menikah, Line.”
“Apa?” suara Celine nyaris tak terdengar.
Dengan tangan gemetar, ia mendengar semuanya—tentang pernikahan yang disepakati orang tuanya, tentang Aldivano, tentang rahasia yang disimpan berbulan-bulan lamanya.
“Kenapa aku tidak tahu?” suaranya pecah. “Ini hidupku!”
Caesar menghela napas berat. “Kami ingin melindungimu.”
“Dengan berbohong?” Celine tertawa pahit. Tawa yang terasa seperti serpihan kaca di tenggorokan.
Ia keluar dari rumah itu dengan hati hancur. Air matanya jatuh tanpa suara, seolah bahkan langit enggan menjadi saksi. Malam itu, ia memilih apartemen pribadinya—tempat sunyi yang terasa lebih jujur daripada rumah yang penuh rahasia.
Di apartemen, ponselnya bergetar.
Celine menatap layar lama, lalu membalas singkat.
Di sisi lain kota, Aldivano memejamkan mata. Dadanya terasa sesak, seolah seluruh langit runtuh menimpa bahunya. Ia tahu, jalan ini tidak mudah. Namun baginya, pernikahan bukan permainan, dan cinta bukan sekadar perasaan—melainkan tanggung jawab yang akan ia perjuangkan, meski harus menunggu selama apa pun.
Sementara itu, di balik jendela apartemen, Celine menatap kota yang berkilau. Hatinya retak, kecewa, marah—namun jauh di dasar jiwanya, ada tanya yang berdenyut pelan:
Jika semua ini demi kebaikan, mengapa rasanya begitu menyakitkan?
Dan malam pun kembali menyimpan rahasia mereka, menunggu waktu untuk mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya.
Celine selalu berpikir bahwa ia mengenal dirinya sendiri.
Ia tahu bagaimana caranya tersenyum di depan kamera, bagaimana sudut wajahnya harus dimiringkan agar terlihat sempurna, bagaimana nada suaranya diatur agar terdengar ceria meski hati sedang kosong. Ia tahu bagaimana caranya menjadi “Celine” yang dikenal dunia.
Namun malam ini—
Ia tak mengenal perempuan yang duduk memeluk lutut di sudut apartemen itu.
Sunyi merayap seperti kabut dingin, menyusup ke sela-sela napasnya. Lampu kota berkilau di balik kaca jendela, indah, jauh, dan terasa asing. Seperti hidupnya sendiri.
Aku sudah menikah.
Kalimat itu berulang di kepalanya, seperti gema yang tak pernah menemukan ujung.
Menikah.
Bukan pacaran. Bukan dijodohkan secara wajar. Tapi menikah.
Tanpa persetujuannya.
Tanpa suaranya.
Tanpa haknya untuk berkata “ya” atau “tidak”.
Dadanya sesak.
“Aku ini siapa sebenarnya…?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Air mata jatuh satu-satu, bukan deras, melainkan pelan—seperti luka yang terlalu dalam untuk ditangisi dengan histeris. Tangis seperti ini justru lebih menyakitkan, karena ia datang bersama kesadaran.
Celine marah.
Sangat marah.
Pada ayah dan ibunya—yang katanya ingin melindunginya, namun justru mengambil kendali penuh atas hidupnya. Pada dunia yang selalu mengatur bagaimana seharusnya ia menjadi anak baik, perempuan baik, figur publik yang tak boleh salah langkah.
Dan pada Aldivano.
Nama itu membuat jantungnya berdenyut tak karuan.
Ia membenci kenyataan bahwa bahkan dalam kemarahannya, wajah lelaki itu tetap muncul dengan begitu jelas. Tatapan tenangnya. Suaranya yang rendah. Cara ia menyebut namanya seolah sedang berdoa.
Kenapa harus dia?
Kenapa bukan orang asing saja, agar aku bisa membencinya tanpa ragu?
Celine menekan dadanya.
Rasa ini bukan sekadar marah. Ada sesuatu yang lebih kejam—perasaan dikhianati oleh orang-orang yang ia percayai, dan oleh hidup yang tiba-tiba memutuskan arah tanpa memberinya pilihan.
Ia merasa kecil.
Tidak berdaya.
Dan itu adalah perasaan yang paling ia benci.
Selama ini, dunia mengenalnya sebagai perempuan bebas. Berani. Mandiri. Tak takut melawan arus. Namun kini, ia sadar—kebebasan yang ia banggakan ternyata rapuh. Bisa runtuh hanya oleh satu keputusan orang lain.
“Apa aku tidak pantas menentukan hidupku sendiri?” gumamnya, suara itu bergetar.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Di balik telapak itu, ada gadis kecil yang dulu sering bertanya pada ibunya, “Kalau aku besar nanti, aku boleh memilih sendiri, kan?”
Dan kini, gadis itu menangis.
Ponselnya tergeletak tak jauh darinya.
Nama Aldivano Athariz masih ada di layar, seperti luka yang belum sempat ditutup.
Ia ingin membencinya.
Benar-benar ingin.
Namun kebenciannya tak pernah utuh.
Karena ada bagian dalam dirinya—bagian yang jujur, yang paling ia takuti—yang tahu bahwa Aldivano bukan lelaki yang sembrono. Ia bukan tipe yang bermain-main dengan ikatan suci. Ia bukan tipe yang menjadikan pernikahan sebagai alat.
Justru itulah yang menyakitkan.
Jika Aldivano lelaki jahat, segalanya akan lebih mudah.
Tapi jika ia baik…
Maka luka ini menjadi jauh lebih rumit.
“Kenapa kamu tidak bicara padaku?” suaranya pecah, seolah Aldivano duduk di depannya. “Kenapa kamu memilih diam dan membiarkan semua ini terjadi?”
Tak ada jawaban.
Hanya ingatan tentang pesan singkat itu.
Aku tidak berniat menyakitimu.
Celine tertawa kecil—tawa yang terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.
“Niat tidak pernah cukup, Kak,” bisiknya pahit. “Luka tetaplah luka.”
Ia berdiri, berjalan mendekat ke jendela.
Di pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri—mata sembab, wajah pucat, dan sorot mata yang kehilangan arah.
Untuk pertama kalinya, Celine merasa takut pada masa depan.
Takut pada status baru yang tak ia pilih.
Takut pada perasaan yang mungkin tumbuh tanpa ia sadari.
Dan takut pada kenyataan bahwa mungkin—hanya mungkin—takdir ini bukan sepenuhnya kesalahan.
Bagaimana jika semua ini benar-benar demi kebaikanku?
Bagaimana jika aku hanya belum siap menerimanya?
Pertanyaan itu membuatnya gemetar.
Karena menerima berarti menyerah.
Dan menyerah berarti mengakui bahwa hidupnya tak selalu bisa ia kendalikan.
Celine memejamkan mata.
“Aku belum siap,” bisiknya lirih pada malam. “Aku belum siap menjadi istri siapa pun.”
Namun jauh di lubuk hatinya, ada doa yang tak sengaja terucap:
Tuhan… jika ini jalan-Mu, tolong jangan biarkan aku terluka sendirian.
Air mata kembali jatuh.
Dan di antara retakan hatinya, cinta dan benci mulai beradu—belum berbentuk, belum bernama, namun sudah terasa menyakitkan.
Celine Chadia Cendana tak tahu satu hal:
Bahwa luka ini bukan akhir.
Melainkan awal dari perjalanan terberat dalam hidupnya—
Belajar memaafkan.
Belajar percaya.
Dan belajar mencintai, meski hatinya belum sepenuhnya siap.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...