NovelToon NovelToon
Penjara Pernikahan Tuan Marvin

Penjara Pernikahan Tuan Marvin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita.P

Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.

Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.

Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.

Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 ~ Tidak Mungkin Khawatir

Raina masih tinggal di rumah Marvin selama sidang perceraian belum selesai. Dia juga masih mencari rumah atau kontrakan yang cocok untuk dirinya tinggal nanti. Raina langsung pergi masuk ke dalam kamar, tubuhnya masih basah kuyup dan mulai merasa menggigil karena angin saat mengendarai motor juga.

Setelah mandi, Raina memegang keningnya sendiri. Suhu tubuhnya pasti naik setelah dia kehujanan cukup lama tadi. Raina keluar kamar dan menemui Mbak Eni, meminta obat penurun demam padanya.

"Nona tidak mau di periksa saja? Wajah Nona pucat sekali"

"Tidak perlu Mbak, ini pasti karena kehujanan tadi"

"Yaudah Nona istirahat saja, nanti saya buatkan makanan"

"Terima kasih ya Mbak"

Raina kembali ke kamarnya, kepalanya benar-benar pusing, bahkan saat berjalan saja penglihatannya tidak benar-benar fokus. Raina menjatuhkan tubuh lemahnya di atas tempat tidur, memegang kepalanya yang benar-benar pusing, penglihatan yang hanya satu berfungsi dengan baik, semakin terasa kabur dan tidak jelas. Tubuhnya pun menggigil kedinginan, dia menggulung tubuhnya sendiri dengan selimut untuk meredakan rasa kedinginan.

Mbak Eni selesai membuatkan sup dan bubur panas untuk Raina. Dia juga membawa obat penurun demam. Ketika berjalan melewati tangga, tepat saat Marvin juga berjalan menuruni tangga. Mbak Eni menyempatkan diri untuk mengangguk sopan pada Marvin.

"Makanan untuk Raina? Dia sudah pulang sekarang?"

"Iya Tuan, tadi Nona pulang hujan-hujanan jadi sekarang demam. Saya membuatkan sup dan bubur untuk Nona"

"Sakit?" Satu alis Marvin terangkat, membuat Mbak Eni hanya mengangguk saja. "Berikan padaku, biar aku yang membawanya ke kamar Raina"

Awalnya Mbak Eni ingin menahan nampan yang sudah terlanjur di ambil alih oleh Marvin. Hanya takut jika Marvin akan menyakiti Raina lagi, meski sekarang tidak ada lagi kekerasan fisik yang dilakukan oleh Marvin pada istrinya. Tapi Mbak Eni tetap khawatir jika Raina mungkin saja akan mendapatkan perlakuan yang akan menyakitinya dari Marvin.

"Kau kembali bekerja saja"

Marvin membawa nampan itu masuk ke dalam kamar Raina, tanpa mengetuk pintu lebih dulu dia langsung saja masuk. Melihat seorang perempuan yang meringkuk di balik selimut tebal dengan tubuh yang menggigil.

"Kau itu bukan anak kecil yang main hujan-hujanan" ketus Marvin, menyimpan nampan di atas nakas dan dia duduk di pinggir tempat tidur. Membuka selimut Raina dan mengecek suhu tubuhnya dengan tangan. "Demam tinggi begini, kenapa tidak memanggil Dokter saja"

Bukan sebuah pertanyaan, tapi seperti sebuah omelan karena Raina tidak langsung memanggil Dokter di saat keadaannya seperti ini. Raina yang kesadarannya sudah hampir hilang, cukup tertegun saat melihat Marvin yang masuk ke dalam kamar dengan membawa makanan.

"Tidak perlu Kak, ini hanya masuk angin saja. Kalau sudah minum obat pasti sembuh"

Marvin membantu Raina untuk bangun terduduk. Kedua tangannya memegang lengan Raina dan menempatkan bantal di belakang tubuhnya.

