Radit hanyalah pecundang yang hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan, sampai sebuah Sistem Misterius memberikan kunci menuju takdir yang gelap. Mengambil identitas sebagai sang Topeng Putih, ia merayap dari titik terendah menuju puncak tertinggi dunia bawah. Kekuasaan dan darah menjadi makanannya sehari-hari, hingga kehadiran Rania menyuntikkan kembali setitik cahaya di hatinya.
Namun, dunia tak membiarkannya bahagia. Tragedi berdarah di kampus menghancurkan dunianya dan merenggut Rania. Saat air mata berubah menjadi api, Radit melepas kemanusiaannya untuk meratakan dunia dengan dendam. Kini, setelah badai pembalasan mereda, Radit melangkah pergi meninggalkan singgasana berdarahnya. Ia memulai pencarian terakhir: menemukan kembali kepingan cintanya yang hilang, meski ia harus melawan takdir itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Namun kami bukan menyerah kan pewaris kami."
Ketua Dewantara menyusul.
" Keseimbangan adalah kepentingan bersama."
Ketua Kusuma tersenyum.
" Selama Falcon yang menjadi musuh."
Ketua William berdiri.
" Kalau begitu." Kata nya ringan. " Meja ini Tidak pernah ada ."
Wiratma mengangguk.
"Memang tidak."
Lampu padam satu - persatu, kehadiran di ruangan itu menghilang.
Di tempat lain— Radit menatap layar ponsel nya. Notifikasi akademik masuk. Disaat yang sama, sistem bergetar pelan.
Peringatan tingkat tinggi :
Beberapa otoritas telah menyepakati status observasi pasif terhadap pengguna. Radit menutup layar.
" Akhir nya ." Gumam nya.
" Semua duduk di meja yang sama."
Di luar, malam menyelimuti kota tenang, namun keseimbangan itu rapuh. Dan semua pihak tahu, satu langkah salah akan memicu perang yang tak akan bisa di tarik kembali .
Markas pusat Falcon berada jauh di bawah tanah.
Lebih dalam dari pada jaringan intelijen keluarga besar. Lebih gelap dari pada fasilitas militer biasa.
Di ruang komando utama udara tiba-tiba mengancang.
Kael Noctyra berhenti melangkah . Mata nya menyipit.
" Perimeter energi berubah." Kata nya pelan.
Raka Varel mengaktifkan panel pengindra. Garis-garis cahaya tak stabil.
" Bukan gangguan alam." Gumam nya.
" Ini.... Penekanan terarah."
Selena morvane tertawa kecil, namun kali ini tanpa santai.
" Menarik . " Kata nya.
" Hanya satu pihak yang berani memotong sayap Falcon tanpa menyatakan perang. "
Bram Arkavian menggeram.
" Negara. "
Satu kata itu membuat ruangan sunyi. Layar utama menyala, beberapa rute infiltrasi yang telah di siap kan menghilang satu - persatu.
Aset tidur terputus, simpul logistik macet .
" BPKN. " Ucap Raka perlahan.
" Mereka mengaktif kan jaringan lama. " Kael mengangguk.
" Jadi benar. " kata nya tenang.
" Kita tidak hanya berburu variabel. " Ia menatap simbol Falcon di dinding.
" Kita telah menarik perhatian penjaga gerbang. " Selena menyandar kan diri ke meja.
" Negara jarang ikut campur. " kata nya.
" Artinya variabel itu... Cukup berbahaya. "
ia melangkah ke tengah ruangan.
" Mulai sekarang. " Perintah nya. " Tidak ada operasi terbuka. "
" Semua tim master ditarik. " Bram membelalak.
" Kau menyuruh Falcon mundur ? "
" Tidak. " jawab Kael dingin.
" Aku menyuruh Falcon berubah bentuk. "
Raka mengangguk paham.
" Operasi hantu. " Kata nya.
" Tanpa tanda, tanpa korban Publik. "
Kael mengaktif kan layar lain. Satu siluet muncul— tanpa nama, tapa data, hanya satu label :
VARIABEL—STATUS : DI AWASI NEGARA.
Kael menatap nya lama.
" Negara tidak akan melindungi nya selamanya. " katanya.
" Dan mereka tidak akan membunuh nya juga. "
Selena tersenyum tajam.
" Karena itu berarti... Dia terlalu kuat untuk di paksa. "
" Dan terlalu berbahaya untuk di biar kan. " Sambung Raka. Kael menutup layar.
"Kita tunggu. " kata nya. " Kita pelajari. "
" Dan saat negara berkedip—" Ia berbalik.
"— Falcon akan menyambar. "
Di gedung BPKN —Satria Wijaksana membuka mata.
" Falcon sudah sadar. " Kata nya singkat. Wiratma mengangguk.
" Bagus. " jawaban nya.
" Pemburu yang sadar akan berhati- hati. "
Laksmi Candrani menyilang kan tangan.
" Namun mereka tidak akan berhenti. "
" Tidak. " sahut Satria.
" Dan kita juga tidak. "
Di kampus — Radit berjalan melewati koridor pagi. Mahasiswa tertawa Suara langkah biasa. Sistem berbunyi pelan.
Notifikasi :
Telah mengubah status dari agresif menjadi observasi berbahaya.
Radit tersenyum tipis.
" Jadi sekarang. " gumam nya.
