NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Dosen / Penyesalan Suami / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:49.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Begitu mobil berhenti di halaman perumahan Bumi Asri, Kaisar langsung turun. Langit sudah gelap, lampu-lampu gedung menyala dingin, seolah ikut menghakimi diamnya malam itu. Aksa tak mematikan mesin, jelas tak berniat singgah lebih lama.

Sebelum kaca mobil dinaikkan, Aksa menoleh dengan tatapan keras.

“Kaisar,” suaranya datar tapi menekan, “tahun ini kalau kamu gagal lulus dengan nilai terbaik, kamu tahu akibatnya.”

Kaisar menelan ludah.

“Motor kamu,” lanjut Aksa tanpa ekspresi, aku sita, nggak ada penolakan.”

Ucapan itu menghantam, tapi yang lebih menyakitkan justru saat Kaisar melihat Kinara. Wanita itu menunduk, mengusap sudut matanya diam-diam. Air mata yang berusaha disembunyikan justru membuat dada Kaisar terasa sesak.

“Mommy…” Kaisar mendekat, meraih tangan Kinara dengan hati-hati, seolah takut ditolak. “Maafin Kai.”

Kinara menatap putranya lama. Matanya merah, suaranya bergetar, tapi tegas.

“Mommy nggak butuh maaf kamu, Kai.”

Kaisar terdiam.

“Mommy butuh penyesalan kamu,” lanjut Kinara pelan.

“Mommy mau kamu sadar. Perbaiki semuanya. Kalau bukan sekarang … kapan lagi?” Kinara menggenggam tangan Kaisar lebih erat.

 “Jangan nunggu semua hancur kamu baru mau berubah,”

Kaisar mengangguk kecil, tenggorokannya terasa kering.

“Kai janji, Mom,” ucapnya lirih. “Kai bakal belajar dari semua kesalahan.”

Ia lalu menoleh ke arah Aksa.

“Kak … maafin gue. Tolong … jangan bilang sama Daddy. Gue nggak mau Daddy sama Mommy ribut gara-gara gue.”

Aksa menatap adiknya beberapa detik. Wajahnya masih dingin, tapi rahangnya mengendur sedikit.

“Ini kesempatan terakhir,” katanya singkat. “Jangan sia-siakan.”

Kaisar mengangguk lagi.

Kaca mobil perlahan naik, mesin menderu, lalu mobil itu bergerak meninggalkan halaman, meninggalkan Kaisar berdiri sendiri di bawah cahaya lampu yang pucat.

Kaisar menatap punggung mobil itu sampai menghilang di tikungan.

Kaisar mengeluarkan kunci cadangan dari saku jaketnya. Tangannya sedikit gemetar saat anak kunci itu masuk ke lubang pintu.

Pintu terbuka pelan.

Rumah itu terang, lampu ruang tamu masih menyala, begitu juga lampu dapur. Dadanya menghangat sekaligus terasa bersalah.

Dia melangkah masuk dengan hati-hati, menutup pintu tanpa suara. Helm diletakkannya perlahan di rak, tidak dibanting seperti biasanya. Baru dua langkah menuju tangga, sebuah suara membuat tubuhnya membeku.

“Kaisar.”

Suara itu lembut, tapi cukup untuk menghentikan napasnya.

Kaisar menoleh, Shelina berdiri di ambang ruang tamu, mengenakan cardigan tipis dengan rambut yang sudah terurai. Wajahnya jelas lelah, matanya sedikit sembab dan itu tanda seseorang yang terlalu lama menunggu.

“Aku kira kamu nggak pulang lagi malam ini,” ucap Shelina pelan.

Kaisar membuka mulut, ingin menjawab, ingin memberi alasan seperti biasa. Namun, kata-kata itu mati begitu saja ketika pandangan Shelina perlahan naik ke wajahnya.

Shelina terdiam.

Matanya membelalak kecil saat melihat memar di sudut bibir Kaisar. Lalu pandangannya bergeser ke pelipis pria itu, dan luka yang masih merah, bekas darah yang sudah mengering.

“Kai…” suaranya bergetar. “Wajah kamu kenapa?”

Kaisar refleks menunduk, menjauhkan wajahnya sedikit.

