NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.14

Rumah warga pertama yang mereka datangi berdiri tak jauh dari pos ronda. Jaraknya tidak sampai seratus meter dari posko, tapi entah kenapa terasa lebih jauh. Jalan tanah menuju rumah itu lembap, sedikit licin, dan dipenuhi jejak kaki yang arahnya tidak jelas, ada yang masuk, ada yang keluar, tapi tidak ada yang terlihat baru. Bangunannya sederhana. Dinding dari papan tua, cat cokelatnya sudah mengelupas seperti sisik, memperlihatkan warna kayu pucat di bawahnya. Atap sengnya berkarat di beberapa bagian, tapi masih berdiri kokoh seperti pemiliknya. Tidak ada pot bunga di depan rumah. Tidak ada kursi tamu di teras. Tidak ada sandal berjejer rapi. Hanya sebuah bangku kayu panjang yang diletakkan menempel ke dinding, kosong, berdebu, seolah jarang digunakan.

Paijo berhenti di depan pintu, menarik napas panjang. Ia melirik ke belakang sebentar, memastikan semua masih ikut. Ani berdiri paling dekat, nyaris terlalu dekat. Juned sudah siap dengan kamera, meski kali ini lensanya diturunkan sedikit, tidak seagresif tadi pagi. Udin berdiri setengah langkah di belakang Paijo, bahunya tegang. Surya sengaja mengambil posisi agak ke samping, dekat pagar bambu yang sudah miring. Paijo mengetuk pintu dengan senyum maksimal. Senyum khas orang yang terbiasa menghadapi warga saat survei, ramah, sopan, dan sedikit terlalu cerah untuk situasi yang dingin. Ketukan itu terdengar keras di tengah sunyi desa.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan seolah menggema lebih lama dari seharusnya. Tidak ada suara dari dalam. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada batuk kecil atau bunyi kursi diseret. Hanya hening.

“Assalamu’alaikum, Pak!”

Suara Paijo terdengar sedikit lebih keras dari biasanya. Ia sendiri sadar akan hal itu, tapi tidak menariknya kembali. Kadang, suara keras terasa lebih aman daripada suara ragu. Beberapa detik berlalu. Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan. Engselnya berbunyi lirih, panjang, seperti keluhan. Bunyi itu membuat Ani refleks melirik ke lantai. Surya mengangkat bahu sedikit, seolah bersiap jika harus mundur. Udin menelan ludah.

Seorang bapak tua muncul. Rambutnya putih semua. Kulitnya keriput, tapi sorot matanya tajam. Tatapannya datar. Tidak tersenyum. Tidak marah. Tidak apa-apa. Baju yang ia kenakan sederhana, kemeja lengan panjang warna kusam, dikancing sampai atas. Celana kain longgar. Tidak ada jam tangan. Tidak ada cincin. Tidak ada tanda-tanda terburu-buru atau terganggu. Ia berdiri di ambang pintu, tidak sepenuhnya keluar, tidak sepenuhnya di dalam. Posisi yang membuat siapa pun ragu: ini tamu diterima atau tidak?

“Iya?”

Satu kata. Pendek. Tidak bernada tanya. Lebih seperti pengakuan bahwa ia mendengar. Paijo langsung nyerocos, seolah takut kehilangan momentum.

“Kami mahasiswa KKN, Pak. Mau tanya-tanya soal desa ini.”

Ia mengucapkannya dengan intonasi yang sudah dilatih berkberapa kali, ramah, cepat, dan sopan. Tangannya bergerak sedikit, refleks orang yang sedang menjelaskan sesuatu yang sudah dihafal. Bapak itu mengangguk sekali. Gerakannya pelan. Anggukan yang tidak mengundang, tapi juga tidak menolak.

“Desa ini ya… biasa aja.”

Kalimat itu keluar tanpa penekanan. Tanpa ekspresi. Seolah ia sedang menyebut warna tembok. Paijo mengangguk cepat, menangkap celah sekecil apa pun.

“Iya, Pak, iya. Maksudnya...” ia tertawa kecil, “...kami kan baru. Posko kami itu rumah tua di ujung.”

Udin langsung menoleh ke Paijo. Rumah tua di ujung terdengar jauh lebih menyeramkan jika diucapkan keras-keras.

“Aman, kan, Pak?”

Kalimat itu seharusnya ringan. Basa-basi. Pertanyaan standar mahasiswa KKN yang ingin memastikan lingkungan. Tapi cara Paijo mengatakannya, dengan senyum yang sedikit tertahan, membuatnya terdengar seperti permintaan konfirmasi hidup. Bapak itu menatap Paijo lama. Terlalu lama untuk ukuran pertanyaan ringan. Tatapannya tidak tajam. Tidak menusuk. Tapi tidak berkedip. Tidak bergeser. Seolah ia sedang menimbang sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Ani meremas ujung bajunya. Juned menurunkan kamera setengah inci. Surya melirik ke kanan-kiri, memastikan tidak ada siapa-siapa di sekitar.

“Selama kalian nggak aneh-aneh.”

Jawabannya akhirnya datang dengan suara yang tenang dan pelan tapi tidak meyakinkan.

