Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Acara Syukuran
Setibanya di rumah, lampu ruang tengah sudah menyala. Ayahnya duduk di bangku kayu, sementara Bu Rika berbaring setengah duduk di dipan, selimut menutup tubuhnya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Raisa!” panggil ayahnya begitu melihatnya masuk. “Sudah pulang?”
Raisa tersenyum cerah. “Sudah, Pak!”
Ia langsung mendekat ke dipan ibunya. “Mak, gimana keadaannya?”
Bu Rika tersenyum lemah tapi hangat. “Lumayan mendingan. Den Krisna tadi ke sini.”
Raisa tampak tidak terkejut. “Oh ya?”
“Iya,” jawab Bu Rika. “Dicek beneran. Dikasih obat. Alhamdullilah-nya lagi ... Mak nggak bayar.”
Raisa menghela napas lega. “Syukurlah.”
Tanpa menunggu lebih lama, Raisa mengangkat rantang dari keranjang sepeda dan meletakkannya di meja.
“Bapak, Mak,” katanya semangat, “Bu Lita ngasih makanan buat kita. Makan yuk.”
Ayahnya mendekat, membuka tutup rantang satu per satu. Aroma masakan langsung memenuhi ruangan—sayur, lauk, dan nasi hangat.
“Wah, alhamdullilah, rezeki. Bapak sama Mak belum makan.” Ayahnya terkekeh.
Raisa lalu mengeluarkan uang dari sakunya dan menunjukkannya pada ibunya. “Mak, lihat.”
Bu Rika mengernyit. “Uang apa itu?”
“Upah kerja,” jawab Raisa dengan bangga. “Enam puluh ribu.”
Mata Bu Rika membesar. “Masya Allah.”
Ia menatap Raisa dengan mata berkaca-kaca. “Kamu senang?”
Raisa mengangguk cepat. “Senang, Mak. Banget.”
Ayahnya tersenyum lebar. “Kerja itu capek, tapi rasanya beda ya kalau dapat hasil.”
Raisa mengangguk. “Iya, Pak.”
Bu Rika meraih tangan Raisa. “Mak senang lihat kamu senang. Gunakan uangnya buat keperluan kamu.”
Raisa tersenyum, lalu menahan diri agar tidak menangis. Di tengah kesederhanaan rumah mereka, dengan makanan dari rantang dan uang hasil kerja pertama hari itu, ia merasa—untuk pertama kalinya setelah sekian lama—bahwa usahanya tidak sia-sia.
Malam mulai turun perlahan.
Di rumah Pak Wijaya, persiapan syukuran semakin ramai. Lampu-lampu dinyalakan, suara warga mulai berdatangan.
Di kamar tamu, baby Ezio masih tertidur tenang, tak tahu bahwa hari itu telah mengubah banyak hal.
Dan di dua rumah yang jaraknya tak seberapa jauh, dua orang—Raisa dan Krisna—sama-sama menatap malam dengan perasaan berbeda dari pagi tadi.
Raisa dengan harapan kecil yang tumbuh.
Krisna dengan pikiran yang tak lagi sesederhana sebelumnya.
Tak satu pun dari mereka tahu, bahwa pertemuan hari itu bukan sekadar kebetulan—melainkan awal dari garis takdir yang perlahan, tapi pasti, akan kembali mempertemukan mereka.
***
Malam hari dengan tenang di rumah Pak Wijaya, namun halaman luas itu segera berubah ramai. Lampu-lampu dipasang berjajar, memantulkan cahaya hangat ke daun-daun mangga di sudut halaman. Kursi-kursi plastik tersusun rapi, tikar dibentangkan, dan aroma masakan menguar sejak pintu gerbang dibuka.
Satu per satu warga datang memenuhi undangan. Ada yang datang berkelompok sambil membawa senyum dan sapaan khas desa, ada pula kerabat keluarga Pak Wijaya yang turun dari mobil dengan pakaian rapi. Anak-anak berlarian, ibu-ibu saling sapa, dan suara tawa bercampur doa menyatu menjadi satu bunyi kehidupan yang hidup.
Di teras rumah, Pak Wijaya berdiri menyambut tamu dengan wajah sumringah. Di sampingnya, Krisna berdiri tegak mengenakan batik cokelat tua bermotif klasik. Potongan bajunya pas di tubuh, rambutnya tersisir rapi. Wajahnya tampan dengan aura dewasa yang tenang—dingin, tapi berwibawa.
