Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Benih Emas dan Pasukan Perak
Adrian berdiri mematung di atas dahan pohon teh raksasa yang sudah mulai rapuh dan tenggelam. Botol kaca berisi bunga emas itu digenggamnya erat, seolah benda kecil itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya sekarang.
Di depannya, pemandangan fajar yang seharusnya indah berubah jadi mimpi buruk yang kolosal. Air laut surut dengan kecepatan yang nggak masuk akal, ninggalin dasar laut yang penuh karang dan rongsokan kapal, cuma buat balik lagi sebagai tembok air raksasa yang tingginya mungkin nyampe ke awan.
Dan yang paling bikin Adrian merinding bukan cuma tsunaminya, tapi ribuan titik cahaya perak yang berdiri tegak di puncak gelombang itu. Mereka kelihatan kayak prajurit, tapi posturnya terlalu kaku, terlalu sempurna.
"Kar, lu liat itu kan? Gua nggak lagi halusinasi karena baru dapet jantung baru, kan?" tanya Adrian, suaranya parau. Sekar yang ada di sampingnya nggak jawab. Dia cuma diem, tapi tangannya yang tadi meluk Adrian pelan-pelan lepas.
Matanya yang biasanya penuh keberanian sekarang kelihatan... kosong. Tapi bukan kosong karena takut, melainkan kayak orang yang lagi nerima sinyal radio dari tempat jauh.
"Sekar?" Adrian manggil lagi, kali ini sambil megang pundaknya. Sekar tiba-tiba nengok ke Adrian. Tapi ada yang beda. Matanya nggak cokelat lagi, ada garis-garis perak halus yang muter di pupilnya, mirip banget sama pola yang dulu sering muncul di mata Adrian.
"Mereka nggak dateng buat ngebunuh kita, Adrian," ucap Sekar. Suaranya datar, nggak ada emosinya sama sekali. "Mereka dateng buat jemput apa yang udah jadi hak mereka."
"Maksud lu apa? Siapa mereka?"
"Pasukan Pemulih. Versi penyempurnaan dari apa yang selama ini bokap lu coba buat di lab. Mereka adalah 'The Ancients', penghuni asli Malabar yang udah tidur ribuan tahun sebelum kakek buyut lu nemuin tanah itu. Ledakan energi dari pecahnya peti mati lu tadi itu kayak alarm jam weker buat mereka."
Adrian mundur selangkah. "Jadi maksud lu, semua teknologi perak bokap gua itu sebenernya cuma nyontek dari mereka?" Sekar nggak jawab, dia malah jalan ke arah pinggir dahan, ngelihat ke arah gelombang tsunami yang makin deket.
Suara gemuruh airnya sekarang udah kayak suara ribuan pesawat jet yang lewat barengan. Bumi bergetar hebat, bikin dahan pohon yang mereka pijak mulai retak-retak lagi.
"Adrian, dengerin gua," Sekar noleh lagi, kali ini tatapannya sedikit lebih 'manusiawi'. "Waktu kita nggak banyak. Kapal selam kelompok 'Akar' di bawah sana nggak bakal kuat nahan hantaman ini. Lu harus pake bunga emas itu. Sekarang."
"Pake gimana? Ini cuma bunga, Kar! Bukan remot kontrol!" Adrian teriak karena suara gemuruh air makin kenceng. "Fokus ke jantung emas di dada lu! Bunga itu adalah antena, dan jantung lu adalah energinya! Lu harus 'nyanyiin' frekuensi yang sama sama bunga itu!"
Adrian ngelihat ke arah botol di tangannya. Bunga emas itu mekar makin lebar, kelopak-kelopaknya ngeluarin serbuk cahaya yang mulai melayang-layang di udara. Dia ngerasain jantung mekanis di dadanya berdetak makin kenceng DUM, DUM, DUM rasanya anget, menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.
Dia merem. Dia nyoba buat nggak peduli sama tembok air yang udah tinggal hitungan detik bakal ngebanting mereka. Dia fokus ke rasa tanah yang tadi dia pegang, rasa wangi teh Malabar sehabis hujan, dan rasa hangat tangan Sekar.
Gua adalah akarnya... gua adalah tanahnya... batin Adrian.
