Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah untuk Sang Naga – Penebusan Terakhir
POV Maria Joanna
Duniaku seolah berputar dalam pusaran api dan kegelapan. Langit Montserrat yang suci, yang seharusnya menjadi saksi penobatanku, kini tertutup jelaga hitam dari meriam-meriam armada Pangeran Li yang terus membombardir pesisir Barcelona. Namun, musuh terbesarku saat ini bukanlah besi panas dari laut, melainkan racun sihir yang merambat di dalam nadiku sendiri.
Segel hitam di leherku berdenyut liar, seirama dengan detak jantungku yang melemah. Setiap denyutannya mengirimkan gelombang rasa sakit yang membuat tulang-tulangku serasa remuk. Aku bisa merasakan kesadaranku perlahan tergerus, digantikan oleh bisikan-bisikan jahat yang bukan milikku.
"Lihatlah dirimu, Maria..." Suara itu dingin, halus, dan penuh kebencian. Bayangan Permaisuri Wu, wanita yang telah menghancurkan hidup ibuku di China, kini berdiri di depanku sebagai manifestasi sihir hitam. "Kau pikir kau bisa lari ke ujung dunia dan menjadi ratu? Di dalam dirimu mengalir darahku, darah yang telah kukutuk sejak kau masih dalam rahim."
Aku terbatuk, memuntahkan cairan hitam kental yang berbau belerang ke atas lantai marmer biara. Pandanganku memerah. Di depanku, bayangan itu merayap mendekati Julia yang terpojok di bawah reruntuhan altar. Julia, ibuku yang malang, hanya bisa memeluk sebuah salib tua sambil menangis ketakutan.
"Jangan... sentuh dia..." aku mengerang. Aku mencoba mengangkat belati perakku, namun tanganku terasa seberat timah. Kekuatan Qi naga yang biasanya mengalir deras kini terperangkap oleh segel hitam itu.
Tiba-tiba, sebuah langkah kaki yang berat namun mantap mendekat. Bukan langkah musuh, melainkan langkah seseorang yang membawa aura perlindungan yang luar biasa hangat. Arthur—ayahku, pria yang selama ini kubenci karena pengabaiannya—berdiri di depanku. Dia menghalangi pandangan bayangan Wu dengan tubuhnya yang kekar, meski zirahnya sudah hancur berantakan.
"Ayah... pergi..." bisikku parau, menahan rasa sakit yang membakar leherku. "Kutukan ini... dia akan meledak dan menghancurkan semua orang di sini."
Arthur tidak bergerak sedikit pun. Dia justru berlutut di hadapanku, mengabaikan reruntuhan yang terus berjatuhan dari atap biara. Matanya yang biru keabuan menatapku dengan kelembutan yang menyayat hati—tatapan seorang ayah yang siap menukar nyawanya demi sang anak.
"Maria, kau telah menghabiskan seluruh hidupmu untuk bertahan hidup sendirian di dunia yang kejam," suaranya berat namun penuh keyakinan. "Sekarang, berhentilah bertarung sendirian. Biarkan Ayah menebus dosa belasan tahun ini dalam satu momen terakhir."
POV Arthur (Sang Raja Sejati)
Aku melihat putriku menderita, dan setiap erangannya adalah belati yang menikam jantungku. Dulu, ibunda Maria pernah bercerita tentang Ritual Ikatan Darah Abadi. Itu adalah pengetahuan terlarang dari daratan Timur yang hanya bisa dipicu oleh pengorbanan darah murni dari seseorang yang mencintai korban tanpa syarat. Untuk memutus kutukan hitam yang merenggut nyawa, dibutuhkan nyawa lain sebagai penyeimbang.
"Sebastian! Amankan Julia! Bawa dia ke ruang bawah tanah sekarang!" perintahku tanpa mengalihkan pandangan dari Maria.
Sebastian melesat seperti kilat, menebas bayangan kabut Wu dengan pedang peraknya yang telah diberkati, menciptakan celah bagi Julia untuk lari. Aku kini sendirian dengan Maria yang sedang bertaruh nyawa melawan iblis di dalam dirinya.
Aku mengambil belati perak Maria yang tergeletak di lantai. Logam dingin itu berkilat memantulkan cahaya api dari luar.
"Apa yang kau lakukan, Arthur?!" Maria berteriak, suaranya kini bercampur dengan geraman tidak manusiawi. Kegelapan mulai menutupi pupil matanya sepenuhnya.
"Memberikanmu kembali takhtamu, Putriku. Dan memberikanmu kembali hidupmu," jawabku mantap.
Tanpa ragu, aku menyayat telapak tangan kananku secara melintang. Luka itu dalam, sangat dalam hingga mengenai tulang. Darah merah segar—darah murni garis keturunan bangsawan Spanyol yang telah memerintah selama berabad-abad—mengalir deras, membasahi tanganku.
Aku menempelkan telapak tanganku yang berdarah itu tepat di atas segel hitam yang berdenyut di leher Maria.
SREEEETTTTT!
Suara desisan seperti besi membara yang dicelupkan ke dalam air es memenuhi ruangan. Cahaya putih yang menyilaukan meledak dari titik pertemuan tangan kami. Aku merasakan rasa sakit yang tak terlukiskan, seolah-olah jiwaku sendiri sedang ditarik paksa keluar melalui luka di tanganku untuk menelan kegelapan di tubuh Maria.