"Makanlah dulu" Marvin mengambil satu mangkuk bubur dan menyuapi Raina dengan pelan. Bahkan dia meniup pelan bubur yang masih panas itu sebelum diberikan pada Raina. "Cepat buka mulutmu! Sudah pernah aku bilang, kau tidak bisa mati disini"

Kalimat itu sudah seperti kebiasaan bagi Marvin, bahkan dia tidak berniat dari hatinya untuk sungguh-sungguh mengatakan itu pada Raina. Namun entah kenapa ada rasa kesal saat tahu Raina pergi kehujanan dan sekarang sampai sakit.

"Kak, aku bisa makan sendiri"

Sebenarnya bukan karena merasa tidak enak saja, tapi Raina tidak bisa menahan sebuah debaran di dadanya. Mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami, cukup membuatnya hatinya berdebar.

"Diamlah, wajahmu sudah pucat seperti mayat hidup. Kau diam saja selama aku masih baik ingin menyuapimu makan. Jadi menurut saja"

Raina hanya diam, akhirnya dia menurut saja dengan Marvin. Menerima setiap suapan darinya dengan hening. Tidak ada lagi percakapan diantara keduanya, sebenarnya pikiran masing-masing sedang berkemelut dengan segala hal yang terjadi.

"Terima kasih, Kak"

Marvin bahkan membantunya meminum obat, padahal Raina juga masih bisa sendiri melakukannya. "Sekarang istirahat saja. Besok kau tidak perlu bekerja, ambil cuti saja"

"Tapi jatah cuti aku sudah habis saat merawat Kak Marvin ketika kecelakaan. Aku tidak bisa mengambil jatah cuti lagi"

"Kau tinggal bilang saja, tidak mungkin tidak di izinkan cuti, apalagi keadaanmu sakit. Lagian kau istriku, dan mereka akan memberikanmu cuti sepuasnya"

"Tidak mungkin Kak, semua orang sudah tahu kabar perceraian kita. Dan sebentar lagi kita hanya akan menjadi mantan suami dan istri"

Marvin terdiam, dari ekspresi wajahnya seolah dia hampir tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Dan merasakan sesak yang muncul di dadanya, bahkan ada rasa tidak rela dengan kenyataan yang telah di ucapkan oleh Raina barusan.

"Aku yang akan memintakan cuti untukmu"

Marvin akhirnya keluar kamar setelah mengatakan itu. Ketika pintu kamar di tutup, dia memejamkan matanya dengan hembusan napas panjang. Memegang dadanya sendiri yang terus berdebar dengan rasa sesak tak menentu.

"Kenapa aku jadi seperti ini? Padahal itu adalah kenyataannya"

Ketika bingung dengan dirinya sendiri, namun ego selalu mengalahkan segalanya, menganggap jika apa yang sudah dia lakukan adalah keputusan yang terbaik.

*

Pagi ini Raina merasa mual yang luar biasa, dia segera berlari ke kamar mandi meski dengan kepala yang masih pusing dan jalan yang terseok-seok. Memuntahkan isi perutnya sampai mulutnya terasa pahit. Hanya cairan saja yang dia keluarkan.

Tubuhnya terasa lemas, bahkan kakinya hampir tidak bisa menopang tubuhnya. Dia berpegangan pada pinggir wastafel dan mencoba menahan tubuhnya sendiri.

"Benar-benar masuk angin gara-gara kemarin kehujanan" Berjalan perlahan kembali ke kamar setelah cukup membaik. Kepalanya benar-benar pusing, dan rasa mual belum sepenuhnya hilang.

Suara ketukan pintu dan suara Mbak Eni terdengar. "Nona, saya membawakan sarapan, izin masuk ya"

"Iya Mbak, masuk saja. Tidak dikunci"

Mbak Eni membawakan sarapan untuk Raina, melihat gadis itu yang duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah pucat dan keringat dingin yang memenuhi keningnya.

"Nona sangat pucat, apa saya panggilkan Dokter saja ya biar di periksa"

"Tidak perlu Mbak, ini hanya masuk angin saja"

Mbak Eni menyimpan nampan di atas nakas. "Sebenarnya tadi Tuan meminta saya untuk memanggilkan Dokter saja. Sepertinya Tuan khawatir juga dengan Nona"

Raina tersenyum miris mendengar ucapan Mbak Eni barusan. Ingin sekali menertawakan dirinya yang juga sempat berpikir jika ada sedikit saja rasa khawatir dan peduli dari Marvin padanya. Tapi seketika dia menyadarkan dirinya sendiri, jika hal itu tidak mungkin.

