"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.30. Rencanaku pun mulai berjalan. [RUKMINI]
Ke esokan harinya, Rukmini sedang duduk di ruang tamu sambil mengaduk teh nya, dia duduk dengan tenang dan kemudian menyeruput teh itu..
"Pas.." Gumam Rukmini.
Saat itu ayah nya baru pulang dengan wajah sangat lesu seperti keseringan begadang. Lingkaran di matanya begitu nyata dan dia membawa satu kresek hitam yang entah apa isi nya.
"Sri! Aku muleh. Iki tak bawakan hasilnya." Teriak ayah Rukmini, Rukmini hanya menatap ayah nya itu dengan sekilas.
"Istrimu sudah kabur, pak." Ucap Rukmini, ayah nya terkejut.
"Kabur!? Kabur pie maksud nya!?" Ucap ayah Rukmini, Rukmini tersenyum.
"Yo kabur.. Pergi dari rumah iki, karena ndak mau hidup sama bapak lagi." Ucap Rukmini santai, ayah nya terdiam sejenak.
Setelah diam, dia pergi ke dalam dan membuka kamar nya, memang tidak ada istrinya. Dia juga pergi ke dapur dan ke belakang rumah, tetap tidak menemukan istrinya. Ayah Rukmini kemudian pergi ke ladang, dia melihat kesana kemari mencari keberadaan istrinya.. Tapi tetap tidak ada.
"Kang, cari siapa?!" Tanya orang - orang yang melihat ayah Rukmini.
"Sri, bojoku. Lihat dia, ndak?" Tanya ayah Rukmini.
"Ndak ke sawah koyoe, ndak lihat aku." Ucap tetangga nya, ayah Rukmini tertegun.
"Sri, koe ninggal (meninggalkan) aku." Gumam nya.
Ayah Rukmini lalu kemudian teringat, hari jumat biasanya istrinya itu pergi ke pasar. Ayah Rukmini buru - buru pergi dari sana dan meminjam sepeda milik tetangga sawah nya.
"Pinjem sepedamu, yo? Nanti tak balekno." Ucap ayah Rukmini, dia pergi menuju ke pasar..
Sementara itu kembali di rumah, Rukmini sedang kedatangan tamu. Tamunya adalah calo yang dia mintai bantuan agar bisa membeli kios di pasar, pria itu datang dengan penampilan klimis nya dan membawa kabar baik untuk Rukmini, kios itu di lepaskan oleh pemiliknya pada Rukmini.
"Matur kesuwun, kang." Ucap Rukmini, si calo terkekeh..
"Aduh, aku yang matur kesuwun lho den ayu. Aku kecipratan bonus nya, hehe.." Ucap si calo, Rukmini tersenyum.
"Sesuai janji.. saya akan berikan ketulusan hati saya, sebagai tanda terimakasih.." Ucap Rukmini tersenyum, dia bangun dari duduk nya dan berjalan pergi.
"Ayo kang.." Ucap Rukmini, di calo tersenyum senang mendengar nya dan buru - buru bangun mengejar Rukmini.
"Aku teko, den ayu.." Ucap si calo.
Mereka masuk kedalam kamar, dan Rukmini mulai membuka kancing kebaya nya dan menurunkan nya dari bahu. Mata si calo menjadi berbinar melihat nya, dia pernah sekali dengan Rukmini tapi saat itu tidak sampai melihat se detail itu..
'Laki - laki memang akan selalu lupa daratan saat di hadapkan dengan tubuh telanjang.' Batin Rukmini..
Dan beberapa saat kemudian ayah nya Rukmini kembali pulang dengan wajah lesu, dia tidak menemukan istrinya di pasar. Bahkan penjual tempat langganan istrinya pun bilang bahw istrinya tidak ke pasar hari itu, pesanan nya tidak di ambil.
Saat masuk ke rumah, ayah nya Rukmini berpapasan dengan si calo yang baru keluar dari kamar Rukmini dan Rukmini yang juga ikut keluar dengan rambut terurai meski memakai kebaya. Si Calo kebingungan, dia hanya tersenyum pada ayah Rukmini.
"Koe terima tamu siang - siang, Mini!?" Tanya ayah Rukmini, Rukmini tersenyum.
"Iyo." Jawab Rukmini singkat.
"Kang, terimakasih yo.." Ucap Rukmini pada si calo dan calo itu tersenyum penuh semangat.
"Aku lho yang makasih, den ayu. Kalo begitu tak pulang dulu, yo?" Ucap di Calo dan Rukmini mengangguk.
Si calo lalu pergi dari rumah Rukmini, ayah Rukmini sampai tidak bisa berkata apa - apa. Dia duduk lesu karena istrinya tidak di temukan di manapun..
"Koe kok ndak cari ibumu, toh?" Tanya ayah Rukmini, Rukmini lalu mengangkat kedua tangan nya dan mulai menggelung rambut nya.
"Ibu sudah dewasa toh, nek inget rumah yo nanti juga pulang." Jawab Rukmini, dia lalu duduk di depan ayah nya dan menyalakan rokok linting nya.
"Fuuhhh.."
Rukmini tersenyum tipis karena dia membayangkan ibunya semalaman pasti sudah di hajar habis - habisan oleh orang - orang di rumah londo, sementara atah nya di sini seperti orang gila yang kebingungan mencari keberadaan istrinya.
"Koe ndak ada rasa khawatir? Dia ibumu, Mini." Ucap ayah nya, Rukmini melirik menatap ayah nya.
"Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku masih anggap dia ibuku, lho. Karena selama ini aku sudah ndak menganggap kalian sebagai orang tuaku." Ucap Rukmini, ayah nya tertegun.
"Wani, koe?" Ucap ayah nya, Rukmini terkekeh.
"Lho, nyata kok. Kapan yo, mungkin sejak hari ibu dan bapak suruh aku jadi pelacur dan bapak bahkan ikut meniduri aku." Ucap Rukmini, ayah nya mendengus.
"Nek koe ndak peduli sama ibumu yo sudah, toh dia ibumu. Tak kasih tau koe, aku iki bukan bapak kandungmu." Ucap ayah Rukmini, Rukmini tertegun mendengar nya.
"Ibumu nikah sama bapak, tapi dia sudah hamil koe." Imbuh ayah nya..
"Sudah tau ibu hamil sama laki - laki lain kenapa bapak tetap nikahi ibu?" Tanya Rukmini, ayah nya tersenyum getir.
"Iku karena bapak kecolongan. Tapi toh koe tetap lahir dan tak besarkan pakai tanganku sendiri, jadi anggap saja iku bayaran untuk jasa bapak besarkan koe." Ucap ayah Rukmini, hati Rukmini kembali tersentil.
"Nanti nek ibumu ndak pulang.. Jangan salahkan bapak datang ke kamarmu lagi." Ucap ayah Rukmini, lalu pergi masuk ke dalam kamar nya.
"Bajingan!" Gumam Rukmini.
"Meski aku bukan anakmu, bukan berarti koe bisa lecehkan aku, toh. Aku selalu bertanya - tanya kenapa bapak ndak pernah sayang aku sampe ibu pun juga jadi ndak sayang aku, ternyata aku bukan anak bapak." Gumam Rukmini lagi, senyum miring nya terbit.
"Yang salah ibu, tapi aku yang tanggung dosa nya sampe bapak balas dendam ke aku. Nek koe ndak mati di tanganku, aku ndak akan pernah tenang." Ucap Rukmini, tatapan nya penuh dendam.
Rukmini bangun dan berjalan ke arah dapur, dia melibat ke selipan - selipan bambu tempat ibunya biasa menyusun sajam dari yang kecil sampai ysng besar. Ada rencong, golok, parang, cangkul, pisau dari besar sampai kecil, bahkan senjata tajam yang sudah tua dan berkarat pun masih di simpan nya di susun rapi di dinding bilik.
Rukmini tidak mencari yang paling tajam atau yang paling besar, tatapan matanya terkunci pada pisau tua yang gagang kayunya berwarna hitam dan sudah berkarat. Senyum nya lalu terbit, Rukmini berjalan dan mengambil pisau berkarat itu entah untuk apa.
Setelah mengambil pisau itu, Rukmini lalu pergi masuk kedalam kamar nya dan dia duduk di depan meja rias nya sambil memandangi pisau itu dengan senyum penuh dendam nya.
"Ngincer aku toh, ndhang (ayo) tak ladeni.." Gumam Rukmini.
BERSAMBUNG!