“Silakan, silakan,” ujar Pak Wijaya berulang kali.
Krisna menunduk sopan setiap kali bersalaman. Senyumnya tipis, profesional. Di hadapan warga dan kerabat, ia kembali menjadi anak Kades yang dibanggakan—dokter, berpendidikan, mapan. Tidak ada yang melihat kegelisahan kecil yang bersembunyi di balik tatapan matanya.
Tak lama, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Seorang pria paruh baya turun lebih dulu—Pak Ridwan, teman lama Pak Wijaya. Di belakangnya, seorang gadis ikut turun.
Wirda.
Gaunnya panjang, berlengan panjang, berwarna pastel, jatuh anggun mengikuti langkahnya. Rambut hitamnya terurai rapi, wajahnya lembut dengan riasan tipis. Ia melangkah dengan percaya diri yang tenang, senyum manis terukir di bibirnya.
“Pak Wijaya,” sapa Pak Ridwan sambil menjabat tangan. “Lama tak bertemu.”
“Alhamdulillah, sehat, Ridwan,” jawab Pak Wijaya hangat. “Silakan masuk.”
Wirda melangkah mendekat. Matanya langsung menangkap sosok Krisna di samping Pak Wijaya. Sekilas saja, namun cukup membuat senyum di wajahnya mengembang.
“Apa kabar, Mas Krisna?” sapa Wirda lembut. “Sudah lama kita tidak bertemu.”
Krisna menoleh. Ia mengenali Wirda—anak Pak Ridwan yang dulu sempat sering disebut-sebut. Seorang gadis baik, terdidik, dan—kalau boleh jujur—pernah menjadi topik pembicaraan soal jodoh di meja makan keluarga.
“Baik, Wirda,” jawab Krisna sopan. “Kamu sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah,” jawab Wirda sambil tersenyum. “Senang akhirnya Mas pulang ke desa.”
Krisna mengangguk singkat. “Silakan duduk. Nanti acaranya segera dimulai.”
Wirda mengangguk, melangkah ke kursi yang ditunjukkan. Tatapannya sempat mengikuti Krisna beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya beralih.
Pak Ridwan mendekat ke Pak Wijaya, menepuk pundaknya ringan. “Jadi kabar itu benar ya, Wi? Krisna sudah sendiri.”
Pak Wijaya tersenyum kecil, tidak langsung menjawab.
Pak Ridwan berbisik santai, nadanya setengah bercanda. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita jodohkan kembali? Dulu kan sempat cocok.”
Pak Wijaya mengangguk-angguk pelan, senyumnya menggantung di antara setuju dan ragu. “Kita lihat saja nanti.”
Acara dimulai ketika kyai setempat berdiri di depan, memimpin doa. Suasana yang tadinya ramai perlahan menjadi khidmat. Semua kepala tertunduk, tangan terangkat, doa mengalir memohon keberkahan.
Usai doa, Pak Wijaya berdiri memberi sambutan. Suaranya lantang dan hangat, berbicara tentang rasa syukur, tentang kepulangan anaknya, dan harapan agar segala rencana berjalan baik.
“Terima kasih atas kehadiran Bapak Ibu semua,” ucapnya. “Semoga silaturahmi ini membawa berkah.”
Tepuk tangan bergema.
Kemudian, Krisna melangkah ke depan. Ia berdiri di hadapan warga desa—orang-orang yang sebagian mengenalnya sejak kecil, sebagian lagi hanya mengenal namanya.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Krisna.
“Waalaikumsalam,” jawab hadirin serempak.
Krisna menarik napas sejenak. “Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir malam ini. Saya bersyukur bisa kembali ke desa ini—tempat saya dibesarkan.”
Ia berhenti sebentar, menatap kerumunan. “Insya Allah, dalam waktu dekat saya berencana membuka klinik kesehatan di sini. Mohon doa agar prosesnya dilancarkan dan klinik tersebut bisa bermanfaat bagi kita semua.”
Wirda duduk tak jauh dari depan. Sepanjang Krisna berbicara, matanya tak lepas dari sosok pria itu. Setiap kata, setiap jeda, seolah menambah kekagumannya. Baginya, Krisna adalah gambaran ideal—mapan, berpendidikan, dan kini kembali mengabdi.
“Terima kasih,” tutup Krisna. “Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Tepuk tangan kembali menggema, lebih ramai kali ini.
Bersambung ... ✍️
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