“Nggak apa-apa,” jawabnya singkat, nyaris berbisik.

Shelina melangkah mendekat, tak peduli Kaisar mundur setengah langkah. Tangannya terangkat, berhenti di udara, ragu menyentuh.

“Ini bukan nggak apa-apa,” katanya lirih. “Kamu habis berantem?”

Kaisar menghela napas panjang. Malam ini benar-benar tidak memberinya ruang untuk kabur.

“Cuma … masalah kecil,” ujarnya akhirnya.

Shelina menatapnya lama. Tidak ada amarah di sana dan hanya cemas, khawatir, dan rasa takut kehilangan yang berusaha ia sembunyikan.

“Kamu duduk,” perintahnya pelan, tapi tegas. “Sekarang!”

Kaisar duduk di sofa dengan bahu menegang. Tangannya bertumpu di lutut, kepalan itu terlihat kuat, namun gemetar. Shelina menghilang ke dapur tanpa berkata apa-apa, meninggalkan Kaisar sendirian dengan pikirannya yang kusut.

Beberapa detik kemudian, Shelina kembali membawa kotak P3K. Ia meletakkannya di meja dengan gerakan pelan, lalu duduk berhadapan. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk melihat jelas luka di wajah pria itu.

“Kepalamu pusing?” tanyanya lembut.

Kaisar menggeleng kecil.

“Masih kuat.”

Shelina tidak menanggapi. Ia membuka kotak P3K, mengambil kapas dan antiseptik. Tangannya berhenti sesaat di udara, menunggu, memberi kesempatan jika Kaisar ingin menolak.

Namun, Kaisar tidak bergerak. Tidak kabur, tidak bersikap nyebelin seperti biasanya.

Shelina mendekat, saat kapas menyentuh pelipis Kaisar, pria itu meringis tipis. Bukan karena perih tetapi karena sentuhan itu.

“Kai,” ucap Shelina pelan, matanya fokus pada luka.

“Aku nggak minta kamu jadi suami sempurna. Aku juga nggak minta kamu berubah dalam semalam.”

Tangannya bergetar sedikit saat membersihkan darah kering.

“Aku cuma minta satu hal … pulanglah dengan selamat.”

Kaisar menelan ludah, dadanya terasa sesak.

“Aku nunggu,” lanjut Shelina, suaranya menipis.

“Aku takut. Bukan karena kamu nggak pulang … tapi karena aku nggak tahu kamu di mana. Kamu kenapa? Kamu masih hidup atau—”

Shelina berhenti, nafasnya tersengal kecil.

Kaisar mendongak, malam itu, ia menatap wajah Shelina dengan benar. Ada kilau basah di mata wanita itu yang belum sempat jatuh.

“Kenapa sih kamu peduli segitunya?” suara Kaisar pecah tanpa ia sadari.

 “Aku ini nyusahin, nakal. Bikin kamu malu dan bikin masalah.”

Shelina tersenyum kecil dan lebih menyakitkan dari amarah.

“Karena kamu suamiku,” jawabnya sederhana. “Dan karena … aku sudah terlalu sering ditinggalkan.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam Kaisar tanpa ampun. Shelina menarik tangannya, menutup kembali kotak P3K.

“Masuk kamar dan istirahatlah,” katanya, berusaha kembali tenang.

“Besok kamu harus kuliah.”

Kaisar bangkit perlahan. Saat melewati Shelina, langkahnya terhenti.

“Miss … Shel—” ia ralat cepat.

“Shelin.”

Shelina menoleh.

“Aku nggak janji jadi baik,” ucap Kaisar lirih. “Tapi aku janji … aku akan selalu pulang.”

Shelina terdiam beberapa detik, lalu mengangguk kecil dan tersenyum.

“Itu sudah cukup,” katanya.

Lampu kamar sudah diredupkan. Hanya cahaya temaram lampu tidur yang menyisakan bayangan di dinding. Shelina dan Kaisar berbaring di ranjang yang sama, saling membelakangi, dipisahkan jarak tipis yang terasa jauh karena canggung.

Kaisar menatap kosong ke dinding. Matanya terpejam, tapi pikirannya ribut.