"Tidak mungkin Mbak, itu hanya karena aku masih tinggal disini saja. Kak Marvin takut aku mati di rumahnya"

Bersambung

1
Dew666
🌼🌼🌼🌼🌼
AlmiraAzniAdzkia🥰🌺
smangat y rain ,,kamu gk sendri kok,,nanti bakal hadir buah hati kmu biar temani kamu jalani hari2,,,,💪💪
Kar Genjreng
update lagi donggg seru
👍
Kar Genjreng
😭 pilu sekali ya Raina sekarang akan menjalani hidup seorang diri tidak mempunyai saudara ataupun orang tua tety Kamu akan punya malaikat kecil yang akan menemanimu dan selalu bersama sama hingga nerhasil,,,,benar katamu tinggalkan semua orang yang sudah tidak percaya lagi dan sudah seolah membuang mu kelak di kehidupan mu sepanjut Kamu sudah berhasil dan mendidik putramu dengan baik menjadi orang yang banyak di kenal orang karena ke akan dan kecerdasan nyae Aamiin 🙏🙏🤩🤩
Nurminah
menunggu Marvin gila
Oma Gavin
up lagi dong kak kemana raina pergi dan bagaimana nasib marvin setelah kepergian raina dan tau kebenaran permintaan uang nya yg banyak buat apa saja, semua kamu ngga nyesel ya marvin tetaplah sombong dan egois jgn dikurangi bila perlu ditambahkan
dika edsel
mgkin bundamu berpikir kamu akan bahagia,hidup terjamin bersama papamu rain krn dia kaya, tp nyatakan kan tdk...semoga kelak bertemu lagi sama bundamu ya raina, ayo saatnya melangkah pergi..,jgn menunggu nanti2..lbh cepat lbh naik tdk perlu nunggu sidang putusan..
Reni Anjarwani
pergi yg jauh rain bersama anakmu yg kau kandung , semoga bahagia rain
AlmiraAzniAdzkia🥰🌺
oke rain hamil,,,
Kar Genjreng
semangat ya Kak sudah kirim vote
Kar Genjreng
jangan ketauan dulu dong biar sampai selesai sidang dan sudah pergi,,,ohh tapi masih bekerja di kantor marvin ya ketauan seandainya hamil ya Gatot minggat donk 😁
Kar Genjreng
pasti Raina hamil Ak percaya maka cepat selesai perceraian nya dan pergi bawa benih itue yang akan menemani sepanjang usia ,,dan buah hati Mu semoga Laki laki agar kuat,,dan lebih baik
pergi dari rumah Marvin,,
dika edsel
klo gk ikhlas ngerawat ngapain capek datang buat nyuapin sih...dasar makhuk aneh,gk jelas..!!! hei marpin ucapan adlh doa, ntar klo raina mati beneran gimana perasaan mu??? oh ya lupa, klo raina mati bukankah itu berita bagus buar marpin yah??
dika edsel
maksudnya raina hamil kah??? sudah cukup rain..jgn nangis lagi,ayo bangkit..kuat..liat kedepan..
leahlaurance
luar biasa
Reni Anjarwani
hamil kayaknya raina , semanggat doubel up thor
Oma Gavin
wah raina hamil anak Marvin mulutnya setajam silet tapi kok bisa bikin raina hamil dasar marvin lucknut, semoga raina ngga ada tau dan ngga sadar kalau hamil sampai perceraian mereka clear dan raina kabor yg jauh jangan sampai diketemukan marvin
merry yuliana
hmmmmm yakin raina hamil anak marvin ini....hadeuhh
suryani duriah
😭😭🤧🤧
leahlaurance
hairan disiksa parah tapi enga kenapa kenap, tahan tukul amat,enga masuk akal,udah sakit lagi yang membaca.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!