"AAARRGGHHH!" aku meraung. Tubuhku bergetar hebat hingga ke sumsum tulang. Kegelapan itu, akar-akar hitam kutukan itu, mulai berpindah. Mereka merayap naik ke lenganku, membakar kulitku hingga menghitam dan layu dalam hitungan detik. Namun, aku tidak melepaskan tanganku. Aku menggenggam lehernya lebih erat, menyalurkan setiap tetes kehidupan yang tersisa di tubuhku kepadanya.
POV Maria Joanna
Seketika, rasa dingin yang membeku di dalam nadiku digantikan oleh aliran panas yang murni dan menenangkan. Itu bukan panas yang merusak seperti api naga, melainkan kehangatan cahaya matahari musim semi yang menghidupkan kembali bunga-bunga yang mati. Segel di leherku retak, hancur menjadi abu yang tertiup angin kencang.
Aku menarik napas panjang, paru-paruku seolah baru pertama kali merasakan oksigen yang bersih. Kekuatanku kembali dengan ledakan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Namun, kegembiraanku sirna saat aku melihat Arthur ambruk di pelukanku.
Wajahnya tampak menua sepuluh tahun dalam sekejap. Rambutnya memutih, dan tangannya yang tadi memegangku kini menghitam legam, layu seolah-olah seluruh energinya telah disedot habis.
"Ayah!" aku menangkap tubuhnya, air mataku akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung. "Kenapa kau melakukan ini? Kenapa harus sejauh ini?!"
Arthur tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat langka. "Pergilah..." bisiknya, suaranya nyaris hilang di tengah gemuruh perang. "Tunjukkan pada mereka... bahwa naga Spanyol telah bangkit. Selamatkan... duniaku... duniamu."
Matanya perlahan tertutup. Napasnya masih ada, namun tersengal-sengal di ujung maut. Amarahku meledak, namun kali ini amarah itu terkendali dan tajam. Aku berdiri, meninggalkan Arthur di bawah perlindungan Sebastian yang baru saja kembali.
Aku berjalan menuju tepi tebing Montserrat, tepat di mana Isabel jatuh tadi. Aku menatap ke bawah, ke arah pelabuhan di mana ratusan kapal perang raksasa dengan layar hitam naga emas milik Pangeran Li terus memuntahkan peluru meriam.
Aku merentangkan tanganku ke samping. Kekuatan naga di dalam diriku kini bersenyawa sempurna dengan darah pengorbanan Arthur. Rambut hitamku berkibar liar di tengah badai, dan dari punggungku, aura emas-merah membentuk sayap naga raksasa yang menutupi separuh langit biara.
"Pangeran Li!" suaraku bergema, mematikan suara ledakan meriam dan membuat ombak di bawah sana berhenti bergejolak. "Kau membawa api ke rumahku, maka aku akan menenggelamkanmu dalam lautan darah yang kau ciptakan sendiri!"
Aku melompat dari tebing. Tubuhku tidak jatuh, melainkan melesat seperti komet emas menuju kapal induk utama di tengah samudera. Setiap kapal perang yang kulalui meledak atau terbalik hanya karena tekanan udara yang dihasilkan oleh auraku.
Aku mendarat di dek kapal induk utama dengan dentuman yang membelah kayu jati kapal menjadi dua bagian. Puluhan prajurit elit China terlempar ke laut. Di sana, di depan singgasana emasnya, Pangeran Li berdiri dengan wajah pucat pasi.
"Tembak dia! Bunuh penyihir itu!" teriaknya histeris sambil mengayunkan kipas emasnya.
Aku menatapnya dengan mata naga yang menyala terang. "Permainan caturmu berakhir di sini, Kakak," kataku dingin, sambil menghunus belati perakku yang kini telah berubah menjadi pedang cahaya panjang.
Tepat saat pedangku berada satu inci dari leher Pangeran Li, bumi dan laut berguncang dengan frekuensi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dari dasar laut yang gelap di belakang armada China, muncul sebuah bayangan raksasa yang lebih besar dari kapal mana pun.
Sebuah kapal selam kuno bertenaga uap dan sihir hitam—hasil eksperimen terlarang Adrian yang selama ini disembunyikan—muncul ke permukaan. Di atas menaranya, Adrian berdiri dengan separuh tubuhnya yang kini terbuat dari logam mekanis yang ditenagai oleh jantung iblis.
"Kalian semua hanyalah hiburan pembuka," tawa Adrian menggelegar melalui pengeras suara magis. "Maria, kau pikir pengorbanan ayahmu cukup? Lihatlah ke arah Madrid!"
Aku menoleh ke arah daratan. Dari menara kapal selam Adrian, sebuah sinar laser berwarna hijau pekat ditembakkan ke langit, lalu melengkung tajam menuju Istana Kerajaan Madrid, tempat di mana seluruh dewan negara dan rakyat yang tak berdosa berada.
"Satu tebasanmu pada Pangeran Li, maka sinar itu akan meledakkan jantung Spanyol," ancam Adrian. "Pilih sekarang, Maria: Balas dendammu pada kakakmu, atau keselamatan jutaan rakyat yang baru saja kau pimpin?"
Di saat yang sama, Pangeran Li memanfaatkan keraguanku dengan mengeluarkan sebuah bola api suci yang diarahkan tepat ke jantungku.