“Aneh-aneh gimana, Pak?” Ani menyela cepat, tidak bisa menahan diri.

Begitu kalimat itu keluar, Ani langsung sadar ia mungkin terlalu cepat. Tapi sudah terlambat. Kata-katanya sudah melayang di udara pagi yang lembap. Bapak itu mengalihkan pandangan ke Ani. Tatapannya sama datarnya. Tidak menilai. Tidak menghakimi. Tapi juga tidak ramah.

“Ya… aneh.”

Hanya satu kata, tidak ada contoh maupun penjelasan yang lebih. Kata itu dibiarkan menggantung, seperti tanda baca yang lupa diberi titik. Udin tertawa kaku, tawa orang yang tahu ini bukan lucu, tapi tertawa adalah refleks terakhir sebelum panik.

“Hehe… iya, Pak,” katanya cepat. “Soalnya, Pak, kami sempat...”

“Pak, soal kejadian aneh...”

Udin belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Tidak ada.”

Jawabannya cepat. Terlalu cepat. Seperti sudah disiapkan jauh sebelum pertanyaannya selesai. Udin terdiam. Senyumnya tertahan di tengah jalan.

“Bayangan lewat jendela?” Juned mengangkat kamera sedikit.

Bukan mengarahkan penuh. Hanya mengangkat. Isyarat kecil bahwa ini sedang direkam. Bapak itu melirik kamera sekilas dengan dingin. Tatapan itu singkat, tapi cukup untuk membuat Juned menurunkan kamera lagi tanpa disuruh.

“Bayangan itu biasa.”

Kata biasa diucapkan dengan nada yang membuatnya terasa, tidak biasa sama sekali.

“Biasa?!” Surya hampir teriak.

Suaranya naik satu oktaf sebelum ia sempat menahannya. Kacamata hitamnya sedikit melorot, memperlihatkan mata yang membesar.

“Kalau malam, jangan banyak buka jendela.”

Jawaban itu tidak nyambung. Atau justru terlalu nyambung, tergantung siapa yang mendengar.

“Kenapa?”

Paijo bertanya cepat, meski ada bagian dirinya yang sepertinya tidak ingin tahu jawabannya.

“Masuk angin.”

Suasana hanya menjadi sunyi, tidak ada yang tertawa atau menyahut. Angin pagi berembus pelan, membuat daun kering di tanah bergeser sedikit. Bunyi itu terdengar terlalu jelas di tengah diam. Bodat mendekat sedikit ke Paijo, lalu berbisik pelan,

“Ini orang jawabannya kayak Google error.”

Paijo masih mencoba ramah, meski senyumnya mulai kaku. Ia menelan ludah sebelum bertanya lagi.

“Kalau suara langkah di atap, Pak?”

Pertanyaan itu keluar dengan hati-hati, seperti orang meletakkan barang pecah belah.

“Pohon mangga.”

Jawabannya cepat.

“Padahal nggak ada pohon?”

Bodat menyela, nadanya datar tapi menusuk. Bapak itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum orang yang tahu sesuatu, tapi tidak merasa perlu membagikannya.

“Makanya jangan mikir aneh-aneh.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada menasihati. Atau mungkin memperingatkan. Tidak ada yang tahu. Pintu lalu ditutup perlahan. Tidak dibanting. Tidak dikunci keras. Hanya… ditutup. Engsel kembali berbunyi lirih, panjang, lalu berhenti. Mereka berdiri beberapa detik di depan pintu tertutup itu. Tidak ada yang bergerak dan mengeluarkan suara untuk bicara. Seolah masih berharap pintu itu terbuka lagi dan seseorang berkata, eh, bercanda tadi. Ani menoleh ke yang lain.

“Jawabannya nggak membantu sama sekali.”

Suaranya pelan, tapi jelas.

“Justru itu masalahnya,” Juleha menghela napas. Ia memegang tasbihnya lebih erat.

Mereka melangkah pergi dari rumah itu dengan langkah yang lebih pelan dari saat datang. Tidak ada yang langsung mengusulkan rumah berikutnya. Tidak ada yang bercanda. Bahkan Ani pun diam, wajahnya tidak lagi berbinar seperti tadi.

Udin berjalan sambil menunduk, pikirannya penuh dengan kata-kata biasa, aneh, dan jangan mikir aneh-aneh yang terus berputar tanpa arah.

Juned mengecek rekaman sekilas, lalu mematikan kamera.

“Ini… aneh,” gumamnya.

“Desanya atau orangnya?” tanya Bodat.

Juned tidak langsung menjawab.

“Jawabannya tuh… kayak sengaja nggak mau jawab.”

Paijo mengangguk pelan. Atau mungkin sengaja menjawab dengan cara yang salah. Mereka berhenti sejenak di depan pos ronda. Kabut masih belum sepenuhnya menghilang. Dan entah kenapa, rumah warga pertama itu, meski pintunya sudah tertutup, terasa masih memperhatikan mereka. Sebagai peringatan kecil. Bahwa di desa ini, bertanya bukan berarti mendapat jawaban. Dan jawaban yang ada, sering kali justru membuat segalanya semakin tidak membantu.

...🍃🍃🍃...

Bersambung...

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!