NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 – Tinggal Bersama Musuh

Hujan turun sejak pagi.

Tidak deras, tapi cukup lama untuk membuat udara terasa lembap dan dingin. Kia sedang menyapu teras ketika sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Mobil itu tidak asing—sedikit mewah, terlalu rapi untuk lingkungan kecil mereka.

Kia mengerutkan kening.

Pintu mobil terbuka. Seorang perempuan turun lebih dulu. Rambutnya tertata rapi meski wajahnya terlihat lelah. Mama Tara.

Jantung Kia berdetak lebih cepat.

Dan lalu—Tara turun dari sisi lain.

Dengan dua koper besar.

Kia berhenti menyapu.

Waktu seolah melambat. Semua suara di sekitarnya menghilang, menyisakan detak jantungnya sendiri dan ingatan tentang pertengkaran, tuduhan, dan kata-kata kejam yang belum sempat ia maafkan.

Ibunya keluar dari rumah, menyeka tangan dengan lap.

“Oh,” katanya pelan, seolah sudah tahu tapi tetap terkejut melihat kenyataan. “Kalian… datang.”

Mama Tara tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Maaf mendadak. Saya sudah bicara lewat telepon semalam.”

Ibunya mengangguk. “Masuk dulu. Di luar dingin.”

Tara berdiri kaku. Matanya bertemu dengan mata Kia.

Tidak ada senyum. Tidak ada sapa.

Hanya tatapan dua orang yang saling tahu—mereka bukan lagi sekadar musuh sekolah. Mereka adalah dua anak yang terikat oleh darah dan luka yang sama.

Ruang tamu terasa lebih sempit dari biasanya.

Koper-koper diletakkan di sudut. Mama Tara duduk di kursi rotan, tangannya menggenggam tas kecil seperti pegangan terakhir pada harga diri. Ibunya Kia menuangkan teh hangat, meletakkannya di atas meja satu per satu.

“Ini cuma sementara,” kata Mama Tara pelan. “Sampai semuanya… jelas.”

Ibunya mengangguk. “Di sini nggak ada sementara atau tidak. Kalau butuh, ya tinggal.”

Kia menoleh cepat ke ibunya.

Ibunya tidak menatapnya, tapi Kia tahu—ini bukan keputusan yang bisa ia bantah.

Tara menunduk, menatap lantai. “Terima kasih.”

Kata itu terdengar berat. Seperti harus ditarik dari tempat terdalam dalam dirinya.

Kamar kosong di belakang rumah akhirnya disiapkan untuk Tara dan ibunya.

Kia berdiri di ambang pintu saat ibunya menunjukkan kamar itu.

“Seprai bersih ada di lemari. Kalau kurang, bilang aja,” kata ibunya ramah.

Mama Tara mengangguk. “Kami nggak mau merepotkan.”

Ibunya tersenyum kecil. “Kita sama-sama perempuan. Sama-sama ibu. Merepotkan itu relatif.”

Tara hanya berdiri, memeluk lengannya sendiri.

Begitu ibunya Kia keluar, keheningan jatuh.

Kia dan Tara berhadapan.

“Lo bisa pakai lemari itu,” kata Kia akhirnya, suaranya datar. “Yang kecil. Yang besar udah penuh.”

Tara mengangguk. “Oke.”

Tidak ada terima kasih.

Tidak ada protes.

Keduanya terlalu lelah untuk perang kata-kata.

Hari pertama tinggal bersama terasa canggung.

Mereka tidak makan bersama. Tidak duduk di ruangan yang sama lebih lama dari yang perlu. Jika Kia di dapur, Tara memilih menunggu di kamar. Jika Tara di ruang tamu, Kia memilih keluar.

Seperti dua magnet dengan kutub yang sama—berdekatan, tapi saling menolak.

Malam datang lebih cepat dari biasanya.

Kia duduk di kamarnya, mendengar suara langkah pelan di luar. Pintu kamar mandi dibuka, ditutup. Suara air mengalir. Suara Tara.

Dadanya terasa aneh.

Ia benci situasi ini. Membenci kenyataan bahwa orang yang paling membuatnya marah kini tidur beberapa meter dari tempat tidurnya.

Ia menutup mata.