Bayangan pagi tadi kembali menyusup, Shelina berdiri di samping Pak Rangga, tertawa kecil, langkah mereka seirama. Terlalu akrab untuk sekadar rekan kerja. Dadanya menghangat oleh perasaan yang tak ingin ia akui.

“Shelin…” panggil Kaisar pelan, memecah hening.

Shelina masih membelakanginya.

“Hm?”

“Kamu … sama Pak Rangga itu—” Kaisar berhenti sejenak, mencari kata yang tidak terdengar cemburu.

“Kalian ada hubungan apa?”

Shelina membuka mata perlahan. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik menghadap Kaisar. Tatapannya lurus, tenang namun dingin.

“Kaisar,” ucapnya datar, “kalau kamu mau bicara, hadap sini.”

Kaisar terdiam, ada nada yang tak biasa dalam suara Shelina. Dia berbalik juga, kini mereka saling menatap, hanya berjarak beberapa senti. Nafas Kaisar tercekat sesaat.

Namun, sebelum ia sempat mengulang pertanyaannya, Shelina lebih dulu bersuara.

“Apa yang kamu lihat pagi tadi,” katanya pelan, setiap kata tertata rapi, “bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi, seolah ingin melindungi dirinya sendiri.

“Pak Rangga dosen senior. Mentor dan hanya itu saja, kami berdua hanya teman.”

Matanya sedikit meredup.

“Dan kamu belum punya hak untuk nada seperti itu.”

Kaisar tersentak.

“Nada apa?”

“Nada menuduh,” jawab Shelina singkat.

Ruangan kembali hening. Kaisar menelan ludah, menyadari kesalahannya.

“Aku nggak nuduh,” ujarnya lebih pelan. “Aku cuma … nggak suka lihat kamu sedekat itu sama dia. Anak-anak gosipin,”

Kalimat itu meluncur jujur Shelina terdiam. Dada wanita itu naik turun pelan. Ia menatap Kaisar lama, seakan menimbang sesuatu di dalam kepalanya.

“Kaisar,” katanya akhirnya, suara jauh lebih rendah, “kita menikah karena keadaan. Tapi kecemburuan tanpa kepercayaan itu berbahaya.”

Ia memalingkan wajah, kembali membelakangi Kaisar.

“Aku capek hari ini, tidur saja.”

"Kalau aku minta Kamu buat nggak terlalu dekat sama Pak Rangga, kamu mau nggak?" tanya Kaisar, kali ini Kaisar berbicara santai tidak memakai embel-embel Miss.

1
Rahmat Zakaria
jeng jeng siapa kah yang datang hayo kalau aku tebak itu momy kaisar
Nata Abas
bagus
Aidil Kenzie Zie
yang datang Momy Kirana atau abg Aksa
ngatun Lestari
siapa kah yg datang.....
Teh Euis Tea
amira ga nikah lg thor?
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
nuraeinieni
betul tuh yg di bilang bu amira,anggap saja shel lagi cuti sampai kai wisuda,,atau jadi ibu rumah tangga shell,tunggu suami pulang kerja.
nuraeinieni
apa mommy kinara yg datang
Naufal Affiq
apa aksa yang datang kak
Teh Euis Tea
ouhhh amira ibu kandungnya aska ternyata pemilik yayasan
nuraeinieni
wah ternyata amira mama nya aska.
Meila Azr
aduh pantesan kaisar telpon momy ternyata ha Riko salah cari lawan
Oma Gavin
harusnya sudah tidak ada lagi dendam amira sudah bisa menerima kirana yg merawat aska
Naufal Affiq
amira kan mama nya aska
Riska Nianingsih
Amira ibunya Aska bukan????
Aisyah Alfatih: iya, ibu kandung.
total 1 replies
nuraeinieni
memikirkan kemungkinan yg terjadi tdk apa2,,,tapi hadapi dulu,baru tau keputusan yg kepala yayasan berikan,biar kalian bisa ambil langkah.
nuraeinieni
mantap tuh kaisar,jawaban yg tepat,,,
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
rasakan riko,kau pikir kau menang dalam masalah,gak ada larangan mahasiswa nikah sama dosennya,ngerti kan Riko yang ku maksud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!