NovelToon NovelToon
Fated Across Borders: Shared Wounds

Fated Across Borders: Shared Wounds

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiano R

Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.

Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Setibanya di rumah, Brian menaruh sepedanya di garasi. Di sana hanya ada sebuah mobil yang jarang ia gunakan—mobil itu hanya dipanaskan setiap hari.

Brian melangkah menuju pintu depan sambil merogoh saku celananya untuk mengambil kunci. Namun ia terdiam.

Pintu itu tidak terkunci.

Brian membukanya perlahan. "Hei, Amayah, kau lupa mengunci pintu?" panggilnya.

Tak ada jawaban.

Ia masuk dan melepas sepatunya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sepasang sepatu wanita dewasa, dan sepasang sepatu anak-anak.

"Sepatu siapa ini…?"

Tiba-tiba terdengar suara langkah kecil berlari dari arah ruang tamu. Brian refleks berjongkok, menatap ke arah suara dengan waspada.

"Paman Brian!" seru seorang gadis kecil berambut pirang sambil berlari dan mengangkat kedua tangannya.

Tak lama kemudian, muncul seorang wanita yang lebih tua dari Brian. Ia berjalan santai dengan senyum ramah.

"Kamu sudah pulang ya?" tanyanya lembut.

Dalam sekejap, dunia yang selama ini terasa hampa dan monoton mendadak dipenuhi warna. Mata Brian membesar. Kehangatan yang asing namun nyaman menyelimutinya—sebuah perasaan disambut dengan senyuman saat pulang ke rumah.

"Apa ini… mimpi?" batin Brian.

Brian berdiri dengan wajah kebingungan. Menatap ke arah anak kecil yang berlari ke arahnya. Gadis kecil itu mengenakan one-piece dress yang mengusung tema retro-modern yang sangat menggemaskan.

Kombinasi warnanya benar-benar pas—perpaduan antara warna krem susu yang lembut dengan aksen cokelat moka pada bagian rompi dadanya. Kerah kemejanya yang tegak, tapi bagian lengan balonnya yang mengembang lucu, memberikan volume setiap kali ia menggerakkan tangan.

Lalu detail tali pita di sisi pinggangnya, seperti gaun itu dirancang khusus untuk dipakai bertualang di taman kota yang dipenuhi dedaunan kering, gaya yang sederhana namun tetap elegan.

Gadis itu berlari ke arahnya dan memeluk kaki Brian dengan lembut, lalu menatap ke atas, ke arah Brian. Brian menunduk, menatap anak itu masih dengan ekspresi bingung.

"Sophia?" tanya Brian.

"Kamu sudah tinggi ya," ujar seorang wanita di belakang gadis kecil yang ternyata bernama Sophia.

Rambut hitam pendeknya membingkai wajahnya dengan rapi, namun yang paling mencolok adalah sepasang mata oranye yang berkilau lembut, memancarkan kehangatan yang tulus. Tingginya sepadan dengan Brian, menciptakan harmoni visual yang menyenangkan.

Ia mengenakan rompi rajut berwarna putih bersih yang menonjolkan otot lengannya yang terbentuk indah dan kulit lengan hingga tangan yang tampak putih mulus. Rompi itu dipadukan dengan rok sedang berwarna putih senada, menciptakan keseluruhan tampilan yang sederhana namun elegan. Setiap detail pada pakaiannya seolah dirancang untuk menonjolkan kecantikan alami dan pembawaannya yang menawan.

"Tante Emilia?" tanya Brian dengan nada bingung.

Ternyata wanita dewasa itu bernama Emilia, bibi Brian, dan gadis kecil yang sejak tadi memeluknya adalah Sophia, keponakannya.

"Sejak kapan kalian tiba di sini?" tanya Brian masih terlihat kebingungan.

Sophia menjawab dengan wajah ceria dan suara lantang, "Sophia dan Mama sampai satu jam yang lalu!"

"Oh ya? Mengapa kalian tidak mengabariku terlebih dahulu?" Brian heran dengan kedatangan mereka yang begitu mendadak.

"Yah, anggap saja ini sebuah kejutan," jawab Emilia santai.

Brian tersenyum skeptis. "Aku hampir mengira aku salah memasuki rumah," katanya bercanda.

"Hahaha! Ini efek kelamaan tinggal sendiri," ejek Emilia sambil tertawa kecil.

Setelah tawanya mereda, Emilia tersenyum lembut lalu memeluk Brian dengan erat. "Tante merindukanmu," ucapnya penuh kehangatan.