Dia merebut ayahku, pikir Kia. Atau… ayah memang tidak pernah memilihku sejak awal?

Pikiran itu membuat dadanya semakin sesak.

Di kamar belakang, Tara duduk di tepi kasur, memandangi koper yang belum sepenuhnya dibuka.

Ibunya sedang tidur lebih dulu. Lelah menangis.

Tara menatap dinding polos itu. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada sertifikat prestasi. Tidak ada tanda bahwa kamar itu miliknya.

Ia membuka ponsel.

Nama Kia ada di kontak.

Berada di rumah yang sama, tapi terasa sejauh kota lain.

Tara mengingat wajah Kia pagi tadi. Dingin. Terkendali. Tidak meledak-ledak seperti biasanya.

Itu entah kenapa lebih menyakitkan.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti berjalan di atas kaca.

Setiap interaksi terasa rawan pecah.

Suatu pagi, Tara mengambil mug favorit Kia tanpa tahu. Kia menemukannya di meja.

“Itu mug gue,” kata Kia.

Tara menoleh. “Oh. Maaf. Gue nggak tahu.”

Nada suaranya jujur. Tidak defensif.

Kia terdiam sejenak. “Ya udah.”

Ia mengambil mug lain.

Tara menatapnya, sedikit terkejut. Ia menunggu bentakan. Sindiran. Tapi tidak ada.

Itu membuatnya lebih tidak nyaman.

Di sekolah, gosip semakin liar.

“Katanya Tara tinggal di rumah Kia.”

“Serius? Kok bisa?”

“Drama keluarga banget.”

Tara menunduk sepanjang hari. Kia tidak melindunginya. Tapi juga tidak ikut menyudutkan.

Mereka seperti dua orang asing yang berbagi nama belakang yang sama—meski belum diakui siapa pun.

Daffa beberapa kali mencoba bicara pada Kia.

“Lo baik-baik aja?” tanyanya suatu siang.

Kia mengangguk. “Kenapa semua orang nanya itu?”

Daffa tersenyum kecil. “Karena kelihatan nggak.”

Kia menoleh ke arah lapangan. Tara berdiri sendirian di kejauhan.

“Kadang,” kata Kia pelan, “kita nggak butuh ditanyain. Cuma butuh waktu.”

Daffa tidak memaksa.

Malam keempat, listrik padam.

Rumah kecil itu langsung gelap. Hanya suara hujan dan angin.

Ibunya Kia menyalakan lilin di ruang tengah.

“Kalian makan dulu,” katanya. “Nanti keburu dingin.”

Untuk pertama kalinya, Kia dan Tara duduk di meja yang sama.

Tidak saling menatap.

Sendok beradu pelan dengan piring.

Hening.

Tiba-tiba, suara petir membuat Tara tersentak. Tangannya gemetar, sendoknya jatuh ke lantai.

Kia refleks menoleh.

Mata Tara membesar, napasnya cepat. Ketakutan yang tidak dibuat-buat.

“Lo takut petir?” tanya Kia tanpa sadar.

Tara mengangguk kecil. “Sejak kecil.”

Kia berdiri, mengambil sendok bersih, meletakkannya di dekat Tara. “Ambil ini.”

Tara menatapnya, kaget. “Makasih.”

Kata itu sederhana.

Tapi terasa seperti langkah pertama di tanah yang belum pernah mereka injak.

Malam itu, setelah semua tidur, Kia duduk di teras.

Tidak lama kemudian, Tara keluar, membawa jaket tipis.

“Boleh?” tanyanya, menunjuk kursi.

Kia mengangguk.

Mereka duduk berdampingan, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

“Aku nggak tahu,” kata Tara tiba-tiba. “Tentang semuanya.”

Kia menatap ke depan. “Aku tahu.”

“Aku juga kehilangan,” lanjut Tara. “Bukan cuma rumah. Tapi… bayangan tentang hidup yang aku kira aku punya.”

Kia menghela napas. “Selamat datang di dunia gue.”

Tara tersenyum tipis. Pahit.

Untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di antara mereka.

Hanya dua anak yang sama-sama terluka.

Dan mungkin—untuk pertama kalinya—tidak sendirian.

...****************...

1
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!