Seketika, bunga emas di dalem botol itu meledak jadi partikel cahaya yang masuk ke dalem pori-pori kulit Adrian. Tubuh Adrian nggak jadi transparan kayak dulu, tapi malah jadi padat banget, seolah-olah dia terbuat dari logam paling berat di bumi.
WUUUUUSSSHHHH!
Sebuah kubah cahaya berwarna emas transparan meledak keluar dari tubuh Adrian, ngebentuk pelindung berbentuk bola yang nyelimutin dia, Sekar, dan sisa-sisa dahan pohon itu.
BRAAAAAKKKK!
Tsunami itu ngehantem.
Rasanya kayak dipukul pake palu raksasa. Dunia jadi gelap, penuh air, dan guncangan yang luar biasa hebat. Tapi di dalem kubah emas itu, Adrian dan Sekar tetep kering. Mereka melayang-layang di tengah pusaran air yang gila, kayak ada di dalem mesin cuci raksasa.
Adrian terus fokus, meski kepalanya rasanya mau pecah. Lewat dinding kubah emas itu, dia bisa ngelihat ribuan sosok perak tadi lewat di samping mereka. Mereka nggak berenang, mereka jalan di dalem air seolah-olah gravitasi nggak berlaku buat mereka. Salah satu dari sosok itu sempet berhenti dan ngelihat ke arah Adrian.
Wajahnya nggak punya hidung atau mulut, cuma ada lekukan mata yang bersinar biru redup. Sosok itu ngangkat tangannya, terus nempel telapak tangannya ke kubah emas Adrian.
“Pewaris telah kembali... tapi wadahnya masih mentah,” suara itu muncul langsung di otak Adrian, bukan lewat telinga. Sosok perak itu terus pergi, ngikutin arus tsunami yang sekarang menuju ke arah daratan utama pulau Jawa.
"Adrian, tahan! Jangan lepasin!" Sekar meluk pinggang Adrian, nyoba ngebantu dia supaya tetep sadar. Setelah beberapa menit yang rasanya kayak selamanya, guncangan mulai mereda. Kubah emas itu pelan-pelan naik ke permukaan. Pas Adrian ngebuka mata dan ngelihat ke luar, dia hampir nggak percaya sama apa yang dia liat.
Dunia udah berubah.
Pulau akar yang tadi hancur udah ilang total. Tapi di tempat itu sekarang muncul daratan baru yang jauh lebih luas, ditumbuhi pohon-pohon aneh yang daunnya warna perak dan emas. Air laut di sekitar mereka jadi jernih banget, sampai karang-karang di kedalaman ratusan meter bisa kelihatan jelas.
Dan di kejauhan, di daratan pulau Jawa yang harusnya kena tsunami paling parah, Adrian ngelihat sesuatu yang bikin dia melongo. Tsunaminya nggak ngerusak apa-apa. Air itu malah surut dan ninggalin lapisan kristal perak di atas bangunan-bangunan kota.
Gedung-gedung pencakar langit di Jakarta yang tadinya kusam, sekarang bersinar kayak berlian. Semua kendaraan yang tadinya macet, sekarang melayang pelan di atas jalanan yang berubah jadi jalur energi.
"Apa yang terjadi, Kar? Kenapa tsunaminya malah 'memperbaiki' semuanya?" tanya Adrian bingung. Sekar, yang matanya udah balik normal, duduk lemes di dahan yang sekarang terdampar di pantai daratan baru itu.
"Itu bukan tsunami air biasa, Adrian. Itu adalah gelombang restrukturisasi molekul. Pasukan Perak itu baru aja nge-reset teknologi manusia. Mereka ngubah semua energi kotor jadi energi murni berbasis Malabar."
Adrian ngelihat ke tangannya. Botol kacanya udah pecah, bunganya udah nyatu sama badannya. Dia ngerasa sehat banget, lebih sehat dari yang pernah dia rasain seumur hidup. Tapi di balik rasa sehat itu, ada kegelisahan yang besar.
"Kalau mereka ngerubah dunia jadi kayak gini... terus manusia gimana?"
"Manusia masih ada," sebuah suara berat dateng dari arah belakang mereka.
Jatmiko muncul dari balik semak-semak perak. Bajunya robek-robek, tapi dia kelihatan segar bugar. Di belakangnya, beberapa kru kelompok 'Akar' juga selamat.
"Tapi manusia nggak lagi jadi penguasa tunggal," lanjut Jatmiko. "Dunia sekarang masuk ke era 'Sinkronisasi'. Pasukan Perak itu adalah polisi ekosistem. Mereka bakal mastiin nggak ada lagi perusakan alam. Tapi bayarannya... setiap manusia harus terhubung sama jaringan Malabar. Termasuk kamu, Adrian."
Adrian ngerasa kayak masuk ke penjara yang lebih bagus. "Jadi gua tetep jadi baterai?" "Bukan baterai," Jatmiko nyerahin sebuah alat komunikator kuno yang anehnya masih nyala.
"Kamu adalah jembatannya. Kamu satu-satunya yang punya jantung emas. Pasukan Perak cuma mau dengerin instruksi dari orang yang punya frekuensi emas. Tanpa kamu, mereka bakal terus 'membersihkan' bumi sampai nggak ada satu pun sisa peradaban manusia yang tersisa."
Tiba-tiba, komunikator di tangan Jatmiko bunyi. Suara static yang berisik, terus muncul suara yang sangat familiar.
"Halo? Adrian? Kamu bisa denger suara Ibu?" Adrian hampir jatoh denger suara itu. "Ibu?! Ibu di mana? Bukannya tadi Ibu sama Bapak di menara yang tenggelam?"
"Ibu aman, Nak. Kami ada di 'Titik Akar' yang asli. Tapi Adrian, dengerin Ibu baik-baik. Jangan percaya sama siapa pun yang pake simbol akar melingkar sekarang. Kelompok 'Akar' sudah disusupi. Jatmiko yang ada di depanmu itu bukan Jatmiko yang asli."
Adrian langsung noleh ke arah Jatmiko.
Pria tua itu masih senyum ramah, tapi senyumnya sekarang kerasa kaku banget. Tangannya yang tadi di saku pelan-pelan keluar, dan Adrian liat Jatmiko lagi megang sebuah suntikan berisi cairan warna ungu gelap warna yang sama sama gas yang dipake Aris buat bius Adrian dulu.
"Pak Jatmiko?" Adrian mundur pelan, narik tangan Sekar.
"Aduh, Adrian... sayang banget ya," ucap Jatmiko, suaranya berubah jadi lebih muda, lebih mirip sama... Aris? "Padahal gua udah capek-capek akting jadi orang tua bijak. Memang bener kata pepatah, komunikasi jarak jauh itu selalu ngerusak rencana."
Sekar langsung pasang posisi kuda-kuda, pisaunya udah di tangan. "Siapa lu sebenernya?!" Jatmiko atau orang yang mirip dia ketawa lepas. Dia ngelepas kuncir rambut putihnya, terus ngelupas lapisan kulit sintetis di wajahnya. Di balik topeng itu, ternyata ada wajah seorang pria muda yang mirip banget sama Adrian, tapi dengan bekas luka bakar di sebelah matanya.
"Kenalin, gua Adrian 0.1. Kakak lu yang gagal, yang dibuang ke pembuangan sampah data sebelum lu lahir," ucap pria itu dengan tatapan penuh benci. "Gua punya kakak?" Adrian syok berat.
"Bukan kakak kandung, bodoh. Gua adalah versi pertama raga organik yang lu pake sekarang. Gua punya semua memori lu, semua perasaan lu, tapi gua dibuang karena gua 'cacat' secara emosional. Dan sekarang, gua di sini buat ngambil apa yang harusnya jadi milik gua yaitu Jantung Emas itu."
Tiba-tiba, dari balik hutan perak, muncul puluhan prajurit yang bajunya bukan hijau lagi, tapi hitam dengan logo bunga lili yang udah dimodifikasi. Mereka ngepung Adrian dan Sekar dengan senjata laser yang energinya diambil langsung dari tanah perak itu.
"Sekar, lu tahu apa yang harus dilakuin?" bisik Adrian tanpa nengok. "Gua bakal buka jalan, lu lari ke arah pantai. Ada kapal kecil kelompok 'Akar' yang asli di sana," jawab Sekar lirih.
Tapi sebelum mereka sempet gerak, bumi bergetar lagi. Kali ini getarannya beda. Bukan tsunami, tapi ada sesuatu yang sangat besar lagi jalan mendekat dari arah hutan.
Sesosok raksasa yang tingginya setara pohon teh tadi muncul. Badannya terbuat dari tumpukan logam rongsokan dan akar-akar tua, tapi di tengah dadanya ada cahaya biru yang sangat terang. Raksasa itu megang sebuah pedang besar yang karatan tapi ngeluarin percikan listrik.
"Itu... Guardian Malabar yang asli?" Jatmiko gadungan itu kelihatan kaget juga.
Raksasa itu nggak nyerang Adrian. Dia malah langsung ngayunin pedangnya ke arah pasukan baju hitam, bikin ledakan gelombang kejut yang ngelempar mereka semua. Di tengah kekacauan itu, si raksasa noleh ke arah Adrian.
"Cepat... bawa benihnya ke kawah... sebelum 'Dia' yang sebenarnya bangkit," suara raksasa itu berat banget, bikin tulang Adrian bergetar. "Siapa 'Dia' yang sebenernya?!" teriak Adrian.
Raksasa itu nunjuk ke arah langit. Di sana, di balik awan perak yang cantik, ada sebuah bayangan raksasa yang mulai nutupin matahari. Bayangan itu berbentuk sebuah tangan raksasa yang seolah-olah mau nangkep pulau itu dari langit.
Adrian dan Sekar lari sekuat tenaga, tapi tiba-tiba tanah di bawah mereka retak dan kebuka. Mereka jatuh ke dalem sebuah terowongan bawah tanah yang gelap banget.
Pas mereka mendarat di dasar terowongan, Adrian ngerasa ada yang aneh. Suasananya bukan kayak gua alam, tapi kayak... interior pesawat ruang angkasa yang udah sangat tua dan berlumut.
Di dinding terowongan itu, ada ukiran-ukiran sejarah manusia yang nggak pernah ada di buku sekolah. Ukiran itu nunjukin kalau ribuan tahun lalu, manusia sebenernya dateng dari langit, dan Malabar adalah kapal induk mereka yang mendarat di bumi.
"Kar... lu liat ini?" Adrian nyentuh dinding itu.
Tapi Sekar nggak jawab. Pas Adrian noleh, Sekar udah nggak ada di sampingnya. Yang ada cuma jejak kaki perak yang nuju ke arah kegelapan terowongan yang lebih dalem.
"Sekar?! Kar, lu di mana?!"
Adrian lari nyari Sekar, tapi dia malah nyampe di sebuah ruangan bunder yang besar banget. Di tengah ruangan itu, ada sebuah tabung hibernasi yang masih nyala. Dan di dalem tabung itu, ada seorang wanita yang wajahnya persis banget sama Sekar.
Bukan Sekar yang dia kenal, tapi Sekar versi yang lebih tua, pake baju komandan perang kuno.
Di samping tabung itu, ada sebuah layar kecil yang terus-menerus nampilin pesan: PROYEK REKOLONISASI: STATUS SIAGA. PEMILIK ASLI BUMI TELAH TIBA.
Tiba-tiba, pintu ruangan itu tertutup otomatis, dan suara Sekar yang dia kenal terdengar lewat speaker ruangan.
"Maafin gua, Adrian. Gua harus bangunin 'diri gua' yang asli. Lu harus bertahan sendirian di bawah sana sampai gua balik." Seketika, ruangan itu mulai bergerak naik dengan kecepatan tinggi, ninggalin Adrian yang sendirian di kedalaman bumi, sementara di atas sana, tangan raksasa dari langit mulai menyentuh permukaan laut.
Siapakah Sekar yang sebenarnya, dan apakah selama ini dia hanya mendampingi Adrian untuk mencapai ruangan kuno tersebut? Apa hubungan antara "The Ancients" di Malabar dengan sosok raksasa yang turun dari langit untuk mengambil kembali bumi?
Dan saat Adrian terperangkap sendirian di dalam kapal induk kuno yang terkubur, rahasia apa lagi yang akan terungkap tentang asal-usul manusia yang sebenarnya bukan penduduk asli planet ini?
semangat update terus tor..