Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Monster tangan banyak
Kehangatan mimpi tentang sup ikan Lin Xue mendadak sirna, digantikan oleh sengatan listrik yang sangat menyakitkan di telinga Jian Feng.
"BANGUN, TUAN! BANGUN ATAU KAU AKAN JADI SUP LABA-LABA!" teriak Petir Kecil lewat hubungan jiwa mereka.
CRAAAKKK!
Satu sengatan listrik berkekuatan tinggi menghantam saraf Jian Feng, memaksanya terjaga dari mabuk beratnya. Jian Feng tersedak, kepalanya berdenyut seolah dipukul palu godam.
Namun, saat ia membuka mata, pemandangan di depannya bukan lagi kedai "Rembulan Mabuk" yang hangat, melainkan sebuah reruntuhan yang bersimbah darah.
Dinding kedai telah hancur. Langit malam yang tadinya penuh lampion kini tertutup asap hitam dan debu.
Di sekelilingnya, orang-orang yang tadi ia traktir minum kini tergeletak tak bernyawa dengan tubuh yang terpilin aneh—seolah diperas oleh tangan-tangan raksasa.
Di tengah alun-alun kota, berdiri sebuah entitas yang melampaui logika manusia. Monster Tangan Banyak.
Ukurannya setinggi rumah berlantai tiga. Tubuhnya berupa gumpalan daging abu-abu yang berdenyut, dan dari punggung serta perutnya, muncul puluhan—mungkin ratusan—lengan manusia dengan berbagai ukuran yang bergerak-gerak secara mandiri.
Wajahnya hanya berupa kengerian dengan deretan gigi tajam yang tak henti-hentinya mengunyah potongan tubuh manusia.
"Sial... kepalaku..." Jian Feng berusaha berdiri, namun keseimbangannya masih goyah akibat sisa arak.
"Jangan mengeluh tentang kepalamu! Monster itu baru saja meratakan setengah distrik ini dalam satu ayunan!" seru Petir Kecil yang bulunya berdiri tegak karena takut.
Di sekitar monster itu, lusinan kultivator kota—termasuk para penjaga gubernur dan pendekar bayaran—berusaha melancarkan serangan. Kilatan pedang dan bola api menghujani tubuh monster tersebut.
"Serang matanya! Tahan tangan-tangannya!" teriak seorang kapten penjaga dengan tangan gemetar.
Namun, setiap kali sebuah pedang menebas, sepuluh tangan monster itu akan menangkap bilah pedang tersebut dan mematahkannya seperti ranting kering.
Dengan gerakan yang sangat cepat, lengan-lengan panjang itu melesat, mencengkeram para kultivator, dan menarik mereka masuk ke dalam lubang mulutnya yang menganga.
Suara tulang yang remuk terdengar berderak di udara malam yang dingin.
Melihat pembantaian itu, insting bertarung Jian Feng mengambil alih. Ia menarik Pedang Giok Hitam miliknya. Meski pandangannya masih sedikit ganda, ia melesat maju dengan sisa energi petirnya.
"Petir Emas: Tebasan Kilat!"
Jian Feng berubah menjadi garis cahaya emas, menebas lima lengan monster itu sekaligus. Namun, monster itu mengeluarkan raungan yang memekakkan telinga.
Sepuluh lengan lainnya tiba-tiba memanjang secara tidak wajar, menyerang Jian Feng dari sudut buta.
BUMMM!
Karena pengaruh alkohol yang memperlambat refleksnya, Jian Feng terlambat menghindar. Sebuah kepalan tangan raksasa menghantam dada kirinya, sementara tangan lainnya mencengkeram bahunya dan menghempaskannya ke tembok batu dengan kekuatan luar biasa.
KRAAAKK!
Jian Feng memuntahkan darah segar. Jubah hitamnya yang gagah kini koyak parah, memperlihatkan luka lebam kebiruan di dadanya.
Tudungnya robek, dan rambut hitamnya terurai berantakan, basah oleh darah yang mengalir dari pelipisnya.
"Tuan!" Petir Kecil mencoba membantu dengan melepaskan jaring listrik untuk menahan tangan-tangan yang terus mengejar Jian Feng, namun monster itu terlalu kuat. Jaring-jaring itu robek dalam sekejap.
Jian Feng merangkak bangun di tengah puing-puing. Pakaiannya sudah hampir menjadi kain perca; lengan bajunya hilang sebelah, dan celananya dipenuhi lubang akibat gesekan dengan reruntuhan.
Ia tampak sangat babak belur, jauh dari sosok "Kakek Tampan" yang narsis beberapa jam lalu.
"Hah... hah... monster ini... kekuatannya berada di puncak Manifestasi Roh," bisik Jian Feng sambil menyeka darah di bibirnya. "Dan aku... aku terlalu meremehkannya karena arak sialan itu."
Monster itu kini memutar seluruh wajahnya ke arah Jian Feng. Ratusan tangannya mulai menunjuk ke arahnya secara bersamaan, menciptakan pemandangan yang sangat mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri.
"Ayo, Kecil," Jian Feng menggenggam pedangnya lebih erat, meskipun tangannya gemetar karena luka dalam. "Jika aku mati di sini, Lin Xue akan menertawakanku di alam baka. Kita harus memutus semua tangan ini... satu per satu."
thor lu kaya Jiang Feng