" aku menjadi titik diam, diantara negara dan pemburu"
Di kejauhan Rania menoleh tanpa alasan jelas. Ia merasakan — semakin banyak mata mulai menatap satu arah yang sama.
Beberapa bulan telah berlalu sejak tragedi kampus . Kampus kembali ramai Pentas seni menajdi kenangan samar.
Nama Falcon tak lagi di sebut — setidak nya di permukaan. Namun bagi mereka yang berada di balik layar dunia, semua tahu satu hal :
Keseimbangan tidak kembali seperti semula. Radit duduk sendirian , jendela terbuka, angin malam membawa aroma hujan.
Wajah nya tenang, namun di balik ketenangan itu, energi besar berputar seperti samudra yang di tekan.
" Sistem. " ucapnya pelan.
Cahaya transparan muncul.
Status pengguna :Aditya Putra
Ranah saat ini : Grandmaster Awal ( puncak )
Total poin kekuatan : 70.000.000
Angka itu berhenti bergerak . Bukan karena stagnan , melain kan karena Radit menahan . Ia menatap layar dengan seksama.
Detail kenaikan ranah : Grandmaster Awal -\> Grandmaster Akhir
poin dibutuh kan : 30.000.000
Grandmaster akhir -\> Saint awal
Poin di butuh kan : 40.000.000
Total : 70.000.000 juta poin
Tepat, tidak kurang , tidak berlebih. Radit menghela napas perlahan.
" Jadi... Sampai di sini. " Selama berbulan- bulan ia membiarkan perusahaan - perusahaan nya berjalan stabil.
PT. AR ADITYA PUTRA Berkembang tanpa lonjakan mencolok. Investasi masuk dan keluar rapi. Tidak ada langkah agresif. Namun justru dari ketertiban itu lah, poin mengalir deras.
Sistem tidak menilai keributan. Tetapi ia menilai pengaruh nyata. Dan pengaruh Radit telah menyentuh banyak sektor. Dari pada yang di sadari siapa pun.
Radit berdiri. Ia membuka lemari besi kecil di sudut ruangan. Di dalam nya — tidak ada senjata , tidak ada artefak, hanya satu benda. Topeng putih, kemudian ia mengangkat nya.
" Setelah ini. " gumam nya.
" Aku tidak bisa lagi berdiri di tengah. "
Ranah saint bukan sekedar peningkatan kekuatan. Itu adalah perubahan status eksistensi. Saint tidak lagi sekedar petarung . Ia adalah titik referensi. keberadaan nya sendiri mengubah cara dunia merespons.
BPKN tidak bisa lagi hanya mengamati, Falcon tidak bisa lagi bermain sabar. Keluarga besar tidak bisa lagi berpura - pura buta.
Radit duduk bersila. Energi di sekitar nya mulai berdenyut. Namun ia belum memerintah kan sistem. Ia membuka ponsel. Satu pesan masuk dari Rania.
" Besok jangan lupa, kita ada presentasi kelompok. "
Radit tersenyum tipis.
" Masih ada dunia yang normal. " Kata nya pelan.
" Dan aku masih berdiri di dalam nya. "
ia membalas singkat.
"Aku ingat. "
Ponsel di letak kan, topeng putih di simpan kembali.
" Sistem. " ucap Radit tenang.
"Konfirmasi."
Cahaya sistem menguat. Konfirmasi kesiapan kenaikan ranah.
Status mental : Stabil
Status fisik : Optimal
Status Karma : Netral terkendali
Pengguna memenuhi seluruh syarat, untuk menembus ranah saint awal . Namun Radit mengangkat tangan.
" Tidak sekarang. "
Layar berhenti , sistem terdiam.
" Jadwal ka . " lanjut nya.
" Ketika aku benar - benar harus melangkah. "
Perintah di terima.
Mode kenaikan : Tertunda
Tekanan yang hampir meledak perlahan di tarik kembali. Malam kembali sunyi .
Pagi di kampus datang seperti biasa , langit cerah, langkah kaki mahasiswa memenuhi koridor. Suara tawa dan keluhan tugas saling bertabrakan.
Tidak ada yang tahu — bahwa di antara mereka berjalan seseorang yang bisa mengguncang keseimbangan negara dengan satu keputusan.
Radit melangkah masuk ke gedung fakultas. Tas di pundak nua sederhana. Wajahnya datar , tatapan khas mahasiswa yang kurang tidur.
" Radit ! "
Rania melambaikan tangan dari depan kelas . Ia mengenakan jaket krem , rambut nya di ikat sederhana. Senyum nya... Normal...
Dan justru itu yang membuat Radit berhenti sejenak. Normalitas ini adalah sesuatu yang kini harus ia jaga., bukan lagi sesuatu yang ia miliki tanpa usaha. Ia duduk di samping rania.
" Kau kelihatan capek. " kata Rania pelan.
" Belajar . " jawab Radit singkat.
Rania mendengus.
" Alasan klasik. "
Bersambung.....
alurnya lambat,terlalu Datar dan tidak jelas disetiap babnya.
tidak ada ruang disetiap bab yg membuat pembaca berimajinasi.
yg patut ditunggu apakah akhir dari skenario film ini happy end atau malah sad end.
Ku baca pelan" , Jdi radit emng g mudah.. 😥😭