Brian merasakan kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan. "Ya…" balasnya sambil tersenyum tulus.

"Kalau begitu ayo makan malam!" seru Emilia penuh semangat.

Mereka pun melangkah masuk ke rumah. Di tengah perjalanan, Sophia menarik perhatian Brian.

"Paman tahu tidak? Sophia peringkat pertama di sekolah!" seru gadis kecil itu dengan bangga.

Brian tersenyum senang. "Oh ya? Tapi itu belum cukup untuk mengalahkan paman," ujarnya percaya diri.

"Sophia pasti akan mengalahkan paman suatu hari nanti!" balas Sophia penuh keyakinan.

"Kalau Sophia berhasil, paman akan berikan apa pun yang Sophia inginkan," kata Brian santai.

"Benarkah? Kalau begitu Sophia akan terus mencoba!" jawabnya antusias.

Melihat kedekatan mereka, Emilia tersenyum bahagia. "Terakhir kali kamu bertemu Sophia itu saat kamu masih sembilan tahun, bukan?" tanyanya sambil membuka laci dapur.

"Ya, waktu pertemuan keluarga besar. Tante memintaku menjaga Sophia yang masih beberapa bulan," jawab Brian datar.

"Dan kamu bahkan kesulitan menggendongnya," kata Emilia sambil tertawa.

"Wajar saja, aku tidak tahu caranya," ujar Brian sambil tersenyum kecil.

"Benar juga. Seharusnya kakak menambah anaknya supaya kamu punya adik," ujar Emilia santai.

"Jika begitu, aku harap dia bisa merasakan kasih sayang sejak kecil," jawab Brian dengan ekspresi datar.

Ucapan itu membuat Emilia terdiam sesaat. "Ngomong apa sih kamu. Sekarang kamu dikelilingi keluarga yang menyayangimu. Jangan berpikir seperti itu," katanya lembut.

Brian terdiam, lalu menyadari sesuatu. Ia terlalu larut dalam masa lalunya, hingga lupa bahwa kehangatan perlahan hadir dalam hidupnya.

"Terima kasih," ucapnya tulus.

"Bagaimana kabar Hannah?" tanya Emilia sambil menyuguhkan secangkir teh.

"Sepertinya baik-baik saja. Meski sibuk, dia masih menyempatkan diri menemuiku saat Natal," jawab Brian.

Sophia memilih menonton kartun di televisi agar tidak mengganggu pembicaraan mereka.

"Dia memang ceroboh. Pekerjaannya menumpuk karena ulahnya sendiri," ujar Emilia sambil tersenyum miring.

"Bahkan saat kamu masih bayi, ia sering membuatmu menangis tanpa sengaja," lanjutnya.

"Benarkah?"

"Ya. Dia bertindak seperti pengasuh, bukan orang tua. Padahal kakak berharap ia bisa menggantikan sementara," ucap Emilia tenang.

Brian mengangguk pelan. "Tapi Hannah memberikanku banyak hal. Dia satu-satunya yang menemaniku saat semua orang menjauh," ujarnya.

Emilia tersenyum lembut. "Sekarang, jangan ragu berbagi dengan keluargamu. Kamu sudah dewasa."

Brian merasakan kehangatan yang menenangkan.

Saat hendak memasak, Emilia membuka kulkas dan terlihat bingung. "Isinya sedikit sekali."

Brian yang melepas kaus kaki menjawab, "Kami belum belanja mingguan."

"Kami?" Emilia menoleh heran.

Langkah kaki terdengar dari arah pintu. Sesosok wanita muncul.

"Apa kau melihat charger ponselku, Brian?" tanya Amayah datar.

Namun ia terdiam ketika melihat Emilia dan Sophia.

"Eh… siapa…?" tanya Emilia.

"Dia Amayah, tetanggaku. Dia sering mampir untuk memasak," jelas Brian.

Suasana hening sejenak.

Tiba-tiba Emilia menghampiri Amayah dan menggenggam kedua tangannya. "Jadi kamu yang sering memasak untuk Brian? Terima kasih sudah menjaganya," katanya ramah.

"Y-Ya… saya hanya ingin berbuat baik sebagai teman," jawab Amayah gugup.

"Eh… teman atau teman~" goda Emilia.

"Kami hanya berteman!" balas Amayah tersipu.

"Hahaha!" Emilia tertawa puas. "Namaku Emilia Katherine, tantenya Brian. Ini putriku, Sophia Isabella Martinez."

"Saya kira saya salah memasuki rumah," ucap Amayah malu.

"Kalian mengatakan hal yang sama! Serasi sekali. Tante merestui!" seru Emilia ceria.

"Tante, hentikan," kata Brian datar.

"Maaf. Tante senang mengetahui Brian tidak sendirian lagi," ujar Emilia lembut.

"Karena bahan makanan sedikit, kita harus belanja," lanjutnya.

"Brian, temani Amayah belanja."

"Aku?"

"Jangan biarkan wanita belanja sendirian."

"Itu benar!" sahut Amayah.

"Baiklah…" Brian menghela napas.

"Sophia ingin ikut!" seru gadis kecil itu.

"Boleh," jawab Amayah ramah.

"Jangan merepotkan ya," pesan Emilia.

"Baik!" jawab Sophia ceria.

---

Di dalam supermarket, Brian, Amayah, dan Sophia menyusuri lorong-lorong untuk mencari bahan makanan yang diperlukan. Sophia duduk manis di kursi troli khusus anak, sementara Brian mendorongnya perlahan. Di sisi lain, Amayah sibuk mengecek daftar belanja.

Sambil berjalan, Sophia tiba-tiba menyanyikan sebuah yel-yel dengan penuh semangat.

"Belanja bersama paman dan Kak Amayah~ Belanja bersama paman dan Kak Amayah, yeay, yeay, yeay!" nyanyinya ceria.

"Bumbu dapur… cabai, tomat…" gumam Amayah pelan, fokus.

Namun perhatian Sophia teralihkan. Ia menunjuk ke arah rak yang menjual berbagai aksesori seperti topi, kacamata, dan pernak-pernik lainnya.

"Paman, ayo ke sana!" serunya antusias.

Brian sempat kebingungan, tetapi akhirnya menuruti keinginan Sophia. Ia mendorong troli ke arah rak aksesori, meninggalkan Amayah yang masih asyik membaca daftar belanja.

Beberapa detik kemudian, Amayah baru menyadari mereka bergerak ke arah yang salah.

"Hei, mau pergi ke mana?" teriaknya.

"Ke sana," jawab Brian singkat.

"Tapi belanjanya?"

"Nanti saja. Masih ada waktu," ujar Brian santai.

Amayah menggelengkan kepala beberapa kali lalu menghela napas ringan. "Kau ini…"

Ia pun menyusul mereka. Setibanya di rak aksesori, suasana justru berubah menjadi riuh. Sophia tampak sangat senang mencoba berbagai topi dan kacamata, begitu juga Amayah yang ikut larut. Mereka tertawa melihat aksesori-aksesori lucu yang tampak semakin menggemaskan saat dikenakan Sophia.

Brian hanya berdiri di samping, memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Entah kenapa, melihat keakraban keduanya membuat dadanya terasa hangat.

Setelah cukup bersenang-senang, mereka kembali ke tujuan awal—berbelanja. Persediaan untuk satu minggu pun berhasil dikumpulkan. Amayah dan Sophia terlihat semakin akrab, saling bercanda di sela-sela belanja. Kepolosan Sophia membuat Amayah berkali-kali tersenyum.

Brian pun ikut merasakan sesuatu dalam dirinya, rasa senang yang perlahan tumbuh.

"Mau beli es krim setelah ini?" tanya Brian dengan senyum tipis.

"Es krim? Sophia mau!" seru Sophia tanpa ragu.

Usai belanja, mereka mendatangi sebuah kios es krim. Sophia langsung memesan rasa favoritnya.

Sementara itu, Amayah tampak menatap menu cukup lama.

"Kalau kau mau juga, pesan saja. Biar aku yang traktir," ucap Brian santai.

"Tidak apa-apa. Siapa yang bilang kalau aku mau es krim?" tanya Amayah datar.

"Hmm…" Brian hanya merespons singkat.

Namun beberapa detik kemudian, Brian mendekati penjual. "Pesan es krim matcha ukuran medium satu," katanya.

"Eh? Sudah kubilang aku tidak ingin," ujar Amayah kebingungan.

"Tidak usah berbohong. Aku tahu kau menginginkannya," kata Brian datar.

Mendengarnya, hati Amayah terasa hangat. Namun ia tetap berusaha menutupi perasaannya. "Kalau begitu… terima kasih," ucapnya pelan.

Setelah es krim diterima, Amayah langsung mencicipinya. Matanya sedikit membesar.

"Enak sekali…" gumamnya.

Ia menoleh ke arah Brian. "Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau aku suka matcha?" tanyanya.

"Aku kebetulan melihat ponselmu masih menyala saat kau pergi ke toilet. Kau sedang menonton konten tentang matcha, bahkan menyukainya dan menyimpannya ke favorit. Jadi aku pikir kau memang menyukainya," jawab Brian santai, cukup panjang.

"Begitu ya…" Amayah tersenyum kecil. "Pokoknya terima kasih…" katanya malu.

"Sama-sama," balas Brian singkat.

"Ini enak sekali! Sophia suka!" seru Sophia ceria.

"Benarkah?" Amayah mendekat.

Sophia langsung menyodorkan es krimnya. "Kak Amayah bisa mencicipinya!"

Amayah pun mencicipi es krim itu. "Hmm, rasa stroberi juga tidak kalah enak," katanya dengan ekspresi serius, seolah sedang menjadi penilai makanan profesional.

"Paman juga mau coba?" tanya Sophia polos.

Brian pun mencicipinya—tepat di bagian yang sama dengan bekas gigitan Amayah.

Wajah Amayah seketika memerah.

"B-Bukankah itu… ciuman tidak langsung?!" batinnya panik.

Sementara Brian sama sekali tidak menyadarinya. "Sophia benar. Rasanya memang enak," ujarnya santai.

"Benar kan!" kata Sophia bangga.

Brian dan Sophia lalu sama-sama kebingungan melihat Amayah yang tiba-tiba menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil menunduk.

---

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

---

Setibanya di depan rumah, Brian, Amayah, dan Sophia turun dari mobil yang terparkir rapi di garasi. Saat hendak masuk, langkah Sophia tiba-tiba terhenti tepat di depan pintu. Pandangannya terangkat, terpaku pada langit senja yang membentang indah.

"Cantik sekali!" pujinya santai, matanya berbinar.

Brian dan Amayah ikut menoleh, menikmati warna jingga yang perlahan menyelimuti langit. Namun, hal yang lebih mengejutkan terjadi sesaat kemudian. Sophia berlari kecil beberapa langkah ke depan, lalu berhenti dan berbalik menghadap mereka.

"Paman, Kak Amayah, Sophia sangat senang hari ini bisa jalan-jalan bersama!" serunya dengan senyum manis yang begitu tulus.

Melihat ekspresi itu, Amayah tak sanggup menahannya lagi. Ia segera mendekat, berjongkok di hadapan Sophia, lalu mencubit kedua pipi gadis kecil itu dengan gemas.

"Kamu imut sekali~" puji Amayah, akhirnya meluapkan keinginannya sejak awal bertemu Sophia.

Melihat tingkah Amayah, Brian hanya berkomentar datar, "Kau seperti anak-anak saja."

"Biarkan, wlee," balas Amayah sambil menjulurkan lidahnya, lalu kembali meremas pipi Sophia yang lembut.

"Lepaskan~" keluh Sophia pelan, merasa sedikit tidak nyaman karena pipinya terus dimainkan.

Amayah justru tersenyum bahagia, seolah sedang memeluk boneka hidup. Sementara itu, Brian hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan tersebut.

"Kalian sudah pulang? Ayo cepat masuk, sebentar lagi makan malam!" teriak Emilia santai dari dalam rumah.

"Biar saya bantu memasak," usul Amayah ringan.

"Dengan senang hati!" balas Emilia terdengar ceria.

Bersambung.

1
Rama Iskandar
end ny gk nikah?
Zildiano R: Ini baru tamat part 1, part 2 nya menyusul, join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
p
Rama Iskandar
sepi amat
Rama Iskandar
p
SaeKanai
Saya puas dengan endingnya🤣🤣
semangat terus bang!!!
Zildiano R: thank you👍
total 1 replies
sakura
...
gralsyah
diam-diam menghanyutkan tuh si amayah ya 😭 gk ketebak wkwk
Zildiano R: wkkwk🤣
total 1 replies
gralsyah
mampir kak author. ihh seruuuu. ceritanya
Zildiano R: terima kasih~
total 1 replies
Marley Howard
keren cuy
Zildiano R: makasih🙏
total 1 replies
Arisell
semangat oi
Zildiano R: makasih, siap🙏
total 1 replies
Khai Dok
udah chat ke editor ya... covernya?
Zildiano R: sudah👍
total 1 replies
Khai